Cerita Barbie

Standard

feminism2Black Barbies Don’t Always Cost The Same As White Barbies, ini adalah judul yang saya temukan di salah satu artikel Huffington Post. Judul yang membuat saya membaca artikelnya secara full dan ternyata harga boneka Barbie berkulit hitam dengan yang putih beda.

Di website Wall-Mart, boneka barbie yang berkulit hitam lebih mahal sedangkan di Toys R Us harganya lebih murah. Artikel ini menarik banget menurut saya. Menarik karena reporternya punya nose of news yang tajam menurut saya dan cerita Barbie memang selalu penuh dengan persepsi konsep tubuh. Rada berat kedengarannya, tapi Barbie dan produk kecantikan memang cenderung main di wilayah mendefinisikan kecantikan sesuai produk pasar.

Saya mengamini itu. Bahkan jauh sebelum saya mengerti tentang konsep tubuh, saya pernah mengagung-agungkan boneka Barbie. Saya ingat waktu itu masih SD dan menuju SMP kepengen banget punya boneka Barbie. Karena saat itu mikirnya punya boneka barbie super keren dan saya tahu butuh nabung bertahun-tahun untuk benar-benar bisa beli itu boneka. Iya dulu boneka barbie mahalnya setengah mampus. Saya kepengen beli boneka barbie biar temen-temen saya yang cowo ngga ngeliat saya terlalu laki (baca tomboy). Saat itu sepertinya dorongan untuk ditaksir laki mulai menyeruak hahahaha….

Tapi rasanya bertahun-tahun nabung juga bakalan susah untuk punya itu boneka. Akhirnya saya coba “usaha” yang lain yaitu berdoa….hahahahaha iya berdoa. Jadi setiap kali di majalah lihat iklan boneka barbie saya langsung berdoa dengan khusyuk. “Tuhan, saya pengen banget punya boneka ini. Boleh ya?” atau “Tuhan, mau dong boneka ini, satu aja…janji deh cuman mau satu.” Lalu apa doa saya terkabul?

Percayalah doa anak-anak selalu lebih merdu sehingga Sang Penjawab Doa pasti mengabulkan. Saya dapat bonekanya dengan gratis!!! Jadi waktu itu KFC bikin promo kalau beli paket tertentu gratis boneka Barbie. Dan mama saya yang tahu anak perempuan satu-satunya pengen banget punya Barbie pun menyanggupi untuk patungan sama temannya demi membuat saya memiliki Barbie gratisan.

Begitu Barbie di tangan, rasanya bahagia luar biasa. Siapa yang ngga senang, doa dikabulkan dengan cepat. Dan saya berhenti berdoa untuk meminta Barbie, karena saya sudah punya. Ritual doa saya ganti dengan ritual menyisir rambut Barbie yang panjang, coba-coba bikin baju Barbie (karena waktu itu Barbie punya saya model pantai cuman pakai bikini), mejengin Barbie di depan rumah sama temen-teman, sampe tidur kudu sama Barbie.

Saat itu, saya yang secara biologis tubuh tengah diliputi pasokan hormon yang banyak, merasa saya harus seperti Barbie. Tinggi, bodi seksi, rambut panjang dan blondie, dengan idung mancung dan tulang belulang yang panjang. Tapi jiwa ke-tomboy-an saya lebih dasyat ketimbang jiwa jadi cewe seksi. Apalagi masuk SMP, temen saya kebanyakan laki semua. Saya ingat gimana saya lebih berani berdiri di pintu metromini sambil gelantungan ketimbang duduk manis. Saya lebih suka pake baju yang potongan kemeja laki-laki ketimbang kaos ketat yang nunjukkin lekukan tubuh. Konsep tubuh Barbie pun tandas dimakan keseruan saya bergaul dengan teman laki-laki.

Lalu setelah saya dewasa, saya sangat tertarik dengan konsep tubuh dan kesadaran gender. Saya kemudian berjanji untuk tidak akan mencekoki anak saya dengan boneka-boneka berkonsep Barbie. Meski sekarang Matel, produsen Barbie, coba buat Barbie dengan berbagai versi, tapi persepsi boneka ini sudah terlalu jamak dikenal sebagai cara produsen untuk menyakinkan pasar bahwa cantik atau kesempurnaan tubuh adalah fabrikasi.

Dan setelah baca artikel Huffington Post di atas, saya sedikit tergelitik bagaimana klasifikasi boneka Barbie juga berbau diskriminasi. Meski penjual boneka beralasan itu kesalahan sistem sehingga harga boneka Barbie berkulit hitam dengan yang berkulit putih berbeda, tapi menarik juga kok bisa sampai 2 tempat jual boneka “kebetulan” memiliki harga yang berbeda? Apa iya memang dari pabriknya harga jualnya udah beda?

Lalu saya teringat, kalau Barbie juga punya seri boneka Indonesia. Perempuan-perempuan boneka Barbie yang berpakaian adat dari Indonesia. Saya pun jadi penasaran, harga boneka Barbie dari etnis mana yang lebih mahal ya?

Advertisements

2 responses »

  1. Aku nggak pernah tertarik sama Barbie kak πŸ˜€ eh btw, aku dah punya novelmu Keterasingan kak. Belum tuntas dibaca, tapi aku suka sampulnya πŸ™‚ congrats!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s