Museum Unik di Bangkok

Standard

This slideshow requires JavaScript.

Pindah tinggal ke luar negeri, membuat rasa penasaran saya berpendar-pendar. Selalu ketemu tempat baru, suasana baru, teman baru, budaya baru, dan museum baru membuat saya yang skill terbaiknya hanya menulis ini, kemudian punya alasan untuk berbagi pengalaman seru itu ke berbagai majalah.

Nah kali ini tulisan saya tentang museum unik di Bangkok sudah dimuat oleh CHIC Magazine. Ini majalah lifestyle untuk perempuan cerdas dan aktif di Jakarta. Salah satu majalah hits punya Kompas Gramedia Group of Magazine. Tulisannya dimuat di CHIC Magazine edisi 25 Juni 2014. Mari disimak πŸ˜€

Bangkok dikenal para turis karena ada pasar Chatuchak yang jual segala macam, mulai dari baju, aksesoris, sepatu, tas, sampai hewan peliharaan kaya anjing, kucing, dan kura-kura. Bukan cuman itu, Bangkok juga jadi tempat yang dituju para pemilik online shop di Indonesia. Karena di kota ini ada yang namanya Platinum Fashion Mall yang dijejali ratusan toko baju-baju lucu. Masih ada lagi, Bangkok juga masuk daftar liburan karena punya banyak kuil atau wat yang cantik-cantik di sepanjang sungai Chao Phraya.

Tapi saya pengen punya pengalaman berbeda dari turis kebanyakan. Dengan keseruan yang dua kali lipat, saya bikin list baru untuk berpetualang di Bangkok. Saya namakan list ini, Berburu Museum di Bangkok. Sebagai pecinta museum, jalan-jalan ke museum itu kaya buka kotak pandora, banyak kejutannya. Ngga percaya, nih ceritanya.

Erawan Museum

Museum ini ada di list pertama karena saya menemukan informasi kalau museum ini bentuknya gajah berkepala tiga. Iya jadi kita akan mengeksplorasi di dalam gajah berkepala tiga setinggi 43,6 meter dan seberat 150 ton, siapa yang ngga excited coba.

Dengan mengandalkan Global Positioning System (GPS), saya mengikuti arahan agar sampai ke museum. Saat naik bis, saya sengaja pilih bangku yang di sebelah kaca. Maklum tidak semua orang Thailand bisa berbahasa Inggris, apalagi kalau kita naik kendaraan umum seperti bis. Jadi dari balik jendela, saya mencecar sekeliling untuk mencari pertanda. And voila, tiba-tiba saya lihat gajah berkepala tiga yang begitu besar muncul di balik fly over. Ah rasanya seperti menemukan pacar yang hilang.

Dengan rasa percaya diri, saya memencet tombol untuk berhenti. Bis berhenti dengan manisnya dan saya masuk ke dalam museum dengan wajah sumringah. Petugas langsung mengarahkan saya untuk mengambil audio guide. Saat itu matahari lagi genit-genitnya, pas jam 1 siang saya tiba, panasnya luar biasa. Tapi saya langsung merasa adem banget karena mereka punya taman yang teduh. Sumringahlah saya, dari yang kesemprot matahari langsung diteduhi oleh tanaman-tanaman hijau.

Dan perasaan teduh itu semakin terasa ketika saya masuk ke dalam museum. Lantai dasar dari museum ini namanya earth. Di sini kita akan melihat empat pilar besar yang menyokong bangunan. Keempat pilar itu berisi indahnya ajaran agama-agama besar di Asia. Jadi pemilik museum, Lek Viriyapthant, memang ingin menampilkan pengalaman filosofis yang dipadukan dengan keindahan artistik. Lek sendiri adalah pengusaha terkenal di tahun 40-an. Dia terinspirasi untuk membuat museum berbentuk gajah berkepala tiga karena dia dengar ada orang yang mau membuat museum berbentuk apel. Dari situ Lek malah tertantang untuk membuat museum gajah berkepala tiga.

Kenapa gajah berkepala tiga? Karena untuk pemeluk Budha, gajah adalah kendaraan Dewa Indra. Ini adalah dewa tertinggi yang juga dewa hujan. Gajah yang dinaiki Dewa Indra akan memberikan air ke bumi agar tidak terjadi kekeringan. Untuk masyrakat agraris seperti Thailand, Dewa Indra dan gajah berkepala tiga menjadi simbol yang penting.

Lalu kenapa empat pilar yang berisi cerita ajaran-ajaran agama ini diletakkan di bawah? Lek percaya agama adalah pondasi dari keharmonisan dan perdamaian dunia. Nilai filosofis yang akan terpakai sepanjang masa.

Setelah itu kita akan diajak menaiki tangga yang diberi nama ladder to heaven. Dan ternyata tangga ke surga atau nirwana itu cantik banget. Di sepanjang tangga kita akan dimanjakan dengan detail keramik-keramik yang setiap potongannya membentuk mozaik yang indah.

Adalah seniman asal Jerman, Jacob Schwarzkopt yang mendesain sisi artistik dari museum ini. Dan Schwarzkopt lumayan berhasil menggabungkan seni gaya timur dengan barat. Salah satu sentuhan seni baratnya ada di ujung dari keempat pilar, kita akan melihat langit-langit bergambar bola dunia dari keramik kaca. Rasanya kaya ada di dalam gereja-gereja Katolik kuno.

Setelah puas berada di earth, mari menaiki tangga menuju nirwana. Tangga yang berbentuk naga ini memang berkelok-kelok dan panjang. Hingga di anak tangga terakhir, kita akan disambut dengan patung singa emas. Tempat ini dinamakan Singha Balcony dan berada di sini berarti kita tepat di dalam perut gajah.

Dan di Singha Balcony inilah saya coba mengatur napas saya kembali. Karena ternyata menaiki anak tangga yang panjang, berkelok, dan menyempit cukup membuat napas timbul-tenggelam. Menaiki tangga surga memang tidak semudah yang dibayangkan.

Setelah kembali bertenaga, saya pun masuk ke cosmos. Di sini ada sebuah patung Budha dengan tempat sembahyang yang tidak terlalu besar. Sepertinya ini persiapan untuk memasuki nirwana.

Dan benar saja, sesampainya di nirwana atau mythical garden saya kagum luar biasa. Patung-patung Budha yang sudah berusia ratusan tahun itu, menyambut saya dengan tenang. Saya melihat begitu banyak umat Budha yang berdoa khusyuk di ruangan yang teduh itu. Saya semakin tidak bisa berhenti kagum setelah melihat ada banyak rasi bintang terbentang di langit-langitnya. Bukan rasi bintang saja, di sana juga ada matahari, lengkap dengan taburan bintang-bintang emas. Ah luar biasa sekali untuk sampai di sini, saya sampai ikut bikin sesi curhat kepada pemilik hidup, seperti pengunjung lainnya yang sedang berdoa.

Address : 99/9 Moo 1, Bangmuangmai, Samut Prakan

Open : Daily, 09.00-18.00

Admission Fee : 300 THB (Rp 100,000)

Siriraj Museum

Mengunjungi museum ini membuat saya belajar jadi dokter dan ahli forensik dalam satu hari! Yup, museum yang dimiliki oleh Fakultas Kedokteran Siriraj ini terdiri dari dua bagian yaitu Siriraj Medical Museum dan Siriraj Bimuksthan Museum.

Di Siriraj Medical Museum, kita bisa belajar tentang dunia kedokteran. Tenang, belajar kedokteran di sini tidak perlu sampai bikin kening mengkerut. Karena konsepnya sangat menarik dan interaktif.

Awalnya mereka akan menjelaskan tentang perkembangan dunia kedokteran di Thailand. Di sini mereka bercerita perubahaan distrik Thon Buri, tempat museum ini berada. Untuk merasakan kondisinya ketika itu, kita bisa ngerasain naik kereta kuno. Dengan teknologi 4 dimensi, kita benar-benar seperti di dalam kereta yang bergerak. Apalagi ada sesi rambut ketiup-tiup angin lengkap dengan topi yang seolah melayang ke arah kita.

Loh trus belajar kedokterannya kapan? Tenang, setelah area cerita sejarah itu kita akan masuk ke bagian di mana kita bisa tahu tentang ilmu kedokteran. Simulasi yang menarik menurut saya adalah dua patung yang seolah menjadi pasien kita. Kita bisa mendengarkan bunyi jantung mereka melalui simulasi statoskop.

Dan malah kita jadi punya gambaran apa yang dilihat dokter pas kita disuruh buka mulut sambil disorot senter. Tenang, yang disuruh buka mulut bukan kita kok tapi patung peraga yang di dalamnya ditanam kamera dan video.

Masih belum puas? Coba masuk ke simulasi kamar operasi. Pada jam-jam tertentu malah ada pemutaran videonya, lengkap dengan alat peraga jadi kita bisa berdiri diantaranya untuk ambil bagian dalam tindakan operasi.

Setelah lulus belajar kedokteran umum, kita pasti harus ambil spesialisasi dong. Mari melanjut ke Siriraj Bimuksthan Museum. Siap-siap berganti aura, karena di sinilah saya merasa seperti di film CSI, NCSI, atau Bones.

Mereka menunjukkan bagaimana kondisi tubuh yang terkena tusukan, tabrakan, atau diracun. Bagian per bagian tubuh ditampilkan jelas dengan informasi yang detail seperti bagaimana itu kemudian mengganggu organ vital di sekitarnya. Oiya catatan penting, tubuh yang tampilkan adalah bagian tubuh benaran yang sudah diawetkan yang kemudian ditaruh di dalam kaca bening. Jadi kebayangkan seperti apa.

Bukan cuman tubuh aja sebenarnya, ada juga tampilan tulang-tulang manusia dari korban-korban tusukan, tembakan, atau tabrakan. Khusus yang korban tembakan, tengkoraknya akan diberi tanda bagaimana peluru masuk hingga menembus ke dalam. Penjelasannya bikin saya lagi investigasi kasus penembakan.

Tapi kemudian saya terenyuh melihat bayi-bayi yang diawetkan. Ini adalah bayi-bayi yang meninggal karena aborsi, cacat, atau meninggal karena sakit. Dan di depan bayi-bayi yang diawetkan ini, pengunjung ada yang menaruh cokelat, permen, atau mainan. Itu memang cara orang Thailand memberikan penghormatan kepada jiwa-jiwa yang mendahului mereka. Melihat itu entah kenapa saya malah sedikit berkaca-kaca.

Tapi emosi saya segera berganti ketika berdiri di hadapan dua penjahat sadis yang diawetkan. Mereka adalah pemakan anak-anak alias kanibal dan pelaku perkosaan yang dihukum mati. Berdiri di depan mereka bikin saya merinding. Apalagi audio guide di telinga saya menciptakan kesan horor ketika berhadapan dengan mereka. Saya juga merasa marah saat tahu kalau penjahat kanibal itu ternyata memakan anak-anak karena dia percaya akan mendatangkan kesaktian. Dan mendengar bagaimana pemerkosa itu menciptakan teror pada perempuan ketika itu, juga lumayan bikin saya mau maki-maki aja bawaanya. Haduh saya emang ngga cocok jadi ahli forensik, terlalu emosional.

Direction : 2 Wanglung Road, Bangkoknoi, Bangkok

Open : Daily, 10.00-17.00 (except Tuesday and offical holidays).

Admission Fee : Both Museum 300 THB (Rp 100,000) One Museum 200 THB (Rp 70,000)

Batcat Museum & Toys

Pernah dikerubungin 50 ribu mainan? Cobain deh ke Batcat Museum & Toys. Di sini kita bakal ketemu dengan 50 ribu macam model dan bentuk dari Batman dan keluarganya. Semua teman dan lawan Batman berkumpul akur di museum yang dimiliki oleh Somchai Nitimongkolchai.

Kecintaan Somchai ke Batman berawal ketika film Batman Begins diputar. Semenjak itu dia memburu ke mana saja untuk mengumpulkan semua yang berbau-bau Batman, terutama yang memang dibuat untuk kolektor. Jadi jangan heran kalau Somchai kemudian disebut sebagai kolektor Batman terbanyak di Asia!

Tapi setelah jatuh cinta dengan Batman, Somchai melebarkan sayapnya untuk juga jatuh cinta dengan superhero-superhero lain, tokoh kartun dan animasi. Alhasil kalau kita ke museum ini rasanya seperti ada di gudang mainan karena semuanya ada. Mulai dari superhero DC Comics, Marvel, Ultraman, Gundam, Satria Baja Hitam, sampai The Simpsons, Super Mario, Arale Norimaki, Dragon Ball Z, bahkan Doraemon, Monster Inc, Toy Story dan Despicable Me ikutan eksis.

Yang dikoleksi juga sangat variatif, mulai dari kartu, stiker, buku, tempat makan, tempat minum, action fiqure, sampai kendaraan canggih Batmobile dan Batcycle juga ada. Seru kan! Trus kalau lapar cobain burger Batman di kafenya yang dikasih nama Batbarang Cafe. Atau kalau kalian takut kebawa mimpi karena pengen banget punya koleksi action fiqure, tenang, museum ini juga menjual beberapa seri dari koleksi mereka.

Dan cobain deh masuk ke Gotham City ala Batcat Museum. Semua musuh Batman dari setiap edisi cerita ngumpul. Apalagi di depan pintu masuk Gotham City-nya ada Joker yang ukurannya sebesar manusia. Joker berdiri dengan senyum begisnya seolah menyakinkan kita apa benar mau masuk ke dalam? Rasanya lega banget saat masuk ke dalam, karena nemuin Batman dengan beragam pose andalan juga ngga kalah banyak. Malah teman-teman Batman seperti Cat Women dan Robin juga ada di dalam. Jadi tenang, Gotham City akan selalu aman.

Direction : 7032 Srinakarin Rd, Huamark, Bangkapi, Bangkok

Open : Monday – Friday β†’ 10.00-19.00

Saturday – Sunday β†’ 09.00 – 20.00

Admission Fee : 250 THB (Rp 88,000)

Advertisements

2 responses »

  1. Aku cuma ke Jim Thompson doang kemarin kak haha πŸ˜€ tak apalah. Soale misua nggak gitu senang museum. Tapi membaca tulisan kakak ini sudah membuatku seolah tur disana πŸ˜‰ thanks for sharing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s