Komersialisasi Perempuan?

Standard

feminism1

Saya harus menuliskan ini. Beberapa hari ini kepala saya dibikin penuh dengan segala pikiran-pikiran ini. Pikiran apa? Pikiran tentang perempuan. Iya perempuan, mahluk yang bervagina yang selalu menjadi daya tarik. Mengapa menarik? Entah karena status perempuannya atau karena kepemilikan vaginanya.

Yang pasti selalu banyak yang dikupas dari seorang perempuan. Mulai dari lekukan tubuhnya, halus kulitnya, pakaiannya, g-spotnya yang penuh misteri, sampai gaya belanjanya. Iya gaya belanja selalu menjadi menu menarik untuk majalah-majalah lifestyle. Majalah yang memang expertise-nya adalah menampilkan sosok perempuan yang glamour and doing nothing than shopping.

Lalu saya menemukan artikel menarik di Psychology Today  Artikelnya bilang, kalau perempuan suka belanja karena jauh sebelum mall-mall dibangun, perempuan suka melakukan hunters-gatherers.  Jadi disaat para laki-laki memburu hewan, perempuan browsing from tree to tree. Artikel itu kemudian memperjelas yang dimaksud dengan browsing from tree to tree, They spend a lot of time examining the food, checking its freshness and edibility, and they discard quite a lot of it. At the end of the trip, they return home laden with a wide variety of food stuffs. 

Proses mencari buah dan sayuran ini bisa berlangsung berjam-jam. Karena sebenarnya, buah dan sayuranlah yang menjadi makanan utama mereka saat masa bertahan hidup adalah dengan memburu. Itu kenapa ahli antropologi percaya bahwa perempuanlah yang saat itu menjadi tulang punggung, karena 80 persen makanan mereka adalah buah dan sayur.

Warisan genetika ini yang katanya membuat perempuan suka berbelanja. Mereka suka melihat-lihat dari satu toko ke toko yang lainnya. Ketika melihat barang yang mereka suka, mereka akan mengamati betul-betul apakah warnanya akan sesuai dengan perawakan dia, apakah bisa dipadu-padan dengan barang yang lain. Mereka juga akan menelisik seberapa nyaman bahan dari barang itu akan dipakai dan sambil bertanya kira-kira dipakai ke mana ya barang ini. Di era manusia masih berburu, apa yang dilakukan perempuan itu adalah bagian dari perannya sebagai hunters-gatherers. Jadi sudah dari jaman dulu perempuan terlatih untuk betah belanja berjam-jam.

Lalu saya teringat dengan seorang perempuan yang sangat identik dengan dunia belanja. Dia bahkan punya julukan khusus untuk hobi belanjanya yang kemudian menjadi icon dari setiap hal yang dikerjakan. Awalnya saya hanya tahu orang ini sekilas saja dan atas perbincangan dengan seorang teman, saya jadi browsing di internet mencoba mengenali perempuan ini.

Di satu sisi dia adalah icon yang menurut saya sangat berhasil membuat dirinya sebagai brand. Iya dia sangat piawai mengemas pesan, bahasa tubuh, dan cerita tentang hobi belanjanya menjadi kesukaan semua wanita. Apa yang dia beli atau dipakai kemudian menjadi daya tarik untuk dimiliki oleh orang lain. Iya, dia sangat berhasil memasarkan dirinya sendiri. Dan saya salut untuk apa yang dia lakukan. Buat saya butuh usaha yang konsisten untuk membuat diri sendiri memiliki nilai jual.

Tapi entah kenapa sisi saya yang lain justru berpikir keras setiap kali saya mengamati bahasa tubuh dan ceritanya tentang hobi belanjanya. Saya termasuk yang suka belanja. Bukan….menurut saya bukan semata-mata karena warisan hunters-gatherers itu tapi lebih kepada saya selalu suka dengan fashion. Memadupadankan baju lama, memilih warna, sampai menambah item adalah bagian dari pertimbangan saya ketika belanja. Tapi saya tidak merasa penting mengekspose hobi belanja karena ada  hal yang jauh lebih penting dibagikan ketimbang aktivitas belanja.

Lalu teman saya bilang, orang itu memang disetting untuk menjadi profil yang komersil, orang dengan karakter yang komersil karena pekerjaanya adalah belanja. Iya itu benar juga, saya setuju dengan teman saya. Itu kenapa saya salut bagaimana message yang dikemas orang itu bisa begitu tertanam kuat dibenak orang.

Tapi, lagi-lagi tapi hahaha. Saya sedikit protes jika perempuan menjadi dikenal karena karakternya yang komersil atau gila belanja. Memang karakter perempuan itu banyak dan dari karakter yang banyak itulah lahir banyak kekuatan perempuan. Cuman kenapa icon perempuan yang komersil lebih disukai kaum perempuan sendiri, ketimbang icon perempuan yang aktivis? Thats it. This is my question. Kenapa ajakan untuk menjadi perempuan yang suka belanja lebih menggiurkan dan bernilai jual ketimbang kesadaran untuk menghargai tubuh perempuan sendiri.

Mungkin ada beberapa orang yang kemudian menjawab, ya karena belanja itu bisa membuat pergerakan ekonomi. Atau kegiatan belanja itu menunjukkan kelas sosial. Dan yang terpenting, kegiatan belanja itu menjadi modal untuk menancapkan diri pada label trendsetter ketimbang follower.

Tapi bukankah setiap trendsetter kemudian mencari follower. Lalu seberapa aware kah kita perempuan terhadap icon pembela hak perempuan? Seberapa banyak dari kita yang kemudian merasa, ok i’ll follow her because she speaks about equality. Saya sih ngga mengharuskan semua orang harus jadi feminis seperti saya. Tapi buat saya menjadi feminis itu tidak menakutkan kok. Feminis bukan berarti jadi anti laki atau pakai baju seksi kemana-mana.
Feminisme secara tidak langsung mengingatkan saya untuk terus kritis dan setara. Iya bahwa perempuan bukan karena dia bervagina lantas hanya disuruh beranak dan tunduk kepada suami. Bahwa perempuan yang tidak menikah berarti mengingkari kodratnya sebagai pendamping laki-laki. Bahwa aktualisasi perempuan itu tidak sepenting pekerjaan laki-laki yang menjabat sebagai kepala negara, politikus, dan pengacara, atau ekonom dunia yang secara serius mencacah pergulatan dunia menjadi tempat yang nyaman untuk ditempati.

Bahwa feminisme adalah tools untuk membuat saya selalu menghargai diri dan tubuh saya seperti saya menghormati eksistensi orang lain, apapun kelaminnya. Feminisme membuat saya menyadari bahwa kesetaraan perempuan bukan sekadar bebas baca majalah fashion dan selalu pakai kebaya setiap hari Kartini. Feminisme adalah sebuah pemikiran kritis untuk sebuah kesetaraan manusia. Dan saya berharap perempuan apapun profil yang dipilihnya (komersil, religius, idealis, dll) tetap punya kesadaran itu, kesadaran untuk menghargai diri dan tubuh sendiri. Karena menjadi perempuan adalah sebuah proses kesadaran dan kepemilikan atas tubuh kita sendiri.

 

Advertisements

3 responses »

  1. Waahh si kakak nongol2 tulisannya langsung berat begini euy 😀 kalau menurutku mah, mungkin karena emang perempuan itu sendiri born to be komersil, bukan born to be aktivis/feminis. So it’s in the blood. Mengubah sesuatu yang sudah mendarah daging itu kan tak mudah kak. Itu menurutku lho ya. Kalau aku sendiri tidak hobi belanja dan tak pernah tergiur dengan ajakan2 utk menjadi perempuan hobi belanja. Dan mungkin saja menurut beberapa perempuan, menghargai tubuh sendiri adalah dengan cara berbelanja 🙂 mungkin lho ya 😀 *sekian dulu komentarku kak. Maap kalau rada nggak nyambung :D*

    • Hai Beib….

      Komentarnya nyambung kok sayang….ya kemungkinan itu bisa jadi ada. Tapi menurutku komersil atau aktivis lebih kepada proses yang membentuk, habit dan kesadaran punya peran penting di dalamnya. Bahasa beratnya, ini proses learning by doing bukan sesuatu yang menempel pada matriks gen. But anyway berbeda pendapat itu juga memperkaya karakter perempuan loh… ;D

  2. Cuman kenapa icon perempuan yang komersil lebih disukai kaum perempuan sendiri, ketimbang icon perempuan yang aktivis?

    Karena tidak semua perempuan punya masalah dengan kesetaraan (atau ketidaksetaraan) atau apapun yang diperjuangkan feminis. 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s