Jangan Hakimi Aku dari Penyakitku

Standard

Sebenarnya sudah lama saya mau nulis ini. Semenjak Ibu Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih diumumkan mengidap kanker paru-paru. Bagaimana kemudian orang mempolitisir status kesehatannya ketika itu, untuk urusan politik-politikan ini saya ngga mau menjebak dirilah. Tapi saya menjadi mendidih ketika mendengar orang berkomentar, “Lah menteri kesehatan kok bisa kena kanker?” Pengen banget jawab komentar itu dengan ucapan ini, “Terus yang boleh kena kanker siape, pemulung atau koruptor?” Please deh, penyakit itu ngga pernah milih-milih.

Emosi saya memuncak ketika itu. Saya inget banget melontarkan semua kekesalan itu pada Jendral Blogger ketika dia ‘turun gunung’ ke Jakarta hehehe. Tapi saya juga sadar, betapa masyarakat kita masih kurang peka mengenai penyakit dan segala penyebabnya. Dan sebenarnya, masyarakat kita juga sangat mudah mengaitkan sesuatu hal pada status sosial yang kemudian merujuk pada stigmasasi, pelabelan. Salah satu penyakit yang juga sering dilabelisasi adalah HIV/AIDS.

Penyakit ini sering dikategorikan sebagai penyakit akibat pergaulan bebas. Alhasil mereka yang tampilannya jauh dari pergaulan bebas akan diasumsikan aman dari penularannya. Ingat kasus public figure yang kirim surat terbuka ke menkoinfo kita? Betapa ini kemudian menjadi ramai dibicarakan. Ada yang pro sama si public figur dan tentu ada yang pro juga ke menkoinfo yang hobi berpantun itu.

Sebenarnya setiap penyakit punya faktor pemicu yang kemudian menjadikan kualitas hidup seseorang menurun. Khusus untuk kanker yang diidap almarhumah ibu menteri, orang kemudian mengaitkan faktor pemicu seperti merokok atau gaya hidup ibu menteri yang dapat tugas mengurusi kesehatan seluruh orang di Indonesia. Tapi pengaitannya berbau penghakiman, si ibu pasti ngga sehat deh hidupnya. Kita lupa ada faktor eksternal dari terjadinya suatu penyakit, yaitu lingkungan.

Belakangan diketahui makin banyak pengidap kanker paru atau gangguan paru yang bukanlah perokok aktif. Bahkan tercatat ada sekitar 600 ribu perokok aktif meninggal dunia akibat masalah pada paru-parunya. Angka 600 ribu itu adalah untuk wilayah dunia yang 40 persen diantaranya adalah anak-anak! Ini artinya, faktor eksternal juga sangat berpengaruh pada kualitas hidup seseorang.

Jadi, ketika seseorang didiagnosa kanker, katakanlah kanker paru seperti almarhumah ibu menteri kesehatan itu, jangan buru-buru bilang pasti si pasien menjalani hidup tidak sehat. Lagian ya, mengidap suatu penyakit, mau yang ringan, kronis, atau akut, bukanlah hal yang menyenangkan, lantas kenapa mereka harus dituduh. Saya membayangkan kalau itu terjadi pada saya. Saya yang tidak merokok ini kemudian didiagnosa kanker paru, dan masih harus dituduh karena saya berhubungan intim dengan tembakau yang dilinting itu. Apa susahnya sih memberikan dukungan simpatik pada para pasien, karena percaya deh mereka harus menjalani proses pengobatan yang panjang untuk menekan pertumbuhan sel yang tidak wajar di dalam tubuh mereka. Mereka harus berjuang untuk hidup, apa susahnya untuk memberikan sedikit dorongan moral agar mereka memenangkan pertarungan.

Dan sialnya, ketika almarhumah ibu menteri menghembuskan napas terakhir, masih ada saja satu dan dua orang yang berkomentar demikian. “Masa dokter yang juga menteri kesehatan itu ngga tau kalau dia kena kanker.” Ah kanker itu adalah silent killer, dia tiba-tiba ada dan ketika dikenali stadiumnya sudah lanjut. Ya karena pembelahan sel yang tidak wajar itu biasanya terjadi pada organ-organ yang tak kasat mata. Khusus untuk kanker paru, gejalanya akan sangat sulit sekali terdeteksi. Karena organnya di dalam dengan lapisan paru-paru yang banyak.

Yang saya tahu, kanker paru tidak bisa dilakukan operasi pengangkatan karena ngga mungkin dokter “membongkar” paru-paru. Organ ini terlalu kompleks dengan fungsi yang sangat vital. Maka yang dilakukan adalah kemoterapi di mana pada perkembangan dunia kedokteran sekarang, kemoterapi ada yang melalui pembuluh vena yang kemudian menyebabkan obat kemoterapi yang mematikan semua sel termasuk sel sehat itu ikut mengalir ke seluruh tubuh. Tapi sekarang juga tengah dikembangkan kemoterapi lokal yang bisa mengarah langsung ke sel kanker. Lihat bagaimana saya menjelaskan ini, begitu kompleks dan menyakitkan, lantas kenapa kita masih suka menghakimi orang yang sedang berjuang untuk hidup?

Dan karena saya tidak tahan, maka saya menjawab pernyataan judgemental itu dengan kata-kata nyinyir. “Kanker itu ngga kenal status, mau kaya mau miskin, mau menteri mau rakyat jelata, mereka punya peluang untuk terkena kanker.” Lantas apakah ini berarti kita menjadi perokok aktif aja? Jika ada yang menyimpulkan demikian yang dapat saya lakukan adalah berdoa dalam hati semoga dia lebih punya kesadaran untuk menghargai tubuhnya….*nyinyir tingkat tinggi*

Sedangkan untuk HIV/AIDS, sebenarnya untuk kasus public figure dan menteri itu, saya melihat keduanya kurang tepat dalam menyampaikan pendapatnya. Si menteri kurang berani bicara terbuka sehingga menggunakan kata itunya pada kata Akibat Itunya Dipakai Sembarangan (AIDS). Buat saya, sebagai orang yang mencintai isu kesehatan, bicaranya harus jelas kalau ingin mengedukasi mengenai penyakit. Karena hidup sehat itu mengenai membangun kesadaran, bukan berbicara sopan.

Penggunaan kata ‘itunya’ menjadi sangat bias jika dipakai dalam nuansa penyuluhan. Mari kita lihat, bapak menteri itu melemparkan istilah baru bertujuan untuk mengingatkan follower-nya kan untuk tidak melakukan hubungan seksual tidak sehat. Apa susahnya menggunakan kata, jangan berhubungan seksual secara sembarangan ya? Ya bapak menteri itu memang tidak terbiasa berbicara dengan diksi seperti itu karena ya dia kan latar belakangnya dari partai yang akrab dengan identitas agama tertentu. Tapi ya agar konteksnya jelas dan pesannya tertangkap dengan utuh, ngga bakal terlihat murtad kok menurut saya kalau dia menyebutkan hubungan seksual ketimbang ‘itunya’.

Sama seperti bagaimana kita menabukan menyebut vagina atau penis pada anak kecil. Padahal pengantian sebutan seperti burung untuk alat kelamin laki-laki dan dompet untuk alat kelamin perempuan, akan berpotensi penyimpangan pemaknaan serta membuat anak-anak melihat alat kelaminnya sebagai benda asing. Persepsi sebagai benda asing inilah yang kemudian membuat anak-anak tidak punya rasa memiliki terhadap tubuhnya, padahal rasa memiliki bisa merujuk pada tanggung jawab untuk menjaga dan menghargai tubuh. Tujuannya seseorang perlu menghargai tubuhnya, dengan begitu tidak mudah diperdaya dengan buaian manis berhubungan seksual dengan siapa saja. Inilah yang nantinya menciptakan rantai berhubungan seksual secara sehat dan menekan angka penyebaran HIV/AIDS.

Sedangkan untuk public figure, saya kurang setuju dengan pernyataan dia yang menyebutkan dalam surat terbukanya bahwa penularan HIV/AIDS terbesar adalah dari jarum suntik. Bahwa ada banyak anak perawan yang tertular HIV/AIDS dari jarum suntik. Ini menjadi sedikit kabur karena seolah-olah mengeliminir fakta adanya penularan secara hubungan seksual. Bahwa penggunaan jarum suntik bergantian pada pengguna narkoba menjadi lebih rentan untuk menularkan HIV/AIDS karena jarum suntik yang tidak steril bisa membawa virus dari percikan darah yang menempel pada jarum suntik. Di sinilah rantai penularan terjadi, plus pada para pengguna narkoba jarum suntik, menggunakan jarum suntik baru sangat tidak mungkin, selain mahal, biasanya mereka sudah dalam keadaan tidak sadar atau sakaw ketika menusukkan jarum suntik bekas itu ke dalam tubuhnya. Jadi, boro-boro ganti jarum, mencoba sadar aja udah susah.

Dan kalau kita mau ingat bagaimana rumus pencegahan HIV/AIDS berlaku disecara umum adalah A (abstinence) atau jangan melakukan hubungan seksual, B (be faithful) setialah pada satu pasangan, C (condom) gunakan kondom, D (drugs) jangan pake narkoba. Jika dilihat dari urutannya, hubungan seksual menjadi nafas dari penularan HIV/AIDS. Mengapa? Karena virus sangat mudah ditransfer melalui cairan tubuh dan ketika berhubungan seksual dipastikan terjadi pertukaran cairan tubuh. Itu mengapa, kita diminta mengetahui risikonya kalau berhubungan seksual secara acak atau berhubungan seksual tanpa menggunakan kondom.

Tapi saya juga mengerti kok maksudnya public figure itu keberatan dengan penggunaan ‘itunya dengan sembarangan’ yang dilakukan pak menteri. Tujuannya untuk menekan labelisasi masyarakat terhadap penyakit ini, bahwa orang yang kena HIV/AIDS bukan serta merta dikaitkan sebagai pelaku hubungan seksual tidak sehat (saya lebih suka menggunakan istilah hubungan seksual tidak sehat ketimbang seks bebas), karena harus tetap diingat betapa seseorang bisa terkena HIV/AIDS karena ada orang lain yang membawa virus yang kemudian tertransfer ke dalam tubuh.

Sebenarnya dengan melabelisasi orang akibat penyakit yang diidapnya tidaklah membuat orang itu berkurang bebannya dalam menghadapi proses pengobatan dan penyembuhan. Bisa jadi malah memberatkan proses penyembuhan karena kemudian pengidap penyakit menjadi enggan memeriksakan diri ke dokter dan mendapatkan pengobatan yang layak, alhasil rantai penularan semakin panjang.

Jadi mari kenali agar peduli. Dan mari peduli agar tidak membuat kita ‘tuhan-tuhan’ baru atas status kesehatan seseorang. Percaya deh, labelisasi tidak akan pernah memotivasi mereka yang tengah berjuang untuk kualitas hidup yang lebih baik.  Dan rasanya memiliki sedikit rasa empati tidak akan merugikan siapapun kan ya 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s