Math is My Asymptotes*

Standard

Salah satu yang saya tidak suka dari proses seleksi, apakah itu seleksi karyawan atau mahasiswa, adalah tes matematika. Meski sudah bertajuk matematika dasar, buat saya matematika tidak menyenangkan. Jadi Minggu (4/12) kemarin saya mengikuti serangkaian tes penerimaan di salah satu kampus super elit di Jakarta. Disebut rangkaian karena terdiri dari tes Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan tentu saja MATEMATIKA!

Saat tahu ada tes matematikanya, perasaan saya selalu sama. Emang disaat saya nanti belajar lagi (AMIN…AMIN) saya akan kembali menghapal rumus-rumus deret, luas bidang, akar atau pangkat dari satu bilangan? Untuk proses seleksi ini, saya berniat untuk mempelajari soal feminisme. Nah coba ramalkan apakah akan ada korelasi antara kajian feminisme dengan rumus-rumus matematika itu? Iya saya tahu, dari buku latihan soal yang saya beli, soal-soal itu bisa mengambarkan seberapa logis saya dalam mendeskripsikan kenyatan. Well at least itu yang ditulisankan pada intro dari buku latihan soal yang saya beli.

Pertanyaan yang rada mirip juga sempat terlontar ketika saya mau mendaftar sebagai pegawai lulusan Sarjana Komunikasi ingin mendaftar sebagai wartawan di salah satu media besar dulu ketika saya baru jadi fresh graduate. Tes yang amat banyak porsinya diberikan adalah pada hitung-hitungan itu. Saya merasa mereka mendeteksi ‘skill’ saya dengan tools yang salah. Skill menulis saya digambarkan pada rumus-rumus matematika yang kadang lebih banyak menyebalkannya dibandingan menyenangkan.

Hahahahaha…iya  ini postingan penuh cacian pada soal-soal matematika. Karena mencoba latihan soalnya saja sudah membuat saya gregetan, tanya aja pacar saya kalau ngga percaya. Oiya, pacar saya itu Sarjana Komputer. Matematika itu bagian dari hidupnya, jadi dia bisa dengan mudah menyelesaikan soal-soal yang bikin muka saya kelipet 7 pangkat 7. Bukan cuman muka aja yang kelipet, saya jadi cranky luar biasa.

Saat dalam perjalanan meninjau tempat tes, saya mencoba mengerjakan soalnya dan kesalnya bukan main. Saya whatsapp pacar saya, “Ah ini soal matematikanya bikin aku bete ah. ” Begitu ketemu dengan pacar saya, dia menawarkan diri untuk membantu saya memahami soalnya. Saya….ya tetep ngga suka hahahahaha.

Kadang saya berpikir, harusnya tes-tes seleksi itu disesuaikan dengan bidang pekerjaan atau kajian yang akan dipelajari. Seperti ketika saya masih fresh graduate, untuk mengetahui seberapa jauh saya yang lulusan sarjana komunikasi ini bisa menyampaikan pesan atau informasi kepada masyarakat ya dites nulislah atau tes pengetahuan umum. Sesuatu yang memang akan digunakan secara langsung dalam dunia kerja yang akan dipraktekkan.

Atau untuk niat belajar lagi ini, harusnya dites bagaimana saya memahami feminisme dan bagaimana itu berkaitan dengan goal saya ke depannya. Bagaimana keilmuan yang akan saya pelajari bisa langsung menyentuh ranah sosial yang riil. Karena dengan begitu, selesai ujian saya ngga akan mencaci maki matematika dalam sebuah postingan blog hahaha.

Yah saya dengan matematika emang susah jadi temenan. Lebih sering berantem kita, itu kenapa saya jarang berinteraksi dengan dia. Situasinya kalau ngga terpaksa ya wajib demi proses formal yang sudah digariskan. Hal yang saya suka dari matematika adalah tambah dan bagi.  Buat saya dua simbol matematika ini bisa berbuat banyak untuk interaksi sosial. Menambah ilmu pengetahuan dan membagi ilmu pengetahun, penting itu buat kehidupan. Terasa makin absurd ini tulisan Atau kalian bisa memberikan analogi lagi dari simbol-simbol matematika yang ajaib, seperti sinus, cosinus, cotangen,  bisa dianalogikan dalam interaksi sosial seperti tambah dan bagi itu…ayo siapa yang bisa ayo…

*Asymptotes : According to Wikipedia, Asymptote is a curve line such that the distance between the curve and the line approaches zero as they tend to infinity.  The word asymptote is derived from the Greek, asymptotos which means “not falling together.” Don’t get amazed, the word not sent directly from the sky to me. My boyfriend explain it in term of garis yang didekati tapi tidak pernah bersentuhan…terderngar seperti cinta yang bertepuk sebelah tangan yak penjelasannya…hahahahaha

Foto dari sini

Advertisements

2 responses »

  1. jadi begini priska, semakin besar sinus monitor dengan keyboard laptopmu, semakin ideal posisinya buat mata. eh ini mah fisika yak *abaikan 😀

    gw sih suka matematika. ternyata kita saling melengkapi yaaa :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s