Category Archives: kepuasan diri

Pindah Rumah

Standard

20160228_025221

Beberapa hari lalu, saya baru menyadari kalau ternyata sudah menulis di blog ciptaan wordpress ini selama 10 tahun.

SE-PU-LUH-TA-HUN!!!

Angka yang cukup genap untuk memulai sesuatu di rumah baru. Rumah baru?

Iya setelah saya pertimbangkan, akhirnya diputuskan untuk punya domain sendiri. Bukan karena saya merasa flyingsolighttothesky.wordpress.com sudah tidak sesuai dengan kebutuhan saya, tapi lebih karena inilah momen buat saya untuk mendeklarasikan diri secara terbuka.

Di awal saya buat blog ini dengan nama yang begitu panjang adalah sebagai media curhat tanpa dibaca banyak orang. Mungkin rada aneh, ngga mau dibaca banyak orang tapi nulisnya di-blog…yeah right.

Read the rest of this entry

Seni Merangkai Keindahan Dari Ketidaksempurnaan

Standard
IMG_20150531_141629

Nida dan rangkaian bunga cantiknya

Sahabat kesayangan saya, Nida cerita kalau dia sedang ikut workshop Ikebana. “Apan tuh?” tanya saya penasaran. “Ikebana itu seni merangkai bunga dari Jepang. Aku ngga mau ngelewatin kelasnya sekali pun juga, karena workshopnya cuman setahun sekali dan aku udah dari lama mau ikut ini. ”

Nida ini orangnya super kreatif jadi saya ngga kaget mendengar dia begitu antusias mengikuti workshop Ikebana itu. Lalu kemarin dijadwal kencan kami, di depan berpiring-piring olahan sushi yang berseliweran (maklum duduknya di sushi bar jadi piringnya banyak hihihi), saya bertanya apa saja yang sudah dia pelajari dari kelas merangkai bunga ala Jepang itu. “Ikebana itu ternyata merangkai bunga dengan nilai filosofi yang tinggi!” Saya menoleh ke Nida memberhentikan ritual makan sushi saya.

Dengan tangan yang bergerak lincah, selincah bibirnya yang bercerita tentang ikebana dia berhasil membuat saya tertarik pada hal yang sedang ditekuninya belakangan ini. Kata Nida, ikebana tidak seperti merangkai bunga ala orang-orang Barat yang mengumpulkan material dari bunga-bunga yang indah. “Pasti ada satu atau dua material kering atau rusak dimasukkan untuk memperindah rangkaian bunga.” Bukan cuman itu, bahkan kata Nida susunan tinggi atau rendahnya bunga dan daun itu juga ada aturannya karena setiap materi yang dirangkaikan merepresentasikan Sang Pemilik Kehidupan dan manusia.

Read the rest of this entry

Songkran, The Most Excited Water War On Earth

Standard

 

This slideshow requires JavaScript.

Starting from 13-16th April, Thailand celebrating Songkran. It is Thailand’s new year. To celebrate it you don’t need trumpet nor balloon because all you needed is water gun and white powder talc.

Yes the Thai’s entering their new year by getting wet with fully white face. It’s fun because you will allowed to shoot every people near you with water. Yup water is our ammo  to win the battle.

Me and Daniel already prepare our guns a week before Songkran. Since the ammo is water so the weapon is water gun. But I’ll mention it as gun so you can feel the battle ambiance.

Talking about gun, choosing it was not easy. As a new Bangkokian, we were amaze with how many series of guns they sold. At first Daniel choose the small one, but I remind him it’s going to be a long battle. It’s a street war you never know how crazy the enemy will be. You also don’t know where the next amo station will exist because from what I heard the street will full of people.

So we choose the big guns. I even took a double shot gun as my surviving tools. Its a gun which by the time you pull the trigger out there will double ammo spreading at your face. For Daniel, he choose the single shot gun. I was clearly  knew who my closest target will be >:)
Read the rest of this entry

Komersialisasi Perempuan?

Standard

feminism1

Saya harus menuliskan ini. Beberapa hari ini kepala saya dibikin penuh dengan segala pikiran-pikiran ini. Pikiran apa? Pikiran tentang perempuan. Iya perempuan, mahluk yang bervagina yang selalu menjadi daya tarik. Mengapa menarik? Entah karena status perempuannya atau karena kepemilikan vaginanya.

Yang pasti selalu banyak yang dikupas dari seorang perempuan. Mulai dari lekukan tubuhnya, halus kulitnya, pakaiannya, g-spotnya yang penuh misteri, sampai gaya belanjanya. Iya gaya belanja selalu menjadi menu menarik untuk majalah-majalah lifestyle. Majalah yang memang expertise-nya adalah menampilkan sosok perempuan yang glamour and doing nothing than shopping.

Lalu saya menemukan artikel menarik di Psychology Today  Artikelnya bilang, kalau perempuan suka belanja karena jauh sebelum mall-mall dibangun, perempuan suka melakukan hunters-gatherers.  Jadi disaat para laki-laki memburu hewan, perempuan browsing from tree to tree. Artikel itu kemudian memperjelas yang dimaksud dengan browsing from tree to tree, They spend a lot of time examining the food, checking its freshness and edibility, and they discard quite a lot of it. At the end of the trip, they return home laden with a wide variety of food stuffs. 

Read the rest of this entry

Para Pelawan Kanker Yang Merayakan Hidup

Standard

buku kami berani melawan kankerSaya baru saja pulang kampung, iya mudik ke Indonesia. Misi mudik kali ini rada “berat”, saya pulang untuk launching buku kedua saya  <:-P

Rasanya gimana gitu ya, launching buku, sesuatu kalau kata Syahrini. Saya pun merasakan sesuatu untuk kepulangan saya yang pertama setelah menetap di Bangkok. Saya ngga pernah tahu gimana rasanya meluncurkan buku secara resmi dengan mengundang media serta masyarakat umum. Yang saya tahu, ketika buku pertama saya keluar, rasanya bahagia dan deg-degan. Nah kali ini semua rasa itu saya kali dua eh jangan deh kali lima aja hahaha.

Buat saya, buku kedua kali ini luar biasa. Dari judulnya saja sudah sangat menggema, Kami Berani Melawan Kanker. Saya terinspirasi menuliskan buku ini, ketika saya pulang dari Guangzhou, China dan mewawancarai 3 pasien kanker FUDA Cancer Hospital. Ketiga pasien itu adalah Le Stanny Saputra, Yenly, dan Desima Juliana Nainggolan.

Ketika saya mewawancarai mereka, saya menemukan energi positif yang luar biasa. Sontak saya merasakan mereka memberikan persepsi baru tentang menghadapi kanker. Mereka ketika itu baru saja pulang dari Guangzhou setelah menjalani kemoterapi. Tapi tidak terlihat seperti kesakitan, mereka terlihat sangat antusias. Lalu saya cerita ke Humas yang juga penerjemah FUDA perwakilan Jakarta, Ibu Fanny Surjono namanya. Saya lebih sering memanggil beliau, Cici Fany.

Mendengar saya yang kegirangan ketemu pasien-pasien itu untuk difoto di majalah tempat saya bekerja ketika itu, Prevention Indonesia, Cici Fany bilang pasiennya banyak yang inspiratif seperti mereka. Tiba-tiba saya terpikir untuk membuatkan buku tentang perjuangan para pasien kanker. Cici Fany menyambut antusias, bahkan sangat antusias. Hanya beberapa kali bertemu, kami sepakat untuk meluncurkan buku tepat di Hari Kanker Dunia yang jatuh setiap 4 Februari.

Read the rest of this entry