Friday The 13th

Standard

Judulnya berbau-bau mistis ya? Hihihiii, tenang, saya bukan mau cerita soal setan atau pocong yang lagi nge-hit di bioskop-bioskop. Saya ingin menggambarkan betapa Jumat, 13012012, kemarin, saya menemukan banyak sekali keajaiban! Siap…siap…1…2…3…

Hari itu saya ke kantor dengan sedikit bergaya eksekutif muda, karena katanya saya dan 3 orang teman satu tim akan difoto untuk satu majalah francise bisnis yang dipunya kantor saya. Dengan kemeja pink, celana bahan 3/4, saya coba terlihat androgini dengan menambahkan suspender pada wardrobe baju kerja saya. Biar lebih pas lagi, saya kenakan wedges putih jadi tetap terasa elegan dengan nuansa kelaki-lakian. Lihat betapa detail saya menggambarkannya, ini menandakan, saya benar-benar semangat untuk jadi model ilustrasi majalah.

Jadi melangkahlah saya dengan percaya dirinya ke halte bus transjakarta terdekat. Sodorin uang Rp 5.000, si Mba penjaga karcis mengembalikan Rp 1.500 sambil memuji saya. Iya, dia memuji saya. Beuh saya ampe geer luar biasa. Saya membantin, ini bakal jadi hari yang menyenangkan.

Lalu berdirilah saya di pintu naik dan turunnya penumpang bus transjakarta yang tidak pernah aman itu, karena pintu otomatisnya selalu rusak sehingga dibiarkan menjadi tidak otomatis, alias terbuka selebar-lebarnya. Untuk membuang kejenuhan, saya memainkan smartphone…terus bermain…bermain dan tiba-tiba kaki saya mulai kerasa kesemutan. Lihat jam di layar informasi, damn, saya sudah berdiri 15 menit. Padahal dari saya datang sampai kerasa semutan, itu layar informasi bilangnya bus yang saya tunggu akan segera tiba di halte pemberhentian saya. Ah layar dusta dasar, saya mulai komplain dalam hati.

Tapi apa sih yang kita punya sebagai penumpang angkutan umum di Jakarta atau Indonesia ini, selain hanya bersabar. Maka dengan setialah saya menanti bus yang katanya pengen menyedot pengguna mobil sebanyak-banyaknya itu. Dan kini, 30 menit pun sudah berlalu, jangan dibayangkan bagaimana rasanya kaki saya yang menjenjang pada heels 7 sentimeter. Saya kembali melihat laya informasi, wuuuuaaaasssssuuuu….itu tulisannya masih begitu aja…bis yang saya tunggu akan segera datang. Ada info tambahan dari layar dusta itu, bahwa saya sudah menunggu nyaris 45 menit!! Mulai gerah, muka saya pun mulai masam dan cranky mulai menelusup ke buku-buku emosi saya.

Maka datanglah ini bus transjakarta yang menuju Harmoni, mau tahu wujudnya seperti apa? PENUH DENGAN MANUSIA!! Saya harus menerima situasi ‘mengakrabkan’ diri dengan orang-orang asing yang berdiri di samping, depan, dan belakang saya. Akrab yang saya maksud adalah berdiri dengan jarak yang sangat dekat, lebih dekat dari tumpukan dendeng. Lagi-lagi saya hanya bisa membatin, ya sudahlah yang penting saya melakukan pergerakan.

Saat mulai ada ruang untuk masuk ke bagian bus paling belakang, saya pun menerobos badan laki-laki yang besar serta badan mba-mba yang mudah sekali terhuyung ke kiri dan kanan. Maka sampailah saya di bagian yang nyaman, dengan jarak berdiri yang tidak terlalu akrab dan dengan pegangan yang membuat saya berdiri dengan stabil. Saya mulai merasa, hari saya kembali baik-baik saja. Terlebih ketika laki-laki di depan saya turun, itu artinya saya BISA DUDUK!!

Walau duduk tidak terlalu lama, saya merasa lega karena bisa mengistirahatkan kedua kaki saya yang diminta bertumpu pada kaki bagian depan ketimbang tumit akibat penambahan tinggi dari hak sepatu. Kali ini saya pun membantin, “Kaki yang cantik, sabar ya, bentar lagi kita duduk lama.”

Sekeluarnya dari bus transjakarta pertama, saya melangkah dengan semangat ke pemberangkatan bus transjakarta berikutnya. Dari kejauhan saya melihat antriannya cukup ‘menggemaskan’ , tanpa sadar saya menyeka keringat yang malu-malu keluar di pelipis. Mengantrilah saya sambil mengamati muka orang-orang di sekitar saya, mereka nampak kelelahan dan kesal. Ini adalah ‘layar informasi’ bus transjakarta yang paling jujur. Ekspresi kelelahan, kepanasan, dan kesal menandakan bus transjakarta sudah terlalu lama tidak muncul-muncul. Dan benar saja, beberapa orang mulai mengeluh sambil menggerutu. Saya hanya bisa diam, karena disaat sangat emosi, saya justru tak punya ekspresi untuk dikeluarkan. Lagi pula marah-marah tak akan membuat petugas-petugas itu menyulap metromini menjadi bus transjakarta. Buang-buang energi.

Kali ini saya menunggu 30 menit dan ketika sudah lama menunggu, begitu melihat bus transjakarta merapat, seluruh penumpang akan punya sejuta tenaga untuk mendorong siapa saja di depan mereka. Jadi selain konsentrasi masuk ke pintu dengan jeda antara pintu menunggu dengan pintu masuk bus transjakarta, saya harus memberikan gerakan perlawanan agar yang mendorong tidak menciderai saya. Jurus inilah yang membuat saya masuk ke dalam bus dengan selamat meski tidak dapat tempat duduk. WTF…ini artinya saya harus berdiri!!!

Berdirilah saya dengan segala kepasrahan yang saya punya. Tapi kepasrahan saya, bukanlah kepasrahan mba-mba yang berdiri di samping kanan saya yang dengan penuh emosi melontarkan caciannya kepada pengurus Trans Jakarta kepada temannya yang duduk manis di depan kita. Dia bahkan menyumpahi petugas-petugas dengan semena-mena, seolah-olah hanya dia yang dirugikan atas kekacauan sistem transportasi umum pada ibukota Indonesia ini. Saya selalu berpikir, setiap emosi memang harus disalurkan, tapi kalau menyumpahi dengan memosisikan diri sebagai dewa, buat saya itu hanyalah tong kosong nyaring bunyinya. Lalu saya berdialog dengan diri saya, “Ih penting banget dengerin Mba Ini. Aduh bawel deh Mba, gua jahit model jelujur baru tahu rasa. Ooo…Mbanya berangkat dari rumah jam 5 dan sampe 10.30 dia masih di jalan, belum sampe kantor. Yah Mba, pindah ke tempat yang kosong aja gih sana.”

Hahahahaha monolog yang kadang membuat saya berhasil membuang emosi akibat menunggu terlalu lama. Tapi tiba-tiba kaki saya mulai terasa kesemutan, atur posisi agar kaki yang kesemutan bisa ‘beristirahat’. Saat mulai nyaman, terdengarlah suara bapak-bapak dengan nada tinggi memaki-maki anak muda di depannya. Spontan semua mata menuju sumber suara, “Heh…kamu pikir saya mau sender-sender di kamu, badan kamu bau tahu!!” maki bapak-bapak yang dari suaranya seperti berbadan besar. Dan sepertinya memang berbadan besar karena orang yang menjadi sandaran melontarkan keberatannya, “Lah Bapak kira saya mau disandarin Bapak? Bapak tuh besar tahu ngga, berat!!”

Ah Tuhan….ini orang berantemin apaan sih? Masalah sandar menyandar atau bau badan? “Tuh orang-orang udah pada emosi gara-gara nunggu lama,” celetuk seorang mba yang duduk manis di depan saya sambil coba celingak-celinguk ke arah perkelahian. Dan ini menyulut mba-mba yang berdiri di samping saya, persis kaya petasan mercon, si mba-mba nyerocos kaga berenti. “Jangan jait tusuk jelujur deh, nih mba-mba cakep kalau dijait pake tusuk tikam jejak,” batin saya dalam hati.

Saat itu, rasanya saya ingin sekali punya ilmu hilang. Tutup mata dan begitu buka mata, saya sudah di ruangan saya yang ber-AC dengan teman-teman kerja yang menyenangkan. Atau menyapa pacar saya melalui mesin messenger. Saya ingat betul, sehari kemarin dan hari itu, saya lagi kangen sekangen-kangennya sama dia. Biasalah kalau lagi cranky, kita maunya ada di samping orang yang kita sayang dan bermanja-manjaan kan? Hanya itu yang saya mau ketika itu.

Akhirnya anak muda yang berkelahi dengan bapak yang sepertinya paruh baya itu, dipaksa turun pada pemberhentian bus transjakarta terdekat. Sementara si bapak, di suruh berdiri di bagian belakang dan si bapak itu terus ngoceh karena lawannya berhasil disingkirkan. Kalau saya mikirnya, dua-duanya harusnya diturunin, wong dua-duanya yang mengganggu ketentraman. Lagian kalau mereka mau berantem, lebih aman di luar bus kan karena tidak berpotensi menciderai penumpang lain.

Mari kita lupakan perkelahian yang disulut oleh mencari sandaran yang salah itu, karena bus yang saya tumpangi mulai lancar mengantarkan saya ke kantor. Diam-diam saya melihat kemeja saya, sudah mulai kusut, padahal fotonya masih 5 jam ke depan. Ah peduli setan, buat apa para layouter majalah itu menginstal photoshop kalau tidak bisa membuat kemeja kusut saya menjadi selicin sutra. Meski berpikir begitu, saya tak bisa membuang aura negatif yang sudah menempel di kepala. Sesampainya di ruangan, saya langsung cerita ke teman-teman saya. Minum air putih yang banyak dan mengajak teman-teman saya makan lebih cepat, karena percayalah anger do makes you hungry.

Saya malah berharap bisa mengunyah cokelat sambil menceritakan semua kronologisnya ke teman-teman saya. Tapi tak ada cokelat saya pun mengincar makanan berat di kantin. Menu makan siang yang diisi dengan nasi, ikan, dan sayuran, masih harus dilengkapi dengan seporsi mie instan goreng dengan telor! “Beuh Priska, lapar berat,” goda salah satu teman saya. “Bukan, I am an emotional eater,” balas saya sambil mengunyah mie instan.

Selesai makan dengan rasa kekenyangan yang luar biasa, rasa kantuk pun mulai menyusup. Tiba-tiba salah seorang teman kami datang sambil bilang, “Eh liat deh, ada dua kupu-kupu nemplok di tangan gua,” seraya menunjukkan sepasang kupu-kupu berwarna kuning dan hijau cerah yang dempet sambil menempel nyaman sekali di lengan tangan teman saya. “Wah mas…kupu-kupunya cantik banget,” ekspresi saya sambil mengikuti terus teman saya ke mejanya. “Ini kupu-kupu lagi kawin, liat deh…”

Saya….semakin excited….”What…lagi kawin, ih gua ngga pernah liat kupu-kupu kawin,” saya semakin mendekat. Dan benar saja, itu kupu-kupu tengah melakukan aktivitas melanjutkan keturunan, berkembang biak! Tiba-tiba saya bahagia luar biasa. Saat teman-teman saya yang lain memotret adegan percintaan kupu-kupu, saya hanya menatap dengan mata berbinar-binar. “Ya ampun Mas, it’s a good sign!”

Saya merasa wajah saya kembali segar, diam-diam saya berucap dalam hati, “Ah terima kasih ya Tuhan, saya dikasih kesempatan untuk melihat ini.” Weits jangan porno dulu. Saya berterima kasih karena: pertama, saya tidak pernah seumur-umur melihat kupu-kupu bercinta; kedua, mereka bercinta di atas lengan teman saya, bukan di atas daun pohon atau di tempat-tempat biasa kupu-kupu bercinta. Well saya ngga tahu sih sebenarnya kupu-kupu bercinta di mana hahahahaha.

Dan tahu ngga, itu kupu-kupu bercintanya llllaaaaammmmaaaaa banget….lebih dari sejam!!! Hihihihihi…selesai bercinta, salah satu dari kupu-kupunya terbang menuju lampu neon. Tidak lama kemudian, pasangannya ikut terbang. Lucunya, setiap kali pasangannya mendekat, kupu-kupu yang hinggap dekat neon melebarkan sayapnya dan menonjolkan alat reproduksinya…hahahahahah…saya dan teman-teman saya tertawa geli melihatnya. Kita sempat menebak, mana yang jantan dan betina.

Entah kenapa, saya senang sekali melihat itu semua. BAYANGIN, SAYA AKHIRNYA MELIHAT SEPASANG KUPU-KUPU CANTIK BERCINTA!!! Tiba-tiba saya lupa rasa kesal dan emosi dari insiden bus trans jakarta yang lama atau adegan berantem ngga penting. Saya menceritakannya dengan semangat ke pacar saya. Malah saya mengajak dia untuk melihat kupu-kupu bertelur. Ini karena usai menceritakan kupu-kupu bercinta ke Nida dengan semangat 45, dia malah cerita kalau pernah lihat kupu-kupu bertelur.

Nida : Jadi ya, kupu-kupunya ngeluarin telurnya satu-satu di daun gitu…lucu banget. Dan pas telurnya pada netas, selongsong telurnya dimakan sama induknya.

Saya: Oiya…wah lucu banget…pengen liat…aku pengen liat Nida 😦 Kamu beruntung banget. Waktu itu kamu liat di mana?

Nida : Wah aku liatnya udah lama, pas masih kecil. Waktu itu, di rumahku masih ada pohon rambutan. Kupu-kupu tuh suka bertelur di pohon rambutan atau jambu. Tahu ngga, pas kupu-kupunya ngeluarin telurnya, itu hujan deras banget. Aku kasihan, takut telurnya pada hanyut. Akhirnya aku bawa daun yang ada telur-telurnya ke kamarku. Dan begitu ujannya selesai, aku bawa keluar lagi. Begitu setiap hari sampai dia netas.

Saya: Wah Niddddddaaaaaaa….kamu baik banget….ah Tuhan pasti sayang kamu deh…kamu baik banget sih…ah aku juga sayang kamu kok, karena kamu baik….banget…. *tiba-tiba saya merasa sangat terharu sekali mendengar Nida bercerita itu*

Nida : Hahahahaha…aku juga sayang kamu kok. Sebenarnya waktu itu mikirnya sederhana aja, kasian telurnya kalau hanyut.

Ah iya, kebahagiaan itu sederhana. Ketawa itu mudah kok. Merasa terharu pun juga tidak sulit. Bayangkan hanya dengan melihat kupu-kupu bercinta di atas lengan teman saya, luapan bahagia, terharu, dan beruntung langsung menyeruak begitu dasyat di aliran emosi saya. Malah saya tidak merasa sedih ketika disela-sela mendengar cerita Nida, saya tidak menemukan nama saya pada beasiswa untuk wartawan yang saya ikuti. Tiba-tiba pengumuman itu menjadi hal yang sangat biasa buat saya. “Ah masih banyak beasiswa yang bisa saya ikutin. Kalau memang ada rejeki, ya bayar sendiri aja, pusing-pusing amat. Saya kan tidak tiap hari bisa melihat kupu-kupu bercinta atau mendengarkan cerita dari sahabat saya soal bagaimana itu kupu-kupu bertelur dan menetas,” monolog saya dalam hati.

Ngga…saya tidak sedang menghibur diri saya. Tapi saat itu yang saya pikirkan hanyalah, saya beruntung bisa melihat kupu-kupu bercinta. Terkesan saya berlebihan? Biarin saja. Apa ini karena saya mendeskripsikan diri saya sebagai kupu-kupu? Tidak juga. Saya hanya percaya, kebahagiaan itu sederhana. Malah kadang, kita ngga perlu alasan yang pasti mengapa kita bahagia, hanya merasa bahagia. Saya sering merasakan itu dan rasanya lebih enak ketimbang marah-marah atau sedih dan depresi karena sesuatu yang sebenarnya masih bisa dibuat lebih baik.

Hidup itu kan perjalanan waktu ya dan manusia punya kebebasan untuk memilih bagaimana dia memenuhi perjalanan waktu itu dengan berbagai cerita. Saya sih lebih suka memilih cerita-cerita yang sederhana yang bisa membuat saya tertawa lepas atau berapi-api menceritakannya ke orang-orang yang saya sayang. Perkara apa yang terjadi di sekitar kita tidak sesuai perhitungan atau berjalan seperti tidak pada jalur pendulum keberuntungan, itu adalah sesuatu yang ada untuk mengalihkan kita dari hal-hal sederhana yang bisa membuat kita tertawa dan merasa bahagia.

Seperti kejadian dari pagi yang terasa begitu kacau, bagi sebagian orang mungkin itu pertanda that your day is going to be very..very..very bad. Apalagi ketika teman saya bereaksi, “Lu pagi-pagi emosi karena sekarang itu Jumat dan tanggal 13!” Saya bisa saja memilih untuk mengamini bahwa Jumat tanggal 13 itu adalah hari sial, hari penuh emosi, dan hari menyebalkan. Tapi buat apa? Untuk hanya bisa mencaci maki orang lain yang belum tentu bersalah atas lamanya bus yang harusnya mengangkut kita ke tempat tujuan? Atau untuk merasa perlu melontarkan emosi di tempat umum hanya karena berdesakan di dalam bus itu menyebalkan? Atau demi meratapi beasiswa yang gagal sudah kesekian kalinya?

Trus kalau udah caci maki, berantem, atau meratapi keberuntungan, hasilnya apa? Dahi mengkerut, bibir manyun, dan badan lemas. Ah membayangkannya saja sudah cape. Mending juga saya cerita ke sahabat saya soal kupu-kupu bercinta itu dan saya mendapatkan pengalaman dia yang luar biasa menyenangkan. Pengalaman dia yang bisa membuat saya punya impian, melihat kupu-kupu bertelur. Merasakan betapa proses kehidupan dari sebuah kesempurnaan metamorfosis adalah sebuah kelanjutan dari sebuah kebahagiaan yang sederhana.

Tak hanya itu, meski saya sudah menceritakannya ke pacar saya melalui mesin messanger, malamnya, saat bertemu, saya kembali menceritakannya dengan semangat. Membagikan binar mata yang saya punya ketika saya melihatnya sendiri dan mengekspresikan kebahagiaan secara riil ketika saya menceritakannya pada mesin berlayar. And hey….my friday the 13 was runs so perfect…in fact more than perfect…it was the happiest day in this week!!

Foto dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s