Keramahan Jawa di Masjid Bangkok

Standard

This slideshow requires JavaScript.

Lebaran sudah dekat 😀

Dan untuk menemani teman-teman yang sedang perjalanan mudik, bikin kue lebaran, masak makanan lebaran, saya selipkan cerita tentang puasa di Bangkok. Negeri Siam yang mayoritas memeluk agama Hindu ini ternyata sangat ramah dalam menjamu para musafir atau jamaah yang ingin berbuka puasa bersama di Masjid.

Saya beruntung bisa merasakan keramahannya di salah satu Masjid di Bangkok, namanya Masjid Jawa. Iya ini Masjid yang punya keterikatan yang kuat dengan orang-orang jadi Indonesia. Pendirinya adalah orang-orang Jawa asli dari Indonesia. Tulisan saya ini sudah dimuat di Koran Tempo, Minggu 20 Juli 2014 lalu. Berhubung tidak bisa diakses via internet, saya kemudian mengkopi tulisannya ke blog ini biar semuanya bisa baca. Melalui tulisan ini saya juga ingin berbagi keindahan Ramadhan dari sudut pandang non muslim seperti saya. Betapa Indonesia memang punya caranya sendiri untuk menghargai keberagaman, semoga tulisan ini akan selalu mengingatkan kita akan hal itu.

Selamat mudik dan berlebaran ya teman-teman. Tuhan memampukan kita menjalani ibadah Ramadhan dengan khusyuk dan karena itulah kita kembali diingatkan akan esensi menjadi manusia yang lebih baik. Manusia yang selalu melafazkan ajaran agama dalam semangat berbagi satu dengan yang lain. Salam hangat untuk seluruh keluarga di kampung halaman, maaf lahir dan batin. God bless you all

Keramahan Jawa di Masjid Bangkok

Saat mendengar ada Masjid Jawa di Bangkok, saya penasaran bagaimana wujudnya. Tak hanya ingin melihat rupanya, saya juga merasakan langsung suasana berbuka puasa di Masjid yang memang dikenal sebagai kampung Jawa ini.

Meski terlahir dari keluarga Kristen, namun saya tetap merindukan suasana berbuka puasa seperti di Indonesia. Berburu takjil atau buka puasa bersama telah menjadi kerinduan tersendiri.

Kerinduan ini akan terbayarkan, ketika mengetahui Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Thailand (Permitha) punya agenda Tour de Masjid ke Masjid Jawa yang ada di 707 Soi Rong Nam Kaeng, Sathorntai Road, Bangkok. Kepala Departemen Humas Permitha, Fauzan Saputra bercerita, acara Tour de Masjid baru tahun ini diselenggarakan dengan serius. Sebelumnya, kunjungan ke masjid-masjid selama Ramadhan memang jamak dilakukan tapi sifatnya pribadi. “Kami juga ingin bercengkrama dengan sesama muslim dari berbagai negara,” kata Fauzan. Ia pun bercerita setiap Masjid di Bangkok memiliki keunikan sendiri dalam menjamu para umat dan muzafir yang ingin berbuka puasa bersama, termasuk masjid Jawa.

Benar saja, sesampainya di Masjid Jawa, saya menangkap begitu banyak pengurus masjid yang sigap menyiapkan makanan berbuka puasa. Ketika jemaah tengah khusyuk mendaras Al Qur’an, pengurus masjid berlalu-lalang dengan nampan bulat besar, yang berisi kurma, roti tawar, air jeruk botol, susu kotak, dan satu teko penuh sirop dingin. “Ini masih takjil, belum makan besarnya,” ucap Fauzan yang duduk bersama saya dan isterinya, Poppy Melissa Ryan. Betapa pengurus Masjid memperlakukan spesial setiap umat yang datang untuk berbuka puasa.

Kata-kata Fauzan membuat saya tertarik menuju dapur. Dapur terbuka yang berada di sisi kanan Masjid ini, diipenuhi orang-orang yang bergerak cepat membagi makanan pada nampan bulat besar itu. Mereka menghidangkan nasi briyani dengan gulai dan sop daging dan buah-buahan.

Meski waktu berbuka masih sedikit lama, mereka terus bergerak melayani setiap tamu yang datang. Meja yang disusun di bawah rumah panggung pun semakin penuh. Lalu dengan sigap pengurus masjid membongkar meja lipat, menyiapkan makanan, sambil mempersilahkan orang-orang itu untuk duduk. Wajah mereka terus tersenyum ketika melakukan semua itu- smiling face memang identik dengan karakter orang Thailand.

Masjid Jawa di Bangkok ini juga kental dengan suasana kampung Jawa. Bedug dan atap limasan berundak tiga sangat mirip dengan mesjid-mesjid di tanah Jawa yang asli Menatap wajah-wajah umat yang datang, saya seperti menemukan raut yang begitu familiar.

Bahkan kami beruntung karena hari itu disambut oleh dua orang cucu KH Ahmad Dahlan, pendiri ormas Islam terbesar Muhammadiyah di Indonesia. Mereka adalah Aminah Dahlan dan Ramhai Dahlan. Aminah becerita tentang ayahnya, Erfan Dahlan yang berkunjung pertama kali ke Thailand setelah belajar di India. Erfan berdakwah, kemudian menikah dengan Zahrah yang merupakan anak dari Imam Masjid Jawa ketika itu, H. Mohammad Soleh.

Mohammad kemudian mewakafkan tanahnya untuk pendirian Masjid Jawa di kawasan yang dari dulu memang sudah dikenal sebagai perkampungan orang Jawa di Bangkok itu. Dengan bahasa Indonesia yang masih kental, Aminah menjelaskan sudah menjadi tradisi Masjid Jawa untuk menyiapkan menu lengkap selama bulan puasa. Keindahan berbagi ini sudah dilakukan secara turun menurun, “Ini membuat kekeluargaan kami terus terjaga rasanya akrab sekali.” (Priska Siagian)

Advertisements

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s