Ini Budayaku, Mana Budayamu?

Standard

ImageSehari kemarin orang pada ribut ngomongin betapa (lagi-lagi) Malaysia sungguh keterlaluan untuk mengakui dan mencatat tarian Tor-Tor sebagai warisan budaya nasional mereka. Emosi meluap, cacian dilontarkan. Ada yang dengan semangat 45 mengekspresikan kepemilikan kebudyaan ini dengan cara menarik garis lurus tarian Tor-Tor dengan eksistensi suku batak di Indonesia. Lalu ada juga yang mengaitkan dengan nasionalisme, bahwa budaya asli ini sudah dikooptasi dan perlu dibebaskan dari pengakuan mana pun juga.

Ngga cuma itu, ada juga yang melihat bagaimana ini sudah menjadi ‘alat jual’ pariwisata yang cantik. Saat negara Malaysia berhasil meraih pundi-pundi wisatawan dengan mengakui dan mencatat beberapa budaya Indonesia sebagai pertunjukan budaya yang mereka tampilkan secara resmi, kita pun mencaci maki dan menelanjangi pemerintah bahwa lihat ini pencurian devisa negara.

Tapi seberapa dari kita yang sadar kalau proses pencatatan itu harus diawali dari sekelompok orang yang mendaftarkan kebudayaannya pada pemerintahan Malaysia. Begini maksud saya, untuk kasus Tarian Tor-Tor dan Gondang ini ternyata diketahui adalah Persatuan Halak Mandailing yang ada di Malaysia yang mendaftarkannya kepemerintah Malaysia, sesuai dengan Undang-Undang Warisan Nasional Malaysia. Tapi kita tetap saja panik setelah kebudayaan kita diakui dan dicatatan negara tetangga tapi sangat jarang menyaksikan atau menikmati produk-produk kebudayaan itu.

Menurut saya, hal menarik yang harus disadari adalah pemerintah Malaysia sudah sampai pada tahap sadar kebudayaan. Mereka bukan hanya mengakui, tapi mereka mencatatatkan. Mereka percaya urusan catat mencatat adalah modal ‘pembukuan’ budaya yang baik. Seberapa baik?

Coba mundurkan waktu ribuan tahun, bagaimana masyarakat purba melakukan ‘pembukuan’ budaya mereka pada dinding-dinding gua. Yup, itu ‘pembukuan’ budaya yang sangat primitif tapi lihat bagaimana dampaknya pada era modern saat ini. Kita pun kemudian mengklaim kalau hieroglif adalah sistem penulisan paling muktahir yang digunakan para manusia purba Mesir. Ini kemudian membuat kita lagi-lagi mengklaim betapa tinggi kebudayaan mereka saat itu.

Lihat betapa pentingnya sebuah ‘pembukuan’ budaya kan. Menurut saya sih, kalau ingin ngomel-ngomel, sampaikanlah omelan itu pada sekelompok orang yang mendaftarkan tarian Tor-Tor dan Gondang ke Warisan Nasional Malaysia. Tanya apa yang menjadi pertimbangan mereka untuk mendaftarkan. Saya rasa sih bukan sekadar diakui, tapi bisa membuat tarian Tor-Tor dan gondang ditampilkan lebih reguler di acara kebudayaan atau pariwisata yang ada di Malaysia. Ini juga membuat para seniman tradisional memiliki ‘nyawa’ tambahan untuk bertahan hidup.

Lalu di mana pemerintah kita? Akui saja, kebudayaan masih belum menjadi produk kesadaran berkebangsaan. Damn bahasa gua berat banget. Berkali-kali kita kebakaran jenggot karena produk kebudayaan kita diculik tetangga, tapi tidak pernah ada langkah konkret untuk menyelamatkannya (karena terminologinya kebudayaan diculik ya kebudaan diselamatkan).

Pemerintah kita juga masih hanya dalam tahap mengakui. Semua kebudayaan dibiarkan ada dan tumbuh subur karena itulah wujud pengakuan. Tapi berapa banyak yang kemudian didokumentasikan? Salah satu proses dokumentasi adalah melalui penelitian yang ilmiah, karena budaya berbicara mengenai tatanan kehidupan masyarakat yang kompleks perlu pisau keilmuan untuk mecatatkannya. Tapi lihat berapa banyak jurusan etnologi yang tetap bertahan di universitas-universitas negeri?

Jurusan yang berbau kedaerahan, kebudayaan, dan kesenian itu ngga seksi. Karena negara kita lebih butuh banyak politisi atau ahli ekonomi untuk sekadar berdebat apakah ini kebijakan neoliberal atau kerakyatan. Alhasil kebudayaan kita sebenarnya sudah tereliminasi dari ajang reality show mencari bentuk kebangsaan.

Dan kalau terus ditarik ke atas, proses eliminiasi itu semakin jelas. Seberapa banyak media yang bersedia bercuap-cuap sambil mengundang berbagai pakar ketika ada Pesta Danau Toba atau Karnaval Budaya Solo dan acara kebudayaan lainnya. Akui saja kalau space halaman atau durasi untuk memberitakan ini tidak banyak, kalau pun ada hanya 1/4 halaman atau beberapa menit saja dan dikategorikan sebagai berita hiburan. Cara kita mempersepsikan budaya memanng tidak seksi, tidak seseksi isu politik, ekonomi, atau hukum.

Saya bukan orang Batak yang sempurna, tapi percaya deh saya punya kebanggaan yang luar biasa menjadi orang Batak. Buat saya menjadi orang Batak, ngga cuman dilihat dari bersuara tinggi, keuletan tinggi, makan babi, atau gereja di HKBP. Budaya bicara lebih dari itu. Hal yang paling sederhana saja, apakah kita akan punya antusiasme yang tinggi untuk menonton Opera Batak ketimbang nonton film Hollywood di bioskop.

Saya sangat iri dengan mama dan bapa saya yang bisa menceritakan betapa serunya nonton Opera Batak di masa mereka masih menjadi anak-anak. Betapa irinya saya karena saat ini di kampung-kampung pun eksistensi Opera Batak tidak terlihat karena orang semakin jarang memanggil mereka untuk pentas. Dan kini ketika Rio Silaen berhasil menghidupkan kembali Opera Batak, bahkan mementaskannya di Australia, seberapa banyak diantara kita yang begitu antusias menyaksikannya seperti kita antusias mengantri tiket di bioskop yang memutar film-film Hollywood.

Ini masih tahap pengakuan dan pencatatan. Tahap ‘pembukuan’ budaya. Lalu apa iya kita perlu sepanik itu ketika ada pengakuan atau pencatatan yang dilakukan negara lain. Bukankah di masa di mana jarak antar negara begitu lentur bahkan cenderung borderless, produk-produk budaya menjadi begitu dinamis. Ngga usah nunggu sampai pertukaran informasi semasif sekarang dan biaya pesawat semurah sekarang, wong budaya Indonesia saja begitu dinamis hingga banyak pengaruh dari Arab, India, Belanda, Portugis, atau bahkan Jerman.

Lihat betapa orang Batak begitu luar biasa mengagungkan Nomensen karena berhasil mengkristenkan orang Batak yang akar kepercayaannya adalah animisme dan dinamisme. Bahkan konon katanya, kebiasaan kebaktian di malam tahun baru yang dilakukan orang Batak Toba adalah salah satu pencampuran budaya Jerman yang dibawa Nomensen. Di kebaktian malam tahun baru ini, seluruh anggota keluarga berhak mengkritik satu sama lain. Anak berhak mengkritik orang tua dan orang tua berhak mengkritik anak. Pesan egaliter ini adalah untuk menciptakan satu kesepakatan perbaikan relasi antar orang tua dan anak. Ini adalah salah satu kebiasaan yang saya banggakan dari orang Batak, memiliki momen untuk mengkritik satu sama lain tanpa melihat ‘jabatan’ di keluarga adalah kelebihan orang Batak untuk berbicara straight forward dengan nyawa evaluasi diri.

Dan bagaimana pun saya mengklaim ini budaya asli Batak, ketika teman-teman membaca tulisan saya dan kemudian tertarik untuk menerapkannya pada keluarga masing-masing, seberapa kuat saya mencegah itu agar kebudayaan saya tidak ‘dicuri’? Rasanya akan sangat susah sekali mencari budaya yang benar-benar asli karena manusia akan selalu mencari cara untuk bertahan hidup. Dan kadang kala bertahan hidup itu berarti berpindah-pindah tempat.

Sedinamis itulah kebudayaan, dia akan selalu ada di mana pun manusia berada. Karena dia bukan suatu benda mati yang hanya terus mengikuti bentuk dan wujudnya pertama kali. Dia akan berubah dan menemukan bentuk baru sesuai rumus kebertahanan yang ada.

Oke ini pertanyaan nyentil, gimana kalau yang mengakui atau mencatatkan tarian tor-tor itu pemerintah Amerika Serikat atau Jerman, atau Belanda, akankah kita sebegitu emosinya atau justru kita bangga? Mengapa bangga, karena itu berarti ada sekelompok orang Batak yang berhasil menempuh ribuan kilometer untuk tetap mempertahankan budayanya di negara asing dan kemudian mengembangkannya hingga kemudian disebut sebagai warisan budaya nasional.

Foto dari sini

Advertisements

One response »

  1. Pingback: Ini Budayaku, Mana Budayamu? « Why So Serious

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s