Para Pelawan Kanker Yang Merayakan Hidup

Standard

buku kami berani melawan kankerSaya baru saja pulang kampung, iya mudik ke Indonesia. Misi mudik kali ini rada “berat”, saya pulang untuk launching buku kedua saya  <:-P

Rasanya gimana gitu ya, launching buku, sesuatu kalau kata Syahrini. Saya pun merasakan sesuatu untuk kepulangan saya yang pertama setelah menetap di Bangkok. Saya ngga pernah tahu gimana rasanya meluncurkan buku secara resmi dengan mengundang media serta masyarakat umum. Yang saya tahu, ketika buku pertama saya keluar, rasanya bahagia dan deg-degan. Nah kali ini semua rasa itu saya kali dua eh jangan deh kali lima aja hahaha.

Buat saya, buku kedua kali ini luar biasa. Dari judulnya saja sudah sangat menggema, Kami Berani Melawan Kanker. Saya terinspirasi menuliskan buku ini, ketika saya pulang dari Guangzhou, China dan mewawancarai 3 pasien kanker FUDA Cancer Hospital. Ketiga pasien itu adalah Le Stanny Saputra, Yenly, dan Desima Juliana Nainggolan.

Ketika saya mewawancarai mereka, saya menemukan energi positif yang luar biasa. Sontak saya merasakan mereka memberikan persepsi baru tentang menghadapi kanker. Mereka ketika itu baru saja pulang dari Guangzhou setelah menjalani kemoterapi. Tapi tidak terlihat seperti kesakitan, mereka terlihat sangat antusias. Lalu saya cerita ke Humas yang juga penerjemah FUDA perwakilan Jakarta, Ibu Fanny Surjono namanya. Saya lebih sering memanggil beliau, Cici Fany.

Mendengar saya yang kegirangan ketemu pasien-pasien itu untuk difoto di majalah tempat saya bekerja ketika itu, Prevention Indonesia, Cici Fany bilang pasiennya banyak yang inspiratif seperti mereka. Tiba-tiba saya terpikir untuk membuatkan buku tentang perjuangan para pasien kanker. Cici Fany menyambut antusias, bahkan sangat antusias. Hanya beberapa kali bertemu, kami sepakat untuk meluncurkan buku tepat di Hari Kanker Dunia yang jatuh setiap 4 Februari.

Buat saya itu tantangan luar biasa, karena saya hanya punya waktu beberapa bulan. Dalam waktu yang pendek itu saya harus mewawancarai 10 survivor kanker pasien FUDA Cancer Hospital. Saya terpikir untuk menampilkan aura positif dari kesepuluh pasien, maka saya pun membuatkan sesi foto khusus untuk mereka. Dan dalam perjalanan melakukan itu semua, tiba-tiba suami harus memboyong saya ke Bangkok karena dia dapat kerjaan baru di sini.

Maka secara intensif, kurang lebih 2-3 bulan melakukan wawancara, foto, dan menulis, akhirnya buku itu pun keluar. Awalnya saya hanya melihat desain sampulnya via email, editor saya mengirimkannya untuk saya. Desainnya simpel, siluet perempuan memegang obor. Siluet perempuan yang ditutupi gambar bunga, cinta, daun, kupu-kupu, dan bintang. Cantik sekali. Saya belum memegang wujud bukunya ketika itu.

Sesampainya di Jakarta, saya pun berhadapan dengan buku yang mengajarkan saya banyak hal. Sebagai penulis, saya sangat beruntung karena bisa bertemu dengan 10 pemberani pelawan kanker. Setiap kali saya mewawancarai mereka, saya pulang dengan setumpuk energi positif. Saya belajar bahwa hidup adalah kepemilikan karena itu dia harus diperjuangkan. Saya meresapi bagaimana mereka menahan rasa sakit dari kemoterapi, radiologi, cryosurgery (pembekuan sel kanker) dengan terus menumpuk energi positif dalam diri.

IMG_0869_edited_small

Saya bersama survivor dan FUDA Cancer Hospital (Dari kiri ke kanan): Hardi Mustakim Tjiong, Mary Laurensia, Yana Sari Putri Sihombing, Sri Suryani, Yitno Sugianto, Dr. Liu Zhengping, Fanny, Surjono

Mewawancarai mereka saya belajar untuk tidak mudah mengeluh. Membayangkan mereka harus disuntik berkali-kali demi kemoterapi atau mengalami rambut rontok satu kepalan tangan, rasanya jauh lebih sulit ketimbang keluhan saya yang remeh-temeh. Bahkan saat saya mewawancari mereka, salah satu diantaranya masih terus berjuang melawan kanker. Tidak tanggung-tanggung ada 4 kanker bersarang di tubuhnya. Yitno Sugianto namanya. Mendengarkannya bercerita selama 3 jam lebih tidak membuat saya bosan, saya justru merasa seperti sudah kenal lama dengan Bapak ini padahal itu adalah kali pertama kami bertemu. Dan saat buku ini terbit, saya juga mendapati kalau Bapak Hardi Mustakim Tjiong kembali berjuang melawan kanker.

Ya, kanker adalah penyakit yang tidak pernah mudah untuk dikalahkan. Mereka yang berhasil mengalahkan kanker tidak diakrabkan dengan istilah sembuh, karena sel kanker bisa saja muncul kembali. Mengapa? Kanker terjadi karena adanya pembelahan sel yang luar biasa aktif dan tubuh kita senantiasa melakukan pembelahan sel. Itu kenapa mereka yang pernah memiliki bibit kanker akan selalu diminta waspada dalam menjalani kesehariannya.

Tapi bukan hanya pasien kanker saja yang diminta berhati-hati. Polusi udara yang tinggi, stres yang luar biasa, dan pola makan yang makin kacau menjadikan manusia modern semakin dekat dengan risiko kanker. Maka di buku ini, 10 pemberani dengan lugas bercerita bagaimana mereka menjaga kualitas hidup mereka tetap prima. FUDA sendiri mendukung penuh penerbitan buku ini karena mereka ingin semakin banyak orang mengerti tentang kanker, memahami cara penanganan kanker yang benar, dan melawan kanker bersama-sama. FUDA ingin semakin hari angka pasien kanker semakin berkurang karena tingkat kesadaran dan pengetahuan kesehatan masyarakat yang sudah begitu baik.

Ini adalah buku kedua yang tidak hanya memenuhi legenda pribadi saya untuk menjadi penulis. Tapi ini juga buku yang mengajarkan saya tentang memilih berjuang demi hidup ketimbang menyerah dari penyakit. Buku ini membentuk kematangan karakter saya akan menghargai apapun yang diberikan Tuhan kepada saya. Para 10 survivor yang ada di buku ini bukan hanya bercerita tentang keberanian mereka melawan kanker. Mereka mengijinkan saya memasuki momen mereka merasakan sakit, ketakutan, kebingungan ketika palu vonis kanker menghantam.  Dan lebih dari itu, mereka membekali saya dengan semangat yang luar biasa untuk membagikan kisah mereka melalui tulisan kepada setiap orang di mana pun mereka berada.

Untuk semua itu, saya sangat bersyukur. Dan untuk semua itu, saya sangat berterima kasih. Dan demi semua itu, saya ingin menceritakan kebahagiaan mereka berhasil mengalahkan kanker dalam semua buku yang berjudul Kami Berani Melawan Kanker.  Setelah membaca buku itu, jangan ragu untuk berbagi keberanian melawan kanker kepada siapa saja yang kalian temui. Selamat merayakan hidup teman-teman. God love you all so very much ;D

 

Advertisements

3 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s