Category Archives: puisi

AriReda Menyanyikan Puisi

Standard

AriRedaAwal perkenalan saya dengan AriReda motifnya adalah kerjaan. Redaktur Jurnal Nasional (Jurnas), Arie MP Tamba pada akhir November 2007 memilih musikalisasi puisi sebagai tema halaman Oase Budaya. Saya kedapatan untuk mewawancarai  Ari Malibu, Reda Gaudiamo, AGS Arya Dipayana dan Sapardi Djoko Damono melalui telepon.

Saat itu saya buta rasa soal musikalisasi puisi. Tahunya cuman deklamasi puisi.

Tapi sebagai reporter saya tidak bisa mewawancarai narasumber tanpa bekal. Jadi saya mencari tahu apa itu musikalisasi puisi. Maka bertemulah saya dengan suara bening perempuan yang bermain sempurna dalam petikan gitar.

Edan. Seketika itu juga saya memutuskan untuk jatuh cinta pada rasa musik yang ditawarkan keduanya.  Amunisi wawancara saya ketika itu bukan sekadar informasi tapi juga resapan rasa yang menancap permanen di telinga saya.

Dan semalam(27/1), berkat niat sahabat saya, Titing, untuk menukar tiket, saya berhasil duduk di barisan paling depan konser AriReda Menyanyikan Puisi.

Panggung di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, malam itu hanya ada sebuah music stand, dua buah kursi, dua buah standing mik, dan dua buah gitar. Di belakangnya hanya ada lampu-lampu kecil merambat. Sederhana sekali.

Read the rest of this entry

Ini Indonesia…

Standard

Ini Indonesia dengan tingkat keterbacaan Agama yang tinggi.
Ini Indonesia dengan tingkat korupsi tertinggi di Departemen Agama.
Ini Indonesia dengan angka usia tenaga kerja yang meningkat.
Ini Indonesia dengan tingkat korupsi kedua ada di Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
Dan ini (masih) Indonesia dengan koperasi sebagai soko guru ekonomi kerakyatan.
(Tapi) Ini Indonesia dengan tingkat korupsi ketiga yang bersemayam di Departemen Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.
Selanjutnya bagaimana kita mendefinisikan Ini Indonesia?

Jakarta, 29 November 2011

Meresponi berita Kementrian Agama Terkorup yang ada di Harian Kompas hari ini.

Surat Perpanjangan Waktu

Standard

Malam ini, aku berharap detak jam berbunyi lebih lama.
Malam ini, aku berharap bulan tetap ada di tengah langit dan lupa untuk bergeser ke barat.
Malam ini juga, aku berharap taburan bintang bersinar lebih cerah dari biasanya.

Malam ini indah sayang.
Terlalu indah untuk sekadar dinikmati sampai pukul 00.00
Karena itu, aku berharap, waktu berjalan lebih lama.

Kepada siapakah harus ku sampaikan niat ini?

Niat untuk menatapmu lebih lama.
Niat untuk berbagi cerita denganmu lebih panjang.
Niat untuk menggodamu lebih hangat.
Niat untuk menciumu lebih dalam.

Haruskah aku kirimkan surat perpanjangan waktu kepada Si Pengatur Waktu?
Lalu kalau permintaanku dikabulkan, berapa lama perpanjangan waktu yang akan aku minta?
Satu jam…
Dua jam…
Tiga jam…

Ah kalau pun aku minta perpanjangan waktu selama 24 jam, rasanya itu tak akan cukup…
Tak akan cukup menampung rasa yang aku punya.

Jadi berapa perpanjangan waktu yang menurutmu aku butuhkan?

Jakarta, 27 Februari 2011
Setengah jam mendekati habisnya hari ini.

Persetubuhan Ini untukMu

Standard

Dia memainkan jemarinya di atas bibirku.
Sesekali mataNya tersenyum.
Wajahku merona dan dengan sadar menyimpulkan sebaris senyum.

Perlahan,jemariNya bermain-main di daun telingaku yang lembut.
Dia membisikan kata cinta,”Malam ini untukmu,” ucapnya begitu lembut.
Aku…aku…aku hanya bisa tertawa manja.

Lalu Dia menempelkan bibir lembutnya di bibir merah jambuku.
Dia kecup nyaris tanpa suara.
Aku…aku…aku hanya bisa memejamkan mata.

Tanpa sadar, aku menarik tubuhNya lebih dekat.
Merasakan detak jantungNya yang membentuk irama.

Dia kembali menempelkan bibirNya di bibirku. Tapi kali ini ciumannya begitu dalam.

Dan aku…aku…aku hanya bisa meletakkan tangan kananku di leherNya.

Nikmatnya setiap serat kulit lembut dari bibirnya.
Seketika darah dalam tubuhku mengalir dengan cepat. Melemaskan otot-otot dalam tubuhku.

Aku seakan terbang dan dengan pasrah menyerahkan seluruh tubuhku.
Mainkan jariMu di setiap inci tubuhku cinta.
Tempelkan bibir lembutMu pada lekukan-lekukan tubuhku.

Lepaskan setiap helai identitasku, karena ku tahu percintaan kita tak butuh itu.
Biarkan aku terbaring gemulai dalam kesadaranMu.

Ini malam persetubuhan kita.
Malam kita merayakan cinta.
Malam kita bersentuhan kulit dengan kulit.
Karena persetubuhan adalah perayaan menikmati hidup.
Lakukan dengan perlahan, biar ku nikmati hangatnya tubuhMu lebih lama lagi.
Hingga kita terbangun di pagi hari dan menemukan tanganMu masih memeluk erat tubuh polosku.
Aku milikMu.
Perbuatlah sebagaimana Kau menghendakinya.

Jakarta, 8 Februari 11
Dalam patas AC menuju kantor.
Hari ini sepertinya saya akan jatuh cinta 😀

Duduklah Bersamaku Tuhan

Standard
Desain by : Pablo Reinoso
Pic : http://www.baekdal.com

Sini…
Iya Kamu, ke sinilah.
Bangku taman ini ku sediakan untukMu.

Mengapa…mengapa malu…
Ayo jangan tundukkan wajahMu,
Aku sudah menungguMu, sejam lalu.

Iya, sejam lalu.
Usai Kau katakan, tunggu Aku di taman itu, satu jam dari sekarang.

Lalu sekarang Kau hanya tertunduk malu.
Ayo duduk di sampingku dan tautkan jemariMu pada jemariku.

Apa, tanganMu terluka? Karena Kau baru saja tergantung pada kayu penebusan itu.
Ah manusia memang tak mengerti dengan siapa mereka berhadapan.

Mari…mari aku balut lukaMu.
Iya, akan aku balut. Jadi duduklah lebih dekat.
Berhenti menunduk, biar ku lihat cahaya di wajahMu.

Hei mengapa Kau menangis?
Rupanya bukan hanya tanganMu yang terluka.
Apa mereka juga mencolok mataMu?
Manusia keparat memang, apa mereka benar-benar tidak tahu siapa yang dihadapi.

Kau ingin aku menghujamkan belati pada jantung mereka?
Kau ingin aku merobek lambung mereka?
Atau Kau ingin aku menghancurkan jari-jari kaki mereka?

…..

Mengapa Kau hanya diam?
Kau ingin aku mendekat? Baiklah aku mendekat.
Apa…aku tak dapat mendengar suaraMu…bicaralah lebih keras.
Apa…Kau terlalu pelan.
Biar aku tempelkan daun telinga di bibirMu
“Aku hanya ingin, kau duduk bersamaKu di bangku taman ini,” ucapMu begitu mesra.

Teramat mesra, karena itu kali pertama aku mendengar suaraMu.
Suara kekasih hati yang rindu duduk di bangku taman yang sudah menua.
“Ini bangku kita. Hanya bangku ini yang mempertemukan kita. Duduklah bersamaKu.”
Kau katakan itu semua sambil menggenggam tanganKU
Meski darah tak berhenti menetes, Kau tetap genggam tangaku.
“Duduklah bersamaKu di bangku taman ini.”
Hanya itu yang Kau katakan sambil menghitung daun-daun yang berjatuhan.

Jakarta, 23 November 2010

*Saya tidak tahu, tapi saya merinding menulis ini.
Ah mungkin hanya perasaan saya saja.