Teori Darwin Dalam Kapitalisme Waktu

Standard

Pernah membayangkan kalau waktu lebih berharga dari napas? Atau membayangkan waktu sebagai tolak ukur kesempurnaan hidup manusia? Saya tidak pernah dan film In Time membawa saya pada imajinasi dimana menjadikan waktu sebagai mata uang bukanlah sistem yang menyenangkan banyak orang.

Film yang naskahnya ditulis serta disutradarai Andrew Niccol ini sangat berhasil membuat saya terkagum-kagum karena ide ceritanya yang membuat penonton berpikir filosofis soal hidup, waktu, dan kebahagiaan. Menurut saya idenya berawal dari jargon Bapak Evolusi, Charles Darwin, yang sangat tersohor itu,”Survival of the fittest.” Dan esensi dari kebertahanan teori evolusi itulah yang kemudian dikembangkan dengan menjadikan waktu sebagai tolak ukur survive.

Siapa yang ingin bertahan hidup harus memiliki waktu yang panjang. Jadi jika waktu yang berdetik itu menyentuh angka 0:00:00 maka berhentilah kehidupan kita meski oksigen tetap mengalir bebas di sekeliling kita. Waktu menjadi mata uang baru untuk membeli kehidupan. Alhasil keabadian diukur dari seberapa banyak barisan waktu yang berdetak pada pergelangan tangan kita. Barisan waktu yang berbentuk seperti jam digital yang ditanam pada kulit kita dengan pendaran lampu hijau.

Bagaimana kehidupan yang porosnya ada pada waktu? Yang kuat bisa lebih santai menjalani hidup, karena waktu mereka banyak. Sedangkan yang lemah, harus sering berlari untuk memperpanjang hidup menuju bank peminjaman waktu, tempat pembagian waktu cuma-cuma, atau bertemu dengan orang yang kita sayangi untuk meminjam sedikit waktunya.

Tapi hidup yang berporos pada waktu ini, juga menciptakan terminologi kejahatan. Pencurian waktu yang dilakukan para preman waktu atau oleh bank yang menjerat peminjam waktu dengan bunga waktu yang tinggi. Ada adegan di mana, saat seorang perempuan ingin meminjam waktu selama 24 jam, pihak bank memberikan 30 persen dari 24 jam sebagai bunga. Bahkan ada juga kelompok preman yang mencuri waktu dengan menodongkan pistol pada korban untuk kemudian mencengkram guliran waktu dari lengan korban ke lengannya. Dan setiap kali guliran waktu itu sampai pada detik-detik terakhir, saya merasa luar biasa deg-degan seolah saya ikut terhanyut pada definisi setiap detik adalah berharga.

Mengapa waktu dijadikan tolak ukur keberlangsungan hidup manusia? Karena film ini juga meniupkan aroma imortality, keabadian. Semua orang ingin hidup abadi, mereka tidak ingin menua dan mati. Itu mengapa proses penuaan pun dihentikan. Saat memasuki usia 25 tahun, guliran waktu di mulai dan manusia akan tetap terlihat seperti berusia 25 tahun sampai detik waktunya habis.

Maka bagi orang yang berhasil memiliki waktu yang banyak pada pergelangan tangannya akan memiliki jaminan hidup selamanya. Alhasil terciptalah juga sistem kapitalisme waktu, sebab yang memiliki deposito waktu banyak menempati kelas sosial tertinggi. Mereka bisa tinggal di kawasan elit, memiliki bodyguard, menikmati makan enak, dan satu hal yang pasti mereka akan menjalani setiap detik hidup dengan santai tak perlu ada yg diburu karena mereka punya peluang untuk hidup 10 tahun, 100 tahun atau 1000 tahun. Bahkan bank terbesar menyimpan 1 juta tahun di brangkas besarnya, inilah kemewahan terbesar yang kemudian dicuri oleh Will Salas (Justin Timberlake) dan Syliva Weis (Amanda Seyfried) untuk dibagi-bagikan ke orang-orang yang tinggal di ghetto alias orang marginal dengan kapasitas waktu yang terbatas.

Alhasil ketika waktu bernominal 1 juta tahun itu dibagi-bagikan secara gratis, dunia perekonomian waktu pun jadi kacau balau. Terjadi deflasi waktu yang kemudian membuat orang-orang marjinal bisa percaya dari menuju kawasan waktu New Greenwich yang adalah kawasan orang-orang borjuis waktu. Orang yang tinggal di Greenwich bisa dengan mudah taruhan di meja judi dengan nominal waktu yang besar, lebih dari satu dekade waktu. Dan orang-orang di New Greenwich bisa memiliki deposito waktu yang banyak ya karena mereka punya cara untuk menyedot waktu dari orang-orang marjinal. Layaknya sistem pasar kapitalisme, mereka yang memiliki modal waktu lebih banyak akan lebih bebas menguasai pasar. Bebas menentukan kenaikan harga waktu untuk sekadar naik bis, membayar tempat tinggal, sampai menentukan suku bunga dan inflasi pasar waktu.

Peristiwa pembobolan waktu ini juga bertujuan untuk mengacaukan sistem pasar waktu. Karena buat Salas dan Weis, keabadian bukanlah tujuan hidup. Mereka ingin waktu menjadi milik semua orang. Salas yang memang berasal dari keluarga marjinal ingin membuat para pemilik modal waktu ikut merasakan penderitaan ketika detik di pergelangan tangan mereka perlahan mendekati angka 00:000:00  Sedangkan Weis yang adalah anak dari pemilik bank waktu terkenal, ikut membantu Salas karena dia sadar tidak ada kehidupan yang abadi. Adalah sebuah kejahatan kemanusiaan jika seseorang harus dikorbankan untuk membuat orang lain merasakan keabadian hidup. Alhasil Weis terus mendampingi Salas untuk membobol bank ayahnya bahkan bank waktu terbesar di dunia.

Bagaimana akhir dari film ini? Apakah salah satu dari mereka ada yang mati ketika polisi yang disebut sebagai penjaga waktu terus mengejar-ngejar mereka? Lalu kepada siapakah pasar berpihak, apakah pada kaum borjois waktu yang tidak pernah tahu bagaimana rasanya bertahan hidup dalam beberapa detik? Atau pasar justru berpihak pada ‘Robin Hood’ waktu yang membantu para proletar waktu bisa lebih santai dalam menikmati hidup?

Silahkan temukan jawabannya pada film ini. Dan film ini membuat saya berpikir, tidak menyenangkan untuk hidup abadi. Bukankah menjemukan untuk terus menjani hidup sampai 1000 tahun? Saya yang mencintai hidup ini pun berpikir bahwa bukan berapa banyak deposito waktu yang kita punya untuk mengitari dunia, tapi seberapa sadar kita menjadikan setiap guliran detiknya menjadi begitu bermakna. Seperti Salas yang tidak sengaja mendapatkan donasi waktu dari orang asing selama 100 tahun justru menemui sahabatnya untuk mendermakan 10 tahun. Tapi sahabatnya terlalu singkat mendefinisikan 10 tahun perpanjangan hidup, dia terlalu bahagia hingga mabuk-mabukan dan tak sadarkan diri kemudian mati dipencuri waktu.

Ironisnya lagi, ketika Salas ingin mebagikan 100 tahun yang dia punya kepada ibunya, dia harus melihat ibunya meregang waktu yang hanya berjarak serentangan tangan darinya. Salas dan ibunya sudah berlari sekuat tenaga untuk bisa bertemu dan mentrasfer waktu tapi tak bisa karena pergelangan tangan ibunya merujuk pada angka 00:00:00 Adegan film yang paling miris yang pernah saya rasakan, karena ketika waktu menunjuk angka 00:00:00 pemilik waktu tak akan berkesempatan mengucapkan kata terakhir. Jantung mereka berhenti seketika.

Ah kehidupan memang tidak semestinya abadi. Dan secara kebetulan nats renungan saya menuliskan demikian: Your marriage isn’t a destination, it is a preparation. Your job isn’t a destination, it s a preparation. Your friendship and family aren’t destinations, they are a preparation. The sight and sound, touch and taste experiences of this present world aren’t destination, they are a preparation for a final destination. No, it isn’t wrong to celebrate marital sex or a beautiful bouquet, or a silky chocolate pie, or a wonderful painting, or a death defying roller coaster. It is right to stop and smell the roses along the way-as long as you don’t treat those roses as a final destination. So whatever (we say we believe) about eternity, at the (everyday) level we live as if this is all there is.  Dan jika kita percaya akan teori evolusi maka seharusnya tidak ada hukum hidup keabadian. Yang ada adalah menciptakan kenikmatan hidup dari setiap detik keabadian waktu.

 

Foto diambil dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s