Jadilah Turis Yang Bukan Polisi Moral

Standard

11921605_10153460938803260_5378942007425541141_nSebagai orang yang hidup diperantauan, rasanya senang banget ketika mendengar ada orang lain yang berbicara dengan bahasa yang sama dengan kita. Mau di pasar, di kendaran umum atau mall, bawaannya pengen negor aja pas dengar ada orang ngomong bahasa Indonesia. Atau minimal senyum lah.

Dan ini kejadian minggu lalu. Di dalam kereta, bergelantungan sambil membaca layar handphone, tiba-tiba saya kegirangan  pas nangkep ada sekelompok orang  baru masuk kereta dan berdiri di depan saya, ngomong pake bahasa Indonesia. Sekelompok orang ini terdiri dari tiga perempuan dan satu laki-laki. Kayanya sih habis belanja karena masing-masing bawa kantong plastik yang membuntal.

Untuk memastikan apa mereka berbahasa Indonesia atau Melayu, saya melebarkan radar kuping saya sambil melemparkan senyum ke salah satu diantara mereka.

“Eh kartu kereta ini ngga bisa disimpen dong ya?” ucap salah seorang perempuan.

Tiket skytrain di Bangkok memang tidak bisa jadi kenang-kenangan, khususnya kartu yang single trip. Karena kita harus rela melihat kartu kereta ditelan bulat-bulan oleh mesin biar bisa keluar stasiun. Mendengar awalan dari percakapan mereka, saya yakin betul kalau mereka orang Indonesia.

“Bisa. Kita beli aja satu tiket yang paling murah jadi bisa buat jadi kenang-kenangan,” salah satu perempuan memberikan ide cemerlang. Teman-temannya langsung menyalakan bohlam ide yang sama di kepalanya, tanda ide temannya itu sangat masuk akal.

Dari logat bicaranya, sepertinya sekelompok turis ini anak Jakarta. Saya perkirakan mereka anak kuliahan yang lagi liburan bareng-bareng. Saya makin ngga sabaran untuk negor. Nengor ibu-ibu aja bisa seru apalagi kalau negor anak kuliahan ya kan. Kayanya kalau saya ikut bilang ide salah satu teman mereka itu brilian, percakapan kita pasti bisa panjang.

Maka bersiap-siaplah otak saya untuk memerintahkan lidah saya berartikulasi. Pas ketika udara dan lidah saya berbenturan untuk menciptakan suara, tiba-tiba salah seorang perempuan dari kelompok turis itu menyampaikan sesuatu yang mengganggu saya. Dia mengomentari segerombolan laki-laki yang baru saja masuk kereta dan berdiri tepat di depan kita. “Fix…they are gay!”

Omongan dalam bahasa Inggris itu langsung mendapatkan reaksi paling cepat dari satu-satunya laki-laki yang ada di kelompok turis asal Indonesia. “Yes they are.” Spontan teman-teman mereka yang lainnya melempar bola mata ke segerombolan laki-laki yang dibicarakan. Mereka mengamati dari kaki sampai kepala.

Seketika saya merasa ada di Jakarta yang banyak banget mulut comel kalau ada orang yang berpenampilan beda. Entah penampilan beda itu dari gaya pakaian yang unik, seksi, atau ya itu laki-laki yang berbedak seperti segerombolan laki-laki yang sedang mereka amati.

Di Bangkok, bukanlah hal yang aneh melihat laki-laki tampil necis. Tampil necis itu bukan berarti mereka gay. Lagian kalau mereka gay trus kenapa? Mereka kan tidak tinggal di Indonesia.

Setelah saya lihat, segerombolan laki-laki yang sedang dibicarakan itu sepertinya pelayan mall atau restoran karena memakai seragam dengan logo tertentu. Lagi-lagi di Bangkok sangat biasa melihat pelayan mall atau restoran yang memakai bedak, baik perempuan maupun laki-laki.

Ah saya langsung malas untuk beramah-tamah dengan kelompok turis yang sebangsa itu. Bahkan saya cenderung malu untuk menegur. Kenapa? Karena saya bukan tipe orang yang demen berkubang dalam percakapan yang penuh penghakiman atau labelisasi.

Dan sekali lagi, mereka bukan sedang di Indonesia jadi kenapa memakai kaca mata made in Indonesia di negara asing? Sudahlah datang sebagai tamu, malah asik ngejelek-jelekin yang punya rumah.

Menurut saya, orang asing yang datang atau tinggal di satu negara asing adalah pendatang yang harus bisa beradaptasi dengan situasi sosial budaya setempat. Karena aturan, kebiasaan, norma, dan kebudayaan itu sudah ada jauh sebelum para orang asing itu “bertamu” ke tuan rumah. Bahkan rasa nyaman dari nilai-nilai sosial budaya yang ada sudah terbentuk secara alamiah tanpa perlu meminta persetujuan dari para pendatang. Jadi apa haknya turis yang hanya berkunjung beberapa hari itu melabeli si tuan rumah? Bahkan pendatang seperti saya yang sudah tinggal 1,5 tahun di sini saja tidak lantas punya kewenangan untuk melabeli mereka. Saya teringat dengan quote dari Clifton Fadiman.

When you travel, remember that a foreign country IS NOT DESIGNED to MAKE YOU COMFORTABLE. IT IS DESIGNED to make ITS OWN PEOPLE COMFORTABLE.

Iya siapa saya yang seenak udel bisa bilang kalau keterbukaan orang-orang Thailand, khususnya Bangkok terhadap homoseksual itu adalah suatu hal yang salah? Atau apa juga hak sekelompok turis itu untuk dengan angkuhnya bilang dalam bahasa inggris, “Fix they are gay!” Penduduk lokal ngga butuh polisi moral yang diimpor dari negara tetangga kali.

Saya jadi emosi dan sebenarnya pengen banget bilang ke sekelompok turis itu, “Hati-hati banyak orang Thai yang bisa bahasa Inggris loh.” Tapi saking malasnya untuk ngomong ke mereka, akhirnya saya memilih untuk tidak menegor mereka sama sekali.

Andai saja sekelompok turis itu mau melihat perbedaan dengan kaca mata menghargai manusia. Mereka bisa tahu, meski segerombolan laki-laki itu berbedak, tapi bahasa tubuh mereka sangat sopan ketika menyadari terpaksa berdiri di depan kita karena gerbong kereta lagi ramai orang. Mereka seolah meminta maaf karena harus berdiri berhimpitan.  Atau kalau saja sekelompok turis itu tidak langsung memelototi segerombolan laki-laki berbedak itu dari ujung kaki sampai kepala, mungkin mereka akan menangkap bahasa tubuh para laki-laki berbedak itu yang gesit mempersilahkan penumpang paruh baya untuk masuk ke dalam ketimbang berdiri di depan pintu kereta.

Iya meski segerombolan laki-laki itu berbedak, tapi rasa kemanusiaan mereka tidak luntur. Justru kepedulian mereka atas sesama manusia jauh lebih kentara ketimbang taburan bedak halus di muka. Semoga besok-besok kalau ketemu turis asal Indonesia bukan tipe-tipe polisi moral seperti yang saya temui beberapa waktu lalu di kereta ya. Biar antusiame saya dalam menegor sesama orang Indonesia ngga pupur dimakan urusan laki-laki berbedak.

Advertisements

8 responses »

  1. Kebiasaan emang. Kebiasaan menilai orang lain atau ikut campur urusan orang lain itu susah hilang di masyarakat kita. Walau terkadang “ikut campur urusan orang lain” itu ada positifnya, terkadang.

    Itu semua kembali ke masing2 diri kita, emang..

  2. Pingback: Web Log 7-20 September 2015 | Provita Prima

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s