Cerita Tentang Nida

Standard

Membicarakan Hanida Syafriani adalah membicarakan tentang antusiasme persahabatan. Saya belajar banyak dari dia. Saya belajar bagaimana tetap berbinar-binar mendengarkan cerita dari sahabat, meski cerita itu bukanlah pertama kali didengarnya.

Cerita tentang Nida, adalah cerita tentang menemukan kerinduan untuk selalu bertemu. Meski sekadar untuk nongkrong di taman Suropati sambil mengunyah habis nasi goreng atau duduk manis sambil menikmati hangatnya alkohol pada tenggorokan. Dia mengajarkan saya bahwa pertemanan itu sederhana, sesederhana untuk selalu ada dalam suka dan terlebih duka.

Perempuan yang sampai sekarang memilih untuk tidak menikah ini, begitu total mengiringi perjalanan saya menuju pernikahaan. Dialah yang pertama kali tahu ketika Daniel (tulisan ini dibuat ketika Daniel belum menjadi suami saya hihihi) mengajukan lamarannya ke saya. Saya masih ingat ketika saya meminta dia untuk menjadi bridemaid, jantung saya melompat tidak karuan. Rasanya hampir sama seperti ketika saya mau bilang “Yes, I want to grow old with you” ke Daniel sebagai jawaban dari pinangannya. Ini adalah dua dari sekian banyak momen penting dalam hidup saya. Jantung yang melompat dari dua momen itu adalah antusiasme yang muncul dari sebuah hangatnya kebahagiaan.

Saya luar biasa beruntung punya sahabat seperti Nida. Dia tidak pernah lelah setiap kali saya sms atau telepon untuk minta bantuan. Dia juga tidak pernah merespon dengan nada negatif ketika saya sedang kebingungan. Dia selalu bilang, “Nanti aku bantu ya, kita buat sama-sama.”

Dan dari sebuah kata ‘kita’ saya mengerti bahwa selalu ada kebersamaan dalam setiap situasi, itu sangat menyenangkan. Waktu yang membuat kebersamaan kami semakin lekat. Sekarang, keponakan yang selalu disebut anak-anaknya itu pun sudah menjadi bagian dari kerinduan saya. Yasha dan Shira selalu membuat saya bahagia ketika mereka sangat antusias berlari untuk menghampiri saya dan Daniel. Well Daniel sih yang paling difavoritkan oleh dua bocah imut itu, karena Daniel punya kemampuan menjadi trampolin hihii. Ini menyadarkan saya, betapa kelekatan saya dan Nida sudah menjadi hubungan keluarga.

Ketika lebaran kemarin, saya dan Daniel merayakannya bersama Yasha, Shira, dan Nida. Kami menikmati suasana lebaran persis seperti keluarga, meski hanya berlima tapi ributnya seperti ada satu keluarga besar sedang berkumpul.

Saya pasti pernah menyakiti hati Nida, disadari atau tidak melalui perkataan dan perbuatan tapi rasanya dia tidak pernah menunjukkan sakit hati. Saya juga amat sangat demanding ke Nida selama urusan pernikahan, tapi seingat saya dia tidak pernah menghindar ketika saya minta tolong. Dia lebih siap dari Pak RT/RW yang hanya membatasi waktu laporan 2×24 jam.

Pengalaman mabok pertama saya, saksinya ya Nida. Dia terus mengangkat telepon saya dan mendengarkan setiap racauan hasil olahan alkohol dalam kepala yang saya lontarkan. Dan ketika saya tahu anjing saya, Blacky, terkena epilepsi, Nidalah orang pertama yang ada di kepala saya untuk saya beritahu.

Saya dan Nida juga pernah berjalan sejauh 7 KM di Kaliurang, Yogjakarta. Kami bercerita banyak hal dan tidak ada rasa kesal atau emosi selama jalan panjang itu. Kami justru merasa senang,banyak cerita yang dilontarkan dan isu-isu yang didiskusikan untuk menghabisi 7 KM tersebut. Dan si Nida tidak pernah menampilkan muka asem, dia malah sesekali bersenandung yang membuat saya ikut bernyanyi. Iya ini ‘bocah’ teman berpetualang yang sangat menyenangkan, lebih menyenangkan dari Dora the Explorer hihihihi.

Referensi pengalaman yang tersimpan dalam otak saya mengenai Nida, membuat saya nyaman sekali berbagi banyak hal dengan dia. Meski dia tidak berpikir untuk menikah tapi energi, kreativitas, antusiasme, dan kebahagiaan dia benar-benar tertuju pada pernikahan saya.

My dear Hanida Syafriani, thank you so much for being the most sweet bridesmaid for me. You not just sweet bridesmaid but also the best partner to drink a jug of margarita,well for you its baileys. I really can wait to finish this post and text you so you can read it.
I know your eyes corner will lock the tears to fall down and your lips will form a smile. Hihihihi you will miss me after that. And I know you want me to hug you and I will hear your heart running so fast. Like what i feel on the night before I said my wedding vow. I hug you tight with teary eyes, plus my heart playing a rock and roll song. I miss you after that. I do pray that night, saying thank you to the perfect Guru to bring you into my life.
Happy birthday kucing kesayanganku, sorry if this post is late, but I believe wishes never come in the last minute. My sincere pray to you dear, so you will have a very wonderful life celebration. Aku sayang Nida ;* *kiss and hug*

Advertisements

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s