Kelezatan Bumbu Kesempurnaan Cinta

Standard

“Busyet dah ini rendang enak bener.Makasih ya mama sayang ๐Ÿ˜€ “,begitu isi SMS saya ke mama saya saat makan siang di kantor. Iya hari ini saya membawa bekal dari rumah. Dan tahu bagaimana mama saya bereaksi? Dia menelepon saya dan bilang dia terharu, sambil sesekali batuk-batuk karena lagi flu berat.

Sebenarnya ini bukan kali pertama saya mengirimkan SMS untuk memuji masakannya, tapi mama selalu terharu membaca SMS saya. Satu kali dia pernah membalas pujian saya begini, “Ah kamu ‘dek,mama dipuji-puji mulu, jadi ge er,” ucapnya sambil malu-malu tertawa. Persis seperti orang yang sedang mabuk kepayang karena dipuji.

Setiap kali saya menikmati bekal dari rumah di saat jam makan siang di kantor, saya teringat bagaimana mama saya akan bangun pagi-pagi buta demi memasakkan makanan buat anak-anaknya. Bahkan setelah mama saya punya menantu yang berangkat kantor pagi-pagi sekali, mama mempercepat bangunnya agar kakak ipar saya bisa membawa bekal ke kantor.

Menu masakan mama saya selalu komplit, yaitu nasi, sayur dan lauk. Bahkan kadang lauk ikan atau daging masih akan dilengkapi dengan tempe atau tahu. Iya, mama saya penganut setia 4 sehat 5 sempurna. Boleh dibilang kebiasaan makan sehat saya itu adalah hasil ‘doktrinasi’ mama.

Setiap malam mama akan membuatkan kami sekeluarga jus yang dicampur dari 2-3 buah. Bahkan buku panduan jus itu sampai sekarang belum habis-habis dipraktekkan, karena 2 atau 3 jus bisa divariasikan menjadi lebih dari 10 jus.

Mama saya memutuskan untuk memberikan kami sekeluarga, segelas jus di malam hari karena alasan yang sederhana. Pertama riwayat nenek dari mama saya yang kanker usus dan mama sudah 2 kali dioperasi karena tumor di ginjal dan payudara. Dia percaya sayur dan buah adalah cara untuk memutus rantai penyakit genetis itu. Alasan sederhana lainnya adalah karena dia ngga yakin jus diluaran itu 100 persen sehat. Entah itu karena memakai gula atau karena perbandingan air yg lebih banyak ketimbang buah yang digunakan.

Alasan pengolahan juga dijadikan pertimbangan dirinya untuk membujuk kami membawa makanan dari rumah atau makan di rumah ketimbang beli di luar. “Minyaknya belum tentu bersih loh,” atau “Ikannya belum tentu segar,” bahkan “Ih pengawetnya pasti banyak,malah sekarang makanan banyak yang pake boraks.” Itu adalah argumentasi mama saya untuk mempersuasi anak-anaknya, menantunya, dan suaminya agar tidak terpesona dengan makanan-makanan luar. Dia menyebut makanan-makanan itu sebagai makanan jorok.

Makanya kadang sulit untuk mengajak makan mama di luar, meski di restoran mahal sekali pun. Karena kalau restoran mahal ada alasan tambahannya,”Ih mahal banget, mama bisa bikin lebih enak dari ini.” Hahahahaha ibu-ibu emang. Tapi emang bener sih, mama saya itu jago masak.

Itu diturunkan dari nenek saya. Bahkan masakan khas Batak seperti Naniura, seluruh keluarga saya sepakat kalau mama saya paling jago membuatnya. Naniura itu adalah makanan yang dulunya hanya dimakan raja-raja. Kenapa? Karena bikinnya susah dan bumbu-bumbunya beragam.

Naniura adalah ikan mas yang diolah tanpa dimasak tapi bisa matang. Bingung? Jadi semua bumbu-bumbunya harus dimasak, baik itu disangrai atau direbus. Dan bumbunya lebih dari 10 macam. Semuanya harus ditumbuk halus untuk menjadi rendaman ikan selama beberapa jam yang kemudian mematangkan daging ikan mas yang sudah dipotong-potong. Hebatnya lagi potongan daging-daging itu harus bebas duri, padahal ikan mas terkenal akan durinya yang banyak, jadi bayangkanlah apa yang harus dilakukan untuk melepaskan duri-duri itu.

Selain naniura, mama saya juga jago mengolah babi. Meski dia sudah menjadi mantan Advent, mama saya tetap tidak bisa makan babi. Lalu bagaimana dia bisa menerka rasanya. Dia hanya melihat tampilan dari bumbunya dan untuk mencicipinya, dia akan minta bantuan anak-anaknya atau suaminya, which is Bapa saya wakakakak.

Dan dia akan luar biasa senang ketika melihat ekspresi kami, para penikmat masakannya, untuk menghabisi masakannya tanpa bersisa. Semua keletihan dan antusiasmenya untuk meramu bumbu serta bahan masakan terbayar sempurna.

Mama saya benar-benar mengajarkan indahnya berbagi. Berbagi dengan penuh cinta tanpa berharap apa-apa. Bahkan SMS saya yang bercerita mengenai kelezatan masakannya itu, tidak sepadan dengan niatnya untuk bangun pagi, pergi ke pasar, menggiling bumbu, sampai berpanas-panasan dekat kompor.

Ah Ibu itu memang orang pertama yang mengajarkan dunia akan menikmati hidup dengan berbagi dengan tulus. Dan kadang kala kita lupa untuk mengucapkan hal yang paling sederhana yang bisa membuat Ibu bahagia, yaitu “Terima kasih, mama.”

Advertisements

2 responses »

  1. Ah mami saya ga suka masak, apalagi yang rumit-rumit ๐Ÿ˜†
    Tapi memang masakan beliau, walaupun simpel-simpel, misal nggoreng nasi pake bumbu Indofood, ngangenin sih. ๐Ÿ˜›

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s