Menemukan Rasa Kehilangan

Standard

Pernahkah kalian merasakan takut kehilangan? Rasanya sedih ya. Bahkan ketika rasa itu datang lebih cepat tanpa tahu akan kehilangan apa, rasanya tetap sedih.

Mungkin kalian akan bingung membaca kalimat terakhir. Apa iya kita bisa merasakan sedih meski tidak tahu akan kehilangan apa. Sebegitu melekatkah manusia terhadap rasa memiliki?


do not fearSaya sedang mengalami itu beberapa hari yang lalu. Tetiba saya merasa akan kehilangan sesuatu. Sesuatu yang sudah begitu menyatu dengan hidup saya. Meski rasa kehilangan sudah begitu mendekat tapi saya tetap tidak tahu akan kehilangan apa.

Absurd. Aneh. Membingungkan. Mungkin ini yang akan terlintas di kepala setelah saya coba mendeskripsikan rasa kehilangan yang datang lebih cepat itu. Tapi itulah yang saya rasakan. Tak hanya sedih tapi saya juga ketakutan. Takut jika kehilangan itu benar-benar menjadi kenyataan.

Tidak enak memang kalau kita tidak bisa mengendalikan persepsi kita sendiri. Perasaan menjadi bola liar yang bisa membakar keterikatan kita terhadap apapun. Karena ketika kita sudah memberikan nama pada rasa maka itu menjadi ikatan yang mengubah nalar menjadi personal, yang mengubah abstrak menjadi nyata.

Karena saya tidak tahu akan kehilangan apa, hanya tahu rasa sedih yang akan saya alami kelak ketika kehilangan itu benar-benar terjadi, maka saya hanya bisa berdoa. Hanya Pemilik Waktu yang bisa menyelamatkan saya dari rasa sedih dan takut ini. Saya berdoa, semoga kehilangan itu tidak akan pernah menghapus ikatan saya terhadap rasa yang sudah saya beri nama; semoga kehilangan itu tidak akan mengeringkan jiwa saya dalam keabadian.

Saya minta Pemilik Waktu untuk mempersiapkan saya menghadapi kehilangan itu. Dengan tangan yang gemetar, jantung yang berdegup melankolik, dan air mata yang berkilatan, saya mengajukan permohononan pada Pemilik Waktu. Saya percaya tubuh saya akan mengeluarkan reaksi seperti sekarang ketika kehilangan itu benar-benar terjadi.

Kepada Pemilik Waktu, mari kita persiapkan rasa kehilangan ini dengan matang. Mari menguntai rasa sedih ini bersama-sama hingga ketika saatnya tiba, ia akan menjadi senyum perpisahan yang indah. Mari sisipkan ikatan baru terhadap kemelekatan abstrak menjadi nyata, agar ketika perpisahan itu tiba semuanya akan menjadi perjalanan hidup yang menyenangkan.

Dan demi semua rasa kehilangan yang akan datang, saya berjalan dengan ketukan detik yang sempurna dari Sang Pemilik Waktu. Amin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s