Meretas Keyakinan Keuangan dalam Pernikahan

Standard
Foto dari sini: quickmeme.com

Foto dari sini: quickmeme.com

Seberapa sering kita mendengar ungkapan ini setelah menikah, “Uang gua ya uang gua…nah uang laki gua itu baru uang barengan.” Ungkapan ini paling sering dibicarakan perempuan pada sesi ladies night atau sesi curhat dalam kehidupan rumah tangga. Saya…saya sering sekali berada dalam model pembicaraan seperti ini. Dan sering kali saya bertanya dalam hati, “Kok gitu ya prinsipnya?”

Well saya sih ngga mau ngurusin bagaimana pasangan suami-isteri mengatur keuangan rumah tangga mereka. Tapi kadang apa yang kita yakini benar akan kita ucapkan dengan ringan. Nah sering kali juga model pembicaraan itu menjadi bahan evaluasi saya sendiri. Evaluasinya begini, seberapa sahih sih “keyakinan” uang gua ya uang gua dan uang laki gua itu baru uang barengan, diterapkan dalam rumah tangga.

Memang ada yang mendasarkan ungakapan itu pada “keyakinan” kepala rumah tangga adalah laki-laki. Jadi laki-laki bertanggung jawab penuh atas semua pengeluaran dalam rumah tangga. “Keyakinan” ini biasanya akan dilengkapi dengan dalil-dalil agama atau pandangan sosial budaya tentang definisi kepala keluarga yang merujuk pada jenis kelamin laki-laki. Saya menulis keyakinan dengan tanda kutip, karena itu bukan keyakinan saya. Dan dalam tulisan ini setiap saya menulis “keyakinan” berarti merujuk pada ungkapan “Uang gua ya uang gua…nah uang laki gua itu baru uang barengan.

Keyakinan saya adalah, tanggung jawab keluarga ya dipegang suami dan isteri. Rumah tangga dibangun atas konsep berbagi, ini menurut saya ya. Kenapa saya mau nikah sama suami saya, karena saya mau berbagi banyak hal dengan dia. Mulai dari berbagi cinta, berbagi tempat tidur, berbagi kamar, berbagi cairan tubuh, sampai berbagi cigong. Iya rumah tangga itu bukan cuman berbagi yang enak-enak doang, karena berbagi hidup bukan semanis berbagi sepotong roti berdua. Begitu banyak yang harus dinegosiasikan dan negosiasi itu datang dari kedua belah pihak, sama besarnya dengan tanggung jawab yang dipikul bersama.

Saya pun mendiskusikan ini dengan suami saya. Dia tanya kenapa saya merasa tidak benar akan “keyakinan” itu. Saya bilang, kalau perempuan modern percaya dengan keadilan gender dan pemberdayaan perempuan maka seharusnya mereka tidak menerima bulat-bulat “keyakinan” itu. Karena bagaimana mungkin lo memberdayakan diri lo sendiri kalau lo ngga mau memikul tanggung jawabnya. Kenapa pemberdayaan perempuan hanya berujung pada yang enak-enak, giliran masalah uang, kebanyakan dari kita merujuk pada pasangan kita.

Saya percaya bahwa perempuan bisa memikul tanggung jawab yang sama, maka dalam keadaan sadar mencari serta memilih suami yang punya keyakinan yang sama. Apapun bentuk penghasilan dari dia dan saya itu adalah uang kita. Kita ngga pernah bilang, ini duit gua ya, ya itu urusan lo lah itu kan pengeluaran rumah tangga. Beruntungnya kita, keyakinan ini sudah ditemukan jauh sebelum kemudian kami berbagi sumpah setia di depan altar. Jadi saat konseling pra pernikahan di gereja digelar dan isu tentang pengelolaan rumah tangga menyeruak, kami merasa tak perlu penyesuaian gelombang.

wage gapIsu pun kemudian mendalam ketika kemudian suami mengaitkannya dengan wage gap alias perbedaan gaji laki-laki dengan perempuan. Iya ternyata gaji perempuan itu lebih rendah loh dari gaji laki-laki. Ini bukan cuman kejadian di negara barat. Di akhir 2011, International Labour Organization membuat penelitian yang menyimpulkan kesenjangan gaji antargender di Indonesia mencapai 19%. Lebih detail lagi penelitian ini menjabarkan, meski memiliki tingkat pendidikan dan pengalaman yang sama, perempuan memperoleh upah rata-rata 81 % dari laki-laki. Misalnya, dengan latar pendidikan dan pengalaman yang sama laki-laki bisa digaji 10 juta maka perempuan hanya 8,1 juta aja. Data ini saya dapat dari wageindicator.org.

Apa pembenaran untuk laki-laki mendapat gaji lebih banyak? Karena laki-laki menghidupi keluarganya, trus perempuan ngga menghidupi keluarganya? Lalu bagaimana dengan perempuan yang menjadi kepala keluarga, misalkan karena perceraian atau kematian? Konsep sosial budaya yang terbentuk adalah kepala keluarga itu adalah laki-laki, maka kepala keluarga perempuan tidak akan mendapatkan kesempatan gaji yang sama dengan kepala keluarga laki-laki. Saya kemudian teringat dengan NGO yang bergerak dalam pemberdayaan kepala keluarga perempuan yaitu PEKKA.

Lalu saya teringat pengalaman saya sendiri. Saat masih bekerja dulu, saya bersama teman-teman satu divisi dikumpulkan untuk mendengar sosialisasi asuransi kesehatan bagi pegawai. Mengamati…mengamati….ternyata untuk urusan melahirkan ternyata tidak ditanggung, meski saya bekerja di sana. Saya pun bertanya, pihak kantor menjelaskan kalau untuk pegawai perempuan ngga dapat tapi untuk pegawai laki-lakinya dapat tunjangan melahirkan untuk isteri. Merasa ada yang salah, saya pun kembali bertanya “Lah kenapa cewe ngga dapat?”

“Karena dari kantor suaminya udah dapat, tunjangan melahirkan untuk isteri.” Saya pun bengong dan secara spontan bilang, “Lah kan gua yang hamil dan gua kerja di sini.” Itu baru urusan lahir melahirkan, yang menurut gua sangat esensial untuk wilayah kewajiban perusahaan dalam menjamin asuransi kesehatan karyawan perempuan. Dan melihat saya bengong, akhirnya orang kantor itu bilang, “Kita lagi usahakan untuk tunjangan melahirkan ini bisa didapat sama pegawai perempuan, kita benar-benar mengusahankan kok.” FCUK-lah.

Nah kembali ke soal “keyakinan”, menurut gua kita menzalimi atau tidak sensitif gender jika terus menerapkan itu sebagai bagian dari iman menjalankan keuangan dalam pernikahan. Karena pemberdayaan perempuan atau keadilan gender bukan sekadar yang enak-enak seperti perempuan bisa kerja atau mengekspresikan diri, tapi juga menyangkut tentang perempuan tidak menghindar untuk melaksanakan tanggung jawabnya. Dan percayalah setiap kali kita mengungkapkan “keyakinan” itu maka kita sedang membuat para perempuan mendapat pembenaran untuk digaji lebih murah.

Advertisements

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s