Memetakan Kebencian dan Perdamaian

Standard

american history x“Kenapa ada perang? Iya kamu, jawab”

“Supaya, kita bisa merasakan indahnya perdamaian.”

Itu adalah kutipan tanya jawab yang terjadi di kelas Pengantar Ilmu Filsafat. Yang bertanya adalah dosen saya dan yang disuruh menjawab adalah salah satu teman satu jurusan saya. Saat itu, semuanya tiba-tiba tertawa geli. Entahlah, tapi saat itu saya ikut tertawa.

Lalu, selasa (4/6) kemarin saya secara tidak sengaja menonton film di telivisi berlangganan. American History X. Saya tidak menontonnya dari awal, karena itu, nontonnya ngga sengaja. Tapi kemudian saya tidak bisa menggerakkan pantat dari sofa hijau di ruang tamu rumah mungil di atas langit kami. Dari posisi selonjoroan sampai kemudian duduk tegak. Film ini berhasil membuat saya penasaran untuk tahu endingnya.

Tapi tidak berapa lama kemudian, saya menutup mata dan berdoa. Iya, saya berdoa menonton film ini. Doa saya, “Tuhan, tolong hapuskan kebencian dari semua orang. Semoga kedamaian lebih mengisi hati semua orang.” Bukan, ini bukan film religius. Ini film serius yang menghirup dalam-dalam emosi saya. Bukan cuman bikin sedih, tapi film ini benar-benar membuat saya berpikir luar biasa tentang kebencian dan kedamaian.

Adegan itu adalah, ketika Derek, si pemeran utama yang adalah beraliran skin head, memerintahkan orang kulit hitam yang menyerang rumahnya untuk tiduran di pinggir trotoar. Posisinya, mulut si musuh mengigit pinggiran trotoar. Giginya benar-benar mencekram pinggiran trotoar. Lalu, Derek memaki-maki dan…….. ah saya tidak bisa meneruskannya. Selalu deg-degan dan sedih kalau ingat adegan itu, tapi adegan itu memang terlalu melekat di dalam memori kepala saya.

Adegan itu sangat berhasil menggambarkan betapa kebencian yang berhasil mengendalikan nalar seseorang adalah emosi yang paling kejam. Karena kebencian membuat kita tidak berpikir masuk akal. Kebencian juga membuat kita menyimpan rasa kebanggaan yang semu.

Maka Derek pun masuk penjara dengan rasa bangga. Di hari pertama masuk penjara, dia takut tapi dia kemudian membuka kaosnya untuk menunjukkan lambang swastika besar tertanam di dada kirinya. Teman-temannya yang skin head juga pun kemudian menyambut dia layaknya sebuah keluarga baru. Dan uniknya, Derek diberi pekerjaan untuk melipat pakaian kotor dengan seorang kulit hitam. Orang kulit hitam yang lucu dan entah mengapa berhasil menenangkan emosi Derek setiap kali dia kecewa dengan ‘keluarga’ skin head-nya di penjara yang ternyata berelasi dengan orang-orang yang diserang skin head di dunia nyata. Orang-orang yang dianggap manusia kelas dua hanya karena warna kulit.

Derek terang-terangan protes, dia dikhianati oleh kaumnya sendiri. Tapi pengkhianat terhadap kaum sendiri adalah sebuah dosa besar dalam skala keimanan fanatisme. Maka Derek pun disodomi dan dipukuli. Yup, Derek yang di luar penjara dipuja sebagai dewa karena berani melakukan penyerangan terhadap kaum berwarna kulit berbeda secara terang-terangan dan sadis, di dalam penjara justru disodomi oleh kaumnya sendiri karena mencoba menegakkan nilai-nilai dasar kaumnya. Bahwa fanatisme adalah sebuah percampuran yang sempurna antara kepentingan dan keinginan untuk menjadi sama.

Lalu apa yang terjadi dengan Derek? Dia memilih ‘pindah agama’. Di penjara bersama seorang guru dan teman baik berkulit hitamlah dia belajar mengikis kebenciannya. Keluar dari penjara, Derek menghadapi kepala kaumnya dulu dan memaki-maki karena melihat si ketua yang dulu jadi poros pengetahuannya mulai melakukan regenerasi ke adiknya. Dia menegaskan kalau dia sudah berhenti percaya. Bahwa kebencian adalah BULLSHIT!!!

Derek menjadi fanatis, karena dia mendapatkan ‘legacy’ dari ayahnya. Ayahnya adalah seorang polisi yang hidup di masa penghapusan perbedaan perlakukan karena warna kulit. Legacy ayahnya adalah orang kulit putih di atas segala-galanya. Merekalah yang terbaik. Derek muda yang begitu memuja ayahnya pun mengalami situasi dilematis, karena saat itu dia sedang terkesima dengan karisma guru bahasa inggrisnya yang berkulit hitam. Di perjalanan waktu berikutnya, guru kulit hitam inilah yang kemudian membantu Derek mengikis habis kebenciannya atas warna kulit. Akhir ceritanya….ada baiknya kalian nonton langsung ya, karena akhir ceritanya di luar prediksi.

Dan sampai saat ini saya masih belum bisa menghapus adegan sadis dari film ini. Adegan mengigit pinggir trotoar yang membuat jantung saya berdetak terlalu cepat dan membuat saya menangis dalam doa. Selesai menonton film, saya tidak bisa tidur. Di kepala saya berlarian beragam pemikiran dan kemudian saya teringat momen itu, momen di mana dosen pengantar ilmu filsafat saya membuka kelas pertama kali dengan pertanyaan, “Kenapa ada perang? Iya kamu, jawab?”

Lalu saya ingat adegan yang sadis itu. Saya menutup mata dan kembali berdoa. Kemudian saya teringat sebuah puisi yang disebutkan Daniel saat diskusi mengenai konflik agama yang belakangan kerap terjadi. Puisi ini bercerita bahwa pada satu titik, kita adalah minoritas. Maka bisa jadi ketika kita mendiskriminasi dalam satu waktu ke depan kita pun akan didiskriminasi. Judul puisinya adalah First They Came, dibuat oleh pastor yang bernama Martin Niemöller yang dulunya adalah pengikut Hitler. Begini isi puisinya.

First they came for the communists,
and I didn’t speak out because I wasn’t a communist.

Then they came for the socialists,
and I didn’t speak out because I wasn’t a socialist.

Then they came for the trade unionists,
and I didn’t speak out because I wasn’t a trade unionist.

Then they came for me,
and there was no one left to speak for me.

Buat saya, perang ada karena manusia memiliki keinginan dan kepentingan untuk menguasai orang lain. Ini kemudian dibungkus rapih dengan aura kebencian dalam mengukur klasifikasi manusia. Karena manusia suka menjadi superior dan menjadi mayoritas. Karena superior dan mayoritas menampilkan energi penguasaan. Dan menguasai diidentikan dengan keistimewaan untuk memiliki. Jadi mengapa ada perang atau ada kebencian? Jawaban saya adalah, karena manusia memilihara keinginan untuk menguasai; karena manusia memelihara keinginan untuk menjadi mayoritas; karena manusia ingin menikmati keistimewaan dari menjadi mayoritas yang berkuasa. Kalau kata adiknya Derek, Danny Vinyard : Hate is baggage. Life’s too short to be pissed off all the time. 

So what is your answer?

*Maaf sekali kalau postingannya terasa berat dan membuat puyeng dengan pertanyaan-pertanyaan. Karena sampai saat ini, saya masih  ketakutan kalau ingat adegan itu. Dan suami saya akan selalu bilang, kamu kalau nonton film yang begitu mesti kebawa pikiran, mesti kebawa emosi…..hahahahahaha….saya memang terlalu sensitif cyn….semua dirasa pake perasaan….halah*

Advertisements

4 responses »

  1. my answer is.. kurang lebih sama kayak jawaban yg kakak tuliskan 😀 oya, aku suka bagian: “Karena kebencian membuat kita tidak berpikir masuk akal”. awesome 🙂 keren tulisannya kak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s