Beginilah Rasanya Jadi Pembicara, Deg-degan Cyyynnnn….

Standard

Dulu sewaktu bermimpi menerbitkan buku sendiri, saya pasang target, pokoknya buku pertama ngga boleh terbit di atas umur 30. Lalu bagaimana Sang Pemilik Hidup mempersepsikan mimpi saya? Buku pertama saya terbit, pas ketika hari lahir saya diperingati untuk yang ke-30 kalinya.

Masih ketika merajut impian, saya tidak pernah membayangkan saya harus bercerita mengenai isi buku saya di depan banyak orang. Well, saat mimpi itu berubah menjadi ide yang diwujudkan, saya hanya berpikir bagaimana membuat buku saya bisa seperti apa yang saya inginkan. Soal harus mempromosikannya, memikirkan bagaimana biar penjualannya naik, serta bagaimana bercerita mengenai isi bukunya, terus terang saya tidak terlalu memusingkannya. Kenaifan saya untuk memiliki buku bermuara pada kata-kata ini, “I want to started now,Β yang penting terbitin bukunya dulu.” Iya saya berpikir, masalah promosi itu urusan penerbit dan mereka sudah cukup ahli untuk itu.

Tapi namanya penulis pemula, belum bisa dikasih privilege banyak-banyak. Masih mending bukunya diterbitin kan πŸ˜€ Tapi kondisi ini membuat saya terus berpikir, gimana niat saya untuk menampilkan sisi menyenangkan mengenai hidup sehat bisa dibaca banyak orang kalau bukunya kaga ada yang beli.

And what the ‘Universe’ do to help me?

Sang Pemilik Hidup mempertemukan saya dengan banyak kesempatan menyenangkan. Dua hari setelah buku saya beredar di toko-toko buku, salah seorang teman kantor saya yang menjadi digital strategist untuk website Tabloid Nova, mengajak saya menjadi pembicara di acara kopdaran mereka dengan member-member loyalnya. Saya…kaget luar biasa, karena website ini bisa dibilang website perempuan bergensi, karena traffic mereka yang luar biasa menurut Google Analytic.

Tapi percaya deh, meski cerewet begini, saya belum pernah punya pengalaman untuk ngomong di depan banyak orang. Jika sebelumnya pekerjaan saya menuntut saya mendengarkan penjelasan dan pernyataan dari para ahli atau narasumber, setelah itu membuat pertanyaan yang bisa bikin narasumbernya mempertanggungjawabkan presentasinya. Jeng..jeng..jeng…kali ini posisinya di balik ya Priska, kamu jadi pembicara dan mempertanggungjawabkan isi buku dengan siap menjawab pertanyaan apa saja yang diajukan.

Hahahahaha…saya sampai tegang luar biasa membayangkan saya harus cuap-cuap di depan pembaca setia tabloid Nova. Ketika itu, teman yang mengajak saya bilang, “Ah tenang Mba, cuman 30-an orang kok yang datang. Santai acaranya, kopdaran biasa.” Mau tau reaksi saya? “What 30 orang, bow kalau setiap orang ngasih pertanyaan, it’s mean i have to prepare at least 30 answers kan?” Bayangin harus berapa banyak amunisi saya siapkan untuk itu.

Meski tegang luar biasa, tapi saya tidak berhenti bersyukur. Inget cerita saya di atas, saya hanya minta punya buku sebelum 30 tahun, dan saya diberi lebih dari yang saya minta. Akhirnya saya berpikir, bertanggungjawablah atas apa yang kamu minta. Oke, ayo kita hadapin ini dengan relaks biar bisa menghadapi ibu-ibu itu seperti saya tengah bercerita dengan teman-teman saya.

Maka tibalah momennya, saya berdiri di depan peserta yang hadir, diperkenalkan sebagai penulis buku (ada rasa senang menyusup ketika itu hahaha). MC yang adalah teman yang mengundang saya sebagai pembicara membuka sesi dengan santai hingga membuat saya benar-benar rileks. Konsep acara Talk Show membuat saya bisa tetap menyelipkan gaya bicara para pembicara tabloid Nova, untung pekerjaan saya sekarang mengharuskan saya membaca karakter pembaca tabloid ini. Akhirnya talk show berlangsung sangat cair, sampai kemudian tibalah sesi tanya jawab. Saya mikir dalam hati,bijimane kalau gua kaga bisa jawab pertanyaanya nih. This is my first book promotion, I have to make good impression. Have to!

Yang bisa menenangkan saya adalah, saya percaya kesempatan ini datang bukan karena kebetulan. Saya diberi kepercayaan untuk menghadapi setiap momen yang menghampiri saya, mari buktikan kepercayaan ini tidak akan sia-sia. Hasilnya, mereka memberikan pertanyaan yang bisa saya jawab dengan baik. Saya luar biasa bersyukur untuk kesempatan ini dan senangnya bukan kepalang.

Tapi ternyata tanggung jawab saya tidak cukup sampai di situ. Beberapa waktu berselang, salah seorang kakak angkatan saya di kampus menyampaikan pesan di smartphone saya. “Neng, aku mau dong wawancara kamu mengenai bukumu. Mau ya, untuk tayang live jam 7 pagi di Kompas TV.” Saya yang sedikit mengantuk di dalam bus transjakarta setelah seharian bekerja dan sedikit melepas penat dengan bertemu sang kekasih, mengalami shock singkat. Saya baca pesannya berkali-kali, i even pinch my self.

Live di televisi yang pemancar siarnya ke seluruh Indonesia, itu artinya penjelasan dan jawaban saya akan didengar seluruh orang di Indonesia! Jantung saya semakin centil loncat-loncat. Lagi-lagi, setiap mimpi bukan hanya menuntut perjuangan untuk diwujudkan tapi juga menyertakan tanggung jawab untuk menjadikannya realitas yang indah. So i have to responsible for what i dream of. Dengan segala kerendahan hati dan keyakinan untuk menikmati momen yang menghampiri, saya menyanggupi tawaran itu.

Tapi tetep bow, eike deg-degan 2 hari 2 malam hahahahaha. Saya malah nyaris tidak bisa tidur malam sebelum saya diwawancara di telivisi Kompas, norak ya…well kataya pengalaman pertama emang bikin norak…berarti saya normal hahahaha. Tau apa yang lebih heboh dari jantung deg-degan dan kaga bisa tidur? Saya dianter oleh mama dan 2 saudara laki-laki saya, iya nyaris satu keluarga nemenin saya ke telivisi yang kantornya di daerah Palmerah itu. Ngga cuman itu, mama saya di detik-detik mendekati live, masih sempat mengirimkan SMS ke saudara-saudara untuk menyaksikan saya diwawancara di ‘kotak ajaib’ bernama televisi itu. Haahahahaa mirip cerita di sinetron atau reality show yang pertama kali liat anaknya masuk tipi.

Saya punya kelemahan ketika berbicara di depan umum. Ada momen di awal wawancara, akan ada sesi suara saya seperti tercekat karena jantung yang deg-degan tidak membuat pita suara dan tenggorokan bekerja dengan rileks, akhirnya suara saya kaya nyangkut di pohon mangga hahahaha. Tapi setelah itu saya justru akan lebih rileks, terlebih dokter yang memberikan kata pengantar di buku saya sangat menyemangati. Dokter Handrawan Nadesul namanya, orang yang dulu pernah saya wawancara untuk dijadikan profil karena dia dokter tanpa spesialisasi tapi punya pengetahuan yang luar biasa berlimpah mengenai berbagai jenis masalah kesehatan. Dokter ini produktif nulis juga, sampai saat selesai wawancara ketika itu, kita bertukar cerita mengenai cita-cita, beliau memberikan saya bertumpuk-tumpuk bukunya untuk menyemangati. “Kalau saya bisa, kamu lebih dari bisa!”

Dan dokter yang baik hati ini ketika saya bilang saya deg-degan, dia menenangkan saya luar biasa. Sesi wawancara pun berjalan lancar, saya dan dokter Hans, demikian beliau biasa disapa, bisa saling melengkapi jawaban agar orang semakin tergerak untuk hidup sehat. Selesai wawancara, saya berpikir, begini toh rasanya masuk tipi hahahaha.

Lalu tebak apa yang menghampiri saya (lagi) setelah itu? Bagian promosi dan marketing dari penerbit buku saya menelepon saya untuk bilang, saya akan diwawancara Kompas TV, tapi kali ini direkam karena baru akan tayang 11 Mei. Saya setengah tidak percaya karena saya berpikir, bukannya gua baru diwawancara ya? Sang Pemilik Hidup luar biasa memberikan saya banyak bala bantuan untuk perayaan penerbitan buku pertama ini.

Maka hadirlah saya (kembali) di Kompas TV. Kali ini saya mendapat briefing singkat karena acaranya tidak bersifat berita, melainkan feature review buku. Dengan setting toko buku Gramedia, saya melakukan sesi syuting televisi pertama saya. Ah…rasanya luar biasa menengangkan tapi luar biasa menyenangkan πŸ˜€

Saya merasakan bagaimana kamera person mengucapkan, “Oke, kamera berputar dan beraksi.” Hihihihih emang sih saya tidak lantas jadi pemain film ketika mendengar kata-kata itu, tapi ya minimal saya merasakan gimana deg-degannya disorot 2 kamera dengan berbagai lampu yang mengelilingi. Pengalaman yang saya ingat dari sesi wawancara kali ini adalah, saat host melemparkan pertanyaan pertama dan saya coba menjawabnya, floor director akan meng-cut saya. “Oke, cut…” Hahahaha muka saya terlihat tegang karena saya pikir saya terlalu cepat membuka mulut, sampai-sampai floor director-nya bilang, “tahan bentar jawabannya ya Mba. Nanti kameranya pindah ke yang kamera ini,” sambil kamera person sedikit bergerak mencari posisi yang nyaman.

Ah life not just beautiful….is beyond beautiful…it’s Great. Life has been great to me. Dengan segala kerendahan hati, saya akan lebih dari sekadar menikmati, saya akan merayakan setiap hal yang menghampiri hidup dengan tanggung jawab untuk mensyukurinya. Kali ini saya dipercaya untuk belajar menjadi pembicara, mudah-mudahan ini akan semakin menguatkan kemampuan saya untuk bisa berbagi banyak informasi, pengalaman, dan cerita, kepada banyak orang. Karena skill bercerita ini akan menjadi begitu menyenangkan jika dibagikan ke banyak orang, hope i’ll be able to do that πŸ˜€

Mmm…sekadar berbagi saja, kebetulan salah satu sepupu saya merekam sesi live di Kompas TV waktu itu. Yang penasaran mau lihat saya kalau ditipi kaya mana, yuk kite nonton bareng-bareng hihihihihi

ps: kalau denger suara laki-laki menyusup, itu suara sepupu saya yang ngerekam hihihihi…maapkan, maklum ngerekam dari hape kayanya doi πŸ˜€

In the end, selamat merayakan hidup teman-teman. Ayo wujudkan mimpi dan jangan lupa bertanggung jawab ketika mimpi itu jadi realita. Tanggung jawabnya ngga ribet, cukup bersyukur dan menikmatinya dengan sempurna, plus nyengir lebar biar tambah manis πŸ˜€ *peluk beruang untuk kalian semua*

Advertisements

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s