Mendefinisikan Kepuasan Diri

Standard

writing-sampleSiapa yang bilang dengkuran suami yang naik-turun akan pas jika disandingkan dengan suara Celine Dion yang menyanyikan lagu Don’t Save It All For Christmas Day. Iya Natal memang masih sangat jauh, disaat para sahabat Muslim tengah jatuh cinta dengan Ramadan, saya sangat merindukan malam Natal.

Sebenarnya ketika kerinduan akan Natal sedang menelusup masuk pori-pori kesadaran, itu berarti saya sedang galau. Iya galau, kondisi di mana kita sedang bingung atas apa yang terjadi. Ini bukan ‘penyakit’ orang jatuh cinta saja tapi juga perempuan berusia 30an, bersuami, dan memiliki karir yang bagus pun tidak bisa menyelematkan diri dari ‘penyakit’ yang satu ini.

Bagaimana saya tidak galau, kalau yang saya pikirkan adalah resign. Saya sangat ingin resign bukan karena teman-teman kantor saya ngga asik atau karena pekerjaan saya kurang menantang. Saya memilih resign karena saya ingin hidup dalam mimpi saya. Saya mau jadi penulis.

Dunia menulis sudah demikian sempurna ‘mencuri’ kesadaran saya. Rasanya setiap kali saya berhasil berbicara dalam diam melalui kata-kata yang saya tulis, saya sampai pada titik apa itu kepuasan diri. Meski hanya menulis curhatan akan kegalauan seperti sekarang, saya yakin setelahnya pasti merasakan kepuasan yang luar biasa. Bahkan ketika tulisan saya jelek sekali pun, rasa kepuasan diri itu tetap saya rasakan sebagai energi positif.

Maka saya pun memilih Celine Dion untuk menciptakan suasana Natal melalui list lagu yang ada di laptop saya. Sambil mendengarkan dia bernyanyi, dan memainkan kata-kata pada keyboard laptop, saya berdoa agar diberi kekuatan untuk hidup didalam mimpi saya.

Menjadi pegawai yang secara rutin menerima gaji, menjadikan saya orang yang percaya bahwa bulan ini bisa dilalui karena ada tanggal 24 di kalender. Dan jika saya memutuskan untuk berhenti bekerja, hanya menjadi penulis seperti mimpi saya, itu artinya tanggal 24 bukanlah sebuah kepastian. Karena kepastian pemasukan adalah dari kepastian proyek menulis yang saya penuhi.

Rada takut juga membayangkan ketidakpastian itu, tapi saya kemudian teringat potongan perbincangan dengan supir taksi Bluebird. Saat itu, saking senangnya ditanya suami ingin dibuatkan apa sesampainya saya di rumah, saya bercerita ke supir taksi kalau suami saya baik hahaha. Lalu supir taksi bertanya apakah kami sudah punya anak. Dan saya menjawab,

“Belum Pak.”

“O…sudah lama, bu nikahnya?” Tanya supir taksi hati-hati.

“Belom kok, Pak,” jawab saya tenang.

“Jangan ditunda, Bu. Karena kalau awal nikah ditunda punya anak, malah nanti bisa lama dapat momongan. Kalau rejeki mah pasti ada kok, Bu.”

“Iya Pak, emang ngga ditunda kok. Bener kata Bapa, rejeki mah pasti ada kalau dicari. Kasarnya, orang yang minta-minta di pinggir jalan aja rejekinya ada, masakan kita yang semangat kerja rejekinya ngga ada,” ucap saya optimis.

“Betul,Bu!” balas supir taksinya tak kalah optimis.

Iya, saya sangat percaya bahwa rejeki itu sudah ada porsinya. Kalau rejeki ngga ke mana. Tapi ketakutan saya untuk tidak menerima pendapatan secara rutin setiap bulannya, juga membuat saya untuk melakukan usaha. Karena rejeki akan menghampiri kalau kita berusaha (dan berdoa).

Maka sebulan sebelum saya mengajukan surat pengunduran diri atau resign, saya mengirimkan Letter of Introduction for Content Writer Freelancer ke agensi iklan, public relation, atau perusahaan-perusahaan yang dulu sering saya datangi press conferencen-nya ketika masih aktif menjadi wartawan. Ada beberapa yang langsung merespon dengan bilang akan menyimpan kontak saya tapi ada yang tidak membalas sama sekali….hahahahaha.

Kadang deg-degan ketika tahu perbandingan yang merespon dengan yang tidak, lumayan menciptakan gap yang besar. Tapi entah mengapa, saya sudah terlatih untuk berpikir sekecil apapun usahanya pasti akan punya nilai, bermanfaat. Maka semakin dekat dengan hari resign pun saya semangat untuk mengirimkan surat-surat itu. Bahkan tidak jarang saya menghampiri orang-orang yang pernah saya wawancara untuk menawarkan diri menjadi ghost writer.

I will fight to fulfill my dream. I want to be a writer. And  I will start it now. Buku pertama yang diterbitkan kemarin membuat saya untuk ingin membuat buku lagi. Dan memutuskan untuk resign adalah bagian dari langkah untuk mewujudkan itu. Maka dikegalauan saya yang diiringi oleh (masih) dengkuran suami dan merdunya suara Celine Dion yang sekarang menyanyikan lagu The Christmas Song, saya semakin bertekad untuk mewujudkan itu.

Resign bukanlah pengorbanan, tapi ini adalah pilihan yang harus diambil. Mewujudkan mimpi tidak butuh pengorbanan dia hanya butuh langkah-langkah kecil untuk memulainya. Dan saya akan memulainya setiap hari, wish me luck my dearest friends. Plus, monggo loh kalau ada proyek nulis yang bisa kita garap bareng, I am more than READY 😀

 

PS : Tulisan ini dibuat pada pertengahan Ramadhan dan kenapa baru di-posting sekarang? Karena saya sudah menyampaikan niat saya ke atasan, bahasa sederhananya keputusan sudah dibuat jadi tak apa untuk menceritakannya ke banyak orang. Kemarin saya pikir kalau belum sudah publish di blog tapi saya belum mengikuti prosedur pengunduran diri rasanya ngga etis hehehehehe…

Advertisements

6 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s