Status Menikah dan Seleksi Pekerjaan

Standard

unequalityAda beberapa fakta menarik terjadi saat kita menikah. Rumah baru, rutinitas baru, dan gaya bercinta baru #eh. Tapi ada juga yang memilih pekerjaan baru.

Hal baru sering kali menawarkan kesenangan baru. Maka berdasarkan pengamatan, beberapa dari mereka yang baru menikah pun secara kebetulan mencari tempat pekerjaan baru. Tapi status baru menikah, khususnya untuk perempuan, ternyata bukanlah unsur yang mempercantik CV. Ini juga masuk tangkapan pengamatan saya. Status baru menikah bagi perempuan ternyata bisa menjadi penolakan meski dirinya masuk kualifikasi lolos seleksi.

Pengalaman nyata dialami oleh seseorang yang saya kenal. Dia ditawari sebuah posisi disebuah perusahaan. Orang yang menawarinya ini masuk level pemberi penilaian terhadap proses reikutmen. Dan dia ditawari langsung, karena orang yang menawari yakin dengan kemampuan dia yang memang sangat cocok dengan lowongan yang terbuka. Yang menawarkan tahu betul bagaimana kinerja dan prestasinya. Jadi peluang yang diterima besar.

Dia diminta mengirimkan CV. Sesaat CV diterima, si pemberi lowongan bertanya. Eh kamu baru nikah kan ya? Belom hamil kan ya? Lalu orang yang saya kenal ini menjawab, “Belum Mba, tapi saya tidak berencana menunda. Apa mba masih berniat untuk wawancara saya?” Lalu yang pemberi lowongan pun menjawab, “Oh..masih dong,” dengan nada yang santai.

Teman saya ini pun bertanya-tanya. Kenapa pernyataan baru menikah yang kemudian diikuti dengan pertanyaan belum hamil itu terasa sangat mendiskriminasi ya? Dan diskriminasi itu dirasa semakin dalam ketika yang bertanya adalah sesama perempuan.

“Well, gw mengerti dari sisi perusahaan memperkerjakan orang yang baru dan beberapa saat kemudian cuti hamil, bisa sangat tidak efektif biaya. Tapi benarkah bertanya seperti itu? Skill gw ngga akan jadi jeblok hanya karena gw baru nikah atau hanya karena gw hamil.” Begitu dia melontarkan emosinya.

Saya sepakat dengan dia. Menurut saya, akan lebih fair ketika proses seleksi dilakukan terlebih dahulu. Karena situasi ini tidak akan dialami oleh laki-laki yang baru menikah. Bukan pada kemungkinan laki-laki bisa hamil, karena sudah barang tentu laki-laki tidak bisa hamil. Tapi lebih kepada laki-laki yang baru menikah kecil kemungkinannya ditolak mengikuti seleksi hanya karena status baru menikah.

Dan kemudian orang yang saya kenal ini pun membuat satu strategi. “Gw akan membuat mereka bener-bener pengen memperkerjakan gw. Mereka bakal melihat aset besar yang tidak akan mereka miliki.”

“Caranya?”

Dia menjawab dengan lantang. “Gw akan ikutin prosesnya. Gw akan mengikuti semua seleksinya dan saat wawancara, gw akan stand out. They will see the best of me. Pada proses wawancara gw akan buat si end user bener-bener ngiler untuk memperkerjakan gw dan membuat tawaran gaji yang gw berikan memang pantas untuk diberikan tanpa tawar menawar. Dan setelah itu…..setelah itu…wait for it (dia niruin gaya Barney di How I Meet Your Mother) I will say, Sorry I can’t accept it because I have better offer.”

Dan ternyata itu kejadian. Dia benar-benar melakukan strateginya hingga si perusahaan menyatakan menerima dia. Tapi dia menolaknya mentah-mentah!

Seorang lain yang juga saya kenal, mengalami hal serupa. Proses awalnya sama, dia ditawari satu posisi berkat rekomendasi orang dalam. Seleksi psikologi dilalui dengan baik hingga proses wawancara, si end user merasa sangat terkesima. Hingga pada menjelang memberikan keputusan, si end user bertanya pada si pemberi rekomendasi. “Temen lo itu, nikahnya kapan?” Sang pemberi rekomendasi menjawab, baru 4 bulan. “Oooo…ok.”

Saat kata ok terucapkan, si pemberi rekomendasi merasakan sesuatu persepsi tengah terbentuk di dalam kepala si manager.  Dan hasilnya adalah, si manager pun kemudian memilih kandidat lain. “Padahal dia bilang sama gw, dia suka banget sama elo. Tapi ya gitu, lu ngga dipilih karena baru nikah.”

Reaksi teman saya, kesal luar biasa. Disampaikan secara langsung atau tidak, ternyata penolakan yang tidak didasarkan pada kemampuan menurut saya rasanya lebih nyelekit. Mendengarkan cerita mereka membuat saya menemukan istilah perusahaan marriedphobia. Perusahaan yang ketar-ketir mengangkat perempuan yang baru menikah.

Tapi saya percaya kalau rejeki ngga akan ke mana. Itu yang saya sampaikan kepada mereka. Dan sebenarnya setiap perempuan berpeluang untuk hamil, baru atau sudah lama menikah. Jadi perusahaan yang ketakutan menerima pekerja perempuan yang baru menikah sebenarnya sedang melakukan diskriminasi.  Ini adalah diskriminasi perempuan di ruang kerja. Dan kalau kita ingin lebih serius lagi berbicara mengenai hak mendapatkan penghidupan yang layak, penolakan perempuan karena status baru menikah adalah secara sah dan menyakinkan telah melanggar UUD 1945 pasal 27 ayat 2. Begini bunyinya : Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.
Dalam bahasa kerennya, pasal 27 ayat 2 itu mau bilang, we (women or men, newly weds or singles or parents) are equal. Dan di perusahaan multi background seperti Google, mereka bahkan secara tegas menuliskan bahwa semua orang punya kesempatan yang sama untuk diseleksi oleh Google. We are equal opportunity employer, mau dari suku bangsa apa, mau punya ketertarikan seksual apa, dan mau baru menikah atau tidak semuanya akan dinilai berdasarkan kemampuan.  Dan perusahaan yang melakukan diskriminasi bukanlah tempat yang baik untuk mencari rejeki. Itu bukanlah perusahaan yang menghidupi karyawannnya dengan rasa kemanusiaan. Jadi, jangan takut selama kita profesional dan berkarakter, akan banyak perusahaan meminta kita untuk bergabung.
Seperti kedua teman saya itu, mereka berhasil menunjukkan kemampuannya. Mereka berhasil membuat pernyataan yang tegas  kepada perusahaan itu bahwa menolak dia hanya karena baru menikah adalah melepaskan calon ASET terbaik perusahaan.

Advertisements

3 responses »

  1. Hal ini pun terjadi di gw.. udah proses psikotes lolos, interview dengan recruiter 3 orang lolos, interview dengan recruitment supervisor lolos, terakhir interview dengan direktur SDM, dia bilang apaaaa????
    saya lolos kesemua proses dan mereka menganggap saya ini sangat kompeten dan orang yang sangat cocok untuk kerja di perusahaannya. Sedangkan direktur SDM nyuruh saya bikin usaha rumahan aja, WHAT!! sakit hati, bagai tertusuk bulu babi!! Bayangin aja, gw wanita karir yang semangat banget jawab semua interview dengan suara lantang, eh di suruh usaha rumahan? Gw malah mikir si dirut sdm itu ga manusiawi, ga punya otak, ga punya perasaan!! Yup, karna gw akan menikah 1 bulan kedepannya :sad

    • kalo ada yang bilang gt biilang gini aja kak , biar sekalian . ” saya sudah punya usaha rumahan pak. gajnya 5x lebih besar dr yang ditawarkan disini. saya kerja cari kesibukan aja” hahahha

      dulu saya jawabnya bgtu . karena gregetaaaaan bgt dan kayak diremehin gitu … hahahah

  2. @ Masrevi : What direktur SDM bilang begitu…bah dia tidak punya jiwa pemimpin dan kalau di luar negeri dia bisa dituntut tuh…Tenang, percayalah rejeki akan selalu menghampiri mereka yang mau bekerja dengan hati.

    Oiya Teman-teman yang baik,

    Sekarang saya pindah ke priskasiagian.com jadi blog ini sudah jarang sekali saya kunjungi. Agar lebih interaktif, boleh langsung ke website baru saya itu ya.

    Terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s