Gerakan Kirim Buku

Standard
Logo Gerakan Kirim Buku made by Hanida Syafriani

Logo Gerakan Kirim Buku made by Hanida Syafriani

Kadang kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan untuk membuat suatu perubahaan. Tapi kadang kala juga, ide untuk melakukan sesuatu demi sebuah perubahaan itu datang dengan cara yang sangat sederhana. Cara itu bernama ACTION, seperti orang berani selalu bilang walk the talk.

Adalah tanpa sengaja saya membaca sebuah postingan dari salah satu blogger di blog interaktif Tempo. Tulisan itu adalah ini : http://blog.tempointeraktif.com/buku/novel-dan-puisi-apa-yang-dibaca-politisi-kita/

Saya mengklik url link tulisan itu dari timeline FB sahabat saya Nida. Saat saya membaca, tiba-tiba ada bohlam di kepala saya. Iya bohlam, persis sama dengan bohlam yang ada ketika Mickey ketemu suatu ide untuk dilakukan.

Kenapa kita tidak mengirimkan buku ke para anggota DPR. Anggota perwakilan rakyat yang selama ini lebih sering kita dibicarakan dengan nyinyir ketimbang kita puji. Sepertinya mengirimkan buku kepada mereka adalah sebuah pernyataan sosial yang sangat elegan untuk bilang, “Hey para anggota dewan yang terhormat, kami warga Indonesia menginginkan anggota dewan yang pintar. Kami ingin anggota dewan yang tahu fungsinya dan anggota dewan yang mengerti berbicara mengenai keberpihakan kepada rakyat sehingga menghasilkan produk undang-undang yang tepat dan selaras disetiap pasal dan rujukan pasalnya.”

“Iya bukan sekadar anggota dewan yang digaji mahal, duduk dengan elegannya di kursi empuk tapi paling doyan studi banding ke luar negeri demi menjajal bagaimana belanja di toko-toko termahal di dunia.”

Maka saya pun menyampaikan ‘bohlam’ saya ke Nida dan suami saya, Daniel. Mereka antusias mendengarnya dan mereka merasa tulisan Dian R. Basuki itu begitu menginspirasi. Lalu kami pun sepakat untuk melakukan sesuatu.

Hal yang pertama kami lakukan adalah mencari tahu bagaimana menghubungi Mas Dian. Kenapa beliau harus dihubungi, karena kami ingin dia menjadi bagian dari realisasi ide. Postingannya menunjukkan keberpihakannya pada kualitas pemimpin yang baik.

Mas Dian pun terhubungi, beliau juga antusias untuk merealisasikannya. Maka dibuatlah kerangkanya dan kami menamainya Gerakan Kirim Buku.

Gerakan Kirim Buku adalah gerakan sosial yang ingin mengajak seluruh rakyat Indonesia mengirimkan buku kepada para pemimpin bangsa. Mengapa buku? Karena buku tak hanya bisa menambah pengetahuan tapi juga mengasah rasa.

Lalu apakah hanya terbatas pada buku novel atau puisi, seperti yang dilakukan Matel? Tidak. Buku-buku yang menurut kalian dapat mempengaruhi karakter kepemimpinan mereka adalah buku-buku yang dapat kalian kirimkan. Jadi kalo Anda merasa para pemimpin itu perlu diberikan buku belajar membaca karena mereka sering gagal ‘membaca’ situasi masyarakatnya ya kenapa tidak, kirimkanlah buku itu ๐Ÿ˜€

Lalu apakah semua pemimpin? Untuk tahap awal, kami merasa para pemimpin atau pejabat negara yang secara langsung mendapat keterwakilan kita dalam kehidupan bernegara dan berpolitik adalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat alias DPR. Dan merujuk pada percakapan nyinyir yang lebih sering muncul ketika membicarakan lembaga tinggi tersebut, maka menarik untuk memberikan ucapan selamat dalam bentuk pernyataan sosial ketika mereka resmi terpilih di 2014 nanti.

Ya pernyataan sosial dalam bentuk memberikan buku-buku yang dapat memperkaya pengetahuan dan menajamkan rasa keberpihakan mereka terhadap rakyat. Pernyataan sosial yang dengan tegas menyampaikan bahwa kita, orang-orang yang kehidupan bernegara dan berpolitiknya direpresentasikan oleh mereka menginginkan perwakilan yang cerdas dan berpihak pada rakyat.

Lalu energi gerakan ini pun disuarakan melalui jaringan social media Twitter (@gerakanbuku) dan Facebook (http://www.facebook.com/pages/Gerakan-Kirim-Buku/435736166514998?fref=ts). Mengapa social media? Karena keduanya adalah tools yang sampai saat ini sangat efektif menyampaikan pesan kepada seluruh orang Indonesia. Survei mengungkapkan Indonesia masuk sebagai 5 besar negara yang warganya paling suka bermain Facebook. Plus di dunia ‘kicauan’ Twitter, orang Indonesia, khususnya yang berdomisili di Jakarta masuk sebagai salah satu kota ‘paling cerewet’ di dunia. Jadi kami rasa, Facebook dan Twitter adalah media yang tepat untuk menyampaikan pesan mengenai mengirim buku kepada para pemimpin.

Dalam perjalanan merealisasikan ide, Mas Dian kemudian meminta maaf karena tidak bisa mengikui perjalanan Gerakan Kirim buku karena beliau harus bed rest. Sedih sebenarnya, meski belum pernah bertemu hanya berkomunikasi lewat SMS dan email, tapi kami merasakan energi yang sama untuk mewujudkan ini. Kami pun berjanji untuk tetap menginfokan setiap perkembangannya kepada beliau. Karena ini adalah pergerakan sosial yang beranjak pada mimpi dan harapan yang sama untuk perbaikan kualitas pemimpin bangsa.

Kami pun melanjutkan sosialisasi. Salah satu cara yang kami lakukan adalah dengan mengirimkan message kepada teman-teman di jejaring sosial mengenai Gerakan Kirim Buku. Cara ini dilakukan selain karena efektif juga karena mereka bisa melihat bahwa gerakan ini berasal dari inisiatif orang terdekat mereka, bahasa sederhananya kami mencoba membentuk kredibilitas dan mengkomunikasikan ide ini dari orang-orang terdekat kami.

Reaksinya menarik, ada yang langsung me-like fans page atau follow twitter kami. Tapi ada juga yang tidak mengubris, bahkan dengan tegas menyatakan penolakan.

Perbedaan akan menciptakan sebuah kematangan proses, kami pun tidak melawan mereka yang berbeda. Sebab gerakan ini bukan untuk menunjukkan siapa yang lebih peduli dan siapa yang tidak. Atau siapa yang lebih pro rakyat atau siapa yang tidak.

Para anggota DPR bukanlah pihak yang kekurangan akses terhadap buku atau memiliki keterbatasan finansial untuk membeli buku, kami pun menyepakati itu. Tapi gerakan ini juga bukan diukur dengan itu. Kami tidak berbicara mengenai keterbatasan akses atau mengenai siapa yang lebih berhak dikirimi buku. Kami tidak mencari itu. Kami ingin memberikan pernyataan tegas bahwa para pemimpin harus cerdas dan berhati nurani untuk memimpin negara yang subur, makmur, dan berkedaulatan iniLalu apakah mereka akan membaca buku-bukunya. Sebagai sebuah pernyataan sosial, gerakan ini mengambil buku sebagai simbol dari misinya. Dan semoga simbol itu menggerakkan merekaa untuk membacanya.

Trus kalau tidak dibaca bagaimana? Sayang dong bukunya? Salah seorang teman yang ikutan bergabung menyarankan untuk setiap pengirim buku memberikan semacam ringkasan dari buku itu. Selain bersifat memberikan gambaran atas buku, ringkasan juga menjadi pesan pribadi pengirim buku kepada para wakil rakyatnya. Ini menjadi hubungan yang personal antara pengirim buku dengan yang dikirimkan buku.

Rencananya mendekati waktu pengiriman buku, kami akan memberikan list komisi-komisi yang ada di DPR lengkap dengan bidang yang ditangani per komisi. Kami akan mencari tahu berapa jumlah anggota per komisi untuk kemudian disampaikan buku-buku yang sudah dikirimkan kepada kami. Setiap anggota komisi bisa jadi mendapatkan buku yang seragam dan bisa jadi tidak. Tidak apa. Tidak masalah karena misi utamanya adalah memberikan buku kepada setiap anggota DPR. Tapi jika memang ada yang mengirimkan 1 judul buku dalam jumlah banyak, kenapa tidak kita mengirimkan semuanya kepada anggota komisi.

Pemberian daftar anggota komisi pun kami buat dengan tujuan mempermudah para pengirim buku untuk ‘memilihkan’ buku yang pas untuk mereka. Jadi ketika melihat list komisi dengan bidang yang ditangani, lengkap dengan lembaga pemerintahan yang menjadi pengawasannya, mungkin para pengirim buku bisa mendapat gambaran apa yang harusnya mereka ketahui tentang bidang yang ditanganinya.ย Jadi bagaimana cara bergabungnya? Bisa follow di @gerakanbuku atau like fans page Gerakan Kirim Buku.

Dan kami percaya gerakan buku ini bukanlah yang pertama kalinya. Mungkin ada diantara kalian yang sudah memulai gerakan buku dengan mendirikan taman bacaan gratis untuk anak-anak di sekitar rumah, atau ada yang membuat book club di pojok kafe-kafe, dan mungkin selalu memilih buku sebagai hadiah ulang tahun orang-orang terdekat, atau bahkan memberikan buku kepada anak-anak yang kurang mampu. Gerakan Kirim Buku adalah muncul untuk melengkapi, bukan untuk menyaingi. Karena gerakan buku bisa jadi adalah sebuah cara kreatif untuk menciptakan budaya membaca yang lebih baik di negara tercinta ini. Semoga dengan budaya membaca yang lebih baik, masyarakat kita akan lebih knowledgeable alias berpengetahuan.

Mari melakukan sedikit perubahan dengan sebuah buku. Mari bentuk budaya membaca melalui sebuah buku. Dan mari lakukan dengan energi positif karena buku adalah barisan kata yang bisa menerabas segala keterbatasan untuk menciptakan sebuah kedaulatan atas dirinya sendiri. Selamat membaca buku ๐Ÿ˜€

Advertisements

3 responses »

  1. aku suka ide gerakan buku seperti yg kakak tuliskan itu. tapi mengirimi buku ke anggota DPR menurutku adalah kegiatan yang sia-sia. Itu pendapat pribadiku lho ya ๐Ÿ™‚ good luck for the gerakan buku!

  2. heiho kamyu,

    Kita percaya sebuah perubahan harus dimulai dari suatu aksi. Bahkan sesederhana apapun aksinya, ketika dilakukan pasti akan berdampak. Contohnya sekarang, disaat gerakan ini baru disosialisasikan telah menciptakan suatu dampak, yaitu diskusi. Ketika kamu berpikir dan berkomentar lalu berdiskusi, itu adalah salah satu bukti sederhana bahwa gerakan ini telah memberikan dampak. Thank you for the support ๐Ÿ˜€

  3. Pingback: Ucapan Selamat Ulang Tahun | Cerita EKA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s