Paradoks Kesadaran Pada Segelas Margarita

Standard

Teman paling aman untuk mabok 😀

Jika ada survei mengenai kebiasaan mengonsumsi alkohol, saya akan menandai diri saya sebagai social drinker. Iya menikmati alkohol jika ada yang mengajak saja atau untuk alasan kehangatan mingle bersama teman-teman. Teman-teman yang saya pilih juga bisa dibilang yang itu-itu ajalah, orang-orang yang menurut saya cukup aman untuk diajak nenggak alkohol bareng. “Kalau gua mabok, minimal orang ini bisa bertanggung jawab untuk ‘menjaga’ gua,” itu definisi aman nenggak alkohol bareng yang saya bisikkan di dalam kepala saya.

Tak cuman teman sebenarnya, tempat saya menikmati minuman alkohol juga bisa dibilang ya itu-itu aja. Ada satu garden kafe di Jl.Wahid Hasyim yang berhasil membuat saya nyaman untuk duduk dan memesan minuman beralkohol, margarita. Iya saya hanya pesan itu karena hanya itu yang saya suka setelah wine.

Kenapa saya suka margarita? Minuman itu sebenarnya hanyalah campuran lemonade, tequila, dan sedikit triple sec yang kemudian di blender dengan es. Sebagai pemanis sekaligus statement of taste, di pinggir gelas margarita akan dibubuhkan garam. Nah garam ini yang menjadi daya tarik saya, jadi ada asam dan sedikit asin yang tercecap di bibir. Jika awal-awal saya hanya kuat minum 2 gelas, belakangan saya minimal minum 3 gelas 😀 Tapi record tertinggi saya adalah sekitar 5-7 gelas hahahaha.

Kalau dilihat dari runutan saya dengan alkohol, semua itu saya lakukan dengan sadar. Sadar memilih teman, sadar memilih tempat, dan sadar memilih berapa banyak minuman kesukaan yang akan saya konsumsi. Tapi efek samping dari situasi serba sadar ini adalah KETIDAKSADARAN. Iya karena alkohol yang di dalamnya memang bekerja ‘melemahkan’ sistem saraf pusat.

Jadi gini ceritanya, saat alkohol saya tenggak, cairan itu akan diserap ke aliran darah dan mengganggu kerja otak serta sumsum tulang belakang yang kerjanya mengendalikan hampir semua fungsi tubuh. Plus karena sifat alkohol yang depresan maka dia melemahkan sistem saraf pusat. Alhasil sedikit lemotlah beberapa signal pesan yang nyampe ke otak. Lemotnya pesan yang sampai membuat persepsi, emosi, gerakan, penglihatan, dan pendengaran orang yang mengonsumsi alkohol ikut mengalami hambatan dan manusia disekitarnya menyebut situasi tersebut sebagai KETIDAKSADARAN.

Tapi yang terjadi pada saya ketika terlalu bersemangat mengonsumsi margarita adalah ngooooccccceeeehhhhhhhhhh terus. Bawaannya pengen ngomong, apa aja diomongin. Semua yang saya bicarakan adalah hasil endapan pemikiran yang tertanam kuat di kepala halah bahasanya   Saya akan mengajak bicara soal Tuhan, Agama, Perempuan, dan Cinta. Anjrit pembicaraan macam apa ini hahahaha.

Mabok saya yang pertama, membuat sahabat saya Nida, sebel setengah mampus. Selepas menenggak beberapa gelas margarita dan sampai di rumah dengan selamat, saya menelpon Nida. Setelah Nida bilang, “Hallo,” maka mulut saya tidak pernah berhenti mengoceh. Saya ingat berkali-kali Nida ngedumel bilang, “Nyet lu berisik banget yet…Anjrit ngoceh mulut nih bocah.” Hahahahaha. Dan ada hal lain yang juga terjadi ketika saya mengoceh, saya ngoceh dengan bahasa Inggris hahaha.

Jadi teringat, saat salah satu temennya temen saya dari Jerman datang berkenalan. Saya mengajak dia ke garden cafe yang menjadi langganan saya itu, dengan sadar saya memesan beberapa gelas margarita dan hasilnya setelah itu, saya ngoceh terus….tiba-tiba menanyakan tentang bagaimana perkembangan Neo Nazi di sana karena ketika saya ke Jerman dan mengunjungi camp-camp konsentrasi, guide-nya cerita kalau Neo Nazi makin menjelajahi anak-anak muda Jerman. Selesai dia bercerita soal Neo Nazi itu, mengocehlah saya mengenai komunisme Indonesia hahahahaha.

Saya cerita soal Pramoedya Ananta Toer, saya mengumbar novel-novel soal Pram. Kebetulan teman baru saya itu, Martina namanya, adalah mahasiswa politik S3 yang waktu itu datang ke Indonesia untuk penelitian mengenai politik Indonesia lah, jadi sedikit banyak dia tahu soal perkembangan politik Indonesia. Lucunya dia ngga ngeh soal Pram, maka bercelotehlah saya soal dia. Cerita saya soal komunisme di Indonesia itu ternyata memperpanjang waktu temu kami, sampai kemudian saya merasa haus sekali dan tersadar bahwa saya sudah ngoceh terlalu banyak. “I am really sure that I drink to much.” Martina menunjukkan ekspresi bingung. “When I drink to much, I became an aggresive story teller.”  “Well I can see it from your red face,” balas si Martina sambil cengegesan. Itu lah kali pertama saya sadar kalau mabuk juga membuat muka saya kaya kepiting rebus.

Tapi sebenarnya saya tetap mencoba sadar ketika saya mabuk. Karena ketika saya merasa kepala mulai berputar, saya akan berusaha sekuat tenaga untuk berhenti. Saya ngga mau sampe jackpot alias mabuk. Pernah ngeliat cewe di cafe itu yang berdiri aja susah dan tiba-tiba muntah. Saya yang dalam keadaan (setengah) sadar bilang dalam hati, “Ogah dah gua ampe begitu.”

See…sebenarnya minuman alkohol itu menyimpan sebuah paradoks kesadaran. Mulai dari pilihan sadar untuk menenggaknya demi menjadi tidak sadar, sampai memilih tetap sadar menghitung berapa gelas yang sudah diminum dalam keadaan tidak sadar. Dan setelah berbulan-bulan tidak menikmati keparadoksan itu, saya tiba-tiba menemukan filosofi menarik dari segelas margarita. Minuman asam-asin dan memabukkan ini telah membuat saya bisa meletupkan pikiran-pikiran kecil di kepala. Persis kaya olahraga yang membuat pikiran-pikiran yang lama terendap kemudian menjadi bulir-bulir keringat berasa asem dan asin…hihihihhihihihi…

Dan  mengutip mba Pink, saya ingin bilang, “So let’s raise your glass…!!”

 

Foto taken by: Zulhayani Asni

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s