Made in China

Standard

Keberuntungan tengah berpihak kepada saya, sebuah undangan meliput rumah sakit kanker di Guangzhou, China, dipercayakan kepada saya. Senang, sudah pasti, tapi pelan-pelan saya gugup karena saya selalu percaya ada sebuah tanggung jawab dari sebuah penugasan kantor hehehe. Tapi ya sudahlah dihadapin aja, mari kita telan bulat-bulat Guangzhou yang merupakan kota industri itu.

Perjalanan 6 jam di dalam burung besi ternyata cukup menjemukan, saya sampai bertanya dulu pas ke Jerman yang 16 jam bisa dilalui dengan baik, cape sih tapi ngga sampai merasa jemu. Mungkin karena pesawat yang digunakan tidak sebesar KLM maka kerasa sumpek dan melelahkan. Alesan

Dan mendaratlah saya di Guangzhou Baiyun International Airport. Pemandangannya beda jauh dengan Jakarta, sisa-sisa musim dingin masih berhembus di Guangzhou. Saat itu saya sudah menyiapkan jaket untuk mengantisipasi yang katanya suhunya mencapai 18 derajat Celsius. Tapi ternyata dihari pertama mendarat itu suhunya 25 derajat, amanlah.

Sebagai tamu undangan, saya dengan beberapa teman jurnalis lainnya disambut oleh penyelanggara acara. Jadi sebuah rumah sakit kanker terkenal di Guangzhou, FUDA Tianhe Cancer Hospital, mengundang beberapa jurnalis dari seluruh dunia untuk menghadiri peresmian gedung baru mereka. Kehebatan rumah sakit swasta China ini adalah mereka punya metode Cryosurgery, yaitu mematikan sel kanker langsung ke pusatnya dengan cara mendinginkan sel-sel kanker pada suhu yang sangat ekstrim, minus 150 derajat Celsius. Pada suhu itu sel kanker mati karena tidak mendapat oksigen, plus dia mengerucut. Inilah yang kemudian membuat angka bertahan hidup pengidap kanker bisa bertambah panjang.

Tapi saya tidak mau cerita panjang lebar soal terapi itu karena blog saya tidak dibayar untuk itu hahaha. Jadi saya akan bercerita hal-hal unik yang menarik perhatian saya selama 6 hari di Guangzhou, China. Beginilah hasil pengamatan saya ๐Ÿ˜€

Kami disambut dengan penuh senyum oleh seorang laki-laki dan perempuan. Pada awalnya saya mengira mereka adalah guide yang hanya diperintahkan menjemput dan mengantarkan kami ke hotel, ternyata yang laki-laki adalah dokter bedah dan yang perempuan adalah orang yang merupakan perwakilan rumah sakit itu untuk wilayah Jakarta. Khusus untuk dokter bedahnya, percaya deh dia adalah tuan rumah yang luar biasa ramah. Dia mau banget untuk mengangkat koper-koper kita, memastikan kita makan dengan kenyang dengan cara memesan semua makanan dalam porsi banyak, dan membantu kita untuk mendapat semua informasi yang kita butuhkan.

Bahkan setiap kali di restoran, dia akan sedikit memerintah para pelayan restoran untuk mengeluarkan semua makanan agar meja makannya penuh dan dia tidak dilabeli sebagai tuan rumah yang pelit. Saya dapat info ini dari seorang rekan jurnalis yang memang bisa bahasa Mandarin. “Dokternya bilang ke pelayannya, eh makanannya mana, jangan sampe mereka mikir saya pelit karena makanannya cuman segini,” ucap teman saya itu menirukan yang diomongi dokter Zhengping Liu.

Masih menurut teman saya yang memang punya darah keturunan Tionghoa, dalam kebudayaan orang China adalah wajib hukumnya untuk selalu memastikan tamu mereka dalam keadaan kenyang kalau perlu sampai KEKENYANGAN! Itu adalah cara mereka menghargai kesediaan tamunya untuk bertandang. Tak hanya itu, di awal-awal yang akan dikeluarkan oleh mereka adalah menu sayur, ikan, atau daging yang lezat-lezat dan mahal. Tujuannya untuk menampilkan kelas sosial dari si penggundang. Baru di saat semua lauk-pauk itu tidak berhasil mengenyangkan maka dikeluarkanlah mie dan nasi. Jadi ya teman-teman setanah air, nasi itu adalah menu makanan yang menempatkan kasta terendah di meja makan orang China hahahaha.

Tapi ya buat saya bumbu masakan di China masih kurang ‘nampol’ dibanding di Indonesia. Rasanya cenderung gantung, asin ngga, manis ngga, ya flat aja gitu. Dari sekian banyak restoran yang didatangi, hanya di restoran pada H-1 sebelum kepulangan yang memuaskan kami semua. Restoran yang terletak di bawah kantor Konsulat Indonesia inilah yang benar-benar memanjakan lidah kami semua. Di restoran ini saya akhirnya merasakan olahan babi kecap made in China. Rasanya? Luar biasa nikmat, saya sampai nambah berkali-kali hahahaha. Apalagi ketika kami ditawari untuk menikmati kerang yang dimasak dengan butter, ah kerang besar yang dalam slurupan bisa memuaskan segala sensasi rasa yang bertengger di lidah.

Sebenarnya sangat disayangkan di negara yang terkenal akan kemampuannya mengolah babi, saya hanya makan babi sekali di sana. Ini karena pengundang ingin membuat kami semua nyaman, terutama teman-teman yang muslim, takut dikira Guangzhou bukan tempat yang aman untuk menikmati kuliner. Alhasil pengundang pun membawa kami ke tempat-tempat yang netral. Bahkan kami diajak makan di restoran China yang halal, namanya Abdullah Restorant.

Percaya deh, mereka orang China asli yang memang memeluk agama Islam. Selain orang timur tengah, yang sering berkunjung ke restoran ini adalah dari Malaysia dan tentu saja Indonesia. Saya sangat takjub melihat para pelayanan perempuan di restoran ini yang memadukan baju bernuansa China dengan kerudung, cantik sekali. Saking noraknya, kita sampai foto dengan salah satu pelayan di sana. Well they said no pic is hoax, so…

Ok cukup soal makanan, mari kita bahas hal lain. TRANSPORTASI!! Yup transportasi di Guangzhou nuansanya mirip seperti di Eropa. Bis, trem, MRT yang rapih, bersih, nyaman, dan aman beroperasi selama 24 jam membuat saya iri. Maklum saya ini pengguna kendaraan umum kelas akut, karena beli mobil belum mampu dan naik motor kaga bisa jadi pilihannya kalau ngga trans jakarta, taksi, bajaj, ya ojek. Maka jangan tanyakan betapa saya mengutuki pemerintah kita soal transportasi ketika sampai di Guangzhou.

Guangzhou itu adalah kota yang merupakan bagian dari Provinsi Guangdong, mau tau berapa total orang yang ada di provinsi itu 115 juta dan sistem transportasi yang rapih adalah ‘penyelamat’ bagi ratusan juta orang itu. Lah kita yang orangnya lebih sedikit dari China masa kaga lulus-lulus ngatur transportasi untuk memperlancar pertumbuhan ekonomi. Bener loh transportasi yang nyaman dan aman akan membuat orang bebas melakukan aktivitas ekonominya, di sana mall-nya tutup jam 10 ke atas di saat week days. Kalau di sini, pulang jam 9 atau 10 malem aja ancamannya selain jumlah angkutan umum yang berkurang adalah teror perkosaan yang ngga abis-abis.

Sebagai orang yang hobi nongkrong dengan teman-teman saya di malam hari, menginginkan transportasi yang beroperasi 24 jam dengan tingkat kenyamanan dan keamanan yang baik adalah harapan terbesar. Tapi pejabat kita asik-asik korupsi, malah ketika saya cerita soal transportasi ini ke salah seorang sahabat saya, dia bilang, “Lu tahu kenapa di Indonesia lebih gampang bangung jalan tol ketimbang banyakin gerbong commuter line? Karena kalau jalan tol banyak, mobil banyak ini artinya jatah pejabat itu untuk dapat commitment fee dari penambahan armada bisa mulus.” Ini diucapkan dari sahabat saya yang adalah editor dari salah satu website berita terkenal di Indonesia. Saya ekspresinya cuman, KAMPRET lah.

Mau tau yang lebih bikin nyesek, di Guangzhou itu tidak diperbolehkan ada motor. Jadi bayangkan rapinya jalanan di sana. Saya buka anti dengan pengendara motor, tapi sorry to say, pengendara motor di Jakarta itu tidak pernah menghargai pejalan kaki seperti saya. Jalan di atas trotoar dengan santai dan menerobos orang yang menyebrang di zebra cross. Ini tentu menjadi catatan tidak harmonis antara saya dengan pengendara motor. Maka ketika melihat di sana tidak ada motor rasanya takjub. Tapi bukankah China juga memproduksi motor? Kemanakah motor-motor itu di jual?

Oiya saat saya di sana, beritanya lagi ramai membicarakan salah satu pejabat mereka yang diindikasikan menerima traktiran dari seorang pengusaha. Berita itu diberitakan dengan sangat tendinsius, bersifat membuat malu si pejabatnya. Maklum di sana kalau ketauan korupsi bakal dihukum mati dan keluarganya dibuat miskin. Pada satu titik, kadang bisa juga dipercaya bahwa otoriter itu diperlukan untuk China mengingat orang yang diaturnya banyak. Tapi apa iya kestabilan sebuah negara ditentukan dari seberapa otoriter si penguasa? Saya sih percaya kedisplinan itu penting, apalagi untuk hal-hal yang prinsip seperti korupsi. Efek jera dan malu tidak hanya menyerang psikologis si pelaku tapi juga menyadarkan orang lain kalau hukum itu tegas, jadi kalau mau bertahan hidup lebih lama dan keturunan hidup dengan nyaman, ya jangan korupsi. Malu tujuh turunan cyn…Ah andai saja…

Dan hal lain yang sangat menarik perhatian saya adalah SEPATU BOOTS!!! Saya merasa beruntung karena mendatangi China di sisa-sisa musim dingin. Walau di hari pertama 25 derajat, keesokan hari dan selanjutnya, saya merasakan 9 derajat Celsius. Kampret ini suhu dingin bikin idung meler terus dan perih karena kulitnya kering. Tapi saya semakin punya alasan untuk beli sepatu yang dapat menghangatkan kaki, alias BOOTS. Maka saya pun memboyong 2 sepatu boots, ini tentu menambah koleksi sepatu boots saya sebelumnya.

Oiya, kalau mau memberi saya hadiah sepatu boots, saya ngga bakal nolak kok.ย  Kalau kalian lantas bertanya, emang ngga aneh di Jakarta pake boots? Saya akan jawab, NGGA!! Trust me, temen-temen di kantor saya itu sangat jamak memakai boots dicuaca yang panas atau kering ๐Ÿ˜€ Bahkan di kantor saya yang di kebun jeruk, bisa dilihat perbedaan mana anak-anak yang berasal dari divisi lifestyle dan mana yang tidak, salah satunya dari sepatu boots yang dikenakan ๐Ÿ˜€

Nah berhubungan dengan sepatu maka kita akan membicarakan soal tas. Yup ini adalah surga para pecinta tas-tas branded. Mau yang miripnya setengah mampus sampai yang miripnya sekilas, Guangzhou adalah surganya. Saya sayangnya ngga ngerti tas-tas mahal seperti itu, it just not in my gene hahahahaha. Saya melihat beberapa toko yang menggelar tas-tasnya pada rak-rak yang ditutupi kain, persis lemari yang diberi gorden. Sangat misterius sebenarnya tapi katanya harganya bisa puluhan juta, harga ini jauh lebih murah dibanding tas asli yang bisa sampai ratusan juta.

Yang saya pikirkan ketika berada di San Yuan Li, nama tempatnya, adalah mencarikan tas yang bagus buat mama saya. Perkara itu asli apa palsu, buat saya yang penting kulitnya bagus. Beberapa teman memburu tas yang namanya Long Champ, sumpah menurut saya tas itu biasa banget. Berbahas seperti parasut dengan potongan yang simpel, cuman di Jakarta lagi happening katanya. Malah salah satu sukarelawan di rumah sakit yang kami kunjungi menitipkan sekoper tasLong Champuntuk nanti diambil keluarganya di Jakarta. Segitunya tuh orang datang ke Guangzhou, berhubung harganya bisa miring abis (lebih murah 100-200 ribu) dengan kualitas mirip dengan aslinya.

Maka jangan heran jika banyak yang ke Guangzhou sengaja membawa koper besar tapi sedikit membawa barang, tujuannya untuk memenuhi dengan belanjaan. Ngga jarang juga yang beli koper lagi untuk memenuhi muatan, termasuk saya hahahaha. Tapi tujuan saya bukan karena kebanyakan beli belanjaan, maklum perginya sebelum gajian jadi duit sangat miris. Saya beli ya karena murah dan ngga pernah punya koper sendiri. Koper ukuran medium dengan warna yang menarik dan bahan yang ringan plus kuat, hanya dihargai sekitar 200-214 ribuan ketika dihitung dalam rupiah. Murah kan? Rada lucu juga ketika melihat beberapa teman yang datang dengan 1 koper, begitu pulang membawa 2 koper. Mama saya sampe kaget pas tahu saya pulang bawa 2 koper hahahaha.

Selain agenda belanja dan makan-makan, saya juga diajak ke beberapa tempat penting di sana, seperti areal opening ceremony Asian Games, perpustakaan besar yang lagi dibangun di sana, museum baru Guangdong, makam raja yang berumur 2200 tahun, plus Chen Clan Academy. Ini awalnya tempat satu klan melakukan ujian kepintaran dan saking bagusnya diubah jadi tempat ujian untuk pegawai negeri. Yang seru dari tempat ini adalah ukiran-ukiran yang memenuhi tempatnya, mulai dari atap, pintu, pilar-pilar sampai kerajinan ukiran tulang Onta. Luar biasa mengagumkan karena ukirannya detail dan sangat kokoh.

Penasaran kan? Pengen menyaksikannya sendiri. Well saya mau banget kalau disuruh ke sana lagi, meski WC-nya sedikit perlu mendapat perhatian karena aromanya benar-benar aroma hajat. Tapi ini bisa diatasi kok, cukup bawa tisu basah, tisu kering, dan botol air mineral. Tisu karena mereka tidak menggunakan sistem gayung atau bidet untuk membantu kita membersihkan alat genital. Untuk perempun ini penting! Plus sometimes ngga ada flush-nya jadi botol air mineral itu bisa berfungsi sebagai gayung. Pastikan juga botolnya selalu dalam keadaan isi ya karena kadang ada WC yang kaga ada flush dan bidet jad ya paham lah maksudnya untuk apa.

Satu hal yang saya percaya, orang-orang China itu kalau ke Jakarta pasti takjub dengan kualitas WC umum kita. Minimal WC kita memberikan alternatif jongkok atau duduk. Apalagi kalau masuk WC-WC mall, di Jakarta kadang kala rest room disulap jadi tempat yang nyaman. Dan boleh dibilang saya cukup bangga dengan ini, karena di mall pun kadang-kadang WC-nya tidak sebagus wc-wc mall di sini ๐Ÿ˜€

At the end saya merasa puas berada di Guangzhou selama 6 hari. Melihat bagaimana mereka berlalu lalang dengan baju-baju musim dingin yang fashionable dan tetap memanfaatkan transportasi umum adalah tawaran menyenangkan untuk berlibur di sana. Oiya janga lupa untuk membawa kalkulator dan melatih bahasa tunjuk-tunjuk ya. Karena bahasa Inggris yang terbatas membuat mereka akan berlari mengambil kalkulator untuk menunjukkan harga dan tunjuk-tunjuk menjadi bahasa tubuh yang kadang kalau salah pengertian. Contohnya ketika saya membeli sepatu, saya tahu harganya 50 Yuan karena si cici pelayan toko memencet angka 5 dan 0 di kalkulatornya. Maksud saya ingin meminta nomer 37, maka saya gunakan bahasa tangan sambil memunculkan 3 jari dan 7 jari. Eh dia kira nawar dengan tegas dia bilang, no..no bargain hahahaha…

Pengen banget bilang, iya ci, ane paham, pan ini di mall masa ane bargain. Akhirnya saya menunjuk telapak sepatu sambil membuat jeda lebih lebar sambil bilang, bigger size, 37…setelah 2-3 kali mengulangi pesan dan gerakan tangan, akhirnya cici penjaga toko mengerti…ah alhamdulilah saya bisa berkomunikasi ๐Ÿ˜€

Dan perjalanan ini membuat saya semakin pengen jalan-jalan ke tempat lain, Hong Kong, Jepang, atau Korea ah pasti seru ya. Ada yang mau undang saya ke sana ;D *kedipan maut*

 

 

Advertisements

2 responses »

  1. Wah seru pengalamanya ya ๐Ÿ˜€

    Btw, soal transpportasi Jakarta, dibandingkan dengan Thailand sesama negara Asia Tenggara saja, mereka jauh lebih nyaman dan manusiawi ๐Ÿ˜›

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s