33 dan Novel Pertama!!

Standard

18 November 2014

Sudah berapa postingan saya buat tentang tanggal ini. Buat saya ini tanggal penting, momen di mana seorang perempuan melahirkan bayi perempuan ke dunia. Bayi perempuan itu saya, iya saya yang sekarang udah bukan bayi lagi, sudah 33 tahun. Double Three.

Dan si ‘Double Three’ kali ini sangat spesial, karena saya mendapatkan kado yang luar biasa. Malah bisa dibilang kadonya saya dapat lebih cepat beberapa hari dari ulang tahun saya. Ngga tanggung-tanggung, kadonya adalah salah satu mimpi yang berhasil saya wujudkan….yaitu NOVEL PERTAMA SAYA!! Ah Sang Pemilik Kehidupan itu baiknya ngga ada batasnya memang, setiap ulang tahun saya selalu dikasih hal yang spesial. Saya benar-benar diperlakukan spesial oleh DIA. Ngga perlu pelet ngga perlu melet, DIA selalu memberikan semuanya tepat waktu.

Ngomong-ngomong soal waktu, semalam di menit-menit menunggu genap 33 tahun, suami saya tanya, “Kenapa kamu selalu semangat kalau soal ulang tahun, wedding anyversary dan momen-momen pengulangan waktu?” Saya bilang itu bagian dari misi saya menerapkan jargon, Hidup Adalah Perayaan jadi semua momen itu penting makanya saya selalu exciting. Apalagi momen kelahiran, waktu penanda saya ada di dunia. Itu penting karena saya percaya setiap kehidupan punya makna sendiri untuk lahir ke dunia, jadi harus dirayakan.

Terus dia cerita tentang bagaimana waktu tercipta. Iya dia cerita kalau kereta api adalah moda transportasi yang membuat orang merasa perlu untuk standarisasi waktu. Setelah punya jam matahari, akhirnya setiap orang punya “patokannya” sendiri untuk menentukan sekarang jam berapa. Karena patokannya beda-beda, akhirnya rada repot untuk penumpang kereta api antar kota. Akhirnya di Amerika petugas kereta apilah yang membuat standarisasi waktu untuk memudahkan pergerakan orang dari satu kota ke kota lain dengan kereta. “Wah petugas kereta api penting banget peranannya, menentukan waktu,” ucap saya dengan antusias waktu suami saya cerita. Iya suami saya selalu punya cerita unik hasil dari membaca beragam buku dari kecil.

Meski saya bukan petugas kereta api yang berwenang menentukan waktu, tapi saya senang sekali setiap kali mama saya bercerita tentang proses kelahiran saya. Dan tahun ini, pas banget Mama lagi di Bangkok. Seperti tahun-tahun sebelumnya dia akan cerita. “33 tahun yang lalu, malam sebelum kamu lahir, Mama sudah ngga bisa tidur. Perut udah sakit”. Dia akan meneruskan ceritanya dengan detail. “Waktu itu ngga bisa lahiran di rumah sakit bagus, karena Mama baru ditipu orang. Jadinya ke rumah sakit biasa ‘De.” Sampai di bagian ini, Mama terlihat semakin menjiwai ceritanya. “Pas jam 10 pagi, kamu lahir ah lega sekali. Mama punya anak perempuan.” Saya selalu terharu mendengar cerita itu.

Orang tua saya memang hebat, mereka luar biasa. Saya beruntung berada di garis keturunan mereka. Dari mereka saya belajar tentang berjuang untuk mewujudkan mimpi dan ketika mimpi berhasil diwujudkan, teruslah merunduk karena Tuhan tidak suka orang yang sombong. Dari Bapak saya dapat gen menulis dan dari Mama saya dapat kemampuan untuk tidak patah semangat. Kombinasi keduanya adalah saya, anak perempuan yang tidak pernah takut untuk mewujudkan mimpi.

Kini salah satu mimpi itu kembali terwujud. Bahagia, lega, dan haru bermuara di hati saya saat Mbak Anin Patrajuangga, editor fiksi Grasindo memberi tahu kalau novel pertama saya sudah kelar cetak. Saya semakin berbinar-binar ketika akun twitter Grasindo (@grasindo_id) secara resmi mempromosikan novel pertama saya. KETERASINGAN. Mereka bahkan membuat video book trailer, ah hormon endorfin saya memenuhi otak saya tanda bahagia.

Novel ini bukan hanya spesial karena dia novel pertama saya, tapi karena proses menulisnya luar biasa. Tokoh utamanya, Karov, benar-benar berhasil membuat saya meresapi setiap perasaan dikucilkan dan tidak diterima. Setiap kali habis menulis tentang Karov yang merasa diasingkan karena berbeda, saya berhari-hari bermuram. Aura kesedihannya terlalu menyatu dalam emosi saya. Saya bisa berminggu-minggu berhenti menulis karena merasakan sedihnya jadi Karov, yang dihakimi ketika dia jujur berkata kalau ada bagian tubuhnya yang dirasa bukan miliknya. Penghakiman kadang membuat orang semakin tak berani mengenali diri atau tubuhnya sendiri. Padahal kondisi yang dialami Karov sebenarnya ada penjelasan ilmiahnya, ia mengidap Body Integrity Identity Disorder (BIID).

poster karovSaat menulis novel ini saya teringat betapa kadang kita menghakimi mereka yang transgender, mereka yang homoseksual, atau siapa saja yang menurut tampilan luarnya tidak sesuai dengan standar kebanyakan orang. Kita seolah tidak peduli bahwa mereka bisa jadi juga kebingungan dengan apa yang mereka alami dan dengan menghamiki mereka kita telah berlaku lebih absolut dari Pemilik Kehidupan. Kita juga sering menempatkan tubuh orang lain atas persepsi kita sendiri, seolah menempatkan manusia dalam ruang-ruang pembeda adalah kewenangan kita.

Karov mengajarkan saya untuk menghargai perbedaan. Lebih dari itu, Karov mengajarkan saya untuk peduli ketimbang menghakimi. Karena kepedulian bisa jadi membawa mereka pada solusi yang baik, sedangkan menghakimi hanya akan membuat mereka tersudut dalam kegelapnya kesedihan. Maka setelah 2 tahun bercengkeraman dengan Karov, novel itu pun keluar. Kini Karov tak hanya hidup dalam ruang imajinasi saya. Ia telah menjadi subjek yang bisa bertatapan langsung dengan kalian melalui barisan tulisan.

Dan untuk merayakan kehadiran Karov, saya ingin membuat sedikit keramaian. Saya membuat dua kompetisi yang bisa kalian ikuti. Untuk yang suka selfie, ada BOOKFIE Competition. Ini adalah foto kompetisi dengan buku #NovelKeterasingan . Untuk yang suka nulis ada BOOK REVIEW Competition. Tulis review atau apapun yang kalian rasakan ketika berhadapan langsung dengan Karov dalam #NovelKeterasingan. Setiap minggu saya akan memilih pemenang dan memberikan hadiah VOUCHER BELANJA!!!

Keterangan detail tentang kompetisinya ada di banner yang di desain sama sahabat super saya, Nidandadelion (love you to the max neng)…Ayo ikutan….dan MARI KITA BIKIN RAME KEHADIRAN KAROV!!!

 

 

 

Advertisements

2 responses »

  1. met ulang tahun, kak Priska. selamat buat novelnya, selamat merayakan hidup, selamat semua-muanya. 😀

    makes me think.. jadi keingetan pengen nulis rada serius juga. tapi apakah akan layak standar cetak, belum tau gak yakin akan gimana jadinya. hehe.

    pokoknya(TM) selamat! ditunggu main-main pas balik ke Jakarta.

  2. Yyyyyuuuuddddiiiiiii…..
    Makasih yak….mari terus merayakan hidup…

    Eh ayo buat jadi buku, coba lempar ke penerbit aja dulu…yang penting ditulis dulu baru dicetak…yang bikin layak itu kalau sudah ditulis sampai kelar hehehehehe…

    Sip nanti kalau lagi di Jakarta…aku colek-colek yak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s