Doa Untuk Bapak

Standard

 

11816965_10153401424268260_3669603549553930523_nDoa Untuk Bapak Bapak

Meski dulu sekali kita begitu sering berselisih paham, tapi cinta menyelaraskan kita.
Bapak,
Meski dulu keras kepala kita selalu membenturkan emosi, tapi kedewasaan kita berhasil melebur ego menjadi kepedulian.

Bapak,
Saat engkau memelukku sambil menangis dan meminta maaf di hari pernikahanku, aku tertunduk malu.
Kau begitu mencintaiku hingga selalu merasa tidak pernah cukup membahagiankanku.

Bapak,
Saat ku usap dadamu ketika kau menyampaikan kabar tentang sakitmu pada saudara sekandungmu dengan derai mata, aku tak berdaya. Rasanya ingin aku memundurkan waktu dan menjagamu tetap sehat sehingga kau tak perlu meneteskan air mata itu.

Bapak,
Ketika kau tiba-tiba memintaku memelukmu saat aku membawakan potongan buah untuk kau santap,
aku usap punggung lehermu yang semakin terasa makin mengecil.

Bapak,
Saat aku menangkap lanjut usiamu dalam bola matamu, aku ingin kau merasa teduh atas rasa kasih sayang yang diberikan isteri, anak, menantu, dan cucu.

Atas semua itu Bapak, Kau harus sembuh ya, karena kehadiranmu menguatkan.
Kau harus sembuh ya, karena kehadiranmu memercikkan kehangatan.
Kau harus sembuh ya, karena kehadiranmu begitu penting.

Bagiku, kau sudah memenangkan pertarungan atas penyakitmu, Pak.
Karena kau sudah menabur keberanian, kegigihan, kepercayaan diri, keinginan berbagi, keindahan mencintai hidup, dan keimanan di setiap jengkal nafas anak-anakmu.

Dan untuk semua itu, kau akan menuai cinta yang tak akan putus-putus dari kami.
Kini kita berjuang bersama untuk merengkuh kembali keindahan mencintai kehidupan.
Tuhan akan bekerja sempurna atas kesembuhanmu.
Sampai bertemu di perayaan hidup berikutnya.
Priska sayang bapak ya.

Jakarta, 5 Juni 2015

 

Tulisan yang saya sematkan di atas, sebenarnya direncanakan untuk dipublikasi di blog ini pada Juni kemarin. Tapi karena pertimbangan tertentu, saya menundanya. Dan sepertinya Sang Penggerak Waktu memang sudah memilihkan hari ini sebagai momen yang pas untuk mempublikasikannya.

Tulisan itu adalah sebuah energi dari seorang anak perempuan pembangkang yang begitu ingin menyemangati sumber cintanya untuk tidak patah semangat. Oiya sumber cinta buat saya adalah orang tua saya, Mama dan Bapak. Namun kali ini sumber cinta yang saya maksud merujuk pada Bapak. Iya laki-laki yang mewariskan gen menulisnya ke saya. Tahun kemarin, tepat di hari ini saya menuliskan ucapan selamat ulang tahun yang panjang untuknya di sini.

Ulang tahunnya kali ini, buat saya pribadi sangatlah spesial. Karena beberapa bulan yang lalu, kami sekeluarga melalui satu proses pendewasaan yang luar biasa. Proses pendewasaan ini memercikkan energi yang luar biasa hingga membuat kami sekeluarga semakin erat bersatu.  Saya ingat betul bagaimana saya menuliskan pada messenger Facebook-nya ketika akan memberikan tulisan itu ke Bapak. Pak, sebagai sesama penulis, kita pasti mengerti bagaimana kekuatan sebuah tulisan. Semalam gua menuliskan sesuatu untuk Bapak. Ekspresi tanda cinta. Dibaca ya. 

Setelah selesai mengopi tulisan itu ke dalam kolom messenger Facebook, saya tak hanya lega tapi juga merasa sulur-sulur cinta begitu tulus memuncah sampai ke ubun-ubun. Saya mengerti sekali bagaimana indah dan kuatnya rasa cinta yang tulus itu.

Jujur saya luar biasa terharu atas momen itu. Saya sampai menelepon Daniel dan berkata-kata dengan sesenggukan. Saya teringat bagaimana orang tua saya berjuang untuk ketiga anak-anaknya. Segalanya mereka lakukan untuk membantu anak-anaknya meraih cita-cita yang digantungkan dilangit. Bahkan sampai hari ini mereka terus membangun “tangga” untuk mendekatkan anak-anaknya pada cakrawala cita-cita. Meski tubuh mereka makin renta dan rambut memutih tapi tak ada yang bisa memadamkan rasa cinta orang tua kepada anak-anaknya. Dan saya terus meresapi cinta itu sampai hari ini.

Maka ketika saya pribadi diberi kesempatan untuk menyemangati Bapak, otak saya seolah tak henti-hentinya mencari jalan untuk mengekspresikannya. Namun keterbatasan saya sangatlah banyak. Setiap peluh, pemikiran, dan perlindungan yang sudah saya terima dari Bapak tidak akan pernah bisa saya kembalikan dengan setimpal. Saya hanya punya kata-kata, energi terkecil dari rangkaian doa. Jemari saya melompati tuts-tuts keyboard dengan penuh semangat hingga membentuk selarik keberserahan dalam doa kepada Tuhan.

Dua bulan berselang, tepat di perayaan hidupnya ke 71, kami bersyukur karena Tuhan memampukan kami semua untuk menikmati hari ini. Dengan kesederhanaan kami berkumpul dan berdoa, mengucap syukur atas rasa cinta yang terus Tuhan tumbuhkan pada diri kami satu dengan yang lainnya. Rasa cinta yang terus menguatkan kami sebagai satu keluarga. Terus sehat ya Bapak dan semoga Tuhan memberikan waktu yang lama bagi kami anak-anak, menantu dan cucumu untuk membahagiakan Bapak dan Mama. Tuhan memberkati.

Advertisements

4 responses »

  1. Selamat ulang tahun buat bapaknya, semoga bapaknya sehat selalu dan panjang umur ya :)). Doa tulus seorang anak untuk orang tuanya pasti dikabulkan. Memang sudah sangat banyak yang dilakukan orang tua untuk anak-anaknya dan membayar itu akan menjadi sangat susah, namun mendoakan orang tua dengan tulus adalah langkah yang sangat baik.

  2. @ Mrspassionfruit: I feel you mbak…hidup diperantauan itu tantangannya terbesarnya adalah rindu dengan orang tua….#pelukberuang 😀

    @Gara : Amin…terima kasih Gara. Semoga kita selalu diberi kesempatan untuk setidaknya bisa membahagiakan orang tua.

    @Tiara Sesama anak pembangkang yang berhati rinto, mari kita berpelukan 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s