Bertutur Positif Demi Anak Berkarakter Positif

Standard
Forum Ngobras Perdana Bareng Psikolog Naomi Soetikno, M.Pd, Psi

Forum Ngobras Perdana Bareng Psikolog Naomi Soetikno, M.Pd, Psi

Apa tanda acara diskusi yang kita datangin itu menarik? Kalau saya, isi kepalanya meletup-letup dan kaga bakal berenti kalau belum ditulis di blog. Persis seperti sekarang, bawaannya pengen ketak-ketik buat nulis hasil diskusi santai yang kemarin saya datangin.

Jadi saya diundang sama ForumNgobras. Ini adalah forum yang dibentuk oleh beberapa jurnalis kesehatan super wahid di Jakarta. Forum Ngobras (Ngobrol Bareng Sahabat) bikin diskusi untuk membahas berbagai isu menarik, yang kebetulan di event perdana mereka kemarin, temanya adalah Kekerasan Verbal Terhadap Anak.

Suasana diskusinya santai banget karena dibikin di coworking space  Nutrifood Inspiring Center. Biarpun suasananya santai tapi diskusi sangat berisi karena langsung menghadirkan psikolog dari Universitas Tarumanegara. Iya psikolog yang mengembalikan kita para orang dewasa ke jalan yang benar dalam berinteraksi dengan anak-anak.  Psikolognya, Naomi Soetikno, M.Pd, Psi, juga murah hati sekali dalam berbagi ilmunya bikin peserta yang datang, termasuk saya mengevaluasi diri dalam berinteraksi dengan anak-anak.

Meski belum punya anak, tapi interaksi dengan anak-anak adalah menu favorit saya. Sebagai namboru buat keponakan saya yang super centil atau tante dari anak-anak teman saya yang lucu-lucu, saya merasa punya tanggung jawab menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan mereka. Iya loh menurut saya, orang dewasa yang ada di sekitar anak-anak bertanggung jawab untuk melindungi mereka dari segala macam bentuk kekerasan. Okey mari kita mulai kupas letupan-letupannya biar isi kepala saya tidak berhamburan tak berguna. Halah. 

Kalau dilihat secara kesadaran, orang dewasa adalah orang yang bisa mengendalikan emosinya dibanding anak kecil. Itu mengapa dalam konsep pengasuhan anak, cara orang dewasa berinteraksi – baik secara verbal maupun non verbal – dengan anak sangat menentukan karakter anak. Iya cara kita berbicara, berdiskusi, dan bersikap akan memengaruhi kebertahanan anak dalam menghadapi  tantangan sosial. Anak yang sedari kecil dicekoki dengan kata-kata yang negatif akan membuat mereka membatasi diri dan parahnya melabelisasi dirinya sebagai individu yang serba tidak bisa.

Naomi kemudian memberikan contoh dari salah satu kasus yang pernah ditanganinya. Seorang remaja yang duduk di bangku SMA merasa tidak pernah berani untuk pegang alat musik apapun saat pelajaran seni musik. Atau kalau pun dia mencoba, pasti mainnya jelek. Akhirnya setelah ditelaah, anak itu masih menyimpan erat-erat memori semasa dia kecil saat mengikuti les piano. “Khususnya bagian tes naik ke level 2,  gurunya tanpa sadar bilang, kayanya kamu tidak berbakat deh. Perkataan ini ternyata terekam hingga anaknya SMA!”

Menarik kan, meski si guru tidak mengatakan dengan mencak-mencak tapi dampaknya mengekor terus sampai anaknya dewasa. Jadi sebenarnya kekerasan verbal itu seperti apa? Psikolog yang sedang belajar S3 di Universitas Padjadjaran ini kemudian menjelaskan, kekerasan secara umum adalah perilaku menyakiti yang membuat korban mengalami kerugian atau kerusakan secara verbal maupun fisik.

Idealnya, sambung Naomi,  perkembangan anak dari bayi sampai dewasa akan membentuk aspek psikologinya yaitu membentuk rasa percaya diri, harga diri, dan kemampuan untuk meregulasi diri. Tapi ketika anak menerima kekerasan, secara verbal misalnya, itu akan merusak proses perkembangan anak secara psikis yang membuat dia menjadi tidak percaya diri dan tidak bisa meregulasi diri.

Jadi kembali ke kasus anak yang kesulitan mengikuti pelajaran musik itu, komentar spontanitas dari si guru les itu masuk kategori kekerasan verbal karena menyerang serta merusak rasa percaya diri serta kemampuan regulasi anak. “Alhasil anak memberikan label pada dirinya sendiri dan ketakutan setiap kali belajar musik.”

Labelisasi ini terus termanifestasi hingga dewasa, karena ketika anak berusia 2-10 tahun adalah masa penting pembentukan ego dan rasa percaya diri. “Saat mereka berusia 2 – 5 tahun, anak-anak menyerap semua informasi yang diterima tapi belum punya kemampuan untuk memilah informasi. Akhirnya kalau yang diterima adalah perkataan negatif maka itu akan terekam di alam bawah sadarnya yang kemudian membentuk persepsi atas dirinya sendiri.” Itu kenapa penting banget buat orang tua dan orang dewasa yang berada di sekitar anak-anak untuk mendukung pembentukan ego serta rasa percaya diri anak melalui interaksi yang positif.

Tapi menciptakan interaksi yang positif itu kan menantang sekali, apalagi buat orang tua yang diserbu dengan pemicu stres, mulai dari macet, deadline pekerjaan, sampai kantong tipis akibat tanggal tua hihihihi.  Stres memang jadi biang keladi yang membuat orang tua sering kali kurang toleran terhadap kesalahan anak. Hah kesalahan anak harus ditoleransi?

Ditoleransi dalam arti kata, marah dengan porsi yang tepat. Ini yang menarik, ternyata orang tua boleh kok marah sama anak tapi…iya ada tapinya….kan pengen anaknya tumbuh dengan rasa percaya diri dan kemampuan regulasi diri yang baik kan. Jadi, orang tua boleh marah ke anak tapi dengan gaya positif.

Contohnya? Hal yang paling sering dilakukan anak dan paling efektif bikin orang tua emosi adalah ketika anak menumpahkan makanan atau air minumnya. Naomi kemudian menyebutkan ada orang tua yang menghadapi situasi ini dengan mencoba positif tapi kurang tepat. “Adik sayang, kok airnya ditumpahin.” Naomi kemudian menjelaskan, penyebutan kata sayang membuat anak tidak mengerti secara utuh bahwa apa yang dilakukan salah. Alhasil anak menjadi ambigu dan tidak mengerti apa yang dilakukan salah.

Pada kasus anak menumpahkan makanan atau minuman itu, Naomi menyarankan orang tua menegur secara tepat dengan memberi tahu kondisi dan dampaknya seperti apa. “Adik, kok airnya ditumpahin? Kalau airnya tumpah, lantainya jadi licin dan kamu bisa terpeleset.” Rumusnya, anak itu belajar here and now. Mereka belajar berdasarkan dari apa yang didengar, dilihat dan dialami. “Poin pentingnya menegur tanpa menurunkan rasa percaya dirinya.”

Tapi kan orang tua atau orang dewasa yang ada di sekitar anak-anak juga manusia biasa yang tak lepas dari khilaf. Apalagi kalau pas tanggal tua yang bikin emosi persis kaya korek sama bensin, nyambernya cepat. Bagaimana kalau kita sudah keburu berbicara negatif atau marah berlebihan kepada anak?

“Datang dan minta maaf kepada anak,” ucap Naomi sambil senyum-senyum karena melihat para peserta #ForumNgobras mulai salting. Iya kadang kala orang tua gengsi kan untuk minta maaf sama anak. Tapi ternyata ini penting loh. “Anak akan belajar menerima kesalahan orang lain dari proses ini. Dia akan tumbuh menjadi orang yang toleran.”

Psikolog Naomi Soetikno, M.Pd, Psi

Naomi juga mengingatkan untuk tidak perlu memberikan embel-embel kompensasi ketika orang tua meminta maaf. Sebab anak akan berpikir bahwa semua kesalahan bisa dikompensasi dengan hadiah, “Secara tidak langsung bisa mengajarkan anak budaya nyogok.

Untuk membantu para orang tua serta orang dewasa menghindari kekerasan verbal pada anak, Naomi membekali dengan tips-tips ini:

  • Saat kondisi emosi atau fisik sedang turun, hindari kontak dengan anak. Atau coba lakukan rileksasi sebelum bermain dengan anak. Misalnya setelah stres di jalan menghadapi kemacetan, rileksasinya bisa langsung mandi agar tubuh kembali segar dan bisa tenang menghadapi anak yang suka cari perhatian berlebih dari orang tuanya yang seharian bekerja.
  • Saat emosi mulai naik, segera lakukan stabilisasi. Caranya? Tarik napas dalam. Lalu coba memegang sesuatu yang ada di sekitar kita, rasakan apa yang disentuh karena ini adalah proses mengembalikan diri pada kesadaran. Kesadaran ini yang akan membuat kita mengendalikan diri dengan logika bukan emosi.
  • Tingkatkan kebersamaan dengan anak agar orang tua lebih mengerti bagaimana memberikan pernyataan positif. Ketika memberikan apresiasi tekankan pada prosesnya bukan pada hasilnya. Misalnya, saat anak akhirnya mau diminta untuk merapikan kamarnya, berikan pengertian bagaimana kamar yang rapi dan bersih membuat suasana kamarnya lebih nyaman. Sehingga anak merasakan dampak langsung dari proses yang dikerjakan secara sadar.

Lalu bagaimana kalau anak mendapatkan kekerasan verbal dari lingkungan di luar keluarga, seperti guru, teman sebaya, kakak kelasnya atau bahkan media? “Inilah pentingnya kebiasaan untuk ngobrol dengan anak karena bisa membantu mereka untuk membersihkan luka emosinya.”

Naomi kemudian menyontohkan apa yang sebaiknya dilakukan orang tua ketika mendengar anak bercerita baru mendapatkan kekerasan verbal dari lingkungan di sekolahnya. “Tanya situasi dan kondisinya seperti apa. Misalkan dia ditegur oleh guru, setelah kita mengetahui penyebabnya berikan pengertian guru menegur dengan tujuan yang positif tapi caranya salah. Lalu bantu anak memahami ada kondisi yang membuat orang lain lepas kendali.”

Kebiasaan berdiskusi dengan orang tua ini akan membentuk anak menjadi kuat secara mental. Kebiasaan ini bisa terbentuk ketika anak punya rasa percaya diri yang baik dan itu artinya lingkungan keluarga harus konsisten membentuk komentar positif bahkan pada situasi negatif sekalipun.  Menantang sekali kan…jadi orang tua itu memang proses belajar yang terus menerus.

Tapi anak-anak akan selalu belajar dari orang tuanya. Jadi ketika anak-anak kita bermasalah, orang tua sebaiknya memberanikan diri mengevaluasi diri terlebih dahulu. Karena bisa jadi perbaikannya harus dimulai dari orang tua baru kemudian ditularkan kepada anak-anak.

Advertisements

3 responses »

  1. Setuju, kalau perbaikan untuk anak-anak mesti bersumber dari orang tua, ibarat kata masalah di anak-anak mungkin bersumber dari masalah yang ada di orang tua juga ya :hehe. Jadi kalau kita mau membuat sesuatu menjadi positif, maka dari orang tuanya juga mesti jadi positif dulu, kalau negatif takutnya anaknya jadi negatif dan ujungnya nggak baik yak :hehe.

  2. Pingback: Bertutur Positif Demi Anak Berkarakter Positif | Ngobras

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s