Obituary from Pakistan

Standard

Menjadi seorang wartawan atau jurnalis bukanlah tanpa risiko. Tidak tanggung-tanggung, taruhannya bisa nyawa. Tapi dulu, ketika saya memilih jurusan Jurnalistik sebagai bidang studi yang saya dalami di bangku kuliah, saya berpikir risiko itu bisa saya terima. Bahkan saya ingat betul pada saat mendapat tugas menulis kenapa saya mau jadi jurnalis, saya menjadikan Udin Wartawan Bernas sebagai pembuka tulisan saya.

Iya, Udin Wartawan Bernas, dibunuh karena tulisannya yang kritis pada pemerintah daerah setempat. Sampai sekarang, tidak ada yang bertanggung jawab atas perampasan hidup Udin. Tapi yang saya lihat, tugas Udin sebagai jurnalis begitu dekat dengan masyarakat. Dia menyuarakan perjuangan hidup mereka yang tertindas dengan lantang. Meski berupa barisan kata, tulisan itu efektif menyiutkan nyali penguasa. Penguasa yang terpojok pun merasa butuh ‘menutup mulut’ Udin.

Satu nyawa hilang. Seorang anak harus hidup tanpa ayah dan seorang isteri harus membesarkan anaknya tanpa rekan sejiwanya. Perampasan hidup itu tidak pernah adil bagi siapa pun, bukan hanya bagi wartawan yang risiko pekerjannya begitu dekat dengan pembunuhan.Dan di Kamis (19/4) kemarin, saya mendapati kabar, seorang teman jurnalis saya mati dibunuh karena dia begitu liberal dan kritis mengomentari siapapun yang hendak mengacak-acak Pakistan, tempat dia lahir dan hidup. Saya nyaris tidak percaya, karena siapa yang siap mendengar kabar seseorang yang pernah kita kenal harus meregang nyawa ditangan penculik yang menyekap dan merampas hidupnya.

Membaca beritanya, tiba-tiba membawa saya pada saat saya bertemu dengan dia. Bagi saya, mengingat hal-hal baik dari seseorang yang kita kenal adalah sangat mudah dilakukan. Terlebih ketika orang itu memiliki karakter yang baik, hangat, dan begitu ramah. Saya ingat bagaimana dia sering bernyanyi lagu-lagu Pakistan. Ada satu artis wanita Pakistan yang selalu dia agung-agungkan, meski saya tidak mengerti sebait pun dari lagunya, tapi cara dia bernyanyi dan menari membuat saya melihat Pakistan yang menyenangkan. Pakistan yang penuh tarian, tawa, dan nyanyian. Ah menyenangkan.

Belum lagi dia begitu jago sekali memasak. Dia akan memasak untuk semua teman-temannya yang menjadi satu angkatannya dalam fellowship jurnalis. Saya yang adalah tamu, bahkan merasa begitu diterima olehnya. Dan ketika mengetahui isterinya suka memakai anting, saya pun memberikan anting dari Bali yang kebetulan baru saya beli.

Murtaza Razvi namanya, orang yang punya aura positif sesaat kita berkenalan. Dan ketika saya membaca berita bagaimana dia disekap dan ditawan, hingga kemudian hidupnya dirampas, jantung saya berdegup begitu kencang. Takutkah dia ketika itu? Bagaimana dia menghadapi para penculiknya? Saya kemudian teringat pada ketiga puterinya yang masih kecil-kecil dan isterinya yang begitu dia cintai, bagaimana mereka mendapati berita ini. Perampasan hidup dari orang yang amat kita cintai pastilah akan membuat dunia runtuh seketika.

Berita itu membuat saya semalaman tidak berhenti mengingat bagaimana sosoknya. Bahkan keesokan harinya saya masih menceritakan tentang dia ke teman saya. Bagian yang saya ceritakan selalu tentang bagaimana dia begitu hangat, ramah, dan lucu. Saya tidak bisa membayangkan dia harus ditutup matanya, diancam dan dibunuh. Benar-benar berita yang menguras emosi dan membuat saya kehabisan kata-kata.

Kembali saya diingatkan akan adanya sisi risiko pada setiap pekerjaan. Kebetulan saja pekerjaan menjadi seorang jurnalis, terutama jurnalis yang bersentuhan dengan isu-isu politik atau mungkin hukum, akan sangat dekat dengan ancaman. Ancaman bisa macam-macam, mulai dari ancaman somasi, pesan berantai, sampai pembunuhan.Tapi sebuah pemikiran tak akan pernah berhenti dengan perampasan kehidupan. Sama dengan efek dari berbuat baik tidak akan pernah berhenti hanya pada satu orang.

Saya percaya apa yang dituliskan Murtaza adalah menuju pada situasi Pakistan yang lebih baik. Tulisannya yang kritis bukan untuk menimbulkan kontroversi tapi karena dia begitu mencintai tanah di mana dia dilahirkan. Hidup adalah mengenai pilihan dan dia memilih untuk mencintai tanah kelahirannya sampai titik darah penghabisan.

Dan hanya ini yang bisa saya tuliskan pada timeline facebook-nya :

Dear Murtaza, you are one of the warmest person I ever meet and I believe your positive charm will rest your soul in love.My deepest condolence for the family, please accept my sincere pray for all of you.God will surround your wife and daughter with pure love from friends and colleague. Thank you so much for the opportunity to knowing you.
Advertisements

2 responses »

  1. makasih cantik πŸ˜€ Aku yang beruntung, dikasih kesempatan untuk bertemu dan menangkap semangat mereka. They are great women, walau harus menghadapi berbagai pengobatan yang panjang dan melelahkan, semangatnya masih banyak. Hidup begitu berharga untuk dibiarkan berlalu tanpa perlawanan menghadapi kanker…dan aku (kembali) menemukan kalau hidup itu emang perayaan….Ini tagline-ku yang selalu efektif bikin semangat hihihi Mari kita rayakan hidup πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s