31 : Menikah

Standard

Saya ingat betul dulu setiap kali ditanya kapan mau nikah, saya selalu jawab di atas umur 28 tahun. Kenapa? Menurut saya ini umur yang aman secara finansial, karir, dan mental. Dan cita-cita saya terkabul, saya menikah di atas umur 28 tahun, tepatnya delapan hari menjelang ulang tahun yang ke 31 😀

10-11-12 ini katanya angka cantik untuk menikah, saya dan Daniel pun memilihnya. Alasan awalnya sebenarnya sangat konyol, ngga ada hubungannya dengan fengsui cantik untuk menikah.

kolase 1c_kecilJadi, Daniel yg sekarang resmi menjadi suami saya, bilang kalau dia mau menikah 10 November hanya karena dia alumni Institute Teknologi 10 November alias ITS. Dan pas diliat eh itu tanggal hari sabtu, pas lah. Lalu kami urutkan tanggal,bulan, dan tahunnya, ternyata makin pas. Maka di 10-11-12 kemarin, saya dan Daniel menikah  (oiya ini wujud rupa suami saya kalau di blog).

Ada berjuta perasaan mucul mulai dari dia menyampaikan keinginannya untuk berbagi hidup bersama, perkenalan keluarga, lamaran, cari tempat, foto prewedding, bina pranikah, sampai kemudian menikah. Proses yang berlangsung sekitar 5-6 bulan ini ternyata menampilkan rasa bahagia, cemas, stres, grogi, bingung, sedih, cape, pengen cepat-cepat, lucu, terharu, dan lega. Tapi kesimpulan dari rasa yang nano-nano ini adalah bersyukur.

Iya saya bersyukur banget menikah sekarang. Mengapa? Karena saya sangat mencintai hidup saya. Rasa cinta yang luar biasa pada hidup ini menjadi magnet buat saya menemukan teman hidup saya, Gracyandi Daniel Hendrianto.

Dia adalah orang yang berani punya mimpi dan mewujudkannya. Orang model kaya gini bukan cuman menjadikan dia orang yang punya visi, tapi juga bertanggung jawab. Dan ketika dia memilih untuk mewujudkan mimpi dia akan berjuang untuk itu. Ya saya memang dipasangkan untuk menikah dengan dia.

Saya memang harus menikah sekarang karena alam semesta menyatakan hal yang sama. Buktinya apa? Bukan hanya keluarga yang memberikan doa, saran dan senyuman, tapi juga teman-teman saya.

Iya, punya banyak teman itu menyenangkan, saya dan Daniel beruntung untuk memiliki mereka. Jauh-jauh hari mereka sudah bertanya apa yang bisa dilakukan untuk ikut dalam kebahagiaan pernikahan ini. Kayanya semua orang sudah menunggu momen ini, they really want to take a part.

Maka dengan wajah sumringah saya selalu cerita ke orang-orang kalau pernikahan saya berlangsung sukses karena saya punya keluarga dan teman-teman yang luar biasa. Contoh sederhana aja, saat sadar tidak ada budget untuk foto prewedding, di saat itu juga hadir kesiapan dari teman-teman untuk membantu. Dan ngga nanggung-nanggung di hari foto prewedding yang bantu saya mulai dari 3 fotografer, 1 fashion stylish yang merangkap jadi makeup artist juga, beserta penambahan atribut-atribut untuk foto. Saya mendapatkan bantuan lebih dari yang saya harapkan.

Saat dekor restorannya template alias tidak bisa diubah-ubah, ada teman yang datang dengan ide dan mewujudkannya. Bahkan ketika saya berniat menampilkan personal touch di dekorasi pada resepsi dengan menuliskan kutipan kami masing-masing pada papan tulis hitam, teman-teman dari sepenjuru daerah ikut sibuk wara-wiri kesana-kemari. Dan saat sepasang temn menemukan papan tulis itu, bukan cuman ukurannya yang sesuai keinginan tapi harganya juga sangat aman dikantong, eh saya malah dikasih gratis deng sama temen saya hahahaha.

Bahkan untuk mobil pengantin dan dekorasinya, saya dan Daniel lagi-lagi sangat tertolong dengan bantuan teman yang kemudian membuat kami memiliki teman baru. Menyenangkan sekali, karena dari awal niat kami adalah menyelenggarakan pernikahan yang ‘ramah’ budget dan itu tercapai dengan sempurna.

Satu hal yang saya ingat dari semua adukan emosi saat menyiapkan pernikahan ini adalah, saya dan Daniel sangat dicintai. Keluarga yang luar biasa membuat kami sangat terharu ketika melihat mereka berdiri dengan penuh kelegaan melepaskan kami berdua. Iya momen memberikan ucapan terima kasih kepada orang tua di gereja adalah momen yang paling menitikkan air mata sebagai ekspresi kebahagiaan.

Sebelumnya saya sudah menyiapkan kata-kata untuk dibisikkan ke telinga Bapa dan Mama saya, tapi saat saya melihat ekspresi haru Bapa, saya hanya bisa bilang terima kasih sambil sesengukan. Bagaimana tidak, Bapa alias Pance Maris saya itu jarang sekali menangis dan melakukan cium pipi kanan-kiri (dia bilang dia selalu risih untuk melakukan ini kepada siapa saja,bahkan ke mama saya aja jarang), tapi hari itu dia memeluk dan mencium kedua pipi saya. Puncaknya adalah ketika dia berbisik, “Maafin Bapa ya kalau belum sempurna, masih banyak yang belum Bapa lakukan untuk kamu.” Ah Tuhan,mengingat dan menulis ini aja udah bikin saya menampung air mata.

Itu baru Bapa saya,kebayang dong saat saya melakukan hal yang sama ke mama saya. Perempuan yang juga adalah sahabat perempuan pertama saya. “Bahagia ya ‘dek, Daniel anak yang baik mama percaya kok.” Saya hanya bisa bilang makasih…makasih…dan makasih sambil merasakan air mata berjatuhan diantara bulu mata-bulu mata yang ditata indah.

Sedikit banyak saya sudah memprediksikan momen haru tanpa mampu berkata-kata itu, maka saya pun menuliskan surat tepat di jam-jam saya menunggu datangnya tanggal penting 10-11-12. Dengan kuku cantik yang sudah terpasang, menulis surat untuk kedua orangtua rada sulit dilakukan tapi semuanya teralihkan ketika saya menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi kepada bapa dan mama. Kala itu pun saya meneteskan air mata. Saya, adalah orang paling beruntung di dunia untuk memiliki Marison P.Siagian sebagai bapak dan Nurmala Tambunan sebagai mama.

Cara mereka mencintai, membangun rumah tangga, mendidik dan berjuang untuk anak-anaknya adalah modal saya untuk mencintai kehidupan, mewujudkan mimpi, hingga meyakini Daniel sebagai teman hidup. Saya ngga tahu pernikahan itu seperti apa dan apakah saya dan Daniel akan menjadi orangtua sehebat mereka. Saya hanya percaya, saya punya teladan yang sempurna. Selama 31 tahun hidup bersama mereka saya belajar bagaimana hidup bukanlah untuk disia-siakan dan memiliki teman hidup adalah keseimbangan untuk merayakan hidup.

Lucunya adalah ketika saya coba mengendap-endap masuk ke kamar mereka untuk menaruh surat, eh mama saya terbangun hahaha niat mau surprise malah kepergok. Tapi setelah itu momennya berubah menjadi haru karena saya tidak sanggup untuk bilang mau nitipin surat untuk mama dan bapa. Saya hanya bilang,baca suratnya berdua ya sambil sesenggukan.

Pernikahan memang menjadi momen berjuta rasa untuk perempuan, terlebih anak perempuan satu-satunya seperti saya. Selain luar biasa bahagia, terselip juga rasa sedih karena saya membayangkan berpisah dari orang-orang yang paling saya sayangin. Apalagi hubungan saya dengan seluruh keluarga saya sangat dekat, boleh dibilang saya yang bikin rumah ramai.  Membayangkan tidak ada saya di rumah saja suka membuat saya sedih.

Tapi cerita hidup memang seperti itu, apalagi ketika akan memasuki fase baru selalu ada perasaan haru untuk menyempurnakan perasaan bahagia. Dan keduanya adalah perasaan yang memang harus dimaknai dengan sempurna karena itulah yang senantiasa membuat kita tetap sadar sehingga semuanya tidak sekadar taken for granted.

Maka dihari saya berulang tahun yang ke 31 tahun, saya tidak hanya merayakan dengan keluarga saya tapi juga dengan keluarga baru saya. Meski di 18 November, saya dan Daniel kembali ‘dipajang’ untuk seremoni Ngunduh Mantu di Surabya, saya mendapat kejutan dari mertua saya. Di tengah-tengah perhelatan mereka meminta MC untuk menyanyikan selamat ulang tahun sambil membawa kue cantik. Hari itu saya mendapat dua kue ulang tahun, kue ulang tahun paling banyak yang pernah saya terima hahaha. Kue pertama datang dari mama dan Daniel yang ketika saya sedang didandani tiba-tiba keduanya menyusup masuk sambil membawa kue dengan lilin disekeliling kue. Dan kue yang kedua muncul ditengah-tengah acara sambil diberikan kecupan hangat dari kedua mertua saya. Looks like lucky is my middle name 😀

Lalu apa tema saya di usia 31 tahun ini? Saya ingin menyeimbangi hidup dengan jatuh cinta setiap hari kepada suami saya. Mereka bilang pernikahan adalah mengenai negosiasi, ya mungkin ada benarnya tapi yang saya ingin rasakan adalah pernikahan berarti punya teman hidup untuk menghadapi apapun bentuk segala ketidakpastian di masa depan. Saya yang optimis dan berlimpah energi positif ini, sangat beruntung dipasangan dengan laki-laki yang tidak takut bermimpi dan mewujudkannya. Saya yang cuek dan cenderung nekat ini, sangat beruntung dipasangkan dengan laki-laki lebih sering berpikir logis, maklum programmer.

Segala perbedaan ini menjadi penyeimbang untuk satu sama lain, bahkan menjelang sebulan hidup bersama dengan Daniel, saya sudah merasakan perubahan baik dalam diri saya yang saya rasakan. Diantara sejuta usaha untuk memahami segala perbedaan yang sering kali suka bikin gregetan, ada satu hal yang sangat luar biasa menyenangkan saya rasakan. Yaitu, saya yang semakin malam semakin cerewet dan bawaannya pengen cerita ini, jadi punya teman yang bisa mendengarkan berbagai cerita saya hahahaha. Dan kalau malam kebangun karena mimpi aneh, gampang, tinggal peluk Daniel yang empuk, dia akan usap-usap kepala saya dan cium saya. Saya…..ya saya gigit lengan dia lah…hahahahaha….oiya ini juga jadi kesenangan yang saya temukan dari hampir sebulan menikah, saya yang suka banget gigit lengan empuk sangat beruntung dipasangkan oleh Daniel, laki-laki tinggi besar yang berlengan empuk….See….lucky is my middle name 😀

Dan ya, di ulang tahun yang ke-31 ini saya semakin menemukan alasan serta cara untuk mencintai hidup. Karena saya punya suami yang membuat saya jatuh cinta seumur hidup. Seperti yang saya tulis di papan tulis ketika menyambut para tamu yang hadir di resepsi pernikahan kami, “Cinta itu adalah untuk dinikmati, lalu disepakati untuk dinikmati bersama. Dan kami, memilih untuk menikmatinya selamanya.”

Advertisements

3 responses »

  1. ada banyak hal yang bisa dikomentari dari tulisan ini, tapi saya pilih satu saja deh.

    “Bahagia ya ‘dek, Daniel anak yang baik mama percaya kok.”

    this, I echo this statement. 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s