Obituari Blacky

Standard
Mungkin dia keliatan kecil di sini, tapi aslinya dia gede hehehehe....

Mungkin dia keliatan kecil di sini, tapi aslinya dia gede hehehehe….

Meski punya pengalaman di dunia tulis menulis, tapi saya belum pernah sekalipun menulis obituari. Betul sekali, saya tidak pernah menuliskan berita kematian seseorang karena kehilangan tidak pernah mudah untuk dihadapi. Apalagi kalau kehilangan itu adalah sebuah bentuk kehilangan atas sebuah interaksi kehidupan.

Dan kali ini pun meski sudah 10 hari setelah kepergiannya, saya masih kesulitan untuk memulai dari mana untuk menulis obituari ini. Berita kematian untuk sebuah iteraksi kehidupan. Obituari pertama saya adalah untuk Blacky, seekor anjing yang sudah menghabiskan selama hampir 15 tahun hidupnya bersama saya dan keluarga.

Tidak ada yang terjadi secara kebetulan, itu yang selalu saya percaya. Terlebih ketika yang terjadi itu adalah arsiran cerita dengan sebuah entitas mahluk hidup. Blacky menjadi anjing peliharaan keluarga saya, ketika seorang tukang ojek merasa iba dengan keluarga saya yang baru saja kehilangan anjing bernama Casper. Sepertinya ada yang mengambil Casper ketika itu dan seluruh anggota keluarga saya menitipkan pesan kepada siapa saja untuk membawa pulang anjing kesayangan itu.

Berhari-hari hingga berminggu-minggu ditunggu, Casper tidak muncul. Maka si tukang ojek yang memang suka mangkal depan rumah pun menawarkan seekor anjing. Anjing ini adalah anjing liar yang benar-benar tidak tidak terurus. Sampai hari ini mama masih ingat bagaimana kondisi anjingnya ketika itu, tidak terawat dan banyak kudis. Saking kasiannya, mama menawarkan untuk memandikannya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk memeliharanya atau tidak. Kaget bukan kepalang ketika dimandiin, banyak kutu yang berlarian dari balik bulu-bulu botak dengan kulit kudis.

Tapi setelah dimandikan, si anjing pun terlihat sangat manis dan lucu. Alhasil mama ngga tega untuk membiarkan anjing itu luntang-lantung menjadi anjing liar. Maka per hari itu, si anjing menjadi peliharaan kami dan diberi nama Blacky.

Namanya sesuai dengan warna bulunya, hitam adalah identitasnya. Tidak ada warna lain yang menyelip diantara bulu-bulu yang mengerubungi tubuhnya, maka Blacky adalah nama yang paling pas. Layaknya seekor anjing liar, awal-awal Blacky ketakutan dan susah diurus tapi ekornya yang selalu bergoyang-goyang setiap melihat kami adalah daya tarik Blacky yang paling utama.

Dan setelah sekian lama menjadi hewan peliharaan, Blacky terus tumbuh jadi anjing penjaga. Postur tubuhnya besar dan warna hitamnya semakin gelap. Selintas terlihat seperti anjing doberman cuman versi anjing kampung, alias tidak setinggi doberman. Blacky paling cekatan menerkam tikus dan kucing. Dia tidak pernah memakan ‘mangsaanya’ hanya diterkam di leher dan ketika sudah tidak bernyawa, dia akan meninggalkan begitu saja. Tidak cuman itu, gonggongannya yang keras dan lantang sering membuat kami yakin kalau tidak ada maling yang berani menyatroni rumah karena ada Blacky.

Selintas dia memang memainkan perannya sebagai anjing penjaga dan pemburu yang sangar. Tapi Blacky tidak sesangar warna bulunya, dia adalah anjing berwajah rambo tapi berhati rinto. hahahaha  Ini beneran. Setiap orang yang baru melihat Blacky akan sedikit hati-hati mendekat, karena posturnya yang besar dan kuat. Tapi yang diperlukan untuk meluluhkan hati Blacky adalah cukup usap kepala atau punggungnya, maka dia akan tiduran di lantai sambil menggerak-gerakkan ekornya tanda Blacky senang luar biasa.

Kalau lagi banyak tamu anak-anak di rumah, awalnya mereka akan ketakutan dengan Blacky. Tapi begitu tahu Blacky berhati rinto, mereka akan ‘semena-mena’ menaiki Blacky. Ngga cuman didaulat jadi ‘kuda’, Blacky juga bakal ditarik-tarik ekornya….and guess what…Blacky tidak pernah marah. Dia seolah paham kalau mereka hanya anak-anak.

Ah dia memang anjing yang berhati lembut. Kalau sudah terlalu lama tidak dimandiin, Blacky akan pasrah untuk diguyur air dan disabuni. Butuh dua orang untuk mandiin Blacky karena badannya yang besar dan tenaganya yang kuat sering kali membuat kita kewalahan untuk mandiin dia. Dan dia setiap kali melihat kita membentangkan selang akan mengumpat sebagai tanda dia tidak suka dimandiin, tapi yang diperlukan hanyalah sedikit belaian dan rayuan.

Iya, binatang peliharaan adalah mahluk hidup yang kadang kala mirip dengan kita. Ada sisi manjanya dan usapan di kepala atau belaian di bawah leher dan perut akan membuat dia senang luar biasa. Hal lain yang juga membuat dia senang adalah melihat satu-satu tuannya pulang ke rumah. Selarut apapun kita pulang, dia akan mengonggong manja sambil menggerak-gerakan ekor. Bahasa yang sederhana untuk menunjukkan betapa senangnya dia melihat semua anggota keluarganya pulang ke rumah.

Iya, Blacky adalah anggota keluarga. Saya ingat bagaimana dia akan dengan setia menemani saya menonton di depan televisi. Dan saat tidak ada orang di rumah, hanya saya dan Blacky, saya akan meminta Blacky mengikuti saya ke mana saja. Ada rasa aman ketika dia di sekitar saya. Malah kadang-kadang saya menjadikan Blacky sebagai bantal, well awalnya dia akan biasa saja tapi kalau kelamaan dia ngga suka…keberatan kayanya hahahaha.

Blacky jarang sekali keluar pagar, alasannya sederhana. Pertama, ketika rumah kami masih di Klender yang berlokasi di pinggir jalan membuat tidak cukup aman untuk membiarkan Blacky berlalu-lalang di jalan raya yang sangat ramai. Kedua, setelah pindah ke Pulomas, wilayah ini cukup banyak rumah yang punya anjing dan banyak juga anjing liar. Anjing-anjing ini yang kami waspadai bisa menularkan Blacky dengan berbagai penyakit terlebih rabies. Alhasil, Blacky hanya keluar beberapa kali.

Dia pernah sekali kabur dan kami kalang kabut. Saya, abang, dan adik saya menyebar untuk mencari Blacky. Tidak lama setelah itu, abang saya pulang sambil diikuti Blacky yang berlari di belakangnya. Saat kami melihat dari kejauhan, abang saya meminta untuk tidak memarahi Blacky karena saat ditemukan Blacky ketakutan. Tempat baru yang ditujunya membuat dia bingung dan hanya menunduk lemas di pinggir jalan. Dan begitu melihat abang saya, Blacky menggerakkan ekornya dengan luar biasa. Dia sangat bahagia ditemukan kembali oleh anggota keluarganya. Kami pun tidak memarahi Blacky, kami hanya berbisik, “Jangan kabur lagi ya Blacky, nanti kamu nyasar trus kita ngga ketemu.”

Matanya yang bulat hitam dan sedikit sendu seolah mengamini permintaan kami. Dan memang semenjak itu Blacky tidak pernah kabur. Meski seramai apapun acara keluarga yang digelar di rumah, Blacky akan tiduran dengan tenang di dalam rumah atau di bawah tangga. Dia memilih tempat istirahatnya dengan pintar.

Seiring berjalannya waktu, setahun belakangan, Blacky sakit. Tiba-tiba dia kejang dan jatuh lemas. Kami sekeluarga panik. Saya yang ada di kamar atas, langsung loncat ketika mendengar cerita adik saya. Blacky keliatan lemes banget ketika itu. Dan serangan kejang pun datang lagi setiap dia habis lari mengejar kucing yang ada di luar pagar. Setelah kejang, dia akan jatuh lemas. Kami pun merasa, sudah waktunya membawa Blacky ke dokter.

Waktu itu kami bertiga yang membawa Blacky ke dokter. Kami bilang ke Blacky kalau mau jalan-jalan saja. Sempet bingung juga bagaimana membawa Blacky karena ke tempat dokter hewan terdekat jaraknya cukup lumayan jauh dan Blacky tidak pernah suka naik mobil. Dia selalu ketakutan, perutnya naik turun dengan cepat dan air liurnya berjatuhan. Itu adalah tanda kalau Blacky sedang ketakutan. Maka Blacky dibawa ke dokter dengan seolah-olah lari bersama. Dan saya bersama abang serta adik saya membawa Blacky ke dokter hewan. Blacky memang spesial, karena itu butuh 3 orang yang mengantarkan dia ke dokter ;D

Saya sempat was-was, apa Blacky mau diperiksa. Maklum dia tidak pernah punya pengalaman ke dokter. Tapi dokternya sangat ramah dan sangat tahu bagaimana menenangkan Blacky. Bahkan ketika suhu tubuhnya diperiksa dengan memasukkan termometer ke pantat, Blacky hanya terlihat kaget hahahaha rada lucu ekspresinya ketika itu. Dan diagnosa dokter adalah, Blacky kena epilepsi. Kagetnya setengah mati, karena kita membayangkan Blacky akan mendapat serangan kejang lagi dan itu tidak bisa disembuhkan.

Sebagai anjing tua, dokter menjelaskan, ada penurunan regenerasi sel-sel otak, ini yang membuat banyak anjing terserang epilepsi ketika tua. Serangan muncul ketika dia terlalu bersemangat dan sambil bercanda dokter menasehati Blacky. “Jangan kejar-kejar kucing sama tikus lagi ya Blacky, kamu itu sudah opa-opa, jangan agresif.” Tapi dokternya memuji Blacky. “Sebagai anjing tua, kondisi Blacky sangat sehat. Ini bagus kok, tinggal dikasih obat aja ya.”

Tapi waktu terus membuat regenerasi sel-sel dalam tubuh Blacky melambat, mirip seperti apa yang terjadi pada manusia. Untuk kategori seorang ‘opa’ Blacky pun mengalami penyakit karena degenerasi sel, salah satunya adalah penggumpalan darah. Ini membuat saluran cerna Blacky tidak bekerja dengan maksimal, alhasil tidak semua makanan tercerna dan membuat perutnya membengkak karena penuh cairan. Matanya pun mulai mengalami katarak. Hanya saja karena anjing punya indera penciuman yang tajam, katarak tidak menghambat Blacky untuk berjalan atau mendeteksi kondisi sekitar. Dokter hanya bisa memberikan Blacky resep obat. Obat yang diberikan adalah obat untuk manusia hanya saja dosisnya lebih ringan.

Cairan di perut ini yang membuat Blacky tidak nafsu makan. Badannya kurus sekali, sepanjang 15 tahun bersama kami, dia tidak pernah sekurus itu. Dia tidak lagi mengejar kucing atau tikus, tapi tetap menggonggong. Suaranya tetap bulat, hanya saja napasnya mulai memendek. Tidak tega sebenarnya melihat Blacky begitu, tapi ekornya yang selalu digoyang-goyangnya setiap kali melihat kami pulang adalah hal yang menyakinkan kami kalau Blacky akan sembuh.

Sampai pada 19 Maret kemarin, saya mendapat telepon dari mama yang mengabarkan Blacky sudah mati. Ah bahkan untuk menuliskan dia mati saja buat saya sangat kasar. Saya pun langsung menuju rumah, untung saya sedang cuti ketika itu. Sampai di rumah, saya melihat dia sudah tertidur dan ditutupi kain putih. Tidak ada air mata ketika itu, hanya berharap Blacky bangun dan kembali menggerak-gerakkan ekornya. Tapi Blacky tetap diam.

Kami pun membawa Blacky ke Purwakarta untuk dikuburkan di kebun milik keluarga kakak ipar saya. Blacky harus mendapatkan penguburan yang terhormat di tempat yang nyaman. Selama menuju ke Purwakarta, saya dan abang saya tidak banyak berbicara. Kami berduka. Dan hari itu, jalan menuju Purwakarta ditutupi langit hitam. Begitu gelap. Hujan deras pun memukul-mukuli kaca mobil dan aspal tol.

Sampai di kebun, saya dan abang sedikit bercanda. Kami merasa seperti mafia yang sedang menguburkan sesosok mayat di malam hari, lengkap dengan sinar lampu dari mobil dan petir yang menggelegar. Kami berdua gali sendiri kuburan untuk Blacky dan memindahkan tubuhnya ke dalam lubang yang sudah kami siapkan. Air mata saya tidak tertahankan. Ketika saya membuka karung dan secara kebetulan sesaat saat karung dibuka, kepala Blacky seolah tertidur melingkar. Ekspresinya sangat tenang dan nyaman. Tiba-tiba saya sadar, saya akan kehilangan sebuah interaksi kehidupan. Saya pun nangis sejadinya. Abang saya pun ikut menangis. Cukup lama kami menangisi Blacky di depan kuburannya, dengan derai hujan yang tidak berhenti membasahi tanah kami pun mencoba mengembalikan kekuatan diri dengan berdoa. Awalnya saya masih cukup jelas mendengar isi doa yang dipimpin abang saya, tapi lamat-lamat suaranya semakin tidak jelas yang terdengar hanyalah sesenggukan.

Ini adalah bagian terberat, ketika sebuah kehilangan harus ditandai dengan kita yang menguburkannya sendiri. Saya ingat, bagaimana abang saya berkata ketika dia menggali dan menutup kuburan Blacky. “A good dog, deserve a perfect funeral. We did good thing tonight, Sis. We are…” Dan saya teringat adik saya yang tidak bisa ikut karena harus melakukan presentasi. Cukup lama saya membujuknya untuk tidak ikut karena kami berburu dengan waktu, takutnya Blacky akan membau dan jarak Purwakarta-Jakarta lumayan jauh untuk memendam rasa sedih setiap kali melihat tubuh hitam itu diam tak bergerak.

Tanpa tanda nisan, hanya balok bekas potongan pohon yang tertancam di tanah itu. Kami mengembalikan Blacky pada sumber kehidupan. Dia bukan lagi sekadar anjing peliharaan. Dia adalah bagian dari keluarga. Keluarga yang telah menjaga dan menghibur kami sekeluarga selama hampir 15 tahun. Dia memainkan perannya dengan sempurna. Sesempurna ketika dia seolah berpamitan kepada kami. Saya ingat, sehari sebelum dia meninggal, dia menghampiri saya dan suami saya. Ke saya, Blacky meminta untuk diusap-usap di hidungnya. Usapan manja yang menggemaskan. Saya masih ingat, bagaimana dia tetap menggerak-gerakkan ekornya ketika saya pamitan pulang.

Untuk anjing hitam yang berwajah rambo tapi berhati rinto, selamat bermain-main dengan bahagia di surga ya. Sekarang, Blacky udah ngga akan sakit lagi. Perutnya ngga kembung lagi dan ngga ada lagi serangan epilepsi akibat terlalu semangat berlari ke sana-ke mari. Terima kasih sudah menjadi bagian dari keluarga kami dan terima kasih untuk memilih untuk berbagi interaksi kehidupan bersama. You are the best dog I ever have and you always be the cutest dog ever. Oiya, sepertinya di surga ngga ada kembang api, jadi Blacky ngga perlu ngumpet di bawah kursi lagi ya….selamat bermain-main Blacky….I love you so much….

Advertisements

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s