Dicari: Tuhan Yang Satir

Standard

Tahukan saya paling demen dengan topik agama dan Tuhan. Mau buku, film atau diskusi tentang agama dan Tuhan membuat pikiran-pikiran liar saya seolah berkembang biak secara agresif.  Iya kedua topik itu adalah fetish saya dalam persetubuhan dengan analisa kritis keimanan.

Nah letupan pikiran-pikiran liar itu kembali muncul ketika saya nonton film India berjudul PK. Saya ingat liat teaser film PK pas mau nonton Pendekar Tongkat Emas saat mudik kemarin. Teaser filmnya ngga begitu bikin  pengen nonton banget tapi sempat merasa itu akan jadi film India yang menarik.

Saya mulai penasaran dan niat nonton ketika membaca tweet Joko Anwar soal film ini. Dan semakin penasaran saat dia bilang seluruh penonton tepuk tangan pas filmnya abis. Ah ini film pasti bagus banget kalau reaksi spontannya sampai sebegitunya. Jadilah saya mencari cara untuk menontonnya.

Ternyata benar, film ini seolah menampar fanatisme orang beragama dengan keluguan seorang PK. Oiya si PK ini ceritanya alien yang datang ke bumi untuk mempelajari manusia itu hidupnya kaya mana sih. Tapi sayang sungguh sayang saudara-saudara, manusia pertama yang ditemui PK ternyata seorang pencuri. Si pencuri mengambil kalung PK yang sebenarnya adalah alat komunikasi dia dengan pesawatnya. Tanpa alat itu dia ngga bisa manggil pesawatnya untuk jemput. Artinya, dia ngga bisa pulang dan terjebak selamanya dengan manusia.

Lalu kapan isu agama dan Tuhan muncul? Segera. Karena dia butuh alat itu, maka dia bertanya-tanya bagaimana caranya mendapatkan apa yang kita inginkan. Jawaban manusia yang bertemu PK adalah, mintalah kepada Tuhan. Dari sinilah isu agama dan Tuhan dimainkan penuh dengan tamparan-tamparan halus kepada semua pemeluk agama.

Saya ngga akan bercerita detail tentang bagaimana isu agama dan Tuhan dipakai sebagai pesan utama dalam film ini. Karena saya percaya kalian harus menemukan pikiran-pikiran liar sendiri ketika menontonnya. Tapi saya kasih tahu satu hal, PK si tokoh utama (Oiya PK itu artinya orang mabuk) berhasil mengungkapkan apa yang menjadi daya tarik orang terhadap agama. Apa itu? Rasa takut. Agama mengemas rasa takut manusia menjadi alasan untuk memiliki kepastian setelah kematian.

Saya ketawa ngakak sekali saat bagian itu diutarakan PK. Iya ya agama emang jadi pelampung kita untuk membuat lebih tenang ketika mengarungi kehidupan yang tidak pasti. Agama menenangkan kita melalui doa-doa penuh harapan dan ritual penuh kepatuhan dalam balutan dogma yang kadang bergesekan dengan rasa kemanusiaan. Contohnya mengenai perbedaan agama yang sering kali menjadi friksi dalam masyarakat. Padahal pesan dasar nilai-nilai agama penuh dengan rasa kemanusiaan yang dalam yaitu mengasihi sesama.

Menurut saya, film PK ini sangat berhasil “memaki-maki” para pemeluk agama dan pembela Tuhan fanatik dengan cara yang sangat santun yaitu melalui cerita bergaya humor. Jadi kalau ada orang yang merasa tersinggung setelah nonton film ini, maka penonton lain bisa bilang, “Ah selera humor lu jelek. Itu kan film lucu-lucuan, bukan film serius.” Dan justru dengan label cerita humor ini, film PK berhasil ditayangkan di Indonesia tanpa ada penolakan. Padahal cukup banyak simbol-simbol agama yang “ditertawakan”.

Saya sih sangat senang film yang berbicara tentang agama dan Tuhan dengan cara yang sangat satir ini berhasil di putar di Indonesia. Iya Indonesia yang katanya negara penuh kerukunan ini tapi pelarangan pendirian tempat ibadah dan penutupan tempat ibadah masih terjadi di sana-sini. Makin ke sini makin terasa sekali perbedaan ketimbang keberagaman dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Entahlah mungkin isu agama dan Tuhan akan berkurang kesensitifannya ketika kita mengakui tuhan yang satu yaitu tuhan yang satir. Jangan-jangan  ketakutan manusia tentang kehidupan setelah kematian sebenarnya isu satir yang selalu dimainkan untuk menambah pengikut.

Jangan mengkerut gitu jidatnya, ini cuman tulisan satir kok. Ngga perlu diseriusin karena saya bukan ahli taurat apalagi pemuka agama. Saya hanya seorang satiris yang membiarkan impuls-impuls saraf liarnya mendapatkan orgasme dalam memaknai sesuatu. Semoga tulisan ini cukup menyemangati kalian untuk nonton…setidaknya untuk membuat seluruh umat beragama bisa ngumpul rukun dan tertawa bersama-sama karena sedang nonton “tuhan yang satir”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s