American Sniper, Drama Traumatik Dari Perang

Standard

American Sniper. Iya saya tahu harusnya saya mengurungkan niat untuk menonton film ini, karena saya termasuk orang yang visual sekali. Ini bikin adegan-adegan yang mengerikan sangat mudah direkam otak. Tapi lagi-lagi saya yang minta nonton film ini sama suami. Dan suami saya sudah siap untuk konsekuensinya, tangan kesakitan karena pasti saya gremet kuat-kuat setiap ada adegan mengerikan. Plus kudu nemanin saya begadang karena ngga bisa tidur. Iya saya separah itu memang, bukan cuman terlalu visual dalam menangkap semua tapi juga peka terhadap audio. Jadi lengkaplah semua suara dan visual dilumat mentah-mentah oleh otak saya.

Saat film belom mulai, saya masih becandaain suami, “Siap-siap loh sayang, tanganmu lebam-lebam aku gremet-gremetin.” Suami saya balas begini, “Ah iya nih. Mana malamnya mesti begadang lagi.” Duduklah kami di bangku bernomor yang sesuai dengan tiket. Menyaksikan begitu banyak iklan diputar dan lagu raja Thailand. Lalu mulailah filmnya.

Awal-awalnya saya masuk kuat. Layar besar di depan saya masih bercerita soal proses Chris Kyle tertarik menjadi US NAVY SEAL. Saya masih bisa tolerir adegan Chris Kyle bersama tentara lainnya saling mengapit tangan  dan tiduran menghadapi deburan ombak yang kuat. Lalu ada adegan latihan nembak, ah ini juga saya masih bisa melihatnya.

Lalu tibalah si Chris Kyle masuk wilayah perang. Tembak-tembakan sana-sini, ok i still can handle it….well i am gripping my husband biceps…Tapi posisi duduk saya sudah berubah, maklum biar bisa mencengkram lengan atas suami ya kudu memeluk dia dari samping. Dan masuklah pada adegan ini. Penduduk lokal ketahuan memberi tahu nama “the bucther” dari musuh tentara Amerika yang katanya jago banget nembak (peraih emas di olimpiade untuk olahraga menembak) dan tangan kanannya pemimpin Al Qaeda, Abu Musab al-Zarqawi. The Bucther emang terkenal sadis, dia suka menyiksa orang dengan bor. Iya bor yang denger bunyinya aja kadang udah bikin merinding.

Di sinilah awal kemerindingan saya. Untuk memberi pelajaran pada penduduk lainnya, the butcher menggunakan bor itu ke anak dari orang yang memberi petunjuk ke Chris Kyle. Setiap kali suara bor bunyi, saya pegang kuat lengan atas suami saya. Lalu bor itu di arahkan ke kaki sang anak, saya mendekap suami saya. Dan kemudian…suara bor terasa tersalip oleh suara anak kecil yang teriak kesakitan. Lalu ada teriak suara laki-laki dan beberapa perempuan yang berteriak meminta agar anak kecil itu tidak disakiti. Tapi suara bor tetap terdengar dan kamera mengarah pada kaki anak kecil yang sudah bersentuhan dengan bor yang memutar cepat.

Astaga Tuhan, jantung saya berdetak cepat sekali. Tangan saya gemetaran dan saya menangis sesenggukan. Berkali-kali saya hanya bilang, “Deni aku ngga suka filmnya….aku takut…aku takut….” Suami saya cuman bisa meluk kuat-kuat dan mengusap punggung saya. Tangan saya gemetaran dan air mata seolah keluar tanpa perintah. Baru kali ini saya menangis sejadi-jadinya di dalam bioskop. Saya sampai harus mengatur napas dan meminum air beberapa kali tegukan agar tenang.

Adegannya tidak lama memang tapi sepanjang nonton film itu saya mengingat dengan jelas bagaimana teriakan anak kecil itu. Saya mengingat bagaimana suara bor itu kemudian menenggelamkan teriakan anak kecil yang merintih kesakitan.

Ah Clint Eastwood terlalu sadis menggambarkan situasi itu. Dan rasanya bukan cuman saya aja yang merasa terjerat dalam ketakutan, karena cowok di sebelah saya juga terlihat menenangkan teman wanitanya. Akhirnya saya menciptakan bahasa tubuh untuk “melindungi” diri saya sendiri. Setiap ada adegan tembak-tembakan sampai merobek wajah tak karuan, saya menutup mata saya. Tapi suaranya masih terdengar dan saya terpaksa menerima keadaan. Sesekali suami usap-usap punggung saya.

Saya memang termasuk orang yang punya hati seperti rinto. Tapi saya juga punya rasa penasaran yang tidak bisa ditahan. Meski sudah sebegitu emosionalnya saya, saya harus menyaksikan film itu sampai selesai. Film yang bercerita tentang Chris Kyle yang disebut sebagai legenda karena berhasil membunuh ratusan orang musuh dan dihormati para tentara. Berkat ketajaman Chris Kyle dalam membidik musuh dari kejauhan, banyak tentara yang diselamatkan oleh Chris. Chris Kyle sampai disebut sebagai the most lethal sniper in us millitary history. Meski di medan perang Chris Kyle adalah  sniper berdarah dingin yang bisa menghabiskan beberapa nyawa dalam satu tarikan napas, namun ia tetap seorang ayah yang berharap tidak harus mengakhiri hidup seorang anak melalui desingan pelurunya.

Namun si lethal sniper ini punya masalahnya sendiri. Setiap pulang dari medan perang, dia merasa berada di dunia berbeda. Ia seolah punya tanggung jawab untuk selalu di medan perang demi menyelamatkan para tentara Amerika dari peluru yang menyasar diam-diam dari sniper musuh seperti dirinya.

Pada akhirnya ratusan nyawa yang berhasil dilumpuhkan tak membuat Chris Kyle bangga. Ia justru diserang rasa trauma, post traumatic stress disorders (PTSD). Di satu sisi dia merasa menjalani tugasnya sebagai sniper karena doktrin di kepalanya adalah melindungi saudara satu bendera, melindungi tentara Amerika. Tapi itu tidak membuat ia membayar lunas nyawa musuh yang berhasil ditumbangkan. Terlalu banyak kematian yang dia ciptakan sehingga dia bingung bagaimana mendefinisikan kehidupan. Setiap kali pulang, ia merasa kenapa orang-orang seperti tidak peduli apa yang terjadi Irak. Kenapa orang-orang seolah tidak merasakan beratnya menjaga satu nyawa tentara dari serangan peluru tak bertuan.

Tubuhnya pun terlatih untuk selalu waspada hingga ia sulit membedakan kapan ia harus waspada karena di medan perang dan kapan ia harus waspada di keseharian. Ini karena tubuh kita punya kemampuan untuk merekam dan belajar dari pengalaman untuk kemudian menciptakan tindakan sebagai bentuk bertahan hidup.

Saat kita masuk dalam satu situasi yang mencekam dan menakutkan, tubuh akan menciptakan zat kimiawi tertentu. Pada memori yang menakutkan adalah stathmin yang akan bereaksi untuk membuat otak merekam situasi itu sebagai memori rasa takut. Jadi ketika berada dalam situasi sejenis, otak akan mengerti bereaksi untuk melindungi diri. Tapi kondisi ini juga menyebabkan satu hal yaitu PTSD. Khususnya pada tentara-tentara yang bisa berbulan-bulan di medan perang berhadapan dengan situasi mencekam yang membuat otaknya memproduksi memori rasa takut secara berkelanjutan. Akhirnya ketika mereka pulang ke rumah untuk beristirahat, otak mereka selalu dalam keadaan waspada. Sepertinya saya akan membuat tulisan khusus untuk PTSD ini, biar tulisan ini tidak loncat ke sana-ke marilah.

Bagusnya Chris Kyle, ia menurut saja ketika isterinya mendaftarkan dia untuk periksa ke dokter setelah kejadian dia hampir membunuh anjingnya karena merasa anjing itu mengancam kesalamatan anaknya. Si anjing memang menyeruduk anaknya, tapi menyeruduk bukan karena menyerang tapi karena sedang bermain-main.  Sang dokter kejiwaan pun menangkap statement Chris Kyle, “Saya merasa seharusnya tidak di sini. Saya seharusnya melindungi tentara Amerika di medan perang.” Chris Kyle pun dibawa ke bangsal yang diisi oleh tentara dengan tubuh yang tidak sempurna. Ada tentara yang kakinya hilang, ada yang pergelangan tangannya hilang, mereka adalah tentara yang harus bertahan hidup di luar medan perang dengan kondisi tubuh seorang korban perang.

Chris Kyle seolah tersadar bahwa melindungi tak selamanya dengan cara meluncurkan peluru kepada musuh. Ia kemudian membantu para veteran perang untuk menemukan kembali rasa percaya dirinya. Ini juga membuat dia memiliki rasa percaya diri lagi untuk menjalani kehidupan normal. Chris tak hanya mencari cara untuk bertahan hidup di luar zona perang, tapi ia juga menularkan semangat hidup kepada veteran perang yang lain.

Dan di akhir film, saya lagi-lagi mengakui kepiawaian Clint Eastwood dalam menutup cerita. Ia berhasil membuat situasi yang begitu senyap, seolah kita ikut merasakan kehilangan satu sosok yang begitu dekat. Tanpa lagu atau suara apapun, barisan credit title dibiarkan mengalur pelan di layar seolah menegaskan suasana duka. “Ini kita kaya lagi ada di acara pemakaman ya, kenapa semua orang jadi diam begini,” bisik saya kepada suami. Semua orang seperti memberi penghormatan terakhir pada sang legenda dengan keluar dari barisan kursi tanpa menimbulkan kegaduhan. Suasana sunyi yang aneh menurut saya. Begitu kaki berada di luar pintu teater, mereka baru saling mengeluarkan suara dan berkomentar tentang film barusan.

Pesan saya, tontonlah film ini. Bukan untuk mengakui kepiawaian Amerika dalam membuat film perang yang di mana Amerika selalu menang. Tapi untuk film perang, film ini cukup penuh drama karena yang disasar dari kesadaran penonton adalah memori rasa takut. Karena perang adalah drama traumatik yang paling senyap di bawah desingan peluru dan granat pada potongan tubuh yang bersimbah darah.

Advertisements

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s