Category Archives: Lagu

AriReda Menyanyikan Puisi

Standard

AriRedaAwal perkenalan saya dengan AriReda motifnya adalah kerjaan. Redaktur Jurnal Nasional (Jurnas), Arie MP Tamba pada akhir November 2007 memilih musikalisasi puisi sebagai tema halaman Oase Budaya. Saya kedapatan untuk mewawancarai  Ari Malibu, Reda Gaudiamo, AGS Arya Dipayana dan Sapardi Djoko Damono melalui telepon.

Saat itu saya buta rasa soal musikalisasi puisi. Tahunya cuman deklamasi puisi.

Tapi sebagai reporter saya tidak bisa mewawancarai narasumber tanpa bekal. Jadi saya mencari tahu apa itu musikalisasi puisi. Maka bertemulah saya dengan suara bening perempuan yang bermain sempurna dalam petikan gitar.

Edan. Seketika itu juga saya memutuskan untuk jatuh cinta pada rasa musik yang ditawarkan keduanya.  Amunisi wawancara saya ketika itu bukan sekadar informasi tapi juga resapan rasa yang menancap permanen di telinga saya.

Dan semalam(27/1), berkat niat sahabat saya, Titing, untuk menukar tiket, saya berhasil duduk di barisan paling depan konser AriReda Menyanyikan Puisi.

Panggung di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, malam itu hanya ada sebuah music stand, dua buah kursi, dua buah standing mik, dan dua buah gitar. Di belakangnya hanya ada lampu-lampu kecil merambat. Sederhana sekali.

Read the rest of this entry

ME, the luckiest SISTER in the WORLD

Standard

Jadi awal September ini saya menuliskan status di Facebook yang isinya adalah merayu teman-teman saya. Maksudnya?

Iya saya mempublikasikan wish saya untuk bisa dapat tiket konser Linkin Park secara gratis. Siapa saja yang ingin mengekspresikan rasa sayangnya kepada saya pada selembar tiket itu, saya akan hadiahi senyuman termanis sedunia!

Seminggu setelah status itu nyantol di newsfeed, belum ada yang menawarkan saya tiket gratis. Minggu kedua, semakin tak ada gelagat karena harga tiketnya terbilang mahal. Pelan-pelan saya mengikhlaskan diri untuk tidak menonton konser band rock asal California itu.

Sampai kemudian tiba-tiba adik saya semata wayang bilang, “Ka, gw mau nonton Linkin Park!” Saya membelalakkan mata sambil menutup mulut. “Ah yang bener lu?” Tau ekspresi ade saya apa? “Kaga percaya ya udah.”  “Sial,” saya pun membatin.

“Lu mau ikut ngga?” Ade saya semakin memancing emosi. “Kaga deh,kaga ada duit. Lu pergi aja sendiri,” jawab saya lemas. “Udah si jangan sedih gitu mukanya, gw beliin aja sini tiketnya.” Sekilas saya merasa seperti sedang mimpi. Maklum biasanya saya yang dipalak adik saya untuk sekadar traktir makan, beli jaket, beli sepatu, atau sekadar jalan-jalan berdua. Plus dia belum memiliki pendapatan tetap jadi bagaimana mungkin dia punya dana buat beli 2 tiket.

Tapi adik saya ternyata memang membelikan tiket Linkin Park konser untuk saya. Jadi, dia dapat hadiah dari bapa saya karena baru lulus kuliah. Sebenarnya dia bisa aja beli satu tiket yang harga 1 jutaan, tapi dia split duitnya demi bisa menonton konser itu bareng saya, kakak perempuannya yang paling manis sedunia! 😀

Maka hadirlah kami pada 21 September lalu di Gelora Bung Karno (GBK). Diantara 25 ribu penonton yang rindu dengan kehadiran Mike Shinoda and the gank ini, ada saya dan adik saya. EUFORIA kita berdua benar-benar terasa ketika mengantri sambil memegang tiket. Maklum terakhir kali mereka konser di Jakarta itu adalah 2004 dan konon kabarnya berhasil menggebrak Jakarta, jadi penasaran adalah aroma yang kita hirup dalam-dalam.

Kami memang tidak membeli tiket yang berdiri di depan panggung. Selain karena terlalu mahal, membayangkan berjejalan sambil berdiri berjam-jam rasanya cukup menguras duit dan keringat. Jadi kami memilih bagian yang duduk tapi sedikit jauh. Iya sedikit jauh, karena dari posisi kami duduk pandangan mata ke panggung tetap nyaman. Oiya saking euforianya, saya rela membeli bando dengan tanduk evil yang menyala-nyala hahahaha…ngga ngerti maksudnya apa, tapi merasa lucu aja pake bando itu.

Setelah menunggu hampir 1,5 jam tiba-tiba stadion sepakbola terbesar di Indonesia ini pun gelap. Dua layar sedang di kiri dan kanan panggung membentuk semacam prisma dari pantulan lampu-lampu laser. Tiba-tiba semua penonton berdiri, termasuk saya dan adik saya. Mereka belum nyanyi, kita sudah teriak sehisteris yang kita bisa. Lagu pertama bergulir, Papercut, dan setelah itu GBK seolah tak berhenti berguncang. Semua orang berteriak mengikuti Chseter Bennington menarik pita suaranya kuat-kuat.

Ada beberapa lagu baru dari album Linkin Park teranyar yang dibawakan. Ya karena konser kali ini memang sekalian untuk mempromosikan album terbaru mereka. Dari sederetan lagu baru itu, saya paling suka yang When They Come for Me. Saya kutip sedikit liriknya:

I’m awfully underrated but came here to correct it
And so it ain’t mistaken, I’mma say it for the record
I am the opposite of wack, opposite of weak
Opposite of slack, synonym of heat, synonym of crack
Closest to a beat, far from a punk
Ya’ll oughta stop talking, start trying to catch up mother fucker

Permainan perkusi, digital synthesizer dan rap pada lagu ini tetap buat saya lompat-lompat bahkan cenderung berayun lompatannya karena mengikuti ritme musik. Buat saya sih, Linkin Park selalu punya cara untuk menghentakkan telinga tapi juga cukup bisa lembut menenangkan jantung. Jadi tidak terlalu merasa rusuh tapi tetap bersemangat.  Ini artinya akan susah sekali untuk menahan diri tidak lompat-lompatan 😀

Awalnya saya pikir ngga nyaman untuk loncat-loncatan di bangku yang di desain bagi penonton sepak bola. Jaraknya terlalu dekat dan pendek. Plus, saya ada di tempat yang lumayan tinggi jadi rada kuatir juga untuk loncat-loncat. Tapi musik rock tanpa teriak-teriak dan lompat-lompat apa rasanya? Akhirnya kami berdua pun terbawa suasana. Bahkan beberapa kali saya dan adik saya saling rangkulan sambil lompat-lompat bersamaan.

Tanpa disadari musik rock telah membuat saya dan adik saya sama-sama norak. Sesekali menunjuk-nunjuk tangan ke arah Bennington, seolah-olah kami begitu akrab. Tapi ada sedikit kritik yang saya rasakan selama konser berlangsung, si Bennington dan Shinoda itu pelit sekali berbicara. Mereka hanya menyapa dengan ucapan, “Hello Jakarta”; “Thank you Jakarta, you’ve been amazing” ; atau “Good night, Jakarta.” Saya berharap mereka akan menyapa atau berkomunikasi lebih dari itu, sekadar bilang “Makasih ye udah datang” atau “Akhirnya kita ketemu ye”. Saya ceritakan kritik saya ini ke bos saya yang super zuper nyentrik dan tahu apa komennya, “Ye…elu…nonton konser apa mau denger ceramah, ngarepin penyanyinya banyak ngomong…” Hahahahaha saya ketawa setengah mati dengar respon bos saya. Ini bos paling funky yang pernah saya punya and i am so lucky to know him hahahaha.

Saya sadar juga sih, mungkin si Bennington udah luar biasa cape sampe ngerasa ngomongnya dikit aja dah. Atau emang gitu settingannya…banyakin nyanyi dan buat seluruh penonton lu dapat emosinya ketimbang banyak ngomong tapi kerasa garing. Ya kritik itu tidak lantas membuat saya merasa rugi menyaksikan konser bertajuk A Thousand Sun World Tour Concert 2011 ini. Di konser ini mereka juga melakukan amal, Rp 10 ribu dari harga tiket akan disumbangkan untuk aksi kemanusiaan. Jadi ya grup musik rock yang berhati rinto sepertinya 😀

Satu hal yang saya rasakan setelah selesai konser, selain kaki pegal karena hampir 1,5 jam berdiri sambil lompat-lompatan memakai sepatu masculine boots saya, adalah saya dan adik saya akan mengingat momen ini. Momen di mana kita menjadi sangat euforia atau bahkan norak, bernyanyi, lompat-lompatan sambil rangkulan bersama, meluruskan kaki sambil terus membahas bagaimana Linkin Park berhasil menghipnotis kami berdua, sampai menunggu taksi dengan ditemani sebotol air mineral untuk mengendorkan pita suara yang menegang.

Dan untuk melengkapi ke-euforia-an saya, facebook saya kembali bertengger status yang menyempurnakan wish yang terkabul:

Having great night with my bro.We were singing&jumping.Rock music definitely a fun way to embrace your family bounding.And of course Me,the LUCKIEST sister in the WORLD \m/

Suatu hari nanti, saya akan cerita ke anak-anak adik saya dan anak-anak saya, bahwa kami pernah jadi saksi hidup konser LINKIN PARK di GBK…terdengar norak….biarin karena ME, the LUCKIEST sister in the WORLD.

 

Para Lelaki Penggoda

Standard

Saya lagi sering digoda….iya digoda laki-laki. Ini yang membuat saya selalu tersenyum sepanjang hari. Melihat wajahnya, menikmati senyumnya. Dan yang paling membuat saya sangat deg-degan adalah membaca bibirnya, luar biasa memesona. Ini membuat saya pasrah untuk digoda hahaha.

Apa, kalian penasaran bagaimana saya rela untuk digoda? Inilah yang mereka lakukan kepada saya.

Yes Mas Buble, you haven’t met me yet…Dijamin bakal ketagihan kalau udah ketemu saya, senyum saya maut soalnya. Tanyakan saja pada mereka yang rela saya perdaya dengan senyuman, tatapan, dan sentuhan yang memabukkan…hahahaha. You just haven’t met me yet…

Apa yang kalian rindu dari rumah? Kenyamanan dan limpahan kasih sayang dari orang-orang tercinta membuat rumah jadi tempat paling hangat di dunia. Dan rasanya tak beda jauh ketika cinta membawa kita pada rasa nyaman yang juga menghangatkan. Ah Mas Buble selalu membuat saya nyaman sekali ketika diajak mendefinisikan kerinduan dan rumah. I just wanna go home. Oh, I miss you, you know.  Jantung siapa yang ngga copot denger cowo ngomong gitu.

Amati bibirnya ketika dia berucap, “I think that possibly maybe I’m falling for you. Yes there’s a chance that I’ve fallen quite har over you.” Fantasi apa yang ada di kepala ketika menikmati bibir lembut itu mengurai kata-kata pemicu detak jantung?

Meski kata-katanya gombal, tapi sensasinya tetap sama…tetap membuat pipi merona dan senyum simpul sebagai pemanis. Dan pada akhirnya yang bisa saya lakukan adalah menikmatinya sebagai ritual perayaan tubuh.

Mereka bilang, musik rock itu bukan alunan nada yang pas untuk merayu. Ah itu semua gombal, karena musik dengan tempo cepat dan hentakan yang kuat ini juga berhasil membuat saya pasrah untuk menikmati sensasi manisnya cerita tentang takutnya kehilangan cinta.

Iya jatuh cinta membuat kita centil, serasa ada jutaan taburan bunga di sekeliling kita. Berputar, loncat-loncat kecil, dan senyum sumringah…ah jatuh cinta, rasa yang paling indah yang tidak pernah membuat saya kapok untuk jatuh lagi dan lagi.

Ah rayuan cinta kan bukan soal tampilan fisik. Ada metafisik yang bermain di dalamnya, firasat yang tak bisa dijelaskan. Metafisika yang membuat saya rela diperdaya firasat hati.

Dan rayuan adalah surga dunia dalam rangkaian kata-kata.

Lelaki badung yang merayu lewat buku, sepertinya ini yang membuat (katanya) perempuan lebih suka lelaki badung alias bad boy 😀

Merayu itu modalnya satu, sampaikan dengan frontal.Cukup bilang, “Jinak burung dara justru itu ku suka. Bila engkau tertawa hilang semua duka. Gampang naik darah, omong tak mau kalah. Kalau datang senang, nona cukup ramah. Bilang engkau bicara, setan logika. Sedikit keras kepala, ah dasar betina.” Dan rayuan yang jujur adalah rapalan mantra yang menggetarkan iman. “Aku puja selalu setiap ada waktu.”

PS : Saya tergoda dan semua godaan ini membuat saya terjaga hingga larut malam.  Ah indahnya digoda 😀


					

Tuhan Itu Adalah Lagu Pop

Standard

Jadi ceritanya, saya baru saja menonton salah satu episode serial Glee di saluran televisi berbayar. Tema ceritanya lagi lucu, soal Tuhan dan Spiritualitas dalam lagu-lagu pop. Emang sih, serial Glee ini selalu punya tema khusus yang kemudian diekspresikan dengan kumpulan lagu-lagu yang merujuk pada tema. Biasanya saya ngga terlalu tertarik untuk menyimak dengan serius, hanya ikutan nyanyi kalau kebetulan emang lagunya saya tahu. Kalau ngga, ya ganti ke channel lain. Tapi di episode kali ini, saya setia menontonnya dari awal sampai habis tanpa merasakan tangan gatel untuk ganti-ganti channel.

Tema soal Tuhan dan Spiritualitas emang selalu menarik perhatian saya. Nah di episode Glee, tema itu disajikan secara menarik. Sangat menarik bahkan. Jadi peg story-nya diambil dari pengalaman spiritual Kurt Hummel dan Finn Hudson yang mengalami 2 pengalaman yang sangat berbeda jauh.

Si Kurt Hummel, yang adalah berkarakter lembut dan gay, harus merasa sedih luar biasa karena ayahnya kena serangan jantung hingga koma. Semua teman-temannya ikut bersimpati dan berniat menyanyikan lagu-lagu spiritual untuk ‘mendoakan’ ayah Kurt. Tapi si Kurt nolak, karena dia ngga percaya Tuhan itu eksis. Alasannya, ibunya meninggal terlalu cepat dan sejak itu yang dia percaya adalah ayahnya yang sempurna. Karena sejak itu, cuman ayahnya yang secara fisik dan emosi mendampingi dia.

Ada kutipan menarik yang dikeluarkan Kurt untuk menegaskan kenapa dia menjadi atheis. Dia bilang, Tuhan itu tidak bertanggung jawab. Karena udah bikin dia gay dan membuat orang mencibir dia ketika dia punya keberanian untuk mendeklarasikan kalau dia gay. Bahkan kalau dia ke gereja, orang-orang tidak menerima dia karena dia gay. Ya dia merasa dia digariskan jadi gay tapi harus menanggung beban untuk sesuatu yang tidak pernah dia minta.

Akhirnya, dia tak hanya melarang teman-temannya untuk bernyanyi mengenai spiritualitas tapi juga berdoa untuk ayahnya. Dia bilang, ayahnya ngga butuh Tuhan yang dibutuhin cuman terapi akupunktur biar aliran darahnya kembali normal. Tahu akupunkturisnya orang apa? Pemeluk agama Singh, yang saat datang melihat teman-teman Kurt lagi berdoa khusyuk, dikira muslim karena pake tutup kepala. Hihiihihihihihi betapa simbol agama sebenarnya sangat lentur untuk ditarik sana-sini ya.

Oke itu sisi cerita si Kurt, yang lebih lucu adalah cerita Finn yang dalam keadaan lapar berat dia memanggang roti. Dan rotinya dipanggang terlalu lama sehingga nyaris mendekati gosong. Apa hubungannya roti dengan Tuhan rasa pop? Ada, jadi panggangan roti yang hangus itu ternyata berbentuk wajah Yesus…hahahahahaha lucu. Dan dia namain roti itu grilled cheessus…sounds delicious ya 😀

Ada adegan rada-rada dilematis pas Finn yang kelaparan harus memotong dua rotinya. Dia memotong roti dengan melintang, biar muka cheesus tidak ikut terpotong. Ekspresi mukanya kaya ngga tega untuk memotong cheessus dan memakannya.  Entah karena dia lapar atau haus spiritual, dia lantas rindu untuk berdoa. Alhasil dia berdoa di depan roti panggang itu. Tahu apa yang dia minta pertama kali? Dia berdoa agar temannya Artie Abrams yang dikursi roda dan ikut tim football bisa berkontribusi untuk memenangkan timnya. Dan jawaban doanya adalah, Artie dielu-elukan se-tim karena berhasil bikin touch down.

Namanya orang ‘lapar’ Finn pun merasa si grilled cheessus itu emang punya andil dalam keinginannya. Dia pun berdoa lagi, kali ini dia minta pacarnya yang Rachel Berry yang masih virgin untuk mau dipegang payudaranya. Dan layaknya doa semua cowo hahahahaha, grilled cheessus pun mengabulkan. Alhasil si Finn semakin punya keyakinan terhadap roti panggangnya yang gosong itu. Dia pun berdoa supaya kembali jadi quarterback di timnya dan kembali digila-gilai perempuan di sekolahnya. Ini pun terkabul, walaupun quaterback yang asli harus mengalami cedera dulu yang kemudian membuat Finn sedikit tersadar.

Tapi cerita Finn ini kaya mau bilang, bahwa kadang kita minta sesuatu ke Tuhan dengan klausal yang jelas. Tuhan, kalau Kamu kasih aku ini makan aku akan kasih Kamu itu deh 😀 Seolah surga itu cuman urusan berapa banyak yang Tuhan sudah terima dari kita dan berapa banyak yang sudah kita terima dari Tuhan….Untung Finn-nya sadar dan kemudian dia memakan roti panggang itu dengan penuh keyakinan 😀

Saya suka dengan cara bagaimana mereka mengemas berbagai definisi soal Tuhan dan spiritualitas. Sangat lentur tapi real. Dan untuk menambah ketegangan cerita, seperti biasa pelatih cheerleader yang super kejam Sue Sylvester pun cari-cari masalah dengan latihan lagu-lagu bertema spiritual yang sempat dilakukan beberapa kali. Mau tahu apa alasannya.  “Ini sekolah negeri, bukan sekolah kesusteran yang memang dibuat untuk mengagung-agungkan Tuhan. Dan lagi, negara sudah memisahkan secara jelas urusan agama dan negara, jadi ngga bisa digabungin. Berhenti menyanyikan lagu spiritual, karena itu artinya memaksakan keyakinan terhadap orang lain dan itu melanggar hukum.” Hahahahahahaha…Entah mengapa, saya diam-diam berharap, satu hari nanti Indonesia bisa kaya gitu. Ngga perlu masukin pelajaran agama di dalam pelajaran sekolah. Belajar budi pekerti aja, urusan agama biar pemuka-pemuka agama yang pusing mikirinnya.

Tapi entah mengapa, saya menangkap kesan, episode ini kaya mau ngasih tahu kalau agama-agama lama itu rasanya kaya musik pop. Pasaran. Itu kenapa si Finn merasa butuh simbol baru yaitu melalui roti panggangnya, ya walaupun tetep dipengaruhi aliran Semit tapi pemilihan penampakan wajah Tuhan dalam roti panggang itu kan sangat era web 2.0 😀 Udah ngga zaman kayanya Tuhan muncul di langit, karena langitnya udah berpolusi. Atau muncul di kulit pohon, karena pohonnya udah banyak ditebang jadi berbagai alat termasuk gagang golok buat bentrok dengan yang beda aliran agama. Cukup…cukup…jangan lari ke sana terlalu jauh, bisa-bisa saya malah jadi juru bicaranya Ahmadiyah atau kelompok minoritas lainnya.

Hal lain yang membuat saya suka dengan episode ini adalah lagu-lagu pop yang mereka nyanyikan dengan lirik memuja Tuhan atau menghujat Tuhan. Sangat religius. Trus saya kepikiran, lagu pop apa yang saya suka dan bernada religius. Dan inilah daftarnya:

Joan Osborne – One of us

Ini lagu jadi lagu penutup di serial Glee. Dan saya suka banget lagu ini. Seinget saya, ini lagu hadir dalam kehidupan saya ketika saya emang lagi gatel bertanya-tanya soal Tuhan. Ada satu bagian dari lagu ini yang membuat saya berpikir, what would you as if you had just one question? Untung pertanyaan kaya gini kaga pernah masuk di ujian mata pelajaran agama pas sekolah dulu 😀

Oiya, di lagu ini, Tuhan juga digambarkan sangat kesepian. Mungkin itu kali kenapa Dia ampe mikir untuk menampakkan wajahnya pada roti panggangnya Finn. Jadi kepikiran, kalau Dia muncul pada makanan yang saya suka banget gimana ya saya keluar dari situasi dilematis itu, makan atau membiarkan alam sadar saya percaya itu emang Tuhan dengan tidak memakannya? :-”

R.E.M. – Losing My Religion

Every whisper/Of every waking hour/I’m Choosing my confessions/Trying to keep an eye on you/Like a hurt lost and blinded fool/
Oh no I’ve said too much/I set it up//

Bridge Over Troubled Water

Saya pernah dengar lagu ini dinyanyiin di gereja…sumpah merinding setengah mati…duh lagu ini ya bener-bener deh. Warning: Jangan dengerin kalau lagi sedih, galau, atau kesepian karena dijamin nangis sendirian hahahahaha.

Morrissey – I have forgiven jesus

Pernah berantem sama Tuhan? Saya pernah beberapa kali dan setelah itu kami berteman baik 😀

 

Yah segitulah lagu yang saya ingat….dan ya…Tuhan itu emang sebarisan lagu pop…yuk kita karokean *loh*

 

All You Need Is Me

Standard

Ini lagu super pede yang sangat menyentuh realita…dan saya lagi merasakan realitas itu menempel lekat pada dunia saya…Maka saya mengajak kita semua untuk menyanyikannya…

Silahkan dinyanyikan Bung Morrissey 😀

 

Ini dia contekan liriknya :

You hiss and groan and you constantly moan
But you don’t ever go away
And that’s because
All you need is me

You roll your eyes up to the skies
Mock horrified
But you’re still here
All you need is me

There’s so much destruction
All over the world
And all you can do is
Complain about me

You bang your head against the wall
And say you’re sick of it all
Yet you remain
‘Cause all you need is me

And then you offer your one and only joke
And you ask me what will I be
When I grow up to be a man
Me? Nothing!

There’s a soft voice singing in your head
Who could this be?
I do believe it’s me

There’s a naked man standing, laughing in your dreams
You know who it is
But you don’t like what it means

There’s so much destruction
All over the world
And all you can do is
Complain about me

I was a small, fat child in a welfare house
There was only one thing I ever dreamed about
And fate has just
Handed it to me – whoopee

You don’t like me, but you love me
Either way you’re wrong
You’re gonna miss me when I’m gone
You’re gonna miss me when I’m gone

 

Khusus di bagian yang di-bold, saya akan menyanyikannya keras-keras…jangan takut untuk melakukan hal yang sama ya 😀