Jika Hamil Itu Kompetisi Apakah Semua Perempuan Harus Jadi Pemenang?

Standard
Marisa Tomei, Artis dan Produser

Marisa Tomei, Artis dan Produser

Seorang teman saya membagikan sebuah link artikel yang pernah ditulisnya ketika belum melahirkan. Salah satu kalimat yang saya ingat betul adalah hamil itu bukan lomba makan kerupuk, siapa yang paling cepat habis maka dialah pemenangnya. SAYA MENGAMININYA DENGAN SEGALA IMAN KEBERTUHANAN YANG SAYA PUNYA.

Tahun ini, saya dan Daniel memasuki pernikahan ketiga. Maka intensitas pertanyaan kapan hamil makin sengit kaya walang sangit….Jika di bulan-bulan awal pernikahan pertanyaan, “Kapan hamil?” masih bisa saya jawab dengan senyum-senyum manis, bayangin dong di tahun ketiga ini bagaimana saya menjawab pertanyaan itu. Dengan mencoba tersenyum. Dicatat ya, mencoba tersenyum. Iya ngga bisa senyum santai kaya dulu karena terlalu amat sangat bosan mendengar pertanyaan seputar hamil. Begini kira-kira reaksi dalam hati ketika pertanyaan-pertanyaan itu muncul.

– Kapan hamil?
+ Mmm…kapan ya…belum kok, didoain aja ya.

– Gimana Priska….?
+ (kebingungan karena ujug-ujug nanya gimana) Gimana apanya ya?

– Baby-nya?
+ Oalah….belum nih (sambil usep-usep perut)

– Berdoa yang khusyuk tengah malam minta sama Tuhan, pasti dikasih
+ (do you really think me and Daniel never do that?) Iya…. (jawab gitu aja biar cepet kelar)

– Eh si A aja udah hamil loh, 3 bulan. Kamu udah belum…
+ (What the fuck….i won’t sorry for my language but…this is so what the fuck statement) Ya baguslah kan udah ada suaminya.

Tekanan sosial atau social pressure kepada perempuan memang kejam. Mari sama-sama mundurkan waktu. Saat lagi mekar-mekarnya, taruhlah saat masuk kuliah semester 4, social pressure-nya adalah: Nikahlah, udah bisa itu. Udah mau lulus kan sebentar lagi, udah ada yang bakalan ngasih bunga pas wisuda ngga? Padahal masa kuliah masa paling enak punya hubungan tanpa status #eh

Lalu lulus kuliah, masuk dunia kerja. Lagi asik-asiknya make duit dari aktivitas yang bikin tepos pantat karena berjam-jam duduk di belakang komputer, social pressure datang dengan makin terang-terangan. Jangan keasikan kerja, ingat loh usianya nambah, cepat nikahlah. Si A udah mau nikah tuh, kau kapan bagi undangan. Lah masa ini kan masanya nyobain apply kartu kredit dan nongkrong di cafe-cafe biar kaya kelas menengah ngehe hihihihi.

Masuk usia kelewat tua buat nikah, let says 30 something, si social pressure jadi lebih biadab. Udah ngga usah pilih-pilih, nikahlah. Ngga kasian sama mama atau bapak itu sudah tua, nikahlah. Ayolah nikah, wong dapat cowo ganteng dan baik juga so why not.

Ah social pressure mah ngga usah dipikirin banget. Tapi persepsi itu pun memasuki masa tenggangnya.

Dan tibalah masa itu, masa kesuksesan sebuah pernikahan diukur dari bikin anak sebanyak-banyaknya. Don’t get me wrong, in term of bikin anak itu enak so I won’t mind to making it all the time. Dulu saya malah menjawab dengan begini, “Bikinnya enak jadi gua ngga bakal malas-malasan usaha.” Yang nanya antara segan dengar saya menjawab begitu atau dia pengen ngibrit pulang dan membuktikan pernyataan saya dengan pasangannya.

Makin lama, social pressure itu makin ngga masuk akal menurut saya. Benar-benar bikin senewen setiap kali mudik ke Indonesia. Apalagi kalau pertanyaan makin di-setting semacam kompetisi bertahan hidup dalam perjuangan pernikahan. “Si A saja udah hamil, kamu udah belum?” Dengar pernyataan ini rasanya cuman satu, pengen kasih jari tengah. Atau pernyataan yang seolah peduli padahal sebenarnya mau mastiin aja, lu bisa hamil atau ngga sih? “Eh gimana Pris….(dibiarkan menggantung yang lama lalu…) babynya udah ada belum?” Bow kalau ada juga udah gua gendong bukan? Belum lagi kalau pertanyaanya bersifat menghakimi. “Jangan ditunda-tunda, anak itu rejeki jangan ditolak.”

jennifer anistonTerus terang makin hari saya makin stres meladeni pertanyaan-pertanyaan itu, karena wujudnya makin kurang ajar. Jadi membuat saya seolah bertanggung jawab tunggal atas “keberhasilan” kehamilan. Coba perhatikan, social pressure atau pertanyaan-pertanyaan ajaib ini paling sering dialami oleh perempuan. Laki-laki jarang sekali mendapat “tekanan” seperti ini. Yuk coba kita lihat bagaimana interaksi laki-laki dengan social pressure.

Saat semester 4, “Jangan cepat-cepat nikah. Kerja dulu, bantuin orang tua.” Ini bukan social pressure ini…social sympathy. Lalu setelah lulus kuliah dan masuk dunia kerja, “Pilih perempuan itu hati-hati, jangan kenal sekali langsung pacaran trus nikah. Kenali bibit, bebet, dan bobotnya.” Bisa jadi ini social pressure tapi ini lebih kepada social agreement on letting man to be wild before tying the knot.

Dan kemudian masuk usia sudah seharusnya nikah. “Kalau sudah mapan, tunggu apa lagi. Segeralah menikah.” Bisa jadi ini adalah wujud social pressure sesungguhnya untuk laki-laki. Tapi setelah itu mereka seolah terselamatkan dari sesi pertanyaan tentang kehamilan, karena mereka tak punya uterus.

Seolah-olah karena perempuan yang punya rahim jadi yang kudu ditanya terus menerus ya perempuannya. Sebenarnya saya tidak hanya protes kenapa laki-laki ngga pernah ditanya, tapi juga kenapa kalian terus bertanya. Menurut saya lagi, kehamilan itu bukan urusan sosial. Itu urusan personal antara suami dan isteri karena ketika mereka melakukannya juga tidak di ruang sosial yang terbuka kan. So…why bother.

Itu mengapa saya sangat salut dengan pasangan, khususnya teman perempuan yang sudah bertahun-tahun menikah tapi belum mendapat karunia anak. Bayangin berbagai jenis pertanyaan atau pernyataan apa yang sudah diterima perihal hamil dan melahirkan.

Anak itu karunia dari persetubuhan yang penuh cinta antara laki-laki dengan perempuan. Saya ingat salah seorang teman saya mendefinisikan kehadiran anak sebagai ekspresi bagaimana indahnya cinta dia dengan suaminya. “Gua ngga pernah bisa mengambarkan betapa indahnya cinta kami karena kami bukan tipe orang yang bisa bercerita. Dan kehadiran anak itu seperti cerita hidup yang semua orang bisa tahu betapa sempurna cinta kami berdua.” Saat saya mendengar teman berkata demikian, saya terharu sekali, merasakan dengan seluruh indera yang saya punya kalau cinta dia dan suaminya luar biasa indah walaupun mereka belum punya anak sampai hari ini.

Jadi kalau hamil dan melahirkan hanya menjadi ajang “kompetisi” betapa rendah nilai kehadiran anak dalam rumah tangga. Kenapa lu mau punya anak? “Iya soalnya si A yang nikahnya setahun setelah gua udah punya anak. Masa gua belom.” Atau ini, “Gua mau punya anak biar kalau arisan keluarga bisa pamer anak gua.”

Punya anak bukan kaya lomba makan kerupuk yang lu kudu abisin tuh kerupuk cepet-cepet karena kalau ngga sebelah lo yang dapat piala atau duit beberapa ribu perak. Punya anak juga tidak menjamin para mulut “social pressure” akan tersumpal secara otomatis. Percayalah mulut-mulut itu tidak pernah berhenti memamahbiak kata-kata nyinyir. Lalu yang ngga menang kompetisi beranak, apakah kemudian layak disebut pernikahaannya tidak bahagia? Atau sebagai perempuan yang kalah berkompetisi?

Sebelum mulai bertanya yang macam-macam, bayangkanlah ini:

  • Betapa setiap pasangan punya tantangan masing-masing dalam rumah tangganya. Mungkin anak belum menjadi prioritas pasangan itu sekarang. Jadi biarkan mereka merumuskan kebutuhan rumah tangga mereka sendiri.
  • Betapa setiap malam pasangan itu berdoa dengan sepenuh jiwa untuk diberi kesempatan memiliki anak. Jadi janganlah menghakimi dengan seolah menjadi begitu peduli.
  • Betapa setiap pasangan itu sudah keluar-masuk ruangan dokter kandungan dan menjalani berpuluh-puluh kali pemeriksaan untuk membuat sesi sperma berhasil membuahi sel telur. Jadi jangan bebani mereka dengan pertanyaan kapan hamil, karena itu akan mengingatkan proses panjang yang sudah atau sedang dilalui.
  • Bisa jadi pasangan itu punya kondisi yang membuat mereka tidak semudah pasangan lain yang sekali ngeliatin bini langsung jadi anak. Jadi janganlah menggurui.

Terkadang bertanya dalam hening adalah bentuk perhatian yang paling tulus yang diterima setiap pasangan yang tengah bergumul dengan hamil, melahirkan, dan punya anak. Karena setiap berita kehadiran seorang anak adalah berita terindah yang selalu menghadirkan senyum pada semua orang. Tapi bukan berarti ketika berita itu belum dikabarkan atau tidak pernah dikabarkan maka rumah tangga tersebut tidak pernah diliputi senyuman. Saya percaya, misi Tuhan memberikan pasangan pada individu yang diberi karunia menikah bukanlah semata-mata agar beranak saja, tapi juga untuk saling berbagi hidup dengan penuh cinta. Bukankah itu yang menjadi isi dalam perjanjian pernikahan, berbagi hidup dengan penuh cinta.

Saya rasanya lebih senang ditanya, kok suka bilang Daniel itu pacar ketimbang suami, daripada disuruh berkompetisi dalam melahirkan dalam bentuk pertanyaan, “Kapan hamil?”

Advertisements

267 responses »

  1. I feel you, babe. Yg sedihnya, ada orang yg memutuskan nikah, punya anak dgn harapan bisa membungkam si mulut usil. Tp yg punya mulut usil emang gak akan berhenti. Dalam hal ini aku setuju pake jari tengah utk para mulut usil.

    Sekedar cerita nih, kakakku nunggu 10 tahun utk punya anak. Trus selama 10 tahun apa rumah tangga hampa? Enggak juga. Suami istri bisa berkarir, trus di tahun ke 7 pernikahan udah bisa pergi haji. Berani taruhan, para mulut usil di sekitar mereka blm bisa pergi haji pada waktu itu (sibuk lomba makan kerupuk atau ngusilin orang mungkin?). Skrg daftar haji musti nunggu 10 tahun baru brgkat 😦 you know what I think? Betapa beruntungnya kakakku yg gak perlu pusing lagi mikirin antri haji. Tinggal ngurusin anak ama mikirin hari tua.

    Sori kalo kepanjangan hehehe

    • Alllliiiaaaaa….kita udah lama ngga bersua di blog HIHIHIHIHI

      Ah itu para mulut usil kenapalah ngga lomba makan kerupuk pas 17an aja yak…dan banyak-banyak liburan lah mereka biar happy hahahahaha

      Sori kalo kepanjangan

      Bow…seginimah kaga kepanjangan beib ;D

  2. *peluk*

    kadang pertanyaan macam gitu itu cuma pertanyan basa-basi karena gak ada topik… yang sialnya, bukannya dikategorikan sebagai pertanyaan yang tidak pantas utk ditanyakan malah jadi kayak materi SOP untuk membuka diskusi.

    selain itu juga kalo di budaya kita *halah* KPI menjadi dewasa itu menikah, dan KPI menikah itu punya anak. so, there.

    *peluk lagi*

    • #pelukbalik 😀

      KPI menjadi dewasa itu menikah, dan KPI menikah itu punya anak

      KPI bbbaaannnggggcccaaaattttt hahahahaha….dulu pas kerja selalu ngerasa aneh untuk ngisi KPI karena setahun terakhir kerja, kebanyakan kerjaanya berhubungan dengan menghasilkan ide atau konsep. Lalu ide itu dimasukkan dalam tabulasi-tabulasi angka…gua sempat mikir….ide atau konsep itu abstrak banget tapi harus dibuat menjadi sangat bisa dihitung….aneh bet dah ah….bisa jadi satu konsep yang memancing interaksi pembaca dengan penulis terdiri dari berbagai macam ide tapi tetap si KPI bangcat itu ngitungnya satu poin KPI.

      Lalu ada lagi situasi dimana konsep yang udah dibuat itu harus bisa “dijual” sama anak iklan. Nah kalau anak iklan kaga berhasil ngejual gua kaga bisa masukin itu ke dalam tabulasi KPI bangcat alias KPI gua kaga achieve ….Lalu besaran bonus gua (KPI menghitung gua dapat bonus apa kaga) tergantung dari pihak lain….berhasil atau tidaknya kerjaan gua tergantung pada pihak ketiga yang menjual ide abstrak itu. Maka setiap kali banyak-banyak bikin konsep tapi kalau pihak lain ngga berhasil jual….jadinya anyep…..bangcat emang KPI

      Eh ini gua jadi kebanyakan ngomongin KPI hahahahahaha….tapi rada ada korelasinya….KPI adalah standar sosial akan kebahagiaan dan kesempurnaan dari menjadi dewasa. Lalu standar sosial dewasa terpenuhi dengan menikah. Ketika menikah standar sosialnya punya anak….begitu punya anak standar sosialnya naik lagi jadi bukan sekadar punya anak tapi punya berapa anak, dan terus begitu….edun mau KPI atau standar sosial sama-sama bangcat emang hahahahahaha

  3. buat priska teman sd ku, jgn sedih you are not alone, saya sudah menikah 10 tahun dan belum dikaruniai keturunan, dan alhamdulillah hubungan kami msh indah seperti waktu pacaran, tetap semangat, jgn suka dengerin comment orang yg gak penting

    • hallo, sama donk sy juga nunggu 10 thn. Tahun2 pertama memang rasanya risih karna maklumlah banyak kerabat sy yg super kepo, tapi setelah kami amati dan seilidiki ternyata mereka yg kepo kehidupannya nggak bahagia dan punya masalah yg jauh lbh berat drpd kami. Jadi kami positif thinking aja, mungkin mereka sebetulnya sirik aja dan bahkan sebagian mungkin ingin punya hidup spt hidup kami.

  4. Halo salam kenal 😊
    Dulu juga saya nggak cesspleng nikah langsung tekdung. Nunggu 1 tahun. Pertanyaan “kapan hamil” memang agak horor waktu itu, apalagi pas lebaran. Dan ketika sudah hamil pun masih aja di nyinyirin “kok perutnya kecil? Yakin itu ada isinya?” Badan dengan perut yang kecil waktu itu berhasil nahan tangan suami yang sedang pegang helm. Kalau nggak helm itu udah mendarat mulus dengan posisi terbalik tentunya, dikepala mas-mas temen kantorku.

    Tiap ketemu cewek, udah nikah, belum punya anak, pasti selalu bilang “sabar ya Teh, semangat. Puas-puasin aja pacaran, sebelum tempat tidur king size berubah jadi “sofa” yang cuma bisa miring kanan atau kiri. Sebelum lupa apa itu tidur nyenyak. Sebelum mandi express udah bisa sabunan sama sikat gigi aja udah syukur. Sebelum ke bioskop cuma bisa nonton “Planes”. Sebelum acara tv cuma “Barney and Friends”. Kalau versi suami “sebelum bir ku berganti jadi jus strawberry”.

    Punya anak itu memang indah, tapi terkadang saya juga kangen saat hanya berdua dengan suami. Pacaran halal. Dan saya bangga karena bisa ngalamin hal itu. Beda sama temen lain yang begitu sah eh bulan depan udah mual muntah, 9 bulan kemudian nggak bisa tidur nyenyak. Saya ngalamin pulang malem bahkan pagi karena semaleman begadang di warnet main game online sampai keluar warnet anak-anak udah pada berangkat sekolah. Berasa jadi zombie. Saya senang karena bisa seharian diluar rumah, main sama suami dan teman kami, keliling jalan-jalan ga jelas, nonton bioskop yg midnight dan berkahir sahur di CFC cuma makan ricebowl.

    Jadi curhat ini teh hihihi….maafkan. Nikmatin aja masa pacaran, punya anak itu seneng juga memusingkan hehee…. Salam dari io dan sea ya tante *kiss* nikmatin bobo nyenyaknya, sebelum matanya jadi mata panda kaya bunda 😉

    • Hi Frida, your comment is so sweet….langsung senyum-senyum pas baca bagian

      Salam dari io dan sea ya tante *kiss* nikmatin bobo nyenyaknya, sebelum matanya jadi mata panda kaya bunda

      Terima kasih Io dan Sea….tumbuh jadi anak penuh cinta ya….God bless your family Frida ;D

    • ahhh baca blog diatas ditambah comment yg ini, bikin hati nyessss. Saya baru nikah 4 bulan dan belum hamil, rasanya udah kayak perempuan paling sedih sedunia, huks jadi malu setelah baca comment2 ini, kalo ternyata yg sy rasain cemen banget. semoga ini menjadi tahap pembelajaran untuk menjadi manusia yang lebih bersabar dan bersyukur atas nikmat Tuhan. be happy everyone

  5. I feel you, kakak… Usia pernikahan kita beda tipis, saya ‘masih’ 2,5 tahun. Tau ga, apa yg lebih bangcat? Dikejar-kejar tukang jualan ‘suplemen’ ‘ternama’ di Indonesia, diminta pake produk mereka untuk program hamil. Saya tolak, eh balasannya nyelekit. Katanya: “Pantes belum hamil, usahanya kurang sih. Disuruh ikhtiar pake ‘anu’ yg mudah aja pake banyak alasan. Blablabla dst…” Rasanya pengen lemparin sepatu yang abis nginjek e’e kucing ke muka yang ngomong begitu. Salam kenal, btw. 😉

    • Oh iya lagi booming tuh suplemen yg bisa bikin hamil. Testi nya seliweran, tapi ada juga yang sekarang kena semprot karena produknya aja nggak terdaftar di bpom. Katanya suplemen tapi terdaftar sebagai makanan/minuman.
      Dulu belum hamil dinyinyirin, kemaren hamil anak kedua pas anak pertama masih 15 bulan malah dinyinyirin juga “kok hamil lagi sih? Kasian anakmu masih kecil”. Hmmmmmm…..

      • Hahahahahahaha energi untuk nyinyir itu sumbernya dari mana ya….Kadang gua mikir, basa-basinya orang kita itu fokusnya ke urusan personal. Kenapa ya urusan personal jadi topik pembicaraan ringan yang jadi salah tempat? Coba kaya orang Jerman atau Jepang yang basa-basinya ngomongin cuaca kan lebih netral ya….

    • Astaga Nindya, itu tukang suplemen jualannya kasar amat merinding gua bacanya Semoga penjualnya diberikan kemampuan “jualan” yang bener bukan sekadar kejar target. Pake bilang kurang ikhtiar lagi….tahu apa dia soal ikhtiar kalau cara jualannya aja kaya gitu…cih….Emosi bener gua ini bacanya ….. Kalau kata Kapten Haddock di Tintin, “KEPITING BUSUK…..SEJUTA TOPAN BADAI!!!!” Peluk Nindya. Hang on there Nindya, Tuhan Maha Memberi 😀

    • Kykx sama kite…aaku 3taon bln dpn…hmmm..jwb aja lama coz lgi program kembar cwe ma cwo biar pade sama semuanyaa…bales aja ada gak suplemen khusus anak kembar!!

    • Hahaha….pengalaman kita hampir sama ya, sist. Dulu kami juga sering diuber-uber sales obat suplemen dsb dsb, bahkan ada yg sampe overclaim segala “suplemen ajaib itu bisa menyembuhkan segala jenis penyakit termasuk kanker.” Duh…walaupun sy bukan dokter tapi sy ngerti lah resep obat dokter terkenal aja belum tentu cespleng buat setiap orang apalagi yg cuma suplemen gak jelas begitu. Ketahuan banget deh cuma mau duitnya kita aja, krn tiap kali sy tanyain “ada jaminan duit kembali gak?kamu sendiri dah cobain belum?” eh mereka gak bisa jawab. Yah itung2 belajar sabar lah,hehehe

  6. Halo mba..salam kenal ya..sy indira, mau sdkt bagi2 cerita.
    Usia pnikahan sy sdh 3taun dan blm dkaruniai anak. Bnr apa yg mba blg, diawal pnikahan di tnyain kpn hamil msh baik2 aja, sampe akhir taun lalu jg sy msh baik2 aja. Cm pas bln feb kmrn sy pulkam, ada sodara jaaaaaauuuuuuuhhhhhhh bgt yg blg gni ke saya : eh km tuh goblok bgt ya, kalah sm kakakmu tuh yg udah mau pnya 2anak, masa sampe skrg km gak bs pnya anak jg. Duhhhh, saking shock nya sy smpe gak bs blg apa2. Cm bengong2 aja, untungnya ada sodara lain yg belain dan akhirnya sy pergi aja dr sna. Setelahnya sy nyari suami dan lgsg nangis bombayyy. Yg bkn nangis itu bkn krn sy blm pnya anak, tp kata2 “goblok” yg seakan2 semua salah sy krn blm pnya anak. Dy blm tau aja segala usaha yg udah sy lakuin utk pnya anak. Kebetulan sy dan kakak sy nikah dithn yg sm tp beda 1 bln. Dan skrg dy sdh pnya 2anak. Mmg gak enak rasanya liat kakak yg stlh nikah lgsg lancar jaya pnya anaknya. Tp ya sy ikhlas aja, toh dy jg kakak sy. Dan sampao saat ini sy msh baik2 aja dan bahagia dgn suami sy. Suami slalu blg klo kebahagiaan kita gak bs cm diukur dr ada ato gak nya kehadiran anak, tp bs diliat jg dr cara kita utk membina pernikahan yg kita miliki.

    Maaf lho kalo kepanjangan.. Utk tmn2 senasib seperti sy, jgn menyerah utk pnya anak. Dan jgn patah semangat hnya gara2 kata2 org lain. Semangaaaaaatttttttt..😍😍😍

    • maaf nimbrung… salam kenal…
      maaf mbak, biar kata saudara walopun jauuuuuhhhhhhh tapi klo berani bilang “goblok” ke gue untuk sesuatu yg jelas2 bukan salah gue, diluar kuasa gue, dan terutama bukan urusan dia, gue dah tampar dia langsung on the spot. soalnya itu bukan nanya, itu sih ngajak berantem ^^

    • Hi priska Salam knal.. Thx bgt dah bikin posting an ini.. Bikin Hati yg udah panas jd adem ayem lg.. Hehee
      Buat Indira… I feel u bgt. Namun sy ada diposisi sbg kakak. Sy anak yg mnikah pertama.. Dua bln kmudian adik sy yg pertama (skrg punya 2 anak), Tiga tahun kmudian kakak sy (laki2) skrg punya 1 anak dan slanjutnya adik sy yg kedua (Hamil muda). Dan sy sampai saat ini (thn ke5 lbh bbrp bln) msh berdua. Sdh bs dipastikan skenyang apa sy ”makan” celotehan si mulut usil. Dr mulai nangis sndr sampai nangis berduapun kami pernah. Diluar terlihat tegar tp didlm…. Huft.. Ga perlu ditanya. Bnr yg tmn2 blg.. Blm punya anak bukan brarti kita tdk bahagia. Alhamdulillah.
      Allah punya 3 jawaban atas do’a kita, Yes No or Wait. Pastinya… Allah tau yg trbaik utk kita. Jd…. Ttp smangat ya tmn2…
      Allah with us.

      Muuuuaaaaach

      • Salam kenal juga Anna….betul sekali jawaban doa kita tidak selalu sesuai dengan keinginan apalagi berbanding lurus dengan comelan si mulut nyinyir…..karena apa yang Tuhan berikan jauh lebih sempurna dari keinginan kita apalagi dari pedasnya si mulut nyinyir….SEMANGKA…SEMANGAT KAKA

    • Waduh maaf kok kerabat anda kasar sekali ya? Kayaknya memang persepsi kebanyakan org kita sama sekali belum berubah ya? Kalo lama belum hamil pasti kebanyakan “salah istrinya”. Padahal jaman skrg kasus infertilitas cowok makin meningkat lho di atas 30%, itu belum yg tidak ketahuan krn biasanya cowok kan msh gengsi ya utk periksa ke andrologist dsb. Dulu ibu mertuaku juga begitu, puji Tuhan kami tinggal agak jauh dr mertua. Hehehe. Obgyn terkenal yg pernah sy temui aja berkata “Kalo mertuamu nuntut lagi, bilang aja dokter juga bukan tukang sulap yg bisa langsung bikin pasiennya hamil. Protes saja langsung sama Tuhan.” Yang sabar ya,sist

  7. Bukan cuma punya anaknya yang jadi kompetisi, tapi juga jenis kelaminnya! Kalo belom sepasang kayak di iklan odol atau margarin, dianggap kurang mlulu 😀
    Sekarang aku lagi hamil anak ke-3, dan (lagi-lagi) anaknya cowok. Bayangkan berapa kali mau nyelepet ratusan mulut usil yang bilang, “Artinya mesti tambah 1 lagi, tuh, biar ada perempuan.”
    Nguik, nguik, nguik 😀
    Padahal buat nyetop mereka, aku udah bilang loh kalo ini hamil yang terakhir karena total bakal 3x caesar dan mau steril untuk menghindari kehamilan berisiko. Eh, TETEP loh adaaaa aja yang ngeyel ‘caesar kan bisa 4x’.
    Laaahhhhh, lebih seneng ngeliat aku koit demi sekadar usaha punya anak perempuan, hahaha…
    Intinya, cuma mau bilang kalo mulut usil akan selalu ada dalam tiap tahap kehidupan 😀
    Btw, salam kenal ya Priska, nicely written 🙂

  8. Keren tulisannya kak.. Salam kenal.. Bahkan nanti social pressure pads fase melahirkan normal apa ga.. Menyusui sufor apa asi, udh punya adek belom dst akan ada kak.. *ngunyah keripik*

    • #nyomot keripik# ah iya siapa sih yang menciptakan standar pertanyaan sosial pressure itu…sepertinya kita harus bikin tren baru….bikin sosial pressure yang lebih seru misalnya nanya….beli keripik di mana kok enak heehehe….Mari saling menguatkan 🙂

    • salam kenal ya mbak priska. baca tulisan ini berasa nemu teman senasib. pernikahanku tahun ini sudah 4 thn. pertanyaan seputar itu rasanya hantu deh, setiap saat selalu muncul. kadang sebel, kesel dkk tp ada kalanya senyum2 aja. ah biarlah mereka berkicau sesukanya. mendingan mikirin buat liburan berdua sama suami. #semangat2

  9. Pingback: Mau Kompetisi Apalagi | Incredible Dinna

  10. one smart post!
    Mau gue tambahin yang selalu gue keluhin: kenapa selalu ditanya “kapan nyusul si A? Dia udah punya anak dua.”
    Nyusul apaam sih maksudnya? Nyusul lomba apaan? Pengen jawab rasanya “nah elo kapan nyusul ke neraka?” Zzz
    Tambahan juga. Gak semua wanita itu dilahirkan dengan traits yang keibuan atau maw jadi ibu. Some women gak maw jadi ibu dan it doesn’t make them less of a woman!!!
    Gue benci banget sama org2 yg blg wanita itu belum jadi wanita yg sebenernya sblm melahirkan. TAIK KUDA.
    *rants over*

    • I feel you, May. Gua punya temen yg anaknya udah let’s say, lebih dari satu, dan setiap kali ketemu atau liat status FB yg ada hubungannya sama nikah, selalu ngeburu-buru temen-temennya “kapan nikah?” “kok belum hamil? berusaha lebih giat donk” “kapan nyusul gua?” dan lain sebagainya. Well, dia ngerasa kalo dirinya udah jadi seorang juara dan jalan hidup yg dia pilih, bikin “tim futsal” sendiri di usia sebelum kepala 3 adalah yg terbaik. Dia ga mikir kalo orang laen mungkin masih punya prioritas yg lebih penting : mengejar karir atau punya penghasilan yg mapan, misalnya.

      *rants over*

    • Hahahahaha gua paling suka bagian….TAIK KUDA…..Gua punya sahabat yang memutuskan untuk tidak menikah dan gua begitu bangga sama dia karena dengan lantang bilang ke semua orang kalau dia tidak mau menikah dan dia bahagia. Luar biasa keberaniannya dan ya semua orang akan melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya….she is definitely a perfect woman. Karena taik kuda ngga berhak bikin kita merasa less perfect hehehehe

  11. Semua akan indah pada waktuNya. Mulut usil bakalan terus ada, dan memang nyebelin, nyakitin, cuma bisa sabar atau malah dihindarin aja orgnya.

  12. Duh baca tulisan ini dan komen2 sista semua bikin saya emosi jiwa.mulut usil ini emang perlu disuntik botok semua biar kaku dan gak usil lg.semangat semua para sista2 di seluruh penjuru dunia.ada atau tiada anak bkn tolak ukur berhasilnya hidup seorg wanita muah7 dr ku buat semua

    • Eeeekkkkaaaa…..kita kudu tos karena sama banget….tapi kita juga kudu Happy, Eka…bukan mulut nyinyir yang menguasai hidup kita…tapi KEBAHAGIAAN….Aku nulis postingan ini untuk detoks…biar tetap waras…biar tetap bisa merayakan hidup (lagi)

  13. same with me, mbak.
    thanks for writing this true story and thanks juga buat yg komen2 di atas, bener2 menghibur.
    “ta*k kuda”, “helm hampir melayang”, “mulut bang*at”
    it makes me laugh out loud karena pernah (dan masih) ngalamin jugak :)) :)) :)) :))

  14. Salam kenal, Mbak Priska. Saya juga di posisi yang sama, masih promil. Usia pernikahan hampir 4 tahun. Pernah hamil 2 tahun lalu, tapi bayinya meninggal dunia. Sekarang belum hamil lagi. *hug*

    Betul mbak, omongan orang memang nggak ada habisnya. Apapun yang dilakukan nggak akan menghentikan kenyinyiran orang yang memang hobinya nyinyir. Mudah2n aja kita nggak jadi yg seperti itu ya Mbak… *hug lagi*

  15. hi mbak..
    i feel you. pertanyaan terbiadab yang pernah terlontar padaku adalah, ketika papa kena serangan stroke, masih kritis di ICU, saudara2 datang menjenguk dan salah satunya bilang “papamu kayak gini gara-gara kamu belum kawin sih.” rasanya pengen nyakar mukanya sambil bilang “kamu tahu apa!”

    belum temen2 yang bilang “kamu punya standar terlalu tinggi buat cari pasangan. masalahnya kenapa sih?” trus kujawab “masalahnya mereka yang nggak bisa menjaga kepercayaanku hingga bisa selingkuh sana-sini” dan merekapun kembali berkoar2 karena kata mereka aku mengasih kebebasan terlalu besar kepada pasangan jadi mereka bisa selingkuh. ya pada dasarnya saya bukan tipe cemburuan dan pengekang (dan berharap dapet pasangan yang tidak mengekang dan tidak cemburuan juga), trus mau gimana?

    pas udah nikah, temen2 yang udah punya anak bilang “kenapa sih kamu lom hamil2 juga? sudahlah nggak usah sibuk2 kenapa sih? kamu bedigasan sih makanya nggak bisa hamil”. it’s like, “who the hell are you to judge me like that” 3 tahun lebih saya berjuang untuk hamil dengan dibayangi vonis dokter kalau kansku untuk hamil dibawah 25% karena terkena sakit batu ginjal & infeksi saluran kencing. 3 tahun lebih berusaha ikhlas kalau seumpama ternyata nantinya gak bisa punya anak. Alhamdulillah Tuhan berkata lain dan memberikan malaikat kecilnya padaku..

    nggak berhenti situ aja kok, mbak. bahkan sudah punya anak, tetap aja banyak omongan2 biadab, terutama saya kerja kantoran.

    saya heran di masyarakat ini.. dimana punya pacar, nikah, hamil dan punya anak dianggap seperti kompetisi. padahal itu semua adalah rahasia Illahi..

    maaf jadi curhat karena panjang banget 😛
    salam kenal mbak 😀

    • Sorry mampir say… 🙂
      Saya juga sama br 1 thn menikah dan sampe skrg blm hamil jg…. Tp prtanyaan smw org hampir sama, udh isi blm (mmg nya isi ulang air galon), kok blm hamil² jg sih?, ga topcer ya suaminya, atau kalian mandul… Ya ampunn, mrka bicara udh kyk dokter ajaaa… Sy plg kerumah nangis² lapor ke suami dan suami bilang rjki qt bukan hanya dr anak atau drh daging qt bisa jd dr anak org lain (misanya adopsi anak). Lgsg tenang deh hati tp ttp aja ada yg usil blg ga usaha dll…
      Pkknya buat qt wanita² yg blm pernah hamil atau sudah mari kita semangat semua… God bless all… 🙂

      • semangat ya mbak.
        percayalah ketika kita mengikhlaskan itu semua, Tuhan akan memberikan yang tebaik untuk kita. mungkin bukan sekarang. tapi di waktu yang tepat dimana hanya Ia yang tahu.

  16. I feel you mba… Ini tahun keempat saya menikah dan masih belum dikarunia anak. 2 tahun pertama itu nangis2 setiap abis ada pertemuan, baik reunian atau acara keluarga. Selalu nyiapin hati yang luas pas balik ke Indo takut ditanya sama tetangganya ortu. Masuk tahun ketiga pindah ke Yogya, memutuskan untuk kuliah dan agak lupa sama “ini”, tapi tetep rasanya kalo balik ke socmed deg2annya makin menjadi sampai ngebuat saya ngebuat sesi konsultasi dan nangis bombay di depan dosen saya (yg juga psikolog).

    Orang emang kadang cuma liat kulit luarnya aja. Gak tau jumpalitannya kita dengan permasalahan hidup yg sedang dihadapi. Semangat selalu ya mba 🙂

    • Be strong Mbak Puti….

      Orang emang kadang cuma liat kulit luarnya aja. Gak tau jumpalitannya kita dengan permasalahan hidup yg sedang dihadapi.

      Karena orang-orang itu cuman bisa komen mbak, sedangkan kita yang jalanin. Tapi enaknya jadi orang yang jalanin adalah kita punya PILIHAN untuk mengabaikan yang cuman bisa komen heheheheheh

  17. hi .. salam kenal yaah

    i’ve been married for 40 months dan belum punya anak.
    di saat kita udah ga pusing karena belum punya anak, malahan org luar yang lebih pusingin idup kita dengan pertanyaan2 itu lagi, padahal mereka beneran ga tau setiap usaha kita buat dapet anak.
    do they care(indeed i want to say thankyou so much for them) atau cuma sekedar basa basi .. haha ..

    yang penting sekarang im happy with my life dan percaya kalau someday Tuhan kasih kita anak, pasti Tuhan kasih pada moment yang ga pernah kita bayangin..

    thankyou for sharing this dan selamat menikmati waktu berpacaran with your husband

    XoXo

  18. hi, salam kenal. thanks untuk tulisannya yang ternyata bisa “mewakili” yg gua rasakan. Gua juga udah 8 taun jalan as childless couple. Yang penting dibawa happy aja, berusaha dan berdoa. the bright side nya, Imlek kemaren banyak yang mau ngasih angpau, katanya supaya berejeki anak. hahaha #sikataja ;))

  19. Halo mbak…saya dapet blog ini dr postingan tmn saya. 🙂 Suka bingit karena saya dlm posisi itu sekarang. Saya bukan org yg usil suka nanya nanya orang tyta tdk menyurutkan org utk nanya yg begitu ke saya. Makin ditanya,makin ogah saya jawab.Paling saya bilang,iya makasih doanya, atau nanti kan juga denger/tahu. Thanks for sharing….

    Ps : suka banget bagian yang ‘ketika berita itu belum dikabarkan bukan berarti rumah tangganya tidak dipenuhi dgn senyuman’
    🙂

  20. Hai mbak, salam kenal.. hasil FB walking membawa saya ke sini
    saya menikah 8 tahun, dan belum dikaruniai anak dari rahim saya
    tapi saya punya dua anak yang terlahir dari hati

    yang sulung (11tahun), anak suami dari pernikahan sebelumnya
    dan yang kecil (2tahun), anak yang saya asuh dari usia 40hari

    Mei ini bulan anniversary kami, dan sempet lupa kalau gak diingetin FB, hehehe
    daaan alhamdulillah-nyaaa yang saya pikirkan saat itu, betapa bersyukurnya saya bisa melalui pernikahan sampe ke usia 8 tahun, itu saja, alhamdulillah tidak terlintas pikiran yang lainnya

    alhamdulillah juga fase nyinyir sudah terlewati, hehehe… cuma satu yang agak ganjel
    kalau ngeliat ada orang yang kasih ucapan ‘selamat ya, anda sudah menjadi wanita sempurna’ ke teman yang baru saja melahirkan, wow, siapalah kita yang bisa menentukan kesempurnaan seorang wanita hanya dari kemampuannya untuk hamil dan melahirkan, ckckckck

    • Wow, salut banget buat yang nulis blog ini & buat Leenda 😍 ampe berkaca2 bacanya (mungkin efek pms)

      You guys are awesome! 💜💕 yang nyinyir2 bye2 ke laut aja 👋…

  21. Sebelumnya salam kenal ya, mbak. Aku dapet postingan ini dari temenku via whatsapp. Itu berarti postingan ini ditulis dgn sangat bagus dan menginspirasi. And I agree with that.

    Saya masih manten baru sebulan sih jd belum ada pertanyaan kapan hamil. Tapi sudah mabok dgn pertanyaan kapan kawin. Apalagi klo ada yg bilang ‘kapan nyusul itu, anu, ini?’. Awalnya sih aku jawabnya santai, paling cuma bilang ‘doain aja’. Tapi semakin lama ada satu orang yg emang mulutnya itu hobi nyinyir dan kebetulan dia emang uda kawin. Suatu ketika dalam forum besar dia nanya lagi ke aku kapan kawin trus aku jawabnya gini, ‘KAMU KAPAN MATI?’ trus dia ngambek dong hahahha. Gak salah dong ya aku jawab kayak gitu, wong jodoh, rejeki, anak, dan hidup/mati itu semua rahasia Tuhan. Posisinya sama.

    Tapi dasar mulutnya orang lain kita gak bisa kontrol jd ya lebih baik kita berpaling muka aja. Enjoying my own life. Selalu bersyukur agar bahagia.

    Eh maap jadi curhat berkepanjangan gini… semangat ya mbaaak cantikkkkk. Tuhan tidak pernah meninggalkan hambanya 🙂

  22. Hihihiii.. seneng banget bacanyaa!!! Krn dulu punya pengalaman yg sama dengan mbak2 semua. Saya tmsk muda saat menikah..jadi aman gak sempat ditanya : kapan nikah.
    Tapi setelah beberapa hari menikah sudah mulai ditanya tetangga : sudah ada isinya belum. Itu jawabnya masih senyum2 dan santai banget karena belum kepikiran pengen hamil langsung.
    Mulai mendekat setahun pernikahan.. dah mulai kerasa pertanyaan2 tetangga dan sodara kerasa gak enak di hati. Juga karena ada kista sejak remaja yang mengurangi kemungkinanhamil.
    Tahun2 berikutnya bahkan ada yang sok simpati. Pieeee… meh tak anter pijet ke mbah kae po. Usahane sik tenan. Doa mben mbengi.
    Ada juga yg komentar : coba bojoku ra iso hamil2 tak cerai tenan.. Nah loooo maksudnya apa bicara gitu di depan muka saya. Urusanmu mau cerai sama istrimu….. tapi pernikahan kami tidak sekedar anak yang membuat kami bahagia.
    Puji Tuhan kami dititipi satu anak yang adalah anak saudara saya. Mulut2 berhenti nyinyir sementara. Tapi beberapa saat kemudian ada yang bilang : itu kan bukan dari rahimmu. Itu kan bukan anak kandungmu. Kalau belum anak sendiri tuh belum lega. Bla bla bla blaaaa…
    Dan Tuhan itu Maha Baik. Di tahun ke 7 pernikahan kami, saya melahirkan malaikat kecil kami.
    Biarlah setiap mulut yg mencoba terus menghakimi…boleh diam dan melihat bahwa kemurahan Tuhan boleh terjadi selama Dia menghendakiNya.

    Hihihiii… panjang yaaa….

  23. Salam kenal ya..

    Ini tulisan gue banget..
    Gue ngalamin semua. Dari nikah telat sampai belum punya anak…

    Rasanya kuping gue udah nampung banyak pertanyaan reseh itu.

    Khusus part belum ada anak. Pertanyaan-pertanyaan itu memliki efek lebih nyakitin hehehehehe…. Kadang suka mikir, apa yang nanya bener-bener gak punya topik lain untuk diobrolin apa gimana ya.

    Belum lagi statement, bila sudah melahirkan berarti sudah menjadi wanita sempurna.
    What???? Gue gak sempurna gitu?

    Tapi sudahlah…
    Harapan gue cuma supaya gue dan suami bisa selalu bahagia bersama. Dengan atau tanpa anak. Semoga Allah mengabulkan…
    Amin..

    • Hi Nuigel….namanya lucu hehehehe….Kebahagiaan banyak bentuknya. Selama kita bisa jatuh cinta setiap hari sama pasangan kita, menurutku itu salah satu kebahagiaan yang seru…bayangin jatuh cinta tiap hari…awet muda bow….hahahahahaha….Amin…doa terbaik untuk setiap kebahagiaan yang coba diwujudkan ya

    • hi mbak. maaf ikutan komen ya.
      percayalah bahwa pertanyaan2 biadab itu tidak akan berhenti hingga punya anak sekalipun. nanti akan ada “kebiadaban” perkara lahiran normal atau sesar, asi atau sufor, irt atau ibu pekerja kantoran, bahkan anak yang aktif sekalipun dibilang nakal karena nggak bisa diem.

      yg dibilang sesar itu bukan ibu sebenarnya, yg minum sufor itu anaknya sapi, gak ngedot/minum sufor itu gak pinter (lha!), yang ibu pekerja kantoran itu tega ninggalin anaknya. ada beribu omongan basa basi yang emang nyakitin banget. lom lagi membandingkan anaknya dengan anak orang lain yang menurutnya gak oke. padahal setiap manusia itu unik.

      ya itulah manusia. rasanya gak lengkap kalo gak nyinyir 😛
      semoga kita semua sabar dan berada dalam lindunganNya. amien..

  24. seperti membaca cerita sendiri, bener banget

    hanya orang2 yang pernah mengalami penantian yang paham betul betapa petanyaan2 itu bak sembilu

    menjelang 1 dekade menikah aku kira pertanyaan2 iseng itu akn reda dgn sendirinya, trnyata ngga. tapi bedanya skrg aku dah ga berasa apa2 lagi kayaknada pintu otomatis yg nutup.teling ku kl ada pertanyaan2 isen semacam itu (keren yaa heeh)

    dan yang paling penting sampai hari ini hidup ku masih baik2 aja dan merasa lebih banyak yg bisa aku syukuri. dan.paling indah adalah ketika kita bisa melihat bahwa.psangan.kita gg pasangan sejati yg teruji kesetiaannya. rasanya kl ada yg nanya iseng ttd udah punya anak, pingin balik nanya udah punya suami keren kayak suamiku belum ? ahaha

    tapi mengingat suatu hari, saat teman melihat karir saya bagus secara ekonomi (menurutnya) saya lbh baik dari dia lalu entah krn hopeless atau mmg ga mikir dia bilang “kamu mah enak ga punya anak”

    dengan.agak sedikit pening dan berkunang2 ingatan saya kembali pada masa2 perjuangan keluar masuk rumah sakit, ruang operasi dan tempat terapi.demi bisa punya anak. dan dia bilang, enak.ga punya anak oh Tuhan, terima kkasih kau anugrahkan aku hati yang bisa bersyukur.

    akhirnya saya ambil kesimpulan kita punya anak atau blm punya anak buat org yang nyinyir ga penting. so knp saya hrs anggap penting perkataan mereka.

    mari nikmati saya hidup yang dianugrahkan apa pun bentuknya.

  25. ya ampun mba , baca ini langsung semangat rasanya , saat ini juga saya lagi masa2 ga terlalu mikirin punya anak atau ngga, lagi males keluar masuk rumah sakit , dan udah eneg minum berbagai jenis obat2an , rasanya langsung dapet suntikan energi dan semangat aja bacanya , jadi merasa sangat bersyukur , karena walaupun belum sempurna rumah tangga kami , tapi saya beruntung punya suami yang sangat perhatian dan menyayangi istrinya yang belum sempurna ini , sorry yah mba, aq langsung share aja haha, tadinya sih mau di share sambil ngetag si mulut2 “nyinyir” tapi ga jadi haha, takut malu sendiri nanti mereka

  26. sebelum baca postingan ini saya galau segalau galaunya….gak d rumah ortu atau di rumah mertua tetangganya mulutnya pada comel…mana ipar baru lahiran anak ketiga…rasanya ingin sembunyi di lubang semut..bingung juga kok orang luar yang terlalu gila urusan…bertanya ini itu..”kapan hamil..?kok sampai sekarang gak hamil2…?? uh anakx si ini uda dua kamu belum ada…jangan2 kamu mandul y…” Ya Allah capek, sakit hati,.cuma bisa nangis….untungnya suami, orang tua dan mertua selalu memberikan dukungan…postingan ini juga sangat memberi semangat untuk saya dan membuat saya merasa tidak sendiri…
    Terima kasih untuk postinganx…
    Semoga cinta saya dan suami selalu mekar dan harum mewangi seperti bunga2 di taman walaupun samapai saat ini belum di karuniai anak….

    • Lalu Anda ada di Pihak yang mana ? Pihak yang paling merasa sempurna dan gak lebay kah menurut anda????
      Ga ngerti ya sama sifat manusia seperti anda ini. Coba di lihat dari atas sampe bawah cuma komen Anda sendiri yang Nyinyir. Kalau Anda ga suka sm blog ini lebih baik dibaca aja jangan jadi manusia yang merasa dirinya paling sempurna. Toh dari atas smpe bawah komenannya pada kasih “jempol” semua. Karena memang itulah yang dirasakan wanita wanita disini dan itu fakta lingkungan kita bukan mengada ngada, bahkan seorang suami pun bisa down. Mungkin Anda belum merasakannya , ya semoga aja tidak , karena itu jelas ga enak. Kalau pun anda mengalaminya tapi anda merasa ga lebay berarti anda ga punya hati dan perasaan, kasian sama istri anda pastinya ya. Untunglah rata2 ibu ibu disini pada punya istri yang sabaaaaaaaaarrr nya bagus bgt, kebayang kalo punya suami kayak anda , lg sedih cm dblg “Lebay” .. oh Gosh i cant imagine that, wish ur wife never feel it. Yah kebayang sih dr komennya nyinyir bgt.

      Orang seperti anda ini bagusnya ikut komunitas yang suka nyinyir2 di K*sK*S aja.. cocok banget deh forum disana kan kalo ada Thread yang positif dan berguna buat orang lain pasti bakal ada satu sampe 10 orang yang nyinyir seperti Anda trus main keroyokan hahha LOL. Saya rasa bukan wanita aja yang merasa seperti penulis, ini buktinya ditulis juga oleh laki laki kok. Saya tadinya males ikutan nyinyiran lo mas tapi tolonglah hargai wanita wanita yang seperti disini. Dan cepatlah bertaubat supaya ga kualat.

      http://m.kompasiana.com/post/read/537260/2/sabar-ikhtiar-dan-perjalanan-menanti-buah-hati.html

      • Org2 yg ga ngerasain pasti commentnya kayak gitu, ga apa2 mungkin aja keluarganya udah sempurna.. Jd dy ga bisa berempati sama org lain yg blm bisa kyk dy.. Tuhan berkati ya mas..

    • Nyasar sendiri sih di sini, makanya nggak nyambung, hehehe. Jangankan hamil, kami berani jamin kalo cowok ngalamin sakit datang bulan aja pasti kebanyakan nggak bakal tahan. Hehehe. Coba sekali2 lihat di youtube tuh, semua cowok yg mengalami simulasi proses melahirkan langsung “kapok” bahkan ada yg sampe mohon ampun sama ibu dan istrinya. Kocak tapi nyata, dan ini bukan karangan kami sendiri lho. Hehehe

    • laki-laki kek gini nih yang bukan pilihan wanita. ga punya uterus tapi seenaknya ngomong gini. dah punya istri belum? klo udah, coba berani ga ngomong gitu ke istri. salut klo ga digampar atau minimal diaduin ke mertua.

  27. semangat mba…yang pasti say goodbye sama yang kepo…orang itu kadang suka usil pengeeenn tahu urusan klg orang…pdhal ga bantu apa2 :v

    well, seperti perlombaan gini ga cuma sampai situ mbak …yg punya anakpun seperti dilombain -___________-…

    ga selesai2…
    keep positif thinking…

  28. nice post mba, sedih dan kagum bacanya. Saya menikah baru 1,5 tahun, sebulan pernikahan langsung hamil tapi ternyata Allah berkehendak lain, usia kandungan 7 bulan bayi perempuanq IUFD. Serasa dunia mau runtuh. 40 hari setelah melahirkan sy n suami lgsg promil keluar masuk rs biar cepat hamil lg krn mental sy lgsung turun. tp kami nyerah di bulan ke6 krn sy jd tambah tertekan krn blom hamil lg, ditambah lg yg nyiyir adalah mertua sendiri. Omg, setiap kerumah mertua pulang2 pasti sy nangis2 di depan suami, apalagi waktu kakak ipar cerita ke mertua klo udah telat mens (udah punya anak 1) langsung dia ngomong teriak2 di depan rumah didepan para sodara n tetangga “kapan nih punya anak lg masa kalah?” Loh, emang yg nentuin hamil qt sendiri? Emang kejadian iufd kemarin gw yg mau. Sakit banget dsaat butuh support tp ibu suami malah ngejatuhin mental. Alhamdulillah skrg udah hamil 1,5 bulan, beda 3 minggu sama kakak ipar. Semoga n InsyaAllah kehamilan ke2 ini lancar, n temen2 yg blom punya momongan cepet dikasih sama Tuhan. Amin.

  29. sepakat….yg baru nikah 2 bulan aja dah di cecer pertanyaan kaya itu….rasanya pengen teriak tp ngk bisa…. 😥

    • tenang mbak Hartini…teman-teman banyak kasih masukan jawaban yang seru-seru….hihihihi….selamat nyoba banyak gaya bercinta ya hehehehehe…penganten baru kudu fokus pada eksplorasi gaya ketimbang dengerin mulut nyinyir

  30. Hi,salam kenal semuanya,article yg bagus bgt. Sy juga sudah menikah ,dan ini jalan tahun ke- 6 tp belum diberi momongan,awalnya bener stress tiap ada yang nanya kapan isi trus ada yg bilang cepetan atuh udh umur berapa sekarang,gak bisaan bikinnya (emang dikira goreng kerupuk apa bisa cpt gitu jadinya 😢),minum vitamin ini,ke dokter ini pada jadi lho hufff 😞,tapi lama2 pusing juga kalo mikirin setiap omongan orang2. Pada akhirnya saya selalu percaya bahwa Tuhan pasti kasih semua yg terbaik dan indah pada waktunya dan selalu bersyukur dalam keadaan apapun. Bener kata2 tadi belon dikasih anak gak berarti gak bahagia,i’m happy with my life no matter what people says 😃.Positif thinking aja kalo belon dikasih anak berarti menikmati waktu pacaran sama suami lebih banyak dan bisa travelling kemana aja 😘.Semangat ya teman2,GBU all 😘

  31. Salam kenal all…. Saya juga ngalamin hal yang sama… Apalagi saya sudah memasuki usia ke 11 perkawinan kami… Hehhehehehe…. Yang perlu diambil sisi positifnya aja…. Tuhan masih pengen kami pacaran dulu… Sehingga kami selalu nampak awet muda di sepanjang taon…. Qiqiqiiaiqiqqiqiiq… #judulnya menghibur diri… Hehehheh

  32. Hai Mba, Salam Kenal..

    Senang banget akhirnya ada juga yg buat post gini, buat hati rada tenang, pernikahanku sih baru masuk usia ke 2 tahun, dan lagi giat2nya nih pertanyaan mendasar “Kapan Hamil?” Ato gak “udah berapa bulan? itu kaya udah ada isi” (Nah hebatnya mereka bisa menyimpulkan sendiri padahal aku aja gak rasa apa2) Sampe suatu saat pernah ada yang gak sopan ngomongnya ke aku, si dia blgnya “kenapa gak dicicil dari waktu pacaran?” Entah dia bercanda atau serius, rasanya pengen banget ngebacok dia saat itu. Emang sih aku sama suami pacaran 7 tahun baru nikah tapi hellow kita usahanya juga nnti habis nikah lah, nah lebih horornya ada juga yg bilang kalo nikah pas tahun pertama pacaran gini anaknya bisa 4-5 anak, ada yg udah SD,TK, balita.. *ehh buset* (dikiranya saya kucing).. #pas curhat ke suami ehh cuma disuruh sabar aja hadapinnya. *gondok banget* emang gak ada matinya ni mulut2 usil, kadang mereka lebih hari lebih pintar nyusun pertanyaan daripada nyusun hidup mereka sendiri..

    *Sorry Curhatnya Kepanjangan*

  33. Saia jg sm mbak,kadang ak jd pribadi yg menyendiri gr2 tu mulut2 usil,mls dgrn pertanyaan yg tu2 aj,semoga semua indah pada wktunya ya teman2…

  34. balesan “kamu kapan mati” itu memang satu2nya cara utk mengurangi frekuensi pertanyaan usil. Saya sih kebetulan tdk pernah mengalami ditanya kapan hamil. Tp skrg sy capek ditanya “kapan gemuk?” Kalau sdh begitu saya jawab aja,”lha Ibu kapan kurusnya?” Atau,”Ya itu lemaknya Ibu pindahin lah sebagian ke saya. Dunia ini tidak adil ya Bu?” Paling dia ketawa sendiri, menyadari bahwa dia juga tidak sempurna. Atau kalau ditanya,”Mbak Rie kapan nikah lagi? Sudah kelamaan lho. Nanti keburu lupa.” Saya bales dengan,”hush, jangan tanya gitu sama saya. Itu lho mbak anu, nikah sekali aja blm pernah, mosok saya kudu dua kali?” Atau kalo lg pgn jahat juga, dengan senyum ngenyek sy jawab,”Wew, nggak usah ngiri dong Bu, sama saya yg bisa kemana2 gini krn ga harus urus keluarga. Hehehe..”
    Ya itu saja caranya. Mengalihkan topik. Apalagi kalau kita mengalihkan topik ke orang yg tanya. Lama2 males dia tanya2 ke kita, karena bakal balik ke dia sendiri.

  35. Saya pernah mengalami betapa menyakitkannya pertanyaan “kapan kawin?”. Yang lebih menyakitkan lagi ketika kelurga saya bilang bahwa saya adalah sosok yang memalukan karna belum kawin. Saya baru sadar bagi mereka orang yg belum kawin itu berarti loser yang tidak diinginkan. Di umur yang ke-28 ini dan belum menikah, saya adalah wanita yang dipandang kalah total karena belum ada gandengan dan gendongan. Yang lebih menyedihkan adalah ketika saya hanya bisa menangis sendirian dengan Tuhan menjadi satu2nya saksi dan penghibur. Saya hanya bisa berdoa semoga org yang tega mengatakan kata2 menyakitkan kapan kawin dan kapan hamil, suatu saat dapat merasakan juga sakit yg kita semua rasakan baik secara langsung maupun tidak langsung. Semoga kita semua yang masih harus menghadapi pertanyaan kapan2 itu dapat diberi kesabaran oleh Tuhan YME.

    • Jgn nyerah yoan. Sy dulu jg nikah umur 33 & sampe umur 31 jomblo jg. Biarkan mulut usil bicara, kl dr sananya nyinyir ya ada aja yg di nyinyirin.
      Dulu kl ada yg nanya “tunggu apa?” Ta jwb “tunggu brat pitt dong”. Dia nyaut “Lha km standard nya ketinggian”. Ta sautin balik “lah emang gua disuru milih gembel gitu? Ya iya si bakal cpt merit ky elu yah”
      Pokoke dibawa santai aja deh. Kl mood disautin. Ga mood ya ditinggal ga usa jwb. Bad mood lemparin aja asbak atau piring yg ada di dpn anda

    • Hi Yoan….berkat setiap orang beda-beda…ada yang diberi berkat karunia menikah dan ada yang tidak…sama seperti ada yang diberi berkat karunia anak dan ada yang tidak. Yang jadi PR itu sebenarnya adalah orang-orang kita yang melihat siklus hidup lahir, kawin, beranak, dan mati…karena sebagai masyarakat agraris…punya anak akan membantu untuk mengolah lahan pertanian maka pemikirian kawin biar punya anak dan punya anak yang banyak biar bertahan hidup….ada hubungannya dengan tipe masyarakat kita….tapi lagi-lagi setiap masa punya pemikiran dan kebiasaannya sendiri-sendiri…dan yang paling penting menurut gua….kita harus jadi diri sendiri untuk mengetahui berkat karunia apa yang akan kita terima…maksudnya….jangan pernah mikir nikah untuk nyelesaiin masalah…karena buktinya mulut nyinyir akan selalu ada…jadi mari menjadi waras dengan menikmati setiap proses hidup yang Tuhan beri 😀

  36. Saya sendiri sudah menikah beberapa bulan yang lalu, dengan usia yang menurut orang2 sudah tidak muda lagi.
    Kami sepakat menunda dulu untuk bisa lebih menikmati ini itu ber2 sembari menyiapkan finansial yang lebih baik.
    Yang nyinyir, yang sok menasehati rejeki udah ada yg ngatur, yang ngomongin usia saya dan bahayanya, yang kasihan sama ortu kami, dll sudah banyak.

    Komentar2 seperti itu sampai kapanpun akan selalu ada, di seluruh fase kehidupan kita.
    Habis kapan nikah, kapan hamil, kapan punya anak ke 2, belum lagi ttg kapan anaknya sekolah, usianya kan udah besar, trus nanti kapan anaknya punya pacar, kapan mantu, kapan punya cucu, dsb…

    Jadi dibawa enjoy aja dan positif thinking, bahwa mereka bingung mau basa basinya ngomongin apa. Jadi to start the topic, mereka nanya2 yang begitu.
    Yang harus kuat kita dan pasangan kita. Karena menikah itu butuh kesiapan hati, punya anak juga butuh kesiapan hati,pikiran. Jangan sampai cuma nggak mau kalah sama si anu dan si itu. Saya selalu menanamkan itu dipikiran saya.

    Kalo yang komentar nyinyir memang niatnya jahat2 dan mau ngejek sih, jotos langsung aja mba.
    I love your post 🙂

  37. Saya mengerti benar perasaan penulis, krn saya jg sdh 9thn menikah tp blm dikarunia keturunan, segala cara telah ditempuh dari medis sampai pengobatan alternatif. Sampai2 adik ipar yg baru menikah skrg anaknya sdh 4thn dan 2thn. Yah…perasaan sedih selalu ada, apalg ketika acara keluarga, pertanyaan2 sperti “kpn pny anak? Si A sdh 2″…hufff…they don’t know how hard i have tried and suffer mentally…
    Jangan putus asa ya…segala sesuatu ada waktunya…jgn putus pengharapan dan selalu berdoa…semangat!!!!

    • Grup hugs buat Elly….Pengharapan itu adalah salah satu hal yang menarik dalam hidup. Selama kita berharap maka hidup bisa sedemikian serunya….Don’t lose hope ya….God is good and He is good all the time 😀

  38. Sukaaa sama tulisannya… orang-orang itu emang ga pernah puas mengusik kehidupan orang lain. Belom hamil, ditanyain kapan hamil?… udah hamil dan melahirkan, ditanyain cesar atau normal? Kenapa cesar? Harusnya normal saja? Lanjuttttt…. kapan punya adik? Anaknya sudah besar (mine is 5 years old), kenapa ga dikasih adik? hedeeew…

  39. Hi ikut komen ya.. Setuju sama Frida. Kebetulan aku udh 4 thn dan lagi berusaha Ivf.. Walaupun aku kepingiiiiin banget tp skrg2 ini aku enjoy aja sama suami.. Nonton tiap wiken, jln2 naik busway berdua an dan banyak hal2 yang mungkin akan jauh berkurang nanti kalau sudah ada anak. Alhamdullilah nya keluarga inti n masi tante2 yg deket ga ada yg rese..tapiii pernah Badan aku digoyang2 sama seseorang sambil ngomong “ayoooo cepetan punya anak” seolah dia bukan manusia beragama yg ga ngerti yg namanya belum rejekinya. (Guess who!! Dia bapak ipar nya adek ku yg notabene seorang yg dituakan yg seharusnya bersikap bijaksana? Rasanya aku pengen balikin ngomong sm beliau “coba om tolong tanyain sama Yang Diatas” hehehe…

    Tapi ya sudah lah..nikmatin aja..

    • hahahahaha…… lucu baca2 komentar2nya, klo saia positiv thing aja sama yg nyinyir walo kadang nyebelin, anggap aja tiap pertanyaan do’a, semakin sering bertanya semakin dido’ain, saia menikah diusia yg ga muda 32thn sdh kenyang deh sama mulut2 yg bilang kapan nikah?std nya turunin dll
      Alhamdlillah dibulan berikutnya lsg isi tanpa diberi kosong, mulai deh yg nyinyir bilang “waaah ngejar target nie”, “waduh cpt banget, DP dlu ya?” klo yg nyinyir ngomongnya postif anggap do’a, klo ngomongnya negatif dido’ain aja smg menjadi lbh baik lagi. usia anak 2,5thn saia hamil kembali, mulai ribut lagi, aduh anak msh kecil sdh ada adiknya, kasian blm puas dpt kasih sayang, hellloooooooowwww………………
      keknya pertanyaan2 yg kek gitu ga akan berhenti deh, kapan nikah, kapan hamil, punya anak cewe ditanya kapan punya anak cowo, punya anak cowo kapan anaknya sekolah, anak si A 2thn sdh dimasukin sekolah, kok anaknya ga sepintar anak si A ya bla…bla…bla…. vitaminnya tuh kurang dst…dsb…. hadooooooowwww
      SEMANGAD u/ telinga2 yg baakal sering denger hal2 yg ga nyaman dihati ^_^

    • Hai mbak…
      Saya sempat ngerasain diusilin org2 ga ada kerjaan (dan mungkin jg ga ada otak) ttg masalah anak selama 6 thn kemarin. Saking keselnya keseringan ditanya, jawaban saya mulai ngasal.

      Tante Bawel: Kapan nih nyusul si A punya anak?
      Gw: Minggu depan, tante. Kalo ga ujan

      Sepupu kepo: Wah, blm jadi juga nih?
      Gw: Elo sih doanya kurang kenceng

      Biasanya sih pada ga nyaut lg. Atau ditoyor kl yg nanya lebih tua

  40. priska, salam kenal. bbrp bln lagi adalah wedding anniversary aku yang ke 6. Alhamdulillah aku dan suami masih mesra serasa pacaran. berasa pacaran krn memang kemana2 berdua, blm ada buntutnya. pertanyaan2 aneh2 diatas udh pernah aku dengar. perasaan yang awalnya kesel lama2 jadi kasian sama si penanya: sepertinya dia ga punya bahan omongan lain yg lebih variatif.
    bbrp hal yang kamu sebut diatas jg udh aku (khususnya) dan suami lakuin. semua program untuk punya anak udh kami lakuin. inseminasi, ivf, u name it lah hehehe… tapi kalo memang blm waktunya, ga bisa dipaksakan.
    tahun lalu adalah ketiga kalinya aku mengalami keguguran. yg terakhir ini adalah yg paling mengiris hati. karena sudah sangat diharapkan dan usia kehamilan juga sudah besar. tapi kembali lagi seperti yg aku blg diatas, kalo blm waktu ya ga bisa dipaksakan.
    dengan tulisan kamu ini, semakin membuat aku yakin bahwa aku ga sendirian. bahwa banyak perempuan2 hebat diluar sana yang memang blm diberikan kesempatan untuk punya anak, namun pintu kesempatan lain yang mgkn terbuka lebar.
    cuma satu aja sih pegangan aku saat ini, bahwa aku bisa menikmati kebersamaan dengan suami, saling mencintai, menikmati hidup, dan punya anak adalah bonusnya.

    • Keep on believing Mbak Richung…karena Tuhan selalu ada bersama orang-orang yang percaya….kebahagiaan itu batasannya bukan pada punya anak atau tidak…tapi punya suami keren hehehehehe…..Salam buat suami kerenmu ya

  41. Hallo salam knal…sayaa eka…

    Saya juga nikah udh tahun ketiga dan blm juga punya baby…kenyang bgt yahh dgrin celotehan org2 disekeliling..nanya kpn punya baby?qo blm hamil juga?usaha yg beneerr doong..

    Oh emjiii..dikira qta suami istri gak usaha apaa yahh..org kalo ngomong gak mikirin bgt perasaan qta yg blm hamil.
    Kdg2 suka byk yg sok tau blg mnum ini lah..mnum itu lah..biar cpt hamil..
    Hufftt saya cuma bs senyum aja

    Percaya deh,anak itu kan rezeki dr Tuhan ya..cpt atau lambat nya hanya Tuhan yg tau..yg jelas Tuhan pasti kasih rezeki (anak) disaat yg tepat..kapan tepatnya itu hanya Tuhan yg tau

    Kdg2 saya juga suka jawab “blm ada nih masih disuruh pacaran dlu nih” jwbn itu pun saya lontarkan untuk menghibur hati saya yg terasa sakit jika pertanyaan2 aneh mulai dilontarkan…

  42. Hai mbak Priskaa..
    FB walking brought me here.. bagus deh postingannya.. maaf ya komen (curhat)nya kayanya bakal panjang..

    semua cewek indonesia pasti akan tetep merasakan pressure itu terus2an kok.. saya dulu kosong 7 bulan.. saya ada riwayat endometriosis ketahuan sebelum nikah dan saya juga skoliosis which both condition bisa jd faktor penyulit.. suami punya gen kenceng infertilitas both dari keluarga ayah dan ibunya.. dengan kondisi kami berdua begitu ajaa, untuk org yg mengerti medis, udah bikin harap2 cemas kan yaa, bahkan pas awal menikah.. pertanyaan2 orang yg ada bikin makin stress.. padahal helloo kalo mereka tahu kondisinya, selain kondisi medis itu, kita nikah pas saya masih koass, dengan pressure cobaan2 koass ada pasien yg kabur lah, dosen yg begini begitu lah, maklum yaa di dunia kesehatan kan feodalismenya tinggi.. dan krn saya masih koass, saya dan suami tinggal jauhan.. suami pulang seminggu sekali.. jd tripel tuh pertanyaan2 annoyingnya..
    “udah isi blm?”
    “Blm, mgkn hrs bareng dulu ya”
    “Makannya kerja pasien yg rajin dong cpt lulus cpt ikut suami” *gatau dia udah sepontang panting apa padahal dan siapa jg yg gamau ikut suami zzz*

    Sampai akhirnya saya terucap “Ya Allaah, kalo boleh memohon, jgn lewat lebaran yaaa kosongnyaa..” dan alhamdulillaah dikabul Allah.. saya selesai ujian terakhir pas masa subur dan selanjutnya testpack positif pas bulan puasa..

    tapi social pressurenya gak berhenti.. dari mulai hamil dibilang gak kelihatan.. terus pas melahirkan SC dibilang ibu jaman skrg maunya enak aja dikit2 minta sesar gamau nunggu, ditakut2in kalo SC lbh sakit recoverynya *padahal saya bs melahirkan normal tp ketubannya rembes, kalo dtunggu anak saya keracunaaan keleess.. dan alhamdulillaah recoverynya sama sekali gaada rasa sakit.. malah lebih enak, ga khawatir sama jahitan pas BAK BAB hehehehe..

    lanjut lagi ttg ASI vs. Formula krn anak sy sempet sy dopping formula pas dia disinar krn kuning dan ASI sy sedikit kalo diperah, pdhl klo lagi disinar ga boleh sering2 disusuin lgsg spy penyinaran efektif..

    lanjut lagi soal working vs stay at home mom.. again, krn ASI perah saya sedikit dan profesi saya melekat, jadi skrg saya blm mulai praktek lagi, gak tega ninggalinnya.. rasanya itu alasan yg baik gak sih, tp tetep aja ada yg nyinyir “sayang bgt gelarnya” yaelah sayanya jg ga mikir kesituu.. zzz

    dan sepertinya akan terus berlanjut.. i expect bentar lagi mgkn aada urusan pengasuh vs. Tanpa pengasuh, daycare, pilihan sekolah, prestasi anak di sekolah, dan seterusnya.. semua akan terus menghantui kita, indonesian ladies.. kadang yang harus dilakukan cuma tutup mata tutup telinga dan lakukan apa yg menurut kita baik ajaa.. 😉

  43. Salam kenal Mba..
    Mba ga sendirian, saya juga 2 tahun nikah ngerasa enek sama pertanyaan-pertanyaan kayak gitu. Ditambah lagi domisili saya dan suami beda pulau, LDRan.
    Kemaren aku lagi down banget karena liat sosmed yang penuh dengan foto-foto USG 😂😭
    Tapi setelah baca blog mba ini, saya jadi tenang sama adem lagi.
    Semangat ya for us, jalani aja skenario dari Tuhan.
    Izin share tulisannya ya 😊

    • Mba Chitra, saya juga LDRan beda pulau sama suami dan belom dikasih keturunan juga. Suka bete sama orang2 kepo yang padahal tau kita LDR.

      Beberapa variasi pertanyaan:
      Kalo pertanyaan “Udah isi?” sy jawab “Udah barusan sy isi pake bakso”
      Kalo “Kok belom hamil?” (ini nih yg nyebelin) jawabnya “Kan jauhan.” -> “Ya diatur donk ketemuannya, brapa minggu sekali ketemuannya?” sy jawab “2 BULAN sekali.” biasanya udah diem tuh, klo ga diem juga “Sini beliin tiket gue 3juta PP.”
      Kadang ada pertanyaan “Wis bathi durung?” (Sudah dapat profit belum?) saya jawab “Belom eee, malah tombok buat beli tiket.”
      Dan saya akan selalu cari jawaban2 usil baru lagi dari pertanyaan2 nyebelin ini.

      Orang lain ga ngerti usahanya pasangan LDR gimana. Banyak yg bilang diatur dong ketemuannya pas masa subur. Masalahnya susah cari titik temu long weekend dan masa subur. Ketemuan pas saya lagi nggak mens aja udah bersyukur banget.

      Ga cuman soal keturunan. Keputusan kita untuk LDR sementara aja buanyak yg nyinyir. Ya dibilang aku istri yg ga taat sm suami lah (padahal ini keputusan bersama). Klo ada yg kayak gitu biasanya aku doain anak cucunya ntar LDR.

      Duh, maaf panjang ya hehehe..

  44. setujuh…..gak seharusnya mereka semua mencercar gt….asli mbk aq bacapun udah bisa ngerasain apa yg mbk prisca rasain….qta sama #bighug

  45. aku juga pernah mengalami ini… mulai jawab pertanyaan mulut-mulut usil dengan senyuman,sedih,tangisan,amarah sampe akhirnya jawab sekenanya 🙂 heheheh…intinya nikmati masa-masa dimana bisa berduaan dengan suami… #bighug

  46. haii.. haii.. aq juga sdh 4 taon nikah, masih pacaran mulu nihh 😀
    ngomong” tentang orang yg kepo.. kapan yahh mereka berhenti nyinyirin kehidupan orang lain.. bukannya ngasih kita semngat ini malah bikin down. apalagi aq pernah diginiin ma nenek” ‘kamu tu cuk yaa jgn harta z yg dicari anak juga donk.. rugi klo gak punya anak tar suami cari bini baru’ rasanya pengen aq ulek” tu nenek.. hbis dikatain gt mewek lahh sy 😥
    tapi semakin kesini.. kadang sdh mulai kebal dinyinyirin org”..
    #peluk n :* buat smua yg lagi berjuang.. semangka smua

  47. Hai salam kenal 🙂 Aku “baru” 3 tahun menikah dan belum dapet anak, udah ditanyain macem – macem dari awal – awal pertama pernikahan. Ngebayangin kuatnya hati orang – orang yang lebih lama lagi untuk selalu denger pertanyaan ini. Semoga mereka dan saya sendiri bisa diberi kekuatan dan ketabahan untuk ga memberikan jawaban dengan pertanyaan jahat.

  48. Pingback: Apakah Tidak Boleh Menjadi “Aku” Saja | api kecil

  49. Hi Mbak Pris..salam kenal..
    Well said…straight to the point!!!

    Ini thn ke 5 pernikahan & msh blm dititipkan malaikat kecil. Sebetulnya thn ke 2 pernikahan sempat hamil tp keguguran saat udh 4,5bln. Sampai skarang blm hamil lg.

    Social pressure yg sangat menyayat hati adlh saat keguguran krn ‘i was the only suspect on that case’. Yap betul suami ga pernah ‘diutik2 knapa keguguran’. Tp bedaa dgn saya sbg perempuan…kata2 tajam & hujaman tatapan menyalahkan saya itu dpt sy rasakan. Apalg saat itu memang sedang lanjut kuliah S2 krn ada hubungan sama kerjaan, dan disalahkanlah sang sekolah s2 itu..Pdhal hati pengen triak,”emang kalian tau bagaimana rasanya saya mati2an menjaga kehamilan itu? Emang saya mau di posiisi hamil sambil skolah? Kalau blh milih ya hamilnya saat skolah slesai”….You know nothing guys…

    Dan setlh keguguran blm hamil jg..pertanyaan2 itu kyk hantu….dan apakah mreka tau kondisi yg dialami sy & suami saat2 setlh keguguran itu. Saya lg masa pemulihan mental setlh keguguran. Sy butuh 2thn utk benar2 bisa pulih. Utk hamil jg butuh mental yg kuat right?

    Apakah mreka jg tau klo itu blm slesai, saat kita siap melangkah kedpn, saya didiagnosa kista yg blm jelas skali jenisnya krn msh observasi..apakah mreka tau yg kita rasakan?

    Nope krn mreka cuma berpikir klo punya anak adlh kemenangan. Mreka lupa bhwa punya anak adlh titipan yg hrs diasuh ortu bukan hanya diasuh babysitter, hrs bisa main brg anaknya heart to heart bkn hanya dibekali gadget, bhwa mreka butuh dibimbing kerjain pe er &bkn hanya browse mbah google.

    Jd stiap fase kwhidupan kita perlu blajar, berkembang & bersyukur utk yg ada bkn sibuk mencari pemenangnya…

  50. Semangaatt… Tuhan akan berikan di waktu yang paling Tepat, itu yang saya dan suami selalu imani, Puji Tuhan masuk 7tahun pernikahan gak terlalu banyak mulut nyinyir karena kami terang2an bilang belom siap koq punya anak, nanti2 ajaa.. mau jalan2 dulu de el el hahaha.. kalopun ada yg usil n kepo sekali lagii ya sebodo teuing deh..

  51. setelah memiliki 2 anak lelaki yg proses kelahirannya melalui operasi caecar dan semua anakku harus masuk ruang Nicu karena kritis, rasanya ingin sekali menangis apabila orang2 berkata termasuk keluarga dan orang tua suami : Kapan plan lagi punya anak ? pertanyaan ini seperti membuatku sebagai mesin melahirkan yg bertugas memberikan cucu utk mertua dan keluarga besarnya, hanya karena ipar2ku mempunyai anak perempuan. Ingin berteriak hey… rasanya sakit membelah perut kesekian kalinya untuk membuat kalian happy, or ini menyakitkan melihat baby mungilku harus berjuang hidup diatas mesin ventilator dalam inkubator. memang setiap.takdir kelahiran anak itu berbeda, tp please understand troumatic yg ku alami setelah melihat hidup 2 anakku berada diujung tanduk…..semoga tulisan ibu priska menyadarkan bahwa setiap wanita sebaiknya tidak memaksakan kesenangannya kepada wanita lain….amin

  52. very inspring article,
    I think everyone should read this article

    realita di sekeliling kita :
    belum nikah = kapan nikah?
    udah nikah = kapan punya anak?
    udah punya anak = kapan nambah lagi?
    tapi tidak ada yang bertanya KAPAN MATI?

    karena hidup, mati, jodoh, rejeki hanyalah ketentuan dari Tuhan.
    manusia berencana , Tuhan yang menentukan.

    makasih mbak, tulisan nya menginspirasi banget. aku nikah baru 6 bulan,, baru 6 bulan aja udh kerasa gimana social pressure. dan kadang-kadang lihat tmn yang udh hamil, posting di medsos tentang kehamilan nya, dan buat mikir aku kapan hamil? pm tmn d bbm, dari mual , muntah, ngidam ini itu, kesiksa ini itu pas awal kehamilan, malah buat aku mikir anak itu anugerah, tidak ada kata telat untuk mendapatkan nya, dan setelah ada kenapa dijadikan bahan mengeluh di medsos?

    tulisan ini membuat saya berfikir untuk lebih hati2, baik bertanya pada teman yang belum menikah, belum punya anak (karena sya juga belum punya), selalu berfositif thingking tentunya…

    bahagia itu kita yang memutuskan, bukan orang lain.

  53. Salam kenal mba priska,

    Seneng bgt akhirnya ada blog ini, yg mewakili perasaan gw stlh 6th menikah dan blm kunjung diksh anak. Jd semangat lg utk menghadapi mulut nyinyir diluar sana..gw udh kenyang sm pertanyaan begitu..smp akhirnya mereka berhenti sendiri, hahaha

    Yg bikin gw msh kuat smp saat ini adalah dukungan suami dan seorang Pastor yg dl pernah ngomong gini “Tujuan menikah yg utama adalah mencapai KEBAHAGIAAN”..jd gw akan trs bahagia no matter what

    Tq for writing this blog ya mba and keep writing ! Gw nunggu tulisan inspiratif yg lain

    #BigKissnHug

  54. Semangat!!! Saya juga sudah 5 tahun dijenuhkan dengan pertanyaan yang sama, tapi yakinlah semua kan indah pada waktunya..

  55. samaaaaa bgt,,,
    gua kalo ada yg iseng blg anak itu rejeki ,dan gua blg mening ambil anak dr panti biar jadi amal gua nanti.hehee hidup jangan ambil pusing,nikmatin aja yang ada,kalo ada ya di syukurin,simple

  56. so good..love it..
    i’m at the stage where pertanyaannya kapan nambah?kasian si G sendirian g ada temen main..jgn lama2 entar uda males, ayok nambah biar sekalian capek…aaaarghhh loe aza sono yg capek terus…gw masih mau nikmatin hidup bok..masak hidup capek melulu…
    i love my boy (just turn 3) and i do want another but i want to enjoy and just live this moment with him and my hubby…
    emang org kepo itu nggak ada abisnya there is always something to nyinyir about..
    semangat 45 to all dalam menghadapi nyinyiran org kepo..
    berpelukan 🙂

  57. salam kenal mba…apa yg ak rasakan n pendam dalam hati akhirnya terungkapkan jg lewat tulisan cakep ini…yg paling berat dri social presure itu adalah dri mama mertua…hikshiks.., tp sy tetap bahagia krn yg ptg suami tetap sayang n terima ak apa adanya

  58. Hello Mba, salam kenal ya.. akhirnya apa yang aku rasain bisa tersampaikan lewat tulisan yang bagus ini.. emang gemes ya sama orang2x yang mulutnya usil & gada bahan pembicaraan yang berbobot.. apalagi kalo datengnya dari orang terdekat yang kita harapkan justru mengerti keadaan kita.
    saya baru menikah 15 bulan & slama 8 bulan menikah memang berniat menunda punya anak karena kita berdua baru pindah ke luar negri (sistem KB cuma yang natural aja ikut sistem kalender) giliran sudah ngebet belum dapat aja..
    eh, malahan sahabat yang udah punya anak 1 yang bilang “mungkin kamu dapat hukuman dari Allah, dulu mau dikasih anak ko ditunda2”. Ga habis pikir ya bisa2xnya orang ngejudge seperti itu.. saya balik aja peryataannya “kalau gitu kamu juga dong? sekarang nunda anak kedua, pakai KB lagi.. kamu yang harusnya hati2x nanti Allah juga marah sama kamu..” HAHAHA

    kadang2x kita harus mengamati mungkin dibalik kenyinyirannya orang2x, mereka merasa punya anak membebani kehidupannya jadi ga sebebas dulu lagi (khususnya sebebas kita yang masih berdua sama suami aja, bisa jalan2x kemana aja kapan aja, bisa beli ini itu sesuka hati) .. somehow mungkin mereka juga pengen balik lagi kaya gitu hehehehe

    rejeki orang beda beda, ga semua pernikahan bahagia dengan adanya anak, begitu pula pernikahan tanpa anak belum tentu tidak bahagia kan?

  59. Hi mbak pris salam kenal yaa… Senang bgt bca postingan ini berasa punya teman senasib hehe sy dah nikah hampir 2 thn tpi blm hamil jga. Tpi baca ini dan smua komen2nya jadi smangat banget…. Serasa menikmati hujan setelah musim panassss yg sangat panjang 😃😃 percaya aja semua akan indah pada waktux..

  60. Keren mba Priska 💓
    Baru tadi pagi mikir pas commuting untuk lebih berhati2 dalam berkomen ke orang lain; eh ketemu link ke blog kamu dari temen yang promil 😊
    Karena jalan hidup yang tau ya masing2, bukankah lebih baik kasih support pada pilihan atau masalah mereka, daripada memberi “unsolicited advice” or komen2 negatif? 😅
    Group hug & much love to everyone here…

  61. w/out a minute instantly share this post.. rasa nya bener2 mewakilin pressure yg saya dan istri harus hadapi… dan parahnya.. pressure dgn pertanyaan tdk berbobot itu dtg dari keluarga besar saya.. padahal saya yg bermasalah.. 🙂

    bisa dibayangkan bagaimana sedihnya saya melihat istri harus terkena pertanyaan itu setiap hari.. 🙂

    pertanyaan basa basi di Indo memang perlu di evaluasi lagi.. klo gak tanya masalah baby, tanya masalah bentuk tubuh (gendutan / kurusan), kerja dimana (wht the hack, wht i do for living is not ur concern i guess)

    beda jauh sama pertanyaan basa basi di luar yg selalu berusaha bahas hal yg umum.. cuaca, suasana politic, olahgara, etc.. org luar bener2 menghindari pertanyaan2 yg melampaui privasi org lain..

    terima kasih atas tulisannya.. akhirnya ada tulisan yg bisa mewakili perasaan kami..

  62. ngalamin juga yg kya gini..
    nikah menjelang usia 34 tahun artinya telat nikah.. 😦
    udah 1,5 tahun pernikahan blm dpt rejeki momongan.. omongan ditambahin.. tapi ini pada usil ke suami.. gara2 istrimu gemuk sih jd susah pny anak.. gmn nih adikmu udah pny anak kok kamu blm.. bersyukur pny suami yg sabar.. jd bisa jwb omongan2 gak jelas gitu dengan santai..
    suami sering blg.. msh blm rejeki kita bwt diberi momongan.. artinya kita hrs tetap berusaha.. jgn dipikirkan omongan org2 gk jelas itu..
    #peluk suamiku

  63. Senasib…Yang bikin sy makjleb banget,klo ada yg bilang: gimana sih mbak perutnya kempes aja sambil megang perutku..Gimana mb dah mau berhasil belom? Koq lama banget..

  64. Yang namanya mulut usil dan kepo emang gada limitnya sis… Udah punya anak 1 aja masih dicecer, kapan bikin adenya? Klo sy, nasibnya punya anak 2 yang semuanya cewe (padahal suwer, sy bersyukur banget punya anak cewe semua). Lah tiap kali komennya : akan ada yg ketiga dong? Cari anak cowo dong? Bikin anak cowo dong biar lengkap. Pret! Emang anak gw ga lengkap?! So, budegin kuping aja. Wong anak 1 apa 4 bukan mereka yg nanggung biayanya… Dipikirnya ga punya anak or punya anak tp ga sepasang idup nya ga perfect kali ya… Phftttt….

    • Hai temen2 seperjuangan,

      Gatel nih pengen komen. Wow mulut orang2 sekitar klian luar biasa lancang ya. Kalo gue sendiri udah 5 taun lebih masih disuruh pacaran. Gpp, walo kadang naik turun ya dinikmatin aja. Namanya juga hidup, tantangannya pasti ada. Kalo ga ada tantangan ya ga hidup, hehe.

      Kalo gue Alhamdulilah mulut2 sekitar ga terlalu lancang cuman ya itu banyak bingiiit yg Hamil dimana mana. Beuh puyeng. Sakit atinya tu kalo lagi makan siang diantara para bumil dan mereka ngebahas kehamilan mreka. “Eh suamimu gimana reaksinya pas tau kalo kamu positif ? Suamiku gini gini gini” ato gak “eh kemaren aku udah USG 4D, lucu ih babynya”, Ato lagi ” gpp kali sesar itu ga selamanya ga bagus, kan bla bla bla” dan bahasan lain seputar kehamilan yg gue cuman bisa nyimak. Mo komen apa? Wong blum tau rasanya.

      Sedih. Ngenes deh. Denger mreka ngomongin begituan ekspresi gue senyum2 walopun dalam ati mringis diiris iris. Cuman bisa sabaaar dan moga2 mreka ngerti gak terlalu sering ngebahas kehamilan mreka depan gue. Amin. Moga2 kita semua diberi kekuatan dan diberikan jalan ya ladies!!! Semangka.

  65. Biasa lah paradigma sosial PD yg kita ga bs maksain org buat ngikut gaya pikiran kita..😂 Gw hampir 3 thn pernikahan dan blm ada anak juga..pernah waktu arisan keluarga gW bentak salah satu Dr mereka Krn typ kali ketemu yg ditanya samaaaa mlulu….WTH deh 😸
    People have never ending assume…bawa enjoy aja toh gmn2 msti ada aja yg mrka omongin..bisa gila deh klo nurutin wat peop say..so enjoy ajah *hug

  66. They don’t need to know your personal details and every single thing which you and Dan do in life. The undoubtful fact doesn’t ever lieing that all of them, with their sarcastic mouths, are not meant to be your true friends — selection of nature, the more understanding persona of the so-called bestfriends the less they want to intervere your life with their rude comments.

    A fly always be a fly. Nevertheless, the peacock always shows that its feathers are destined to be beautifully made than just a fly.

    p.s.: Anggep aja mereka semua laler mba Pris. Jadi mereka semua gak penting dibandingkan dengan ‘bulu serta sayap merakmu’ yang tegak berdiri – membelah kalbu!

    • Haaaayyyyy smuaaa.. Salam kenalllll..
      Pertama buat mas Dwi Wahyudi,, lucu ihhh km blng lebay, tp dibaca smua.. Hahahahh..

      Posisi aq sm kya yg mba2 post disini, aq dapet blog ini dari suami aq yg bohay..
      Aq sih, slama suami memeluk erat, megang tangan, pkonya yg romantis2 dehhh.. Aq brasa nge flyyyyyyy..
      Apalagi klo suami aq udah bantuin aq drmh, kayanya aq pengen pamerrrrr ke tmn2 kntor, dan stiap aq pamer, mreka diem..
      Berarti suami2 mreka gak kya suami aq..
      Hahahahahhahaha..
      Aq sih skrng lebih suka jln2 check in hotel sana sini, mklum pacaran kan ga bs gtu..
      Hehehehehheh..
      Positif thinking itu psti susah, mau baik sm orang usil jg pstinya lebih susah..
      Tp sering2 aja update status jln2, plesss yg mesra2 bareng suami.. Mreka jg psti iri kooo..
      Dlm hati mreka “enak banget sih kbnyakan duit jln2 trus, blm ada anak lg jdi gak ribet”..
      Hahahahhahaha pdhl blm tntu qta ngabisin duit bnyk koooo,, yg penting happy..
      Hihihihiiii.. Semangat yahhhh calon bunda2..

      Udah 1,5 nikah, pstilah lah omongan itu dmn2, kebanyakan sih dari kntor yahhh..
      Bahkan ada yg nyuruh aq pake bantal di perut lohhhh biar kya orng hamil.. Nangisssssss plng kerja, tp ehhhh suami aq nenangin dgn pelukannya..

  67. Aaaah.. ga trasa air mata deres sambil sesenggukan bacanya..
    Aku 2,5thn menikah dan anak pertama, sdgkan suamiku anak ke 5. Perkataan2 nyinyir banyak dari
    Tetangga ” kapaaan sih hamilnya??
    Temen kantor “kebanyakan posisi/gaya sih, makanya ga jadi2”
    Temen main “badan lo skrg melar, tp ko blm hamil2 sih??”
    Saudara “kapan nih ada isinya, si A si B udh hamil tuh”
    Tukang obat “jgn pernah nolak tawaran suplemen yg buat usaha bikin hamil, nanti ketulah”
    Ortu saya sendiri. “Aduhh.. mama papa udh mau bgt gendong cucu” atau “cepetan punya anak doonk, mama tuh dulu subur loh nak, langsung hamil” . Srasa ketancep pisau hatinya denger perkataan bgitu!!

    Mencoba sll tegar, senyum walopun sbnrnya ada ktakutan sendiri utk bersosialisasi dgn org2 nyinyir, karna mreka ada dimana2..

  68. Hai,,
    Mba,,aku baca tulisannya jd berasa ketampar deh..
    Bbrp kali suka keceplosan nanya ,”gmn,,udh isi blm?” ke temen yg udh lama ga ketemu,,
    Bener,,kl itu cm utk membuka percakapan. Tp biasanya aku lanjutin dgn doa,,”mudah2an secepatnya dikasih ya,,krn rezki urusan Allah,,termasuk anak,,”
    Alhamdulillah aku termasuk yg cepat punya anak,,br nikah langsung hamil..trs skr udh punya 3 anak..
    Bahagia??Pasti..tp jujur suka iri kl liat pasangan yg blm punya anak masih bisa nge-sate sama pasangannya kl malem minggu. Jalan2..nonton..makan..trs belanja utk diri mereka sendiri..
    Punya anak 3 ditambah ga ada pembantu?? Ga kepikiran deh utk bs kaya gt,,mending uangnya dipake utk sekolah anak,,beli susu n diapers..hehe
    Jd yg belum punya anak,,selamat menikmati masa bahagia pacaran sama pasangannya sblm dirempongin sama krucil2 ya,,

    Kebetulan jg iparku udh cukup lama nikah dan blm jg punya anak..ada yg pernah 2x keguguran,,ada jg yg belum pernah hamil sama sekali.
    Setiap ada saudara yg br nikah trs langsung punya anak (termasuk aku)..trs mereka jenguk bayi,,sempet keucap,,”kok kita nengokin bayi orang trs ya,,giliran kita kapan?”,,dengernya tuh langsung berkaca2 n pengen ngalir air mata.
    Disitu br tau kl mereka jg pengen bgt ngerasin hamil,,melahirkan,,menggendong,,menyusui dan membesarkan anak mereka sendiri. Dan ckp merasakan betapa pasrah dan hampir putus asa nya mereka..

    Utk wanita2 hebat diluar sana,,ttp semangat ya..
    Mulut usil emang ga bakal ada habisnya..
    Anggap angin lalu,,atau di amini aja sbg doa..
    Semangat..

    #Maaf ya kepanjangan..

  69. Membaca artikel ini dari kemarin,dan saya ulang2 bacanya sampai skrg,,liat komennya bnyak bgt,jd merasa klo aku tidak sendiri,bnyak yg merasakan spt yg aku rasakan. Umur pernikahanku baru/sudah 8 bulan, tp Yang Di Atas msh memberi kesempatan aku n suamiku untuk berpacaran dulu, alhamdulillah suami tdk pernah menuntut/ menyalahkan krn aku blm hamil. Tapi ya itu ya, hampir setiap hari d tanya tetangga atau pun saudara, “Koq blm bathi?” hmmm,, makanya kmrin bgitu ada artikel ini lgsg aku share di FB, tp sayangnya tetangga n saudara2ku ga punya FB,,hehehe… Pingen udah ga kepikiran lg atau ga ngoyo u/ cpt hamil.tp pertanyaan2 mlh membuat ingat lagi… Bulan Januari kmrin keguguran, dan udah 5x mens ini..ibu blg,”biasanya klo setelah keguguran tuh cpt,koq ini ga cepet?” cuma bs jawab klo Yang Menentukan dan Berkehendak Yang Di Atas…

  70. Hii mba kita senasib. Malah aq dah masuk usia pernikahan 5thn. Temenku bilang ‘Tuhan blm ngasih keturunan karena Tuhan sedang memberi kiTa yang lain lainnya dulu yg blm tentu org lain menerima yang Tuhan kasih pada kita skr ini’. So kita nikmatin aja dl proses2 seperti ini. Semangattt

  71. Agree Mbak. Kalo aku jujur takut juga punya anak, takut aku ga bisa bagi membesarkan dengan baik. Takut dengan dunia yg kayak gini gimana nanti mereka dewas dan aku mati.
    so terserahlah dengan anggapan itu semua.

  72. kewwwwreeeen euyyy tulisannya…ai laik dis

    awalnya siii risih juga…walopun saya tipikal orang yang cuek…tapi tetep aja periode kuping panas ada juga…i’m just only human, yg ga bisa cuek sempurna kan….tapi trus buat ngayem-ayemin ati bfikir : yaaaa itung2 desensitisasi lah, klo g ada para mulut nyiyiiiirrr ni mungkin bakan sensi teruuusss…klo pas utek jalan yaaaa palingan klo pas tertohok ya memaafkan yang menohok, yaaa harapannya si itung2 ngurangin dosa saya kali yeeee….trusan katanya doa orang teraniaya tu lebih tokcer yak…yaaaa klo pas terainaya gt ya sambil bdoa dalam hati aja, doa aja apa yg lagi dipengenin~hehehehe…lagian kata tokoh agama bilang : ga smuwa pohon berbuah kan…ada bwanyaaakkk pohon yang berbunga tapi nda berbuah, tapi mereka tetap sama2 beriman dan beribadah kpd Alloh dengan cara mereka sendiri, cara yang mungkin kita tidak ketahui….yang jelas God has His best plan for our lives…terkadang apa yg kita inginkan blum tentu apa yang kita butuhkan…terkadang kita merasa pengen karena qt blum memiliki kaya apa yg dipunyai orang lain…..sooooo life’s just once, no matter what ur life is, just enjoy it till the end of ur life….toh kita juga ga pernah ngrasain idup si mulut nyinyir, dan si mulut nyinyir juga g pernah ngrasain idup qt kan…yasudalah, bagimu bagimu, bagiku bagiku….

  73. Hiii mbaakkk…
    Walopun ga senasib.. tapiii I feel u banget..
    Bersyukurlah saya 3 bln setelah nikah sudah hamil.. selama 2 bln itu nyinyirnya ga ketulungan, baik dr ortu ato mertua yang tau jadwal mens..huks.. hamil 9 bln dan berhasil lahiran normal dg anak laki sehat yang gemuk.. 3,4 kilo dg jahitan yang sampe skrg masih nyeri… sampe disini masih rada aman dr nyinyir, kecuali mertua yang pengen cucu cewek (aq cuekin aja wong yang ngehamilin anaknya, dan anak mertua itu cowok semua.. darimana bisa dpt cewek klo genetika nya begitu..hahaha)
    Baby blues aq alamin sampe skrg mbaa, depresi lebih tepatnya.. si baby ga mau nenen langsung gegara puting datar, dan dg pertolongan breastpump bisa ngasih ASI sampe umur 45 hari, selanjutnya berkurang alhasil sufor bantuannya.. ituu mbaaa mertua dan sodara2 bahkan tmn2 pd bilg keenakan pake pompa siy jdnya ga mau nenenin (fyi tiap hari aq coba nenenin si baby dan ditolak sampe nangis2 aq dan baby) sedihnya ga ketulungan.. apalagi skrg tambah sufor, makin nambah lah nyinyiran ituuu.. nangis di kamar mandi uda hampir tiap saat mbaa.. mana LDR sm suami pula..

    Jadi calon ibu dan ibu2 yang lain tetaplah berjuang dr nyinyiran ituuu.. semangat tanpa henti (tmsk semangatin diri sndiri)

  74. Hallo mbak..salam kenal..:)
    Makasi yaa…tulisannya bikin aku legahhhhhh, krn apa yg ada dlm tulisan mbak udah mewakili seluruh unek2 yang pengen aku sampein ke orang2 yang kalo nanya suka ga mikir dlu, belom lagi org2 disekitar aku yang merasa hidupnya telah sempurna bukannya banyak2 bersyukur malah sombong bahkan terkdang pamer kebahagiaan sampe2 klo ngomong jg ga pake mikir hehehhehehehehe….
    Yang pasti setelah baca ini aku jadi semangat..makasiii mbakk.. *hug

  75. haiiii.. thanks bngt tulisannya mbak… baca tulisan ini sama comment2 di bawah serasa membuat I’m not alone.. gw org nya suka travelling, kadang malah kasian liat org yg cpt2 uda pny anak yg mau ke mana2 aja mau mikirrrrrrrrrrr panjang.. ga keq gw yg bisa lgsg go tanpa mikir pnjg hihihi (menghibur diri sndr :p)

  76. Halo mba priska,, salut atas keberaniannya nulis nyinyir kepada yang nyinyir. Aku aja pengen bikin tapi tidak cukup berani haha.

    Mending kalo para nyinyir itu nanyain yang emang belum rencana beranak, lah coba emang pasangan itu pengen banget hamil. Kan kasian, ga pada mikir apa. Pasangan itu sepengen itu tapi ga bisa maksa karena ada yang berkehendak.

    Aku juga termasuk ga langsung, baru hamil setelah 8 bulan nikah. Termasuk tipe emang sepengen itu punya anak. Jadi aku tau persis rasanya posisi “dikejar-kejar” terus pertanyaan yang bikin sedih itu. Makanya sekarang sekarang aku ga pernah nanya begitu sama orang disekitarku apalagi yang menikah sudah lumayan lama. Pas jaman dulu ada donk tante sampe nanya “loh kok belum hamil2 sih, suaminya gimana ni (suamiku dokter)”. Pret pengen nabok rasanya HAHAHA. Kadang gw merasa, yang suka nanya gitu mgkn simply belum pernah ngerasain di posisi yang sama.

    Hihi sori kepanjangan komen. Keep happy feeling mba! 😉

  77. Salam kenaal… 🙂
    di awal menikah aku juga merasakannya, selalu seperti itu ada aja yang tanya bgitu. karena emang saya ga langsung hamil. baru stlah 9bln nikah baru tau hamil. ya sdkit bs mrsakan hal yg sama…
    ini malah ada familyku, stlh 13tahun nikah mreka dkjutkan karena tau hamil stelah uk 30minggu (karena si istri jg ga teratur tuh si bulan datangnya). sudah hopeless tapi ternyata memang itu ternyata terbaik. sebelumnya mereka tetap bahagia, bisa sukses, bangun rumah. mnurutku sih Tuhan punya rencana yang lebih indah, yang lebih tau ap yg terbaik buat kita…
    soo… dont worry be happy…
    keep fight… keep smangaattt… 😀

  78. Salam knal mba..ikut nimbrung
    Sy udh 5thn 5bln paling bete klo dtanya “knp kok lom hamil juga?” skr sy slalu jwb “oke ntr sy sms Allah mu nanya knp sy lom hml aja”. Kt tanya “kenapa” itu loh yg sgt menusuk seolah2 sy tau takdir tuhan sprti apa! Alhmdulilah mba suami sy slalu mnguatkn sy dia slalu bilang “with or without baby i will always beside u”. #Meleleeeh daah

  79. Reblogged this on I'm 'me' when you know it and commented:
    Ini sama kayak ucapan basa-basi (yang dikira nggak berbahaya) seperti, “Eh, kamu gendutan ya sekarang?” atau “Gimana skripsi, kapan lulus dan kerja?”

    Mungkin niatnya cuma nanya kabar, but it’s actually very rude. Bagi subyek yang ditanya, it’s do more harm than you realize. Apalagi kalau setelah dijawab malah dilanjutkan dengan pertanyaan lain seperti, “Makanya diet dong.” atau “Kamu sih kurang usaha cari kerjanya.”

    Kadang orang lupa, nggak semua orang menjalani hidup yang sama dengan dirinya.

    Kadang orang merasa, pendapat dan cara hidupnya yang paling benar.

    Bukan sok bijak atau menggurui. Saya sendiri (sepengetahuan saya ttg diri sendiri) berusaha untuk nggak kepo dengan hidup orang lain kecuali mereka sendiri yang ‘mention’ tentang insecurity or problem terhadap saya. Hasilnya? Sebagian besar dari mereka segan mau kepoin hidup saya.

    Tapi seandainya ada yang merasa tersakiti karena judgement saya, ya saya dengan rendah hati mohon maaf atas kelakuan yang tidak saya sadari itu.

    Seandainya lebih banyak orang Indonesia yang mengerti ini, bahwa ucapan semacam itu tidak sopan dan poking people’s private live, mungkin hidup kita akan lebih damai, or at least less stressed.

    Why don’t we all do nice thing instead? Mending kita doakan saja mereka yang baik-baik, supaya mereka cepat lulus, lekas dapat kerja, lekas dikaruniai anak dan hal-hal baik lainnya. Entah langsung ke orangnya atau dalam hati.

    Why don’t we respect other people? Let them live their own lives and let mind our own business? It’s as simple as do to others as you would them do to you. So, if you don’t want to be judged, don’t do that to other person. And lets see what will happens.

  80. The answer is NO because:

    Having a child is not an obligation but growing your child is a duty and responsible upon all the parents.

  81. Salam Kenal mbak Priska 😀

    Seneeeeng banget ada yang buat tulisan begini buat para mulut “nyinyir” hahaha.
    aku nikah baru 5 bulanan tapi pertanyaan2 “social pressure” itu kadang bikin down. Alhamdul;illah suami selalu menguatkan.

    paling seneng sama kata kata di sini,, selamat datang postif thinking, selamat tinggal orang kepo yang g penting. Makasih mbak udah sangat menguatkan aku lewat tulisan ini,, kiss and hug :***

  82. klo blum nikah pasti di tanya2 trus “kapan nikah..kapan nikah?” klo dah nikah pasti ditanya udah “hamil blum?” cape jadi perempuan kadang klo orang2 disekitar kita suka kepo…gara gara hal kayak begini nih jadi bikin sebagian orang tergesa2 menikah atau punya anak padahal blum mapan kehidupannya,…

  83. Salam kenal mba, postingannya bagus banget. Aku pernah ada masanya pengen cepet punya anak karena berasa “dikejar” sama temen2 yang udah pada punya anak. Aku nikah sekitar pertengahan taun lalu. Yang nikah barengan aku udah pada punya anak dan bahkan yg nikah taun ini udah pada mblendung semua perutnya. Hikmahnya belum dikaruniai anak saat ini adalah Tuhan tidak ingin anakku lahir dalam kondisi mentalku yang pengen punya anak karena “berkompetisi”.

    Sekarang sih enjoy2 aja, orang bikinnya enak..hihihi.. Klo bikin mikirnya supaya jadi anak, malah ga dinikmati 😀

    Ketika aku amati, orang yang biasanya nanya2 itu antara belom pernah menikah atau orang yang langsung hamil, jadi nggak sempat ngrasain ditanyain begini. Tapi, ketika aku belum menikah aku selalu menghindari pertanyaan “Udah isi belom?” “Kok belom hamil?” dan segala variasinya ke semua pasangan yang aku temui. Surprisingly, banyak lho topik2 lain yg bisa digunakan sbg pembuka percakapan. Ada juga orang yang aku tahu dulu dia menunggu hampir 10 tahun untuk punya anak, tapi tetep aja kepo sama pasangan muda lain. Lama2 dipikir orang2 begitu kadang ndak ada hubungannya dengan pengalaman, tapi dasarnya aja kepo.

  84. Hai, Priska… salam kenal
    Emang masyarakat kita keponya tingkat dewa sih. Adikku nikah 8 th baru dapat anak. Sepanjang 7tahun, dia malas pulang ke rumah, malas ditanya segala macam soal anak, kagak pintar bikin *emang bikin sambel, tinggal nguleg cabe, trus jadi?!
    Kalo ortu kami alhamdulillah nggak nyinyir, mungkin malah ngalami dinyinyirin krn anaknya blm juga hamil. Krn aku sbg kakaknya aja juga dinyinyirin. “Napa gak diajarin adiknya tuh, gimana bisa cepet hamil,”
    Berasa lomba makan krupuk beneran.
    Trus waktu udh punya anak, selisih usianya dikit, dinyinyirin lagi. Kasihan masih kecil udh punya adik *minta dikeplak

    Aku yg langsung punya anak, juga dinyinyirin loh, anak kedua cowok lagi ya, bikin dong satu lagi cewek, bisa nggak? Atau ngomong gini, hati2 loh ntar suami kamu nikah lagi kalo kamu gak kasih anak cewek. Arghhh, Pengen lempar sandal. Dan aku lihat justru suaminya yg selingkuh, spa coba yg salah, pdhal anaknya cowok cewek. Mungkin malaikat sayang dg aku yg cuma senyum2 dan tak balas kenyinyiran itu?!

    Emang harus ya punya anak? Enggak mikir kalo banyak alasan ada dibalik ketiadaan anak. Mereka lupa, ads Tuhan yg menjadi segala kuasa ada atau tiada anak dlm satu perkawinan. Mana berani mereka menyalahkan Tuhan. Yg disalahin ya perempuan lagi dan lagi.

    • Untuk semua pembaca dan pemilik blog yang belum di karuniai anak tetep semangat ya.. g usah dengerin kata orang bikin capek..
      Lahir, mati, rezeki, jodoh sudah ditentukan Allah swt dan kita hanya bisa berusaha dan berdoa :’)
      Semua ttp semangat.. smoga segera diberi titipan ya.. Allah tahu keadaan yg paling terbaik bagi seluruh hambanya.

  85. Akhirnyaaaaa ketemu juga ma temen2 yang senasib,,wkwkwk
    Udah mau 2thn sya nikah mbak blm juga punya baby, tapi sya ma suami rencana_nya mau punya usaha sendiri dlu baru serius program baby,, tp mulut temen2 kantor ma tetangga2 dikampung semakin membuat sya gk betah. Apalagi teman kantor mbak aduh rasanya pingin sya jahit mulutnya katanya “wah kamu kapan isi sih A baru nikah dah isi?” Jengkel sya

  86. Hai kak, baru pertama mampir ke blog Kak Priska nih. Suka banget sama postingannya. Kesian perempuan gara gara patriarki jadi harus banget punya anak padahal nikah sama punya anak kan pilihan. Ada yg mau punya anak tp belom dikasih, tp ada yg asal punya anak jadinya malah gak keurusan. Bener banget kak, sering banget tuh suka ada yg banding bandingin “Si ini aja udah gini kok kamu belom?” Padahal kan hidup orang beda-beda ya kenapa jadi disamaratakan gitu haha.

  87. aaaaa…sy ada temannya alias snasib. sy nikah ud 3th lebih, bahkan prtanyaan2 seperti itu uda sy koleksi dn jadiin catatan.. bayangkan, sy berada dalam satu ruangan yaaaaang didalamnya terdapat mayoritas wanita.

    dan dari mayoritas itu ada yg nikah nya baru saja kebetulan rejekinya langsung di kasih kpercayaan hamil..bayangkan
    betapa sy merasa menjadi object penderita. emang sih mereka gk
    nembak langsung ke sy tp beberapa kali denger kalimat2 yang menusuk..apesnya kalau keluar dr ruangan sering
    ad pertanyaan2 yg menusyuuk
    T_T

    ni kumpulannya mba..

    `versi belum pernah ke dokter`
    A : Uda brapa lama nikah?
    B : 3 thn
    A : uda pny anak?
    B : hehe belum
    A : kenapa? Nunda ya atau emang blm
    dikasih?
    B : belum dikasih kog
    A : oh.. uda pernah ke dokter?
    B : belum mba
    A : kenapa? Coba dong ke dokter biar
    cepet ketauan kenapa2 nya
    B : iya ..
    A : jangan mikirin soal biaya.. anak tu
    g ada harganya loh
    B : iya..
    A : di itung juga umurnya skrg
    berapa..ntar hamil umur
    brapa..biaya sekolahnya nanti kan
    mahal
    B : yupp.. *mulaigerah
    A: coba deh ya pokok nya
    kedokter..duit bs di cari
    B : iya…

    Versi klo misal uda ke dokter
    A : Uda brapa lama nikah?
    B : 3 thn
    A : uda pny anak?
    B : hehe belum
    A : kenapa? Nunda ya atau emang blm
    dikasih?
    B : belum dikasih kog
    A : oh.. uda pernah ke dokter?
    B : uda mba
    A : trus kata dokter apa?
    B : mesti jaga pola hidup aja kog mba
    A : tu kan..pasti karna laki mu
    ngerokok ya?
    B : nggak juga
    A : berarti gara2 kegendutan tu..kan
    ngaruh jg
    B : nggak juga
    A : pasti lah ngaruh..rokok ama berat
    badan tu faktor utama
    (ceramah kali panjang kali lebar
    ngelebihin dokter dn psikolog)

    `versi cenayang`
    A : uda brapa lama nikah?
    B : 3 thn
    A : uda punya anak?
    B : hehe belum
    A : kenapa? Nunda ya atau emang blm
    dikasih?
    B : belum dikasih kog
    A : oh .. dua2nya kerja?
    B : iya..
    A : oh pantes.. sama2 kerja sih.
    Biasanya begitu tu, kalau cew
    nya kerja juga
    B : maksudnya?
    A : biasanya begitu, kalau cew nya ikut
    kerja bakal lama dapet
    anaknya karena sama2 capek, uda
    sana resign, istirahat di rumah
    B : hehehe,.ngga kog. Saya kerja juga
    gak terlalu capek
    A : ya itu kan kamu ngerasanya
    begitu..tapi badan kamu kan
    nggak..bisa jafi kamu lama hamil karna
    kamu stress dan kecapean
    B : *krik krik krik
    aaargh… pengen kunyah2 beneran.toh lo pada akhirnya sy hamil, mereka ngeliat perut sy ngebuncit.-_-

  88. aaaaa…sy ada temannya alias snasib. sy nikah ud 3th lebih, bahkan prtanyaan2 seperti itu uda sy koleksi dn jadiin catatan.. bayangkan, sy berada dalam satu ruangan yaaaaang didalamnya terdapat mayoritas wanita.

    dan dari mayoritas itu ada yg nikah nya baru saja kebetulan rejekinya langsung di kasih kpercayaan hamil..bayangkan
    betapa sy merasa menjadi object penderita. emang sih mereka gk
    nembak langsung ke sy tp beberapa kali denger kalimat2 yang menusuk..apesnya kalau keluar dr ruangan sering
    ad pertanyaan2 yg menusyuuk
    T_T

    ni kumpulannya mba..

    `versi belum pernah ke dokter`
    A : Uda brapa lama nikah?
    B : 3 thn
    A : uda pny anak?
    B : hehe belum
    A : kenapa? Nunda ya atau emang blm
    dikasih?
    B : belum dikasih kog
    A : oh.. uda pernah ke dokter?
    B : belum mba
    A : kenapa? Coba dong ke dokter biar cepet ketauan kenapa2 nya
    B : iya ..
    A : jangan mikirin soal biaya.. anak tu g ada harganya loh
    B : iya..
    A : di itung juga umurnya skrg berapa..ntar hamil umur berapa..biaya sekolahnya nanti kan mahal
    B : yupp.. *mulaigerah
    A: coba deh ya pokok nya kedokter..duit bs di cari
    B : iya…

    Versi klo misal uda ke dokter
    A : Uda brapa lama nikah?
    B : 3 thn
    A : uda pny anak?
    B : hehe belum
    A : kenapa? Nunda ya atau emang blm dikasih?
    B : belum dikasih kog
    A : oh.. uda pernah ke dokter?
    B : uda mba
    A : trus kata dokter apa?
    B : mesti jaga pola hidup aja kog mba
    A : tu kan..pasti karna laki mu ngerokok ya?
    B : nggak juga
    A : berarti gara2 kegendutan tu..kan ngaruh jg
    B : nggak juga
    A : pasti lah ngaruh..rokok ama berat badan tu faktor utama
    (ceramah kali panjang kali lebar ngelebihin dokter dn psikolog)

    `versi cenayang`
    A : uda brapa lama nikah?
    B : 3 thn
    A : uda punya anak?
    B : hehe belum
    A : kenapa? Nunda ya atau emang blm dikasih?
    B : belum dikasih kog
    A : oh .. dua2nya kerja?
    B : iya..
    A : oh pantes.. sama2 kerja sih. Biasanya begitu tu, kalau cew nya kerja juga
    B : maksudnya?
    A : biasanya begitu, kalau cew nya ikut kerja bakal lama dapet anaknya karena sama2 capek, uda sana resign, istirahat di rumah
    B : hehehe,.ngga kog. Saya kerja juga gak terlalu capek
    A : ya itu kan kamu ngerasanya begitu..tapi badan kamu kan
    nggak..bisa jafi kamu lama hamil karna kamu stress dan kecapean
    B : *krik krik krik

    aaargh… pengen kunyah2 beneran.toh lo pada akhirnya sy hamil, mereka ngeliat perut sy ngebuncit.-_-

  89. social pressure itu memang bikin gerah ya…
    saya belum sampe di pertanyaan soal “kapan punya anak?” sih. baru sampe di level “kapan nikah?”. usia saya sekarang 26 tahun, kawan satj gank waktu sma n kuliah, semua sudah pada nikah. bahkan saudara sepupu yg lebih muda pun ada yg sudah nikah.
    kadang suka gerah dan bosan dg mulut nyinyir orang2.
    walau belum nikah, toh saya happy dg hidup saya. saya bisa nikmatin hasil kerja, kaya’ yg mba penulis tulis d awal artikel ini.
    yang ga kalah nyebelin itu kalau sudah ada yg sok nasehatin ” jangan lama2 nikahnya, kalau di atas umur 30 nanti susah hamil lho, kalau pun hamil nanti resikonya lebih gede..”
    what the fuck!!! kesel.. tapi ya dari pada tambah panjang “nasehatnya” saya sekarang sering jawab gini ” yaudah, saya bikin anak aja dulu, mumpung belum 30.. nikahnya nanti2 ja” 😁
    Seperti yg mba penulis bilang, positif ja lah… toh orang2 nyinyir ini ga bakal pernah berenti nyinyir…
    saya yg belum nikah d tanyain mulu kapan nikah. temen saya yg dah nikah satu tahun lebih tapu belum hamil juga sering curhat k saya kalau dia super gerah dg pertanyaan kapan nikah. temen saya yg lain sudah punya anak, waktu dulu dia kerja ada yg nyinyir bilang anaknya ga keurus, sekarang dia dah resign tetep aja ada yg nyinyir..
    ah, sudahlah.. anggap mereka yg nyinyir itu iri dg hidup kita yg bahagia walau tidak “sempurna” dalam versi mereka..

  90. Hi Mba salam kenal…
    Saya juga baru menikah dan kebetulan sehari setelah menikah di bawa suami ke negeri tetangga. karena blm ada visa saya balik ke Indo 3 minggu setelah menikah, dan langsung deh ada aja mulut nyinyir tanya ” udah isi blm? ” halah…gubrak bgt deh pan saya baru nikah blm jg sebulan, trs saya jawab aja ” klo udah ntr disangkanya tekdung duluan “. Jangankan masalah hamil…dr masalah pertanyaan ” Kapan Nikah? ” itu jg udah sangat menyebalkan buat saya. Toh orang yg ditanya kapan nikah ini gak pernah minta makan ama tuh org.
    Apakah ini adl tradisi ya mba….klo iya ” disitu kadang saya merasa sedih “.

  91. salam kenal, pernikahanku tahun ini memasuki tahun ke-3 dan pertanyaan semacam itu kadang bikin resah, setelah baca tulisan ini dari makjleebb jadi maknyeeess… terimakasih sudah menginspirasi saya ^_^

  92. Haiii salam kenaal *ngacung* 😉
    Gue jg ngalamin ini pdahal bru nikah 6 bln. Udh byk aja loh yg nanya, “gimana udh isi belom?”. Biasanya gue jwb asal, ” udeh td isi bakwan, capcay, nasi dua piring. Kenyang alhamdulillah.”

    Ngselin emang, tp mungkin dg cara itu Allah jg mau ngajarin gue bahwa kalo gue ngobrol sm org, sebisa mungkin gue ga nanya2 hal personal ttg dia. Better ngomongin berita di tivi, dsb.

  93. Salam kenal! Post yg menarik, saya jadi ikut tulis komen juga :). Saya juga sering hadapin social expectation/pressure. Bedanya saya belum menikah, belum punya anak, dan ngga punya pacar tapi saya sudah mencapai umur 30an. Jadi datanglah banjiran komen2 seperti “Kok sudah tua masih suka pergi sendiri sih? Di usia kamu tuh kamu harus ‘settle down’!” atau yg saya paling benci “Kl ngga cepet2 cari pasangan dan menikah nanti kamu nyesal loh!” Memang kita ngga bisa kontrol apa yg org lain bilang tapi kita bisa tentukan jawaban kita, seolah2 meng-edukasi mereka bahwa mereka tidak perlu mem-project standard hidup mereka ke org lain, ngga semua wanita dan rumah tangga sama. Belum tentu yg sudah berkeluarga akan terus bersama.

    Saya dr kecil ngga pernah punya pikiran utk menikah dan berkeluarga. Saya lebih senang hidup sendiri, berkarya sendiri, bisa beli rumah sendiri dan urus persoalan pribadi saya sendiri. Saya bisa lakukan hal2 yg saya senangi tanpa menyakiti atau membebani org lain. Lucunya gaya hidup saya malah dianggap seperti kekanak2an! :p.

  94. ditanya kapan punya anak? jawab aja kapan km mati? ,sama2 hal yang tidak pernah kita tau dan diluar kuasa kita kan..dijamin itu mulut mingkem selamanya mba ha3

  95. hai mba 🙂
    saya dapat link ini dari watsap temen saya, yg dia sudah pernah melahirkan prematur dan bayinya meninggal dunia, sekarang dua tahun pernikahan dan masih menunggu untuk hamil lagi. dan saya, newly weed 7 months dan masih belum hamil juga.

    artikel ini, saya share ke teman2 saya via bbm atau watsap. saya berharap semakin sering saya share, mereka juga share ke org2 terdekat, semakin banyak yang baca dan semakin paham untuk gak lagi melakukan basa basi busuk macam ini. hehehe. pastinya blog mba viewernya makin banyakk, hahahaha.

    di daerah yang masih tergolong desa, social pressure lebih kejam daripada perkotaan, mulut yg komentar udah kaya pisau abis diasah, tajem! thx ya mba, for writing this. i love it. so much. semoga bermanfaat bagi buanyaaakkk orang, aminn 🙂

  96. halo mba..postingannya menarik sekali,,dulu sblm punya anak aku jg ngerasain hal yg sama..kmana2 pasti ditanyain kapan hamil..bahkan ketika anak aku umur 7 bulan udh ditanya2 kpn nambah..aneh memang mereka :v

    tapi aku jg mw tanya jg sma mba n temen2 disini,,kalo misalkan temen/sodara kita ada yg belum punya anak/hamil..bagaimana caranya menunjukkan rasa simpati tanpa harus menyakiti perasaan mereka,,karena mnrt saya, ga semua org nyinyir mksdnya jelek,,cuma kdg tanpa disadari pertanyaan n omongan mereka diterima/ditanggapi secara negatif..

    kadang aku jd serba salah kalo deket temen yg belum punya anak,,mw crita ttg anak takutnya dia tersinggung,,ga ditanya2 ntar kita dianggap ga perhatian sbg temen/sodara..

    plis,,ditunggu sarannya 😀

    • Halo mba, menurut saya cara menunjukkan rasa simpati yang paling tepat itu dengan sama sekali nggak menanyakan ke orangnya. Walaupun cara menyampaikannya bukan “Udah isi belum” dan sejenisnya tapi seperti “Mudahan cepat dapat momongan ya” itu sudah lumayan bikin kuping nggak enak. Mungkin kita merasa hanya sekali mengucapkan pada orang itu, tapi kita nggak tau sudah berapa puluh orang yang bilang begitu ke dia minggu ini, Kami berusaha berpikir positif, tapi kalau itu terus2an ya tentu saja nggak nyaman. Walaupun bisa saja “dianggap doa”, tetapi doa yang paling tulus adalah mendoakan dalam hati ^_^

      Kalau misalnya mau cerita tentang anak atau cerita tentang diri sendiri itu ngga apa-apa, asal ngga berlanjut ke “Kamu gimana?” atau “Kamu kapan?” Siapa tau malah dia yang akan bertanya ke Mba atau membicarakan masalahnya kalau memang dia perlu solusi dari orang sekitarnya. Disitu mba bisa menunjukkan rasa simpati, tapi jangan sampai dalam menyampaikan terkesan menyalahkannya seperti “Kamu sih ngga jaga pola hidup.” atau “Kamu sih kerja.”

  97. ehm merasakan juga sih ditanya begitu..
    Ini tahun ke 4 pernikahan kami.. Dan kami bahagia.. Walo masi berdua.
    Malah kadang ada yg tanya “emang ga bosen atau jenuh gitu d rumah berdua ajah” yaaelaaaah…
    Emangnya yg punya anak setengah lusin ga bisa jenuh???
    Astagaaa… Mentang2 mrekanya punya anak bukan brarti lebih bahagia dr saya tooh…

    Jadi mari qt cuekin mulut usil ituu…

  98. Reblogged this on LIVE FOR LIFE and commented:
    Karena semakin ditanya semakin membuat perempuan stress dan semakin mengacaukan hormonal yang ada di dirinya.
    Semua sudah di atur oleh Tuhan, gaesss. Empathy please 🙂

    • punya anak juga pertanyaan ga akan brenti mba. aku hamil anak ke2 saat anak pertama usia 12 bulan. dan pertyanyaannya adalah :

      1. ngebut ya..? doyan banget bikin anak
      2. ga kasian sama anaknya? dah punya anak lagi?
      3. biaya punya anak mahal loh, cukup ga kira2 punya anak 2? nanti keteteran
      4. pas USG perempuan lagi, ga bisa bikin anak cowo?
      5. ntr lagi normal atau SC lahirannya?

      pokoknya ga ada matinya…sy aja ga nyadar hamil karena asi dan mens 2 bulan, jenis kelamin juga bukan kita yang menciptakan. urusan finansial mampu atau tidak ini pertanyaan paling menyebalkan. karena selama ini juga selalu berusaha berdua sm suami dan alhamdulilah ga pernah ngerepotin siapapun. ah sedih mba, mulut nyinyir dimana mana… kalo jalan sama anak dengan perut besar selalu dilihatin dan dibilang ” kasian anak pertamanya”. padahal anakku baik2 dan hepi2 saja. hehehe..
      social pressure ga akan ada habisnya…akan ada banyak pertanayaan yg ngantri di depan kita.
      jalani saja, nikmatin dan cuekin…

      semangat ya mba..jd perempuan emang harus punya stok sabar, stok telinga yg banyak..

  99. Hihiii… Memang secara kajian literautr akademisi itu merupakan social pressure, coba dilihat dari sudut pandang pada umumnya dan positifnya, itu merupakan sebagian doa dari orang2 yg kita kenal dan kita sayangi, at least they are aware of U. Hidup kan hanya tentang persepsi, dan inilah budaya kita. Jadi ambil sisi positifnya aja. Good luck, wish U all d best.

  100. Salam kenal semua.. aku juga sudah menikah hampir 4 tahun, tapi belum dikaruniai keturunan. Aku baru baca blog nya Mba Priska hari ini, juga komen2 nya yang lucu2 dan inspiring.. thank you Mba Priska dan teman2 yang komen, aku jadi merasa nggak sendirian. Aku nikah termasuk telat juga, karena sepupu2 yang lebih muda sudah nikah duluan dan punya anak. Tapi aku bersyukur karena aku percaya aku bertemu dengan laki-laki yang baik, soal waktu kan memang sudah diatur dan timing memang sudah ditentukan yang terbaik oleh-Nya. Begitu juga dengan punya anak.
    Aku mau curhat sedikit, sebenarnya aku merasa seperti alien kadang2 kalau di acara keluarga semua sodara2 yang sudah menikah sibuk dengan anak2 mereka masing-masing, sementara kadang aku dan suami jadi mati gaya kalau stay di acara keluarga terlalu lama hehehe.. keponakan2 juga lucu-lucu jadi feeling blue deh aku, mikir hmm kapan yaa aku sama suami punya momongan.

    Soal pertanyaan2 kepo orang2 tentang kapan kami punya anak ya aku juga ngalamin itu semua. Ada dua komen/pertanyaan soal kenapa belum kunjung hamil, yang bisa bikin saya bete seharian.. dan berhari2 setelahnya. Kalau berat badan lagi naik, gini nih komen2nya;

    1. “Eh, kamu gemukan! Lagi ‘isi’ ya?”
    2. “udah isi ya?” sambil ngelirik usil ke perut aku yang emang sedikit buncit (lemaaak sodara2).

    Ada dua hal yang bikin aku sediih sampai lubuk hati yang paling dalam.. satu, dibilang gendut, dan dua “dituduh” sudah hamil hanya karena kita naik berat badan beberapa kilo, padahal kita sedang coba dan berjuang dan berdoa. Sesama wanita ngerti lah kalau dibilang gemuk itu gimana sebelnya. Then why do you still do it??

    Kalau memang ada yang bertanya atau ngasih saran bagaimana supaya bisa hamil, aku bisa menanggapi dengan senyum, anggukan aja dan bilang “Amiin, amiin makasih, doain yaa..”

    Tapi kalau sampai ngucapin yang dua di atas itu.. waduhh ditanggung aku bisa sedih berhari-hari.. ihiiks..

    Itulah sedikit sharing dari saya.. Moga kita semua bisa mengambil sisi positif dari semua masalah2 kita, Amiin 🙂

  101. Hallo Mba Priska, sukak banget sama tulisannya.
    Sama hal nya dengan kalau menikah itu kompetisi apakah semua perempuan harus jadi pemenang.
    Saat ini saya masih dalam masa2 banyaknya org yg nyinyir menanyakan kapan nikah.
    Semua org pasti ingin nikah, begitupun dengan memiliki anak, tapi kan kemabli lagi kepada Sang Penentu, kapan Dia mempercayakan kita untuk bisa menjadi seorg istri atau seorang ibu, aku percaya semua itu ada waktunya masing2 Mba 🙂

    Tetap semangat yah Mba 🙂

  102. Hai mbaaak, just found your blog dan suka baca artikel ini. Ahh, mulut-mulut nyinyir itu memang gak bisa berhenti komentar ya. Semoga dikasih yang terbaik mbak

  103. Siipp…nice writing. Aku juga rasanya risih ditanya2, baru hampir setaun nikah. Msh mending klo yg nanya kerabat atau tmn, lhah ini yg nanya cm customer tokoku n tukang jual pulsa d dpn rmh, peduli apa mereka ? just kepo n lip service. Pgn kasih jari tengah juga, tp jd berabe ntar…haha…
    Bener quote yg ngmg gini, qta cm pny 2 tangan yg gak akan mgkn bisa membungkam mulut2 di luar sana, tp setidaknya 2 tangan itu cukup bwt menutup telinga kita sendiri.

  104. hai mba ikutan komen boleh ya.. 😀

    saya nikah hampir 2thn masih berdua2 aja.. krn sy guru tk ya jadilah ortu2 murid banyak yg nyinyirin..
    sodara jg yah adalah bbrp..
    kawan yg paling nyebelin sih., seandainya mereka tau kalo ucapan “gw dulu cuma kosong 2 minggu tuh..” n sejenisnya itu nyakitin banget..

    belom lg yg nyuruh kesini kesana, minum ini itu, makan ini itu, urut disini disitu.. bahkan sy sampe terbang jkt-mojokerto cuma buat urut doank..

    sy punya masalah serius di rahim bahkan saat ini sy sedang datang bulan sudah 4bln belum selesai jg.. mereka yg ga ngalamin ga bakal tau gmn stresnya..

    aplg kalo uda bawa2 masalah ibadah.. sampe nuduh ga pernah solat malam lah, ga pernah sedekah lah, ga pernah berdoa lah.. yaaa Tuhaaann.. haruskah ibadah itu ada buku absennya??

    tp sy sama suami bahagia 100% kok..
    punya anak ga menjamin ke bahagiaan..
    kakak saya anak usia 2thn malah cerai sm suaminya, tetangga sy nikah hampir bareng tp setelah melahirkan lgsg kena lupus sampai skrg ga bs bangun n ngurusin bayinya..
    well, itu cuma contoh yg saya harap ga terjadi sm siapapun lg..

    maaf curhat kepanjangan ya mba.. semoga kita semua selalu diberi kesehatan.. amiin..

  105. Hi, salam kenal ya.. Gw dah 5 taun merit & happy2 aja tanpa anak (untungnya juga gw dah sejak 6 tahun yg lalu hengkang dari ibu pertiwi). Gw & suami sama2 gak mikirin, gimana jadinya aja. Tapi kita
    berdua sih gak mo ada “buntut” (ini istilah mami gw) biar bebas. Soalnya seumur hidup gw nungguin dpt beasiswa sementara orang2 di sekeliling gw bilang gw udah tua (pdhl wkt itu gw baru umur 27), “nti kamu gak laku” (pdhl yg ngejar2 & nglamar juga tetep ngantri wakakakaka), “nti rahimnya kering” (lo kata krupuk dijemur kali??) dan sederet argumen bodoh yg sama sekali tidak ilmiah, bikin gw tepok jidat, elus dada sampe akhirnya gw bilang “tunggu wangsit”. Malah dinasehati (terutama oleh orang kantor) eh nti kamu kualat tuh kalo ngomong spt itu terus. Lah wong gw lagi mampus2an cari beasiswa supaya bisa hengkang dari kerumunan org2 kepo yg ngakunya pegawai tapi pagi2 nongkrong ngopi2, di kantor cuma browsing2 ato tidur di mushola & sore2 dah beresin tas sebelum jam kerja berakhir 😦 Gw lawan terus dgn mulut yg semakin lama semakin pahit sampe akhirnya
    pada bosen nasihatin gw “mulutnya sadis banget, makanya gak laku2” Begitu akhirnya gw dpt beasiswa, bukannya pada hepi buat gw malah komen “lah makin telat dong nikahnya?? kapan punya anaknya??” busettt.. apalagi wkt tau gw putusin pacar gw (karena doi gak mo ngikutin gw sekolah), udah patah hati, nangis bombay sendiri eh masih ada org2 yg bela2in entah ngimel gw ato colek gw di fb cuma buat bilang “aduuhh kamu udah umur berapa, koq punya pacar malah ditinggal, nti gimana nikahnya?” cape bgt deh *menghela napas*
    Ternyata kekeraskepalaan gw diridhoi Tuhan tuh.. walopun dgn segala kesulitan akhirnya gw lulus S2 gw, sempet kerja di negeri yg baru ini, sempet nganggur karena gw ngejar kesempatan sekolah (yg ternyata proyeknya gak mulai2). Akhirnya sekarang lagi S3 deh (tentu aja suami gw hepi banget bininya nerusin sekolah). Jadi prioritas kita adalah, apa yg ada di hadapan kita udah sesuai dgn waktunya. Kalo S3 bkn rejeki gw, biarpun mo nangis bombay juga gak akan gw dapatkan. Kalo
    emang ditakdirkan hamil ya pasti hamil & proyek S3 gak akan jatuh ke gw. Anehnya orang2 yg tidak agamis di negeri ini yg mengajarkan gw utk go with the Takdir flow 😀
    1 hal yg gw salah, ternyata orang Indo dimana2 sama aja..! Bukan karena tinggal di Indo yg bikin kepo, you can take Indonesian out of Indonesia but you can’t take Indonesia out of Indonesian. Keponya itu loh yg bikin gw jarang gaul sm orang Indo, yg udah ngertiin gw sih cuma 1-2 kali nanya basa basi “kapan baby?” sekarang dah pada maklum kalo gw sama sekali gak keibuan dan baby itu sama sekali bukan prioritas rumah tangga gw (kita prefer travelling keliling Skandinavia dulu daripada beli tempat tidur bayi dan tetek bengeknya). Tapi ada bbrp orang yg saking gak punya ide mo ngobrol
    apa sama gw ya tiap ketemu nanya “kapan baby? tunggu apalagi nti keburu gak bisa hamil” apalagi Umur gw thn ini 39. Gw gak kuatir karena gw juga liat org2 lokal sini yg punya anak di umur 40 (gw gak suka istilah “telat” karena punya anak bukan nunggu take off pesawat), mereka lebih care sama anaknya dibanding org Indo yg umur 20an “aduh nyesel deh sekarang gak bisa travelling”, “lo sih enak gak ada yg diurusin jadi bebas”, “gw gak bisa nyalon neh, baby sitter gw mudik karena mo dikawinin” dst dst di sini suami istri kerja, berkarir, urus kerjaan rumah tangga sama2, begitu ada anak si co ada “cuti hamil” juga utk bantu istri (biarpun cuma sebentar) dan gantian repotnya. Kalo menyerahkan anak2 ke pengurus juga gak seburuk yg ditakut2i di Indo. Suami gw produk penitipan anak (mertua gw udah pensiun tapi masih aktif kerja spt masa mudanya -> teladan buat gw)..
    Tapi biarpun bukan dari keluarga kaya, suami gw sekolah setinggi2nya dgn bank loan yg dia bayar sendiri cicilannya dan sekarang udah jadi dosen yg lagi nunggu kesempatan buat jadi prof (biarpun umurnya 2 thn lebih mudah dari gw). Gw rasa orang Indo harus pikir ulang lagi kalo mengaku2 dirinya “berserah kepada takdir” tapi masih ngeributin org belum hamil.. Sorry kalo kepanjangan ya.. Btw gw dpt link ke artikel ini dari postingan teman gw di fb. Nice writing *thumbs up*

  106. hy salam kenal .. gw udh kenyang dengan coletahan pertanyaaan & sindirian soal anak,, klo bisa pgn nabok mulut yg komen #esmosi
    secara gw bkn sante2 kawin mulu cari enak doang, emg mereka pikir gw ga coba segala cara demi si baby dari yg bayi tabung sampe alternatif yg ga masuk akal.. *&*^$#*%*%$#*
    dan pait nya ini pernikahan ke-2 gw dan masih blm ada baby utk 2 thn huhuhuhu #nangisguling-guling# serasa gw hrs siapin diri utk dibilang mandul :((
    sekarang yg ada di pikiran cuma bagaimana caranya gw bahagia dan mandiri, karena gw pernah di posisi yg disudutkan krn kegagalan pernikahan dan blm tekdung. #shit#
    mungkin ini hikmah kenapa gw punya sifat cuek & bebal, Allah udh mempersiapkan mental gw utk ini 🙂
    semoga penantian & usaha kita semua ada hasil yg membuat kita bahagia dan bersyukur klo hidup ini bukanlah sia-sia… aamiin

  107. Keren mbak priska artikelnya……ijin share yaaa…
    Saya dan suami sudah menikah selama 8 tahun dan belom punya momongan.
    Kalo awal awal pernikahan sempet stress juga ngadepin pertanyaan orang orang yang nyinyir kaya gitu.
    Kalo sekarang ? Enjoy aja ….. bisa puas-puasin travelling, nonton, hepi hepi sama suami.
    Thanks ya mbak….

  108. hai mbak..saya baru baca artikel ini,aNd this absolutely great thought. Pasti menyebalkan dan menyakitkan banget kalo ketemu atau di kelilingi sama mulut nyinyir yg selalu kepo kehidupan kita. Entah kenapa mereka menganggap hidup ini adalah kompetisi, kalo emang menikah,punya anak dan punya kekayaan adalah kompetisi kenapa ga sekalian kompetisi cpt2an tua dan menuju alam kubur? 😛 hehehe..
    Sebagai cerita, mama saya dulu menikah pertama kali waktu umur 42th lho, sebelum itu mama juga ngalamin lah social fucking pressure itu,ribet banget di kepoin orang kenapa ga nikah dll..padahal mama saat itu emang wanita karir yg sedang menanggung 3 anak yatim piatu dari kakaknya mama yg meninggal, tapi orang tahu apa? mereka juga kan ga ikut ngebiayain sekolah anak2 yatim itu. Saat nikah itu aja tmn2 kantornya banyak yg nyinyir and judge my mom kalo beliau ga bakalan bisa punya anak karena udah tua. Kemudian selama 5 tahun pernikahan mama memasuki umur 47th dan mens pun udah mulai jarang2, tapi Allah memberi kesempatan mama jadi ibu, mamaku hamil di usia yg sama sekali nggak muda, resiko super tinggi. dan mama sama sekali ga ikut promil yg di RS gt.
    Saat hamil itu pun org2 kantornya mama juga tetep nyiyir..bukannya ngedoain malah bilang “udah tua pake hamil, ntar kalo mati gmna?”… kebayang dong perasaan mamaku saat itu. Mama cuman semakin kuat dalam doa dan hanya minta kuat oleh Allah. Alhamdl tgl 1 November 90 mama melahirkan dgn Caesar dan alhaml sehat selamat ibu dan bayinya (aku) 🙂

    ps: sampai saat inipun,kehidupan orang2 yg nyinnyir itupun masih tetap ga bahagia dan hanya bisa kepoin kita. 1 bulan lalu saya menikah, mama mengundang mereka tapi tak satupun orang nyinyir itu yg dateng 😛

  109. bilang aja mbak, kalo aq doanya pengan anak yg sholeh, berarti Allah belum memberikan anak yg sholeh sekarang…
    bayangin kalo anaknya durhaka… kan malah gak bahagia..

  110. Jangan salah, sebetulnya laki2 juga punya perasaa yg sm ketika membahas ini,
    Kebayang g?
    Kalau nikah sekian tahun, trus ada teman kantor atau teman istrinya bilang: lu jantan gak sih? Atau buktikan kalo elu jantan. Atau lihat tu si A, udah hamil, suaminya terbukti jntan. Dll

  111. Kenanglah ibrahim As tentang sebuah jumlah waktu, 40 tahun, dimana dia tak pernah bosan meminta dikaruniakan anak yang shaleh.
    Dan Tuhan mengabulkan kepadanya anak yang dinantikan itu, dengan keshalehan yang turun temurun hingga ke cucu dan cicit-cicitnya.

    Wallahu A’lam

  112. Salam kenal mbak pris, saya sudah melewati semua pertanyaan itu, saya hampir 8 tahun menikah tp blm dikaruniai anak, nasehat terakhir yang kedengaran adalah supya kami mengangkat anak. Supaya ada yang memanggil mama, papa ke kami. Supaya ada yang mengurus kami bila sudah tua nanti.

    Suami hanya terdiam krn yang bicara saat itu adalah nenek.
    ​tapi saya mencoba menjawab nenek, nek… Bila Tuhan tdk memberikan anak kpd kami artinya Dia belum ingin kami punya anak, knapa hrs dipaksakan?

    Lalu kata nenek lagi jadi nanti kalau kalian tua siapa ÿang akan mengurus kalian? Saya jawab, biarlah Tuhan yang urus kami krn Dia yang membuat kami tdk punya anak.

    Nenek hanya terdiam dgn jawabanku, namun msh minta tolong ke tante dan omku utk ikut menasehati kami agar mau mengangkat anak.
    Panjang dan lebar mereka menjelaskan, meski kita mengangkat anak, anak tsb tdk akan jd beban tapi Tuhan pasti lbh memberkati kita spy kita bisa memelihara anak itu. Sakit hati didalam mendengar perkataan2 mrka tp saya hanya bisa diam.

    Mbak Pris, bila saya pikirkan mengangkat anak jg bukan perkara mudah. Banyak yang hrs dipikirkan. Tapi yang paling terpikirkan olehku adalah seandainya suatu hari nanti ada kejadian yang sgt menyedihkan yang menyangkut ttg anak angkat ini, lalu saya menangis2 mengadu kpd Tuhan, bila Tuhan menjawabku ” emank dulu yang suruh angkat anak siapa?, yang ga sabar menunggu dariKu siapa? Yang tdk percaya padaKU bahwa apa yang terjadi adalah yang terbaik siapa?”
    What?? Bila Tuhan menjawabku sprti itu gmana?

    Saya sangat sedih bila keluarga besar menyinggung soal angkat anak, mrka tdk tahu betapa besar, betapa sungguh2 kami berobat utk mendapatkan anak sendiri. Betapa semangatnya kami 😥

    Semoga Tuhan mengasihani kami.
    Jenri&Risna

  113. Halo mba Priska. Salam kenal 🙂 ikut komen curhat ni. Sy sudah 2thn mnikah. Pertanyaan ini jg yg bikin males berinteraksi dgn org2 kepo :p
    Sy prnh hamil n kguguran pas 11w. Trus blm isi lagi smp skrg.
    Kalo tmn2 ato tetangga nanya masih dlm batas kewajaran, saran2nya sprtinya peduli.
    Tapi yg kepo itu justru atasan di kntr. Pernah (sering) nanya “km KB ya kok ga isi2?” sy jawab gak. Trus komennya “wah brrti km ga subur!” (ini yg ngomong Yth. Ibu eselon4. Sabar….
    Trus pas lagi istirahat kumpul2 dibecandain “km blm isi, bisa bikinnya ga? Minta ajarin tuh sama si anu” dan dibarengi dgn tawa Yth. Bpk ess.IV (yg pertama)ples anak buahnya.. Ikutan nyengir, pdhl dlm hati serasa kayak di-remes2.
    Yg paling kejem waktu istirahat di kantin, ini kantin umum loh ya, ada org umum juga disana. Sy datang paling akhir lgsg mau pesen mknan tapi dipanggil ma Yth.bpk ess.IV (yg kdua) trus dibecandain “lihat sini tanganmu. Masih blm hamil?” trus sy jwb “blm pak, sy KB skrg”. (Padahal si enggak) sy kira jawaban ini mampu mmbungkam trnyata malah brlanjut dgn dijawabnya: “kalo ku lihat garis tanganmu ni, suami km yg ga bisa bikin. HAHAHAHAHA”. Yg ketawa byk, trmsuk Yth.bpk ess.III yg slama ni sy segani.
    sy nyengir lgsg jalan keblkg kantin masuk dapur pura2 bantu bibi kantinnya, disitu ga nunggu malem lagi. Airmata menitik saat itu juga, mnguatkan hati agar tdk tambah mengalir deras, krna lagi ditempat umuuumm ciiin.. Pliss JANGAN terlihat lemah! Hiks. Berhasil juga ga smp nangis, tapi hati nyeseknya ampun deh..

    Hehe..panjang bgt ya mba? Trima kasih byk. Baca tulisan ini trnyata sy ga sndiri. Smoga smua yg dlm penantian buah hati diberikan kesabaran dalam menanti anugrah NYA, sambil bljr mmprsiapkan diri jadi orgtua yg baik dan siap nantinya.

    • Dear Vivin,

      Bapak-bapak eselon kampret itu dapat jabatannya ngga pake otak kayanya. Emosi cinnnn….Mereka underestimate ke kamu, bahkan menurutku itu masuk kategori pelecehan #emosi. Coba dilawan aja Vin, karena menurutku ke-eselon-an mereka tak membuat mereka punya job desk untuk mencemooh wilayah privat bawahannya. Coba bales gini aja, iya pak saya belum hamil tapi saya ngga wajib memberikan laporan soal itu karena kewajiban dan hak saya adalah sebatas profesionalitas bukan urusan kenapa belom hamil. Kalau pun kamu mendapat teguran, aku rasa kamu punya posisi yang kuat untuk melawan.

      Yang kuat ya neng, bos kepala udang emang bertebaran di mana-mana tapi itu bukan jadi pembenaran untuk mereka melecehkan kamu.

  114. Halo Mbak Pris, salam kenal dan terimakasih sudah berani nulis tulisan ini. Baca tulisan ini dan baca komentar dari teman2 yang senasib dan seperjuangan saya merasa memiliki hati yang jauh lebih luaaaaaaas. Juga legaaa, karena tidak merasa sendirian mengalami penantian ini.

    Saya dan suami sdh menikah hampir 2 tahun tapi belum memiliki baby. Walau belum memiliki debay saya dan suami tetap menjalani hidup dengan bahagiaaa.. kami udah honeymoon 2x malah. Hehe …

    Yang terasa mengganjal itu kalau ada teman yang bilang kalau belum diberi anak itu berarti Tuhan belum kasih kepercayaan. Pas denger itu berasa gimana gituu. Merasa berarti ‘ada yang salah sama gue dan suami’ sehingga Tuhan belum memberi kepercayaan itu. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, anak itu bukan hanya sekadar kepercayaan Tuhan, tapi juga rezeki. Bagaimana Tuhan terkesan bisa ‘salah kasih kepercayaan’ sehingga memberikan anak pada pasangan-pasangan yang belum merit, pasangan yang belum siap dalam ekonomi, bahkan belum dewasa secara perbuatan dan mental.
    Ada lagi temen saya yang ga lama merit terus hamil dan dengan bangganya sambil ngelus-elus perut dia bilang ‘yang gimana sih lu, kalah dong sama gue!”

    rasanya tu jleebbbb banget. Saya Cuma bisa memberikan senyuman termanis yang bisa saya buat sambil dalam hati bilang ‘biasa aja kaleeee! Lu udah hamil duluan emang hidup lu langsung sempurna, bahagia dan indah selamanya??’ terus saya liat di status bbm nya dia ngeluh melulu selama hamil dan sekarang babynya udh lahir juga sering ngeluh ini itu. Hehe …

    Yahh menurut saya Tuhan memberikan yang terbaik untuk kita. Sudah menjadi ibu atau belum kita semua tetap WANITA YANG SESUNGGUHNYA. Sakit hati dan kata2 nyinyir membuat kita memiliki hati yang mungkin jauh lebih luaasss dari mereka yang sudah menjadi ibu. Semangkaaa ….

    Btw saya jadi kepikiran gimana kalau kita yang dalam masa penantian ini sama2 saling membantu berbagi info tentang program kehamilan. Mungkin kita bisa bikin grup di email atau bbm.. kan enak tu bisa saling curhat dan berbagi info tentang dokter, alternative, dll. hehe …

  115. Semangaatt yaaa…Sama spertiku.Rasa itu membuatku malas utk kumpul2 dg tmn / klg besar..Suamiku lah yg sering menguatkan hatikum.Semoga kita semua dipermudah utk memperoleh keturunan…kabulkan doa2 kami semua ya Tuhan kami..Aamiin

  116. Assalamualaikum mba priska…..salam kenal yah……just share aku menikah setahun duluan dibanding sahabat aku dari jaman SMP, sampe skarang aku belum dikaruniai malaikat kecil alias anak, tapi ketika sebulan abiz nikah sahabat aku ini udah share kabar kalo dia hamil, wah ikut seneng donk aku dan gak punya pikiran apa2 sih ke dia, tapi gak berapa lama dia nge-chat aku cm buat kasih tips and trik biar cepet hamil yg isinya detail how to make a baby…whaaaattttt……dari pada berantem aku abaikan tuh chat…….yang ada dikepala aku, klo timbang teori doank mah tinggal googling trs bisa skalian liat bokep aja biar lebih komplit, huuuffffftttttt………qta berdua itu berusaha dengan amat sangat dan super duper keras sekali untuk bisa punya baby tapi jika Allah belum berkehendak lah kudu piye ? untung temen kantor slalu support bahkan mereka malah selalu iri liat aku dan suami masih bisa ngedate sekedar dinner keluar lantaran aku yg gak ada tenaga buat masak lagi. Actually kami baik2 aja kenapa yg rempong mulut2 usil itu yah

  117. sya dn suami bru menikah tgl 3 mei 2015, dan sdah bxak sekali yg menanyakan sdah “isi” ap blum? setelah menikah kami pun lgsg berusaha konsultasi ke dokter. Saya emang bertubuh gemuk jadi agak susah utk hamil. tpi kami sllu berdoa agar segera diberi karunia oleh ALLAH SWT. Saya puxa pendapat kalau menjadi ibu tidak hrus dg Hamil & Melahirkan krna anak adlh titipan yg sewaktu2 bisa diambil oleh ALLAH SWT.. menjadi seorang ibu yg terpenting adlh bagaimana qt membagi rasa sayang, kasih yg tulus, mendidik ttg dunia & akhirat, menjaga, merawat dsb… tetapi memang tidak bisa qt pungkiri kebaxakan org2 berkata kalau qt blum bisa hamil & melahirkan qt blum menjadi wanita sempurna. Smoga qt smw para wanita sllu diberi kebahagiaan dg ada atau tidaknya anak kandung qt, amiiiiiinn yrb alamin… smoga qt termsuk golongan org yg Selalu bersyukur.

  118. Kapan kawin? Kapan py baby? Kapan nambah dede? Kapan suksesnya? Itu semua pertanyaan rutin yg mengganggu sis.tp yg paling parah pertanyaan kapan py baby? Knp? Krn diluar kekuasaan kita. Apalg ky aq yg uda berusaha bertahun2 berjuang bertaun2 melawan rasa takut,sakit dan terus gagal. trus ditanya koq belom py baby aja sih? Grrr rasanya tuh ky kulit uda keiris trus ditambah in jeruk nipis sama garam ga mikir sumpah.

  119. Gara2 baca blog ini jadi ngerasa kalo ternyata ga sendirian, ternyata banyak juga yang ngalamin hal yang sama.
    Makasih buat sharing yang bener2 mompa semangat, baca komen2 yang lain jg bikin excited, hehehehe……

  120. Mau Ijin untuk dishare ya..
    It’s a very very good opinion dan banyak diantara kita mengalami perasaan yg sama. Awalnya kita bisa cuekin, lama2 mulai ganggu. Padahal kita2 sendiri yg menjalani nya.
    Dengan membaca opinion ini, saya akhirnya yakin kalau saya tidak sendirian berpikir seperti ini..

  121. Hi..salam kenal riska.. mau muji tulisannya bagus banget.. bisa menyuarakan apa yg ada dlm isi kepala (termasuk segala comment2nya).. I feel you.. bahkan aku g lagi bicara thn k3.. ini udh mau thn k7 bo ;D
    Alhamdulillah.. masih sabar2 aja.. malah sengaja kubuat iri dgn travelling ke semua tmp yg kubisa dan memposting segala foto travelling biar yg udh punya anak ga ribut lagi ahahahaa… you may have children of your own, but We both are children of the world hehehe
    Anyway, goodluck dengan semua usaha dan doanya.. buat priska dan semua temen2 yg comment #kisskiss

  122. Terkadang yg rese bukan dari keluarga yaa. Justru org2 sekitar yg gak deket2 amat juga, gak kenal mereka juga gak rugi haha *curhat colongan
    anw salam kenal mba. Tetep semangat!!

  123. Pingback: (Marriage Life #10) It’s been five months… | Letters of Life

  124. Pertanyaan2 seperti itu bikin nyesek. Menjalani awal pernikahan, saya dan suami tinggal beda kota. Menjelang ultah pernikahan 1 tahun, akhirnya memutuskan untuk resign dan tinggal serumah. Harapan besar dengan keputusan itu, biar bisa hamil.
    Tapi hingga 2 tahun pernikahan, belum diijinkan diberikan keturunan. Terkadang memang putus asa juga kenapa belum hamil, terlebih akhir2 ini ada omongan2 yang kurang enak. Apalagi suami dapat omongan, “percuma kamu kerja jungkir balik, tapi belum punya keturunan.” Suami pulang ke rumah, menangislah kita berdua karena kalimat itu.
    Jahatnya kalimat itu.Padahal sudah mengupayakan untuk mendukung kehamilan. Saya hanya berpikir, barangkali kita berdua belum dipercaya untuk memiliki keturunan. Itu saja.
    Tetep semangat ya buat semuanya. #peluk

  125. ikutan share mbk…sama di begitukan or yang ngaku lebih punyak iman dan agamis, nah loh yang lebih gk agamis siapa, aku pa kmu yn suka membuat sakit hati or lain….maksih artikelnya ….bs lbh tegar lagi…

  126. Aku bacanya sambil kluar air mata…..karna pertanyaan yang sama juga selalu kudengar.
    Mereka gak tau setiap malam tempat tidur bergelimang air mata karna berdoa minta sama Tuhan untuk dikasih belaskasihan.

  127. Setelah membaca blog ini, hati berasa lebih adem… ternyata aku ga sendirian… banyak yang lain yang ngerasain hal yang sama seperti yang aku rasain… aku nikah sudah mau 3 tahun dan masih belum dikarunia momongan. sudah banyak kata2 nyinyir yang kudengar baik dari saudara atau bahkan tetangga. khususnya kalau lagi pulang kampung. Terima kasih untuk mba Priska untuk tulisannya, membuat energi positifku semakin bertambah. Salut buat teman2 yang ternyata memiliki kesabaran jauh lebih banyak dengan diriku yang masih taraf belajar. Big hug & kiss untuk kalian semua.

  128. Alhamdulillah ternyata bukan saya aja. Saya baru satu tahun menikah. Pertanyaannya menggunung terus. Kata mereka saya kalah sama si anu atau si anu. Ijinshare ya sist.

  129. Memang benar juga bila dibilang kesempurnaan wanita adalah bl sudah melahirkan anak.

    tapi disisi lain itu juga seperti dikatakan diatas, jd mengkotak2 san memberi social pressure bagi yg bersangkutan.

    Mungkin tidak semua orang sukses dengan program kehamilannya , tapi bukan berarti orang yg bersangkutan belum jd wanita seutuhnya bukan?

    sepertinya patokannya tidak adil bagi sebagian wanita.

  130. Hai mbak salam kenal..
    Saya sendiri belum menikah, namun di usia yg hampir 33 tahun ini makin berasa banyaaaaaak banget mulut2 nyinyir.. Mulai dari nyinyir sadis “cepetan nikah keburu expired” sampe nyinyir becanda ala temen2 “bangun gedung terus, kapan bangun rumah tangganya?” (becandaan ini masih bisa saya terima).
    Kalo saya sendiri sebagai seorang muslim mengimani Qada dan Qadar yang telah ditetapkan sama Allah. Jadi nikmatin, jalani & syukuri apa yang sedang Tuhan kasih kepada saya skrg.
    Support dari sahabat selalu ada. Mereka bahkan bilang jangan karena semua teman seumuran udah menikah lantas kamu beli kucing dalam karung.
    Ya saya sendiri mungkin terlalu menikmati hidup yang saya jalani sekarang, omongan-omongan nyinyir bin pedes itu malah bikin mental saya makin kuat hehehehe…

  131. hmmm aku mengalami nya,,di tahun ke 3 ini mkin kejam pertnyaan atau skedar nasehat munafik dri org org nyinyir,,mersa bngga dengan kebrhsilan merka tekdung,,pdhl pas dah pnya mlah gk ngurus dngn baik,,udah sehari hari kya pembokat gk bisa urus diri,,tp dpan kita sok bangga smbil pmer pamer ank ny,,dan sist sista yg senasib sperjuangan ada yg lbih nyelekit,,pnya sdra lg hmmil mud,,eh langsung kabarin n mnta bliin ssuatu yg lg di ngidamin,,hadeeeuuuuuhh mksud ny apa coba?????gk ngerti deh,,,,bisa mlayang ni meja makan,,kita lgi sntai sntai ma suami tfuran nnton rmantisan,,eh dtlpn dpt kbar itu,,blngin aku lg ngidam ni,,dmna y beli ini anu,,helllo sdra kita kan ribuann,,yg pnya ank juga ratusan,,kenapa mesti nanya ke guaaaaa,,,mau pamer nya kelihtan bgtttt,,,

  132. Hmmm,,

    Apapun masalah yg kita hadapi, utk menjadi tegar itu sulit sekali, gak gampang mengatasi masalah perasaan.

    Kadang kita bisa tegar, kadang kita lemah,, tulisan ini luar biasa,,bisa menjadi support para calon bunda tentu nya.

    Cuma titip pesen,, berusaha lah terus, walau pun usaha kita BELUM berhasil, setidaknya usaha kita itu bernilai IBADAH,,,

    Salam

  133. Hai Mbak… Salam kenal, aku Astri. Udah nikah setahun lebih 3 bulan. Setelah nikah 5 bulan, aku hamil mbak, tp cuma bertahan sampe kehamilan umur 5 bulan karena kata dokter serviksku ga bisa nahan bobot bayinya dan aku melahirkan tapi anakku ga selamat. Sedih banget, sampe sekarang tetep sedih, hati hancur. Mau program lagi masih takut tapi kok ya males dengar slentingan orang-orang sekitar. Sedihnya adalah teman-teman kantorku ini lagi pada hamil dan tiap hari harus menghadapi obrolan seputar hamil dan melahirkan. Kadang tahan tapi sering banget abis pulang ke rumah nangis, dan bertanya apa aku yang lebay ya atau mereka yang ga peka…
    Untung suamiku sabar, dan santai orangnya. Dia bilang anak itu bukan satu-satunya sumber kebahagiaan. Tapi rasanya sakit kalau lihat postingan temen-temen di sosmed ngabarin mereka hamil atau lagi share bayinya lagi ngapain! Ahahahaha, seneng campur iri rasanya. Tapi ya balik lagi, emang disuruh pacaran dulu mungkin sama Tuhan. Mari kita saling mendoakan…

  134. I feel you kak Pris..Alhamdulillah bokap dan temen kantor gue nggak ada yang bawel..
    Tapi kalau udah lebaran, aku males banget ketemu nyokap dari istri kakak iparku.Padahal jauh banget jarak hubungan keluarga kita yah. Aku selalu ditanya “kapan punya nyusul anaknya yg sudah punya anak umur 3 tahun? nyusul dong” Aku nggak bisa jawab karena pertama nyokap aku udah meninggal jadi nggak ada yang belain, kedua aku cuek banget jadi yah cuma berdoa,doa orang nyinyir dikabulin Tuhan. Anaknya juga gitu selalu pamer di sosmed foto anaknya, sampe orang bosen dan likenya dikit haha.

    Tapi kaget juga pas denger bahwa kaka ipar aku dari mertua tiba tiba di PHK. sedangkan suami aku , anak paling bungsu sekarang justru paling mending rezekinya. Mertuaku juga bangga sama kami karena karir yg lumayan . Jangan jangan…

    Makanya sekarang suami dan aku sepakat untuk kurangi pamer pamer di medsos..karena hati orang siapa yang tahu..banyak temen aku yang belum nikah dan punya anak..karena ukuran di Indonesia itu nikah dan punya anak patokannya ..kasian jika ada yg iri dan sakit hati..tapi medsos adalah hak teman teman..itu sih kesepakatan aku dan suamikuu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s