Apa Kabarmu Karov….

Standard

22318_10153142352048260_4527653674857936014_n (1)Salah seorang teman tiba-tiba me-whatsapp saya. Dengan gegap gempita dia menulis begini, “Pris, novel lo serem amat sih. Gua baca beberapa halaman depan aja udah merinding.” Sebenarnya komentar seperti ini bukan kali pertama saya dapat, ada beberapa orang yang bereaksi sejenis itu.

Mendengar komen itu ada perasaan senang. Senang karena rasa takut, deg-degan, dan depresi yang saya rasakan saat menulisnya tersampaikan dengan baik ke pembaca. Tapi di sisi lain saya juga jadi bertanya-tanya, apakah para pembaca akhirnya menyelesaikan novel itu sampai akhir ya? Jangan-jangan saking ngerinya cuman berhenti di adegan Karov motong kakinya. Apa kabar Karov di luar sana ya?

Pertanyaan itu saya ajukan juga karena saya tahu betul ketika sebuah cerita diterbitkan secara luas, maka penulis tak punya kuasa atas cerita itu. Setiap karakter yang dibangun akan menjadi hidup dalam ruang imajinasi pembaca. Namanya imajinasi pasti berbeda karena setiap kepala punya labirin imajinasinya sendiri.

Karov ini persis anak pertama saya. Well dia memang anak pertama saya dalam hal karya novel. Dan layaknya anak pertama yang masuk sekolah, orang tua pasti bertanya-tanya apakah dia bisa mengikuti semua aktivitas sekolah? Apakah Karov mampu bertahan hidup dalam benak setiap pembaca? Apakah ceritanya dilumat secara sempurna?

Saya kemudian bilang ke teman yang saya ceritakan di awal, pada saat menulis novel itu, setiap adegan memotong kaki, saya ketakutan setengah mati. Saya terlalu terikat dengan Karov, kesedihannya akan penolakan atas tubuhnya membuat saya depresi. Iya depresi, sampai harus break beberapa saat agar tidak membawa Karov ke dalam alam sadar saya. Suami saya, Daniel, sampai mengajak saya nonton atau jalan-jalan demi membuat saya waras.

Kadang sayang ingin memeluk Karov dan bilang kalau dia tidak sendirian. Suram sekali rasanya ketika membayangkan ada orang yang begitu ingin mengamputasi kakinya karena merasa harusnya dia lahir pincang. Keinginan itu berakar dari kebencian. Karov benci dengan kaki kananya karena kesempurnaan kaki yang dibencinya, membuat ia merasa tidak sempurna. “Memang ketika kita sudah membenci, maka otak hanya memerintahkan untuk menghabisinya”. Kutipan ini dipilih editor saya, Anin Patrajuangga untuk ditaruh pada cover novel sebagai teaser.

Ah Karov, apa kabarmu di luar sana? Adakah wujudmu begitu hidup dalam imajinasi para pembaca? Semoga kau menemukan kesempurnaan dalam kata yang diresap dalam pembuluh rasa. Karena kata adalah energi yang menghidupi setiap sendi dari imajinasi.

Advertisements

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s