My First Risoles Story

Standard

risol suksesSebenarnya saya ini bisa dibilang bukan tipe orang yang betah bergulat di dapur. Kemampuan memasak saya, jauh di bawah kepiawaian mama saya dalam menyulap bahan makanan menjadi sajian yang tak hanya mengenyangkan tapi juga memuaskan lidah. Walau dulu waktu masik piyik, mama saya paling cerewet mengajarkan saya untuk bisa masak. Alasannya sederhana, “Biar nanti kalau udah nikah bisa masakin buat suami.”

Saya yang kecil itu dulu berkata demikian. “Ah gampang, kalau suami lapar, beliin aja dari warung makan sebelah. Puyeng amat.” Bagaimana reaksi sahabat perempuan pertama saya itu setelah saya nyerocos ngga jelas begitu? Cuman diam seribu bahasa dan mungkin sambil mengurut dada karena membayangkan anak perempuan satu-satunya ini tidak punya hasrat untuk berkecimpung di dapur.

Bahkan setelah saya dewasa dan mengetahui ada laki-laki bertubuh besar menyampaikan niatnya untuk menikahi saya, Mama cuman bilang, “Priska, ngga bisa masak loh.” Hahahaha….iya saya memang ngga terlalu demen berada di dapur yang panas, berminyak dan menyeruakan aroma macam-macam. Saya mendingan disuruh nyuci piring sama nyetrika deh ketimbang masak.

Tapi setelah menikah, entah kenapa pelan-pelan darah saya disentak dengan godaan untuk memasak. Alasannya sederhana sebenarnya, karena kalau masak sendiri bisa jadi lebih hemat dan tentunya lebih bersih.

Masalahnya, mengolah bahan-bahan itu bisa sampai berjam-jam sedangkan untuk makannya cukup sekian menit aja.  Itu kenapa saya suka malas untuk masak, mana saya tipe yang kalau masak semua peralatan dapur dipakai biar “seru”.

Lagi-lagi kondisi membuat saya setidaknya harus bisa masak untuk bertahan hidup. Pelan-pelan saya suka juga bisa cemplung-cemplungin bahan ke wajan dan ngga lama setelah itu saya melihat suami makan dengan lahapnya. Okey, masakan gua enak berarti, begitu puji saya dalam hati.

Suami saya sendiri sebenarnya punya pikiran yang sangat pragmatis soal masak-memasak ini. Meski suka banget makan, dia ngga maksa saya kudu bisa masak. Waktu Mama kasih tahu saya ngga bisa masak, dia cuman jawab, “Gampang, bisa beli di luar.” Hahahaha. 

Tapi ngeliat dia melumat lahap-lahap setiap masakan saya, rasanya ada kepuasan tersendiri.  Malah saya sempat mencari akal gimana caranya biar suami bisa makan banyak sayur, maklum dia tipe karnivora jadi lebih gampang ngunyah daging ketimbang tumbuhan. Triknya sederhana, saya cemplungin aja sayur-sayuran ke dalam masakan saya.

Mau ayam kecap kek, saya tambahin tomat atau jamur ke dalamnya. Bahkan ayam gulai aja saya kasiin sayur sawi putih. Sing penting ono sayure.  Malah saya sering menambah agar-agar setiap kali masak nasi, demi memberikan asupan serat yang banyak ke suami yang karnivora itu. Plus menekan kadar kalori dalam nasi. Okey fokus, saya bukan lagi nulis tentang buku kesehatan lagi hihihih.

Kondisi membuat saya menyadari, memasak bukan sekadar sebal dengan panas dan aroma tubuh yang berubah jadi aroma makanan. Memasak juga tentang tantangan dan eksperimen. Kesimpulan ini yang membuat saya pelan-pelan pede aja masak apapun yang bentuknya main course, mulai dari tomyam, kwitiaw goreng, tofu sutra pake ayam atau daging, ayam gulai, sampai tempe orak-arik.

Tapi saya belum pede untuk membuat makanan camilan. Pernah coba sekali yang keliatannya gampang, eh pas dicoba gagal juga. Niatnya mau bikin pisang bola kismis eh kata Daniel, itu pisang goreng biasa. Kebayangkan gagalnya kaya apa.

Dan entah kenapa, kesendirian saya di Bangkok justru mengantarkan saya pada keberanian baru. Dengan berguru kepada Grace yang tinggal di Jepang itu, saya memberanikan diri untuk bikin risoles isi beef, telor, keju, dan mayonaise. Kata orang ini namanya risoles Amerika.

Saat baca link menu yang dikasih Grace. Kayanya ngga susah, batin saya berucap. Saya pergi ke supermarket dan mulai membeli bahan-bahan sambil sesekali menganggu Grace dan Susan teman saya yang memang jago masak. Saya sempat lama di bagian tepung-tepungan, karena seingat saya untuk membuat kulit risoles itu perlu pake tepung protein tinggi. Dan sebagai newbie, ini adalah sesuatu yang membingungkan luar biasa.

Risoles GagalDengan petunjuk dari kedua teman saya akhirnya risoles pun jadi. Hasilnya? Gagal…hahahaha…adonan kulit risoles yang saya buat terlalu matang, jatohnya sampe kaya creepes. Dan saya ngga tahu gimana caranya ngelipet risoles biar jadi cantik. Alhasil risoles pertama saya gedenya kaya mau ngajak berantem.

Risoles kegedean itu pun punya bentuk yang ngga karuan. Kalau risoles biasanya, kedua ujungnya ketutup, risoles pertama saya ada yang ketutup ada yang ngga. Yang ngga ketutup ya karena saya motong telor dan kejunya terlalu besar. Cuman karena saya mikir, ini risoles buat dimakan sendiri jadi mari kita bikin segede raksasa. Tapi isi yang raksasa itu tidak diikuti dengan ukuran kulit risoles yang lebar. Jadi risoles pertama saya penuh dengan keterbukaan akan kegagalan.

Tapi memasak memang selalu mengajak kita untuk belajar dari kesalahan. Saya ngerasain banget bedanya masak makanan dengan masak kue-kue. Kalau makanan gagal, kita bisa tambahin tomat atau bumbu lainnya dia bisa menjadi makanan enak. Bentuknya mau kacau juga selama rasanya enak ya sepertinya tetap memberikan kepuasan.

Ini berbeda jauh dengan masak kue-kue. Bentuknya yang tidak “akurat” dengan contoh bisa bikin gregetan sendiri. Gregetan yang bikin saya pengen langsung nyoba lagi biar kulit risolesnya sesuai dengan contoh yang saya lihat.

Kesalahan dari risoles pertama adalah, saya ngga sabaran untuk nunggu kulitnya sedikit kering untuk kemudian dibalikkan dan diangkat. Bener kata Grace, bikin risoles itu butuh kesabaran untuk nunggu kulitnya jadi hahahahaha.

Lalu saya kembali melakukan uji coba pembuatan risoles tahap dua. Tepung terigu protein sedang 100 gram, 1 butir telor, dan susu cair diaduk secara pelan-pelan. Susunya dimasukin sedikit demi sedikit sambil terus diaduk. Jangan lupa tambahin merica sama garam dan terus aduk sampai adonannya menjadi sedikit kental, persis adonan crepes.

Saya tuang adonan di wajan, saya goyang-goyang wajannya biar bentuk bulat melebar dan kali ini saya hitung dalam beberapa detik. Menurut pencarian ilmu di Google, biar ngga lengket, saya bisa mengusapkan tisu yang sudah dicelupkan ke dalam minyak pada permukaan wajan. Voila….adonan pun menjadi mengeras dan siap untuk dibalikkan.

Pas ngeliat bentuknya cakep dan warnanya seperti yang diinginkan, saya senengnya bukan main. Ah saya bisa juga ternyata. Apalagi setelah adonan risoles itu saya isi dengan keju, smoke beef, dan telor, plus mayonaise, saya langsung ngebayangin jadinya akan seperti apa. Rasa senangnya, mirip ketika saya menemukan ide untuk menulis dan membayangkan kalimat pertama apa yang akan saya tuliskan.

Setelah semua adonan kulit jadi dan adonan isi sudah ditambahkan, saya kembali belajar untuk menutup adonan. Mendekatkan kedua sisi samping dari adonan bundar, lalu digulung dan gunakan telor sebagai lem. Jangan lupa untuk mencelupkan adonan ke dalam telor kocok dan guling-gulingkan ke tepung roti.

Lalu apa yang terjadi setelah itu? Risoles pun siap digoreng sampai kecokelatan dan dimakan sampai tak bersisa.

Yeay…finally did it. Dan saya tiba-tiba menemukan kata-kata ini dari salah satu koki handal dunia. “The only real stumbling block is fear of failure. In cooking you’ve got to have a what-the-hell attitude.”

Itu adalah quote-nya Julia Child. Saya kenal dia dari film Julie & Julia. Tentang chef asal Amerika yang belajar masak makanan Perancis dan “mengimpornya” ke Amerika dalam bentuk buku panduan memasak.

Jadi kalau ada yang newbie kaya saya, yuk jangan takut-takut salah. What the hell-lah yang penting dicoba cyn…dari pada hidup tanpa mencari jawaban atas rasa penasaran #halah. Eh abis ini enaknya masak apa lagi ya yang gampang dan enak hehehehe….any suggestion?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s