Fashionable ala Paskibra

Standard

IMG_1234Sepanjang Juni kemarin, aktivitas saya sangat berhubungan dengan dunia fashion. Beuh do I sound like a fashion blogger now? 😀 Tapi ‘tugas’ yang saya emban selama Juni kemarin memang sangat bersentuhan dengan dunia keindahan busana.

‘Tugas’ itu adalah ketika saya diminta untuk menjadi salah satu juri dalam ajang Frozen Metamorpheus IV. Keren ya namanya. Ini perlombaan yang dibikin sama anak SMUN 54 Jakarta. Trus ini lomba apaan? Dan saya jadi juri apaan?

Sabar. Tenang. Di bulan puasa ini, kita dilatih untuk bersabar….hihihihihi. Jadi ini adalah perlombaan baris berbaris. Apakah saya alumni SMUN 54? Tidak. Mmmm….mungkinkah saya mantan pengibar pasukan bendera atau paskibra  tingkat Jakarta Timur? Tidak. Tiba-tiba keinget salah satu kuis di tivi yang menyertakan sepasang anak sd untuk menjawab satu kata sambil hanya bisa memberi petunjuk, tidak, iya, dan bisa jadi….hahahahaha 

Jadi saya diundang, karena berdasarkan rekomendasi salah satu alumni sekolah itu bahwa saya masuk kategori orang yang ngerti fashion. Orang yang merekomendasikan saya adalah salah satu sahabat saya, Tetty. Yup…friendship do bring a lot of experiences, termasuk menjadikan saya juri kostum untuk ajang Lomba Kreasi Baris Berbaris. Dan saya diundang sebagai FASHION BLOGGER.

Kemudian saya melihat jejeran boots yang buat saya adalah barang saya yang paling fashionable. Wait boots ini juga merepresentasikan ‘kegagahan’ pasukan baris berbaris sih, OK berarti saya punya arsiran yang kuat dengan lomba ini. The universe said so…

IMG_1266Sebenarnya waktu dibilang, saya sebagai fashion blogger, perasaan saya gundah-gulana ngga jelas. Karena sampai sekarang, saya tidak pernah bilang saya blogger. Well I do have blog(s) but I am not a ‘professional’ blogger. Blog buat saya ibarat diari digital yang awalnya hanya untuk sudah jadi buku diari digital saya. Lalu saya minta panitianya untuk benar-benar membaca blog saya dan melihat apakah saya cukup sesuai untuk tugas itu.

“Udah kita baca kok kak, dan cocok,” begitu balasan Cindy, salah satu panitia yang mengundang saya.  Tugas saya adalah, melihat dari sisi kostum apakah sudah cukup sesuai dengan tema yang diusung peserta. Dan anak-anak SMUN 54 ini kerennya setengah mati. Karena mereka memodali saya dengan juklak lengkap dengan unsur-unsur apa saja yang harus dinilai dari sisi kostum.  Buat saya mereka anak sekolahan yang sangat rapih dan profesional dalam bikin ajang segede ini.

Lomba kreasi baris bebaris ini ditujukan untuk anak-anak SMP se-Jabodetabek. Selain lomba baris berbaris atau lomba paskibra  yang biasa, ada juga kategori untuk kreasi baris berbaris. Di kreasi baris berbaris ini, mereka bisa menunjukkan sisi ‘fun’ dari para paskibra. Selalin menerapkan pakem yang resmi seperti sikap paskibraka yang siap siaga, teratur, dan dengan formasi-formasi baku mereka juga bisa menampilkan ekspresinya melalui kostum, sedikit tarian, dan gerakan modifikasi yang intinya adalah menampilkan kekompakan, keteraturan, dan keunikan.

IMG_1240

Pas baca juklaknya saya langsung tertarik, karena buat yang belum pernah jadi anggota paskibra melihat ada sisi seru dari paskibra adalah satu magnet tersendiri. Tapi kemudian saya bingung, kalau dari sisi kostum apa yang harus dinilai ya. Kemudian saya bertanya sama teman saya yang punya background fashion stylish. Apa sih yang dilihat dari sebuah ajang kompetisi fashion.

Keunikan dan kreativitas apa yang diterapkan di dunia fashion. Ternyata rumusnya sama, sesuai dengan kebutuhan. Kreatif bukan berarti menggunakan semua elemen warna dan atribut untuk menampilkan ‘cerianya’ paskibra. Proporsional. Karena fashion bicara tentang keindahan dalam keserasian. Itu kenapa kalau fashion police, kebanyakan bicara soal, duh kok ke grammy pake baju yang terlalu mencolok mata.

IMG_1260

Maka duduklah saya, sebagai juri kostum. Saya kagum dengan semangat anak-anak SMP yang dengan wajah tegas dan langkah kaki yang tegap coba memukai juri-juri. Dan jurinya pun sangat beragam, ada dari perwakilan tentara angkatan darat, pelatih paskibraka nasional, mantan paskibra, alumni 54, dan saya si ‘fashion blogger’. Diantara juri-juri itu, saya lah yang bajunya paling aneh. Datang dengan mini dres bunga-bunga yang sangat loose dan bolero jeans, saya pun melangkahkan kaki saya dengan boots hitam andalan dengan aksesoris kacamata animal print berbentuk mata kucing. Hahahahaha…ini adalah wardrobe lama yang selalu jadi ‘jimat’ saya untuk menunjukkan, ini gaya gua banget nih.

S

IMG_1252

aya semakin terpesona ketika anak-anak SMP ini bisa datang dengan beragam kreativitas. Ada yang sampe bawa umbul-umbul, atau topi berbulu untuk menampilkan aura lain dari paskibra yang serius dan ‘judes’. Belum lagi ketika dengan formasi-formasi mereka melakukan satu kreativitas dengan bernyanyi atau mengeluarkan kata-kata berima. Iya, seru banget dan satu kompetisi yang berbeda sih menurut saya.

Lalu tibalah saat saya harus melingkari angka-angka yang ada di form penilaian. Ternyata ‘beban’

jadi juri itu berat. Yang ada di kepala saya setiap kali mau melingkari nilai, duh benar ngga yah ini atau kalau nanti ada yang lebih bagus gimana? Kemudian saya sadar, menjadi juri itu adalah

menjadi orang yang menganut paham present is the reality. Jadi nilai yang lagi ‘unjuk gigi’ dan kalaupun nanti ada yang memiliki nilai yang sama tinggal dilihat lagi poin penting dari penilaian kostum ini apa. Toh panitia keren itu sudah memberikan juklak yang begitu detail.
Dan pengalaman plus insting menilai saya bertambah ketika saya merasa bahwa sebagai pasukan pengibar bendera, mereka harus tetap pada khitohnya. Balik lagi ke rumus keindahan dan k

esesuaian. Insting saya kemudian mempersepsikan ini pada elemen ketegasan yang memang harus terpancar dari awak pengibar bendera. Maka ketika ada peserta yang pasukan laki-lakinya menggunakan lipstik atau ikut menggunakan atribut yang sama dengan pasukan perempuannya, seperti sarung tangan yang diberi bunga, saya kemudian berpikir ah they not suppose to be like that.
Atau ada juga yang terlalu menggunakan banyak warna dalam pakaiannya dengan ornamen-ornamen yang menurut saya tidak penting, saya berpikir…hmmmm….seharusnya sih ngga usah pake tambahan ornamen itu seragam mereka udah aman. Yup, less is more sometimes.

IMG_1247Ah menyenangkan sekali memang pengalaman pertama menjadi juri kostum. Saya berhasil melatih diri saya untuk berani bertanggung jawab atas angka-angka. Iya, saya bahkan sudah menyiapkan jawaban kalau-kalau pesertanya protes. Saya tahu apa argumentasi saya terhadap angka-angka yang saya berikan. Dan dalam sekejap, saya bisa belajar bagaimana keindahan dan keserasian diartikulasikan pada wajah-wajah pasukan pengibar bendera alias paskibra itu.

IMG_1263Melihat kualitas panitia dan pesertanya, saya percaya ini anak-anak muda kita sangat kompetitif dalam berkreativitas. Oiya ada satu hal yang juga membuat saya kagum dengan anak-anak muda ini. Pembawa acaranya sangat mengerti bagaimana membangun suasana lomba tapi tetap terasa seru. Cara mereka menyelipkan ‘pesan-pesan’ sponsor sangat smooth. Iya, mereka berhasil menggaet sponsor mulai dari provider telepon, tempat bimbingan belajar, sampai kosmetik. KEREN KAN!!!

Saya jadi ketagihan untuk diikutkan di event berikutnya karena pengalamannya benar-benar mengajarkan saya banyak hal, termasuk menambah skill saya sebagai Fashion Blogger…..yuk mareeeeee 😀

Advertisements

3 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s