Bertutur Positif Demi Anak Berkarakter Positif

Standard
Forum Ngobras Perdana Bareng Psikolog Naomi Soetikno, M.Pd, Psi

Forum Ngobras Perdana Bareng Psikolog Naomi Soetikno, M.Pd, Psi

Apa tanda acara diskusi yang kita datangin itu menarik? Kalau saya, isi kepalanya meletup-letup dan kaga bakal berenti kalau belum ditulis di blog. Persis seperti sekarang, bawaannya pengen ketak-ketik buat nulis hasil diskusi santai yang kemarin saya datangin.

Jadi saya diundang sama ForumNgobras. Ini adalah forum yang dibentuk oleh beberapa jurnalis kesehatan super wahid di Jakarta. Forum Ngobras (Ngobrol Bareng Sahabat) bikin diskusi untuk membahas berbagai isu menarik, yang kebetulan di event perdana mereka kemarin, temanya adalah Kekerasan Verbal Terhadap Anak.

Suasana diskusinya santai banget karena dibikin di coworking space  Nutrifood Inspiring Center. Biarpun suasananya santai tapi diskusi sangat berisi karena langsung menghadirkan psikolog dari Universitas Tarumanegara. Iya psikolog yang mengembalikan kita para orang dewasa ke jalan yang benar dalam berinteraksi dengan anak-anak.  Psikolognya, Naomi Soetikno, M.Pd, Psi, juga murah hati sekali dalam berbagi ilmunya bikin peserta yang datang, termasuk saya mengevaluasi diri dalam berinteraksi dengan anak-anak.

Meski belum punya anak, tapi interaksi dengan anak-anak adalah menu favorit saya. Sebagai namboru buat keponakan saya yang super centil atau tante dari anak-anak teman saya yang lucu-lucu, saya merasa punya tanggung jawab menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan mereka. Iya loh menurut saya, orang dewasa yang ada di sekitar anak-anak bertanggung jawab untuk melindungi mereka dari segala macam bentuk kekerasan. Okey mari kita mulai kupas letupan-letupannya biar isi kepala saya tidak berhamburan tak berguna. Halah. 

Read the rest of this entry

Bilakah Gereja Merestui Perceraian

Standard

C.S.-Lewis

 

Menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Kehidupan Keagamaan Kementerian Agama, Kasus perceraian di Indonesia selama 2010-2014 meningkat 52 persen! Ini saya kutip dari Kompas. Jangan langsung mikir saya mau cerai, amit…amit..amit…Saya dan Daniel percaya akan berusaha sekuat tenaga dan sepenuh cinta untuk tidak sampai pada area itu.

Tapi kali ini postingan saya memang tentang perceraian dan gereja. Anjrit serius amat ya. Ngga papalah ya sekali-kali, dari pada pikirannya loncat-loncat di kepala doang mending ditulis biar pikiran itu jadi sesuatu. Setidaknya dia tak mengendap jadi imajinasi liar. Halah

Jadi saya mulai mengaitkan perceraian dengan gereja ketika membaca email blast dari gereja internasional yang saya dan Daniel pernah ikuti ketika di Jakarta. Meski sudah lama tidak bergereja di sana, tapi saya masih tetap senang sekali membaca email dari mereka. Ya renungannya….ya info kegiatan yang mereka buat selalu penuh dengan rasa berbagi kasih yang kuat. Nama gerejanya IES South.

Read the rest of this entry

Jadilah Turis Yang Bukan Polisi Moral

Standard

11921605_10153460938803260_5378942007425541141_nSebagai orang yang hidup diperantauan, rasanya senang banget ketika mendengar ada orang lain yang berbicara dengan bahasa yang sama dengan kita. Mau di pasar, di kendaran umum atau mall, bawaannya pengen negor aja pas dengar ada orang ngomong bahasa Indonesia. Atau minimal senyum lah.

Dan ini kejadian minggu lalu. Di dalam kereta, bergelantungan sambil membaca layar handphone, tiba-tiba saya kegirangan  pas nangkep ada sekelompok orang  baru masuk kereta dan berdiri di depan saya, ngomong pake bahasa Indonesia. Sekelompok orang ini terdiri dari tiga perempuan dan satu laki-laki. Kayanya sih habis belanja karena masing-masing bawa kantong plastik yang membuntal.

Untuk memastikan apa mereka berbahasa Indonesia atau Melayu, saya melebarkan radar kuping saya sambil melemparkan senyum ke salah satu diantara mereka.

Read the rest of this entry

Doa Untuk Bapak

Standard

 

11816965_10153401424268260_3669603549553930523_nDoa Untuk Bapak Bapak

Meski dulu sekali kita begitu sering berselisih paham, tapi cinta menyelaraskan kita.
Bapak,
Meski dulu keras kepala kita selalu membenturkan emosi, tapi kedewasaan kita berhasil melebur ego menjadi kepedulian.

Bapak,
Saat engkau memelukku sambil menangis dan meminta maaf di hari pernikahanku, aku tertunduk malu.
Kau begitu mencintaiku hingga selalu merasa tidak pernah cukup membahagiankanku.

Bapak,
Saat ku usap dadamu ketika kau menyampaikan kabar tentang sakitmu pada saudara sekandungmu dengan derai mata, aku tak berdaya. Rasanya ingin aku memundurkan waktu dan menjagamu tetap sehat sehingga kau tak perlu meneteskan air mata itu.

Bapak,
Ketika kau tiba-tiba memintaku memelukmu saat aku membawakan potongan buah untuk kau santap,
aku usap punggung lehermu yang semakin terasa makin mengecil.

Bapak,
Saat aku menangkap lanjut usiamu dalam bola matamu, aku ingin kau merasa teduh atas rasa kasih sayang yang diberikan isteri, anak, menantu, dan cucu.

Atas semua itu Bapak, Kau harus sembuh ya, karena kehadiranmu menguatkan.
Kau harus sembuh ya, karena kehadiranmu memercikkan kehangatan.
Kau harus sembuh ya, karena kehadiranmu begitu penting.

Bagiku, kau sudah memenangkan pertarungan atas penyakitmu, Pak.
Karena kau sudah menabur keberanian, kegigihan, kepercayaan diri, keinginan berbagi, keindahan mencintai hidup, dan keimanan di setiap jengkal nafas anak-anakmu.

Dan untuk semua itu, kau akan menuai cinta yang tak akan putus-putus dari kami.
Kini kita berjuang bersama untuk merengkuh kembali keindahan mencintai kehidupan.
Tuhan akan bekerja sempurna atas kesembuhanmu.
Sampai bertemu di perayaan hidup berikutnya.
Priska sayang bapak ya.

Jakarta, 5 Juni 2015

 

Read the rest of this entry