Spontanitas Tawa: Nada Dasar Perayaan Hidup

Standard

Ada dua cara menyenangkan untuk mendefinisikan saya, yaitu suka nongkrong dan iseng. Iya keduanya saya lakukan dengan sadar 😀

Kalau dengar kata suka nongkrong, jangan langsung bayangkan pertemuan yang hanya menghabiskan waktu. Karena saat saya nongkrong sama teman-teman saya, yang kami bicarakan beragam, mulai dari what’s new from your life, buku terbaru, film terbaru, acara tv, model baju yang lagi nge-trend, sepatu, agama, tuhan, politik, hukum, dan tentunya kesehatan. Yup kualitas nongkrong saya bersama teman-teman bisa dikategorikan sebagai sesi diskusi yang sangat santai.

Saking berkualitasnya, tidak jarang teman-teman akan “mem-booking” saya dari awal-awal minggu. Jadi sangat sering dalam satu minggu penuh saya akan bertemu dengan teman-teman saya dari berbagai latar belakang kisah pertemanan, mulai dari teman SMA, teman kuliah, sesama wartawan kesehatan, sesama wartawan, sampai teman senasib dan seperjuangan. Alhasil saya pun akrab dengan istilah, jadwal padat merayap.

Apa yang saya suka dari sesi pertemuan itu adalah cerita dan tertawa. Saya senang mendengarkan cerita orang-orang yang membentuk sempurna arsiran saya. Ini sama senangnya dengan antusiasme saya untuk bercerita banyak hal ke mereka. Interaksi berbagi cerita buat saya adalah transfer energi dan kesadaran. Iya, itu membuat saya selalu menapakkan kaki di bumi.

Bagaimana kita menyadari bahwa mereka selalu punya kerinduan untuk mendengarkan cerita kita adalah kebutuhan manusia untuk merasa diperhatikan. Dan ketika kita bisa saling meringankan beban dari masalah yang tengah dihadapi, itu adalah kesadaran bahwa hidup itu adalah rentang waktu kolektif yang merumuskan kenikmatan-kenikmatan apa saja yang telah berhasil kita lalui. Inilah yang kemudian kadang membuat saya tidak ingin menolak ajakan mereka untuk nongkrong. Saya benar-benar menikmatinya.

Bonus dari pertemuan-pertemuan itu adalah ketawa berseri, alias penuh dengan derai tawa, pipi pegal, dan perut sakit akibat efek samping ketawa yang terpingkal-pingkal. Pernah ada penelitian yang mengungkapkan kalau tertawa adalah cara yang paling murah dan efektif untuk awet muda. Ada penelitian yang mengungkapkan, tertawa bikin jantung kita bersemangat. Ini yang kemudian membuat sel-sel tubuh lebih lincah, kita bebas dari stres dan panik.  Plus saat kita ketawa itu otot-otot wajah ketarik yang secara otomatis menghapus kerutan di wajah. Jadi jangan heran kalau saya masih sangat terlihat berumur 25 tahun, ini benar-benar terbukti pada beberapa orang yang secara jujur mengatakan hal itu ke saya *muji sendiri sambil kedip-kedip centil*

Aktivas berbagi cerita dan tawa inilah yang selalu membuat saya rindu untuk nongkrong dengan teman-teman. Bahkan tidak jarang saya secara spontan mengajak salah satu dari mereka untuk sekadar nongkrong atau mencoba tempat hang out baru bersama-sama. Iya, spontanitas, saya suka itu. Seperti malam ini, saya spontan mengajak salah satu teman untuk memenuhi kerinduan saya makan bubur ayam.

Teman saya ini adalah ibu beranak dua, tantangannya mengajak ibu-ibu adalah mereka sulit menerima ajakan yang dadakan. “Lu lupa apah gua udah punya laki ama buntut yang nungguin di rumah..” begitu biasanya mereka bereaksi tapi trus dilengkapi dengan komentar ini,”Besok aja ngapah, gua rayu dulu laki gua malam ini. Ayolah besoklah…besok.” Hahahahahaha. Tapi malam ini saya lagi beruntung, karena teman saya sedang butuh mencari kesegaran malam. “Pembantu gua sama tukang pijet gua lagi bikin masalah mulu. Stres gua.” Hahaha tipe masalah yang hanya dihadapi oleh ibu-ibu saya rasa. In this kind of situation I do feel happy for being single.

Tapi berhubung dia sudah keluar kantor duluan, akhirnya kami bertemu di tengah-tengah, halte busway Harmoni-Jakarta. “Eh cumi, di Harmoni mananya yang ada tukang bubur?” begitu isi pesannya pada smartphone saya. “Mana gua tahu. Ntar kita cari lah,” tulis saya sambil menyisipkan tanda senyum, berharap tanda itu bisa menenangkan kepanikannya. Sayangnya saya ngga berhasil menenangkan dia, “APA?!? LU KAGA TAHU! Lu lupa apa lu ngajakin ema-ema yang anak keduanya baru aja dilahirin 4 bulan lalu.”

Hahahahahaa tipikal ema-ema muda, dalam hati saya, dramatisir. “Lah inilah tema malam ini, cari bubur sampe dapat,” balas saya dengan santai. Setelah teman saya sampai di Harmoni duluan, ternyata dia tidak menemukan tukang bubur di sana. Sepenglihatannya hanya ada tukang nasi goreng, mi goreng, lontong sayur, siomay, dan gorengan. Akhirnya saya memberikan ide untuk mencarinya di daerah Sabang. “Pasti ada di Sabang. Udah, lu masuk halte busway aja. Ntar kita ke sarinah naik busway.” Tahu bagaimana teman saya bereaksi? “Kampret bener nih orang, tahu gitu gua bisa naik bis sekali dari kantor gua tadi…cumiiiiii…..” “Tenang, abis segala caci maki ini, gua yakin lu bakal senang banget ketemu gua,” jawab saya dengan percaya diri. “Ah emang lu suka iseng dasar, ya udah gua tunggu di sini.”

Setelah teman saya menunggu 5 menit, dia kembali meradang. Dia bertubi-tubi mengirimkan pesan ke saya, bertanya sudah sampai di mana perjalanan membelah Jakarta saya lakukan. Jawab saya hanya,”Sabar manis. Coba lu itung ampe 25 sambil nutup mata. Setelah di angka 25, I’ll be there.” Teman saya tidak membalas apa-apa, entah mengapa saya suka melakukan itu kepada orang-orang dekat saya. Di satu sisi bisa terasa nyebelin membayangkan saya mengatakan itu sambil kedip-kedipin mata. Tapi di sisi lain mereka pasti ketawa karena juga membayangkan saya mengatakannya dengan nada yang sangat centil.

Belum nyampe juga, teman saya pun kembali membombardir saya dengan message pada smartphone yang jadi telepon sejuta umat ini. “Heh ini itungan 25 yang lu suruh udah nyampe sepuluh kali gua itung, lu kaga nyampe-nyampe. Maksud lu 25×10 yak? Ceppppaaaattttt….sini.” Dan sesaat saya liat statusnya di jendela chat, 25×10…. Hahahahahaha…Tak lama setelah itu, saya benar-benar muncul dihadapannya. “Beuh tau kenapa gua kaga nyampe-nyampe meski lu udah itung ampe 25?” Teman saya pun memberikan jawabannya, “Apa…? Dengan senyum sumringah saya bilang, “Karena lu ngitungnya kaga pake tutup mata, jadi ilmu ilang gua kaga bekerja.” Dan kami pun tertawa sejadi-jadinya. “Dasar orang sarap lu,” balas teman saya sambil menahan tawa.

Dan malam ini kami berhasil menemukan penjual bubur ayam. Meski bukan bubur ayam dengan kuah kaldu ayam yang kami dapatkan, tapi kami sangat menikmatinya. Kami menemukan tempat nongkrong yang murah meriah dengan bubur ayam bumbu kacang yang ternyata sangat enak. Lihat, betapa sebuah spontanitas bisa menjadi satu cara untuk berbagi kenekatan, emosi, dan rasa penasaran yang menyenangkan. Semalaman kami bertukar cerita, meski saya harus sedikit menyakinkan suami teman saya kalau memang benar isterinya pergi dengan saya malam ini, tapi semua spontanitas ini benar-benar menyenangkan.

Selain spontanitas untuk menemukan tempat nongkrong baru, saya juga suka spontanitas ngerjain orang. Iya, saya iseng. Bisa dibilang iseng yang nyebelin hahahaha. Saya suka tiba-tiba gemas dengan orang yang lagi dekat dengan saya. Bisa saya peluk, tepuk-tepuk pipinya, cubit atau saya gigit hahahaha. Iya kadang saya mendapat dorongan untuk melakukan itu.

Kalau di kantor, kadang saya menghampiri meja salah satu teman kerja dan meletakkan berbagai macam benda di atas laptopnya. Untuk ini saya punya ‘korban’ tetap, kadang saat ekor matanya meliha saya mulai mendekat, ‘korban’ saya ini akan dengan sendirinya meletakkan berbagai macam benda ke atas laptopnya. Hahahahahaha.

Tapi yang paling lucu adalah ketika saya mengerjai Athied, dia sahabat yang juga teman seperjuangan saya di website kesehata yang sama-sama kita bidani. Saat kami sedang serius menulis, saya tiba-tiba kehilangan ide. Stuck. Dan yang saya lakukan kemudian adalah melirik ke Athied.

Dia tengah serius mengetik artikel sambil mendengarkan lagu melalui earphone dari kedua telinganya. Entah ide dari mana, saya ambil gagang telepon yang ada diantara kami dan menempelkan sesaat di telinga saya untuk kemudian saya ulurkan ke arah Athied. Spontan Athied menoleh sambil melepaskan earphone. Dia meraih gagang telepon itu, menempelkan di telinganya dan berkata,”Iya Hallo……” Tapi yang terdengar hanya bunyi….tut….tut…tut….Hahahahahaha spontan saya tertawa geli dan Athied hanya teriak, “Mbbbaaaaaaa…..Prissssss…….sssiiiaaaaaauuuuulllllll kaaaammmuuuuhhhhh….” Haahahahahaha tawa geli dan teriakan Athied membuat teman-teman di sekitar cubicle ikut bereaksi.

Beberapa hari setelah itu, Athied coba balas dendam. Dia coba membuat semuanya berjalan smooth. Bahkan membuat seolah ada orang yang memang benar-benar ingin berbicara ke saya, dengan wajah yang datar dia pun memberikan gagang telepon ke saya yang sedang memakai earphone. Tapi dengan cool saya bilang, “Udah tutup aja, kan tadi teleponnya kaga bunyi.” Athied kaget dan bengong liat ke arah saya. “Lagu di earphone gua kebetulan abis pas lu angkat telepon jadi gua tahu itu kaga bunyi, lu mau bales dendam kan.” Mendengar ini Athied pun menghampiri saya dan mengunyeng-unyeng kepala saya, “Ah..siaul-siaul inih…ah..ah…” Hahahahaha.

Eh tapi kalian jangan jadi takut ketemu saya ya, untuk pertemuan pertama saya masih sopan kok. Masih sangat menjaga kenyamanan masing-masing. Keisengan dan spontanitas akan muncul seiring dengan kenyamanan yang sudah bercampur dengan keakraban. Jadi pesannya, jangan akrab-akrab biar ngga diisengin hahahahah….Ngga…ngga…bercandalah. Saya suka punya banyak teman karena banyak teman bukan hanya bikin arsiran saya lebih berwarna, tapi juga mengajari saya untuk belajar berbagi. Berbagi waktu, momen, sampai berbagi emosi. Dan sebagai penganut mazhab hidup adalah perayaan, tanpa interaksi berbagi ini, perayaan hidup saya tidak akan sempurna. Jadi, mari kita mengisengi satu sama lain hihihihihi….

 

Foto dari sini

Advertisements

One response »

  1. Saya suka tiba-tiba gemas dengan orang yang lagi dekat dengan saya. Bisa saya peluk, tepuk-tepuk pipinya, cubit atau saya gigit hahahaha. Iya kadang saya mendapat dorongan untuk melakukan itu.

    Trus kalau dibalas ngambek.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s