Bilakah Gereja Merestui Perceraian

Standard

C.S.-Lewis

 

Menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Kehidupan Keagamaan Kementerian Agama, Kasus perceraian di Indonesia selama 2010-2014 meningkat 52 persen! Ini saya kutip dari Kompas. Jangan langsung mikir saya mau cerai, amit…amit..amit…Saya dan Daniel percaya akan berusaha sekuat tenaga dan sepenuh cinta untuk tidak sampai pada area itu.

Tapi kali ini postingan saya memang tentang perceraian dan gereja. Anjrit serius amat ya. Ngga papalah ya sekali-kali, dari pada pikirannya loncat-loncat di kepala doang mending ditulis biar pikiran itu jadi sesuatu. Setidaknya dia tak mengendap jadi imajinasi liar. Halah

Jadi saya mulai mengaitkan perceraian dengan gereja ketika membaca email blast dari gereja internasional yang saya dan Daniel pernah ikuti ketika di Jakarta. Meski sudah lama tidak bergereja di sana, tapi saya masih tetap senang sekali membaca email dari mereka. Ya renungannya….ya info kegiatan yang mereka buat selalu penuh dengan rasa berbagi kasih yang kuat. Nama gerejanya IES South.

Di awal bulan ini, email blast yang berisi renungan itu, di bawahnya ada berbagai kegiatan yang bisa diikuti jemaat. Going Deeper: Healing From Divorce. Saya menangkap aura berbeda dari tulisan itu. Baru kali ini saya melihat gereja berbicara dengan intonasi positif mengenai perceraian. Batin saya langsung berucap, Wih baru kali ini ada gereja yang mendukung perceraian. 

Saya semakin serius membaca paragraf pendek yang menggambarkan tentang kegiataan itu. Jadi ini semacam workshop untuk mereka yang baru saja bercerai, ya orang tua ya anak-anak, tujuannya agar mereka melalui pasca perceraian bersama dengan gereja.

Tapi bukannya hukumnya udah jelas ya kalau gereja itu, mau Katolik atau Protestan, MENOLAK PERCERAIAN. Ini kok malah bikin workshop? Inilah yang bikin ide untuk menulis meletup-letup di kepala saya. Menarik banget! Saya sangat senang ketika melihat ada gereja yang akhirnya berani berbicara tentang perceraian dari perspektif yang berbeda.

Menurut saya mereka tak hanya melihat anak-anak sebagai korban perceraian, tapi orang tua atau pelaku juga sebagai korban perceraian. Ya saya sedikit bisa membayangkan bagaimana patah hatinya ketika pilihan bercerai harus dibuat. Patah hati karena ternyata hubungan yang diawali dengan jatuh cinta ternyata berakhir dengan perceraian. Lalu masih ada juga rasa pahit karena melihat anak-anak harus memiliki keterbatasan dalam menikmati kebersamaan dengan orang tuanya.

Rasanya pasti seperti tersesat, karena mana ada sih pasangan yang mempersiapkan diri untuk berada pada situasi superti itu. Tapi gereja ini justru punya kalimat ajakan yang begitu menenangkan, “Find help, discover hope and experience healing.” 

Saya tidak akan mengutak-atik soal ketegasan sikap gereja dalam menjaga komitmen pernikahan. Karena dogma agama sangatlah jelas dalam hal kesetiaan, baik dalam hubungan dengan Tuhan maupun hubungan dengan pasangan hidup. Dua-duanya harus setia alias tidak boleh bercerai. Jadi saya sangat mengerti jika gereja tidak akan pernah mau mengeluarkan surat perceraian!

Tapi dogma ini juga kemudian menghasilkan “budaya” atau konsekuensi interaksi antara gereja dengan jemaatnya yang bercerai yaitu pengucilan. Karena mereka yang bercerai tidak diakui, maka beberapa kasus yang saya tahu mengatasinya dengan pindah gereja atau bahkan memilih tidak bergereja sama sekali. Alhasil budaya pengucilan pun tercipta secara natural kepada jemaat yang bercerai.

Bukankah lembaga agama seperti gereja juga seharusnya berbicara tentang pengampunan? Bukankah pengampunan selalu diucapkan dalam kotbah-kotbah gereja. Itu kenapa saya sedikit berat hati menyadari ada pengucilan terhadap mereka yang bercerai.

 

Pengampunan, menurut saya bisa dilakukan dengan tetap menerima jemaat yang bercerai. Rasanya setiap orang yang “bersalah” ketika kembali diterima, pasti lebih mudah untuk memperbaiki diri.  Itu mengapa saya sangat kagum dengan solusi yang ditawarkan gereja internasional itu kepada jemaat-jemaatnya yang bercerai. Mereka benar-benar mengaplikasikan cerita menyelamatkan domba yang hilang untuk tetap berada di kawanan yang benar.

Saya kemudian penasaran, adakah gereja nasional atau gereja lain yang melakukan hal serupa? Saya sampai diskusi sama Daniel, maklum dia paling tahu soal gereja hihihihi. Kata Daniel, gereja Indonesia ada yang melakukan itu tapi berdasarkan permintaan personal jemaat bukan merupakan program gereja yang rutin digelar.

Lagi-lagi menurut saya, permintaan personal itu pasti sangat jarang diajukan oleh jemaat yang bercerai. Karena ya itu, “budaya” gereja yang menolak perceraian, membuat jemaat lebih baik menghindar ketimbang meminta untuk dibina. Kasarnya mereka sudah ditolak duluan sebelum berani untuk meminta tolong.

Rasanya akan beda ketika gereja yang menjemput bola. Bahkan dengan model workshop jadi proses pembinaanya juga melibatkan dukungan dari jemaat yang berada pada pergumulan yang sama. Bukankah ini yang dimaksud dengan persekutuan yang saling menajamkan iman?

Plus ketika gereja menjadikannya sebagai program regular, saya kok merasa aura pengampunannya lebih terasa. Sebab jemaat yang bercerai merasa diterima tanpa perlu meminta untuk diterima. Gereja selalu terbuka untuk mereka senantiasa.

Dan saat pikiran di kepala saya tengah berloncatan untuk membentuk poin-poin dari postingan ini, saya menemukan artikel yang seirama dengan harapan saya. Ternyata Paus Fransiskus baru-baru ini mengeluarkan pernyataan untuk gereja-gereja Katolik di seluruh dunia, agar lebih berbelas kasih kepada jemaat yang resmi bercerai. “Orang-orang ini jangan dikucilkan … dan mereka tidak boleh diperlakukan seolah-olah mereka bukan bagian dari gereja,” katanya. Saya kutip beritanya dari Tempo. Pemilihan kata yang digunakan Tempo sangat pas, berbelas kasih. Ini senada dengan jangan dikucilkan.

Pertimbangan Paus mengeluarkan pernyataan itu adalah agar anak-anak korban perceraian tetap berada dalam lingkungan gereja. Sebab di gereja Katolik, mereka yang bercerai tidak dapat menerima komuni karena gereja masih mengakui pernikahan yang pertama. Dan objek penderita dalam situasi ini menurut Paus adalah anak-anak. Karena orang tua mereka “dikucilkan” tentu anak-anak ikut berjarak dengan kehidupan gereja.

 

 

Saya senang sekali melihat ada perspektif baru dari gereja tentang perceraian. Setidaknya Paus berani memberikan wejangan itu secara terbuka. Gereja tetap tidak mengeluarkan surat perceraian tapi mereka tidak menutup mata terhadap dampak negatif yang ditimbulkan dari situasi perceraian.

Tapi bukankah ini bisa menjadi “gerbang awal” dari penerimaan perceraian oleh gereja? Awalnya workshop untuk yang baru bercerai, lama-lama gereja bisa setuju dengan perceraian . Bahaya nih!

Mungkin ada yang berpikir begitu. Tapi memang misi penyelamatan itu bukan berarti bebas dari pandangan negatif. Bahkan dari setiap hal baik yang dilakukan pasti ada saja kecurigaan yang menyusup untuk mengaburkan esensi dari penyelamatan.

Saya jadi ingat cerita tentang domba yang hilang di Alkitab. Si penggembala domba rela meninggalkan kawanan dombanya demi mencari seekor domba yang tersesat. Bayangin yang tersesat cuman seekor loh. Tapi penggembala domba tahu betul bagaimana kalutnya ketika kita sendirian dan tersesat. Atas dasar cinta kasih, penggembala domba bersedia menerabas tubir jurang dalam malam gelap demi menemukan domba yang tersesat. Inilah arti penyelamatan dengan cinta kasih.

 

Advertisements

3 responses »

  1. Anak2 korban perceraian biasa memang butuh bimbingan lebih krn dr kasus2 perceraian hampir selalu ada luka batin dan kalo ada reat2 kaya HMC di sesi Hati Bapa itu adalah sesi paling dramatis apalagi buat anak2 korban perceraian mereka emg kawanan domba yang terhilang yang perlu dibina bukan dibinasakan. *anw saya nulisnya sambil nangis ngebayangin anak2 itu biasanya nangis kejer sampai guling2 krn susah buat ngampunin org tuanya sendiri yg udh ninggalin dia*

  2. Pingback: Web Log 7-20 September 2015 | Provita Prima

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s