Filosofi Parasut Paralayang

Standard

blue sky is the content of courageousness

Saya pernah membaca sebuah artikel tentang bagaimana manusia suka sekali memancing adrenalin dengan melakukan hal-hal ekstrim. Manusia suka bermain digaris tipis kematian yang bercampur dengan tantangan.

Contohnya adalah menaiki roller coaster yang dengan kecepatan tinggi menanjak untuk kemudian menghempaskan tubuh pada derajat kemiringan yang tajam. Tidak cuman itu, roller coaster juga dengan ringan akan memutar balikkan tubuh sehingga kita bergelantung bebas di atas ketinggian. Bahkan di luar negeri ada yang memberikan tantangan ekstrim itu dengan membiarkan semua penumpangnya dalam keadaan berdiri. Saat mengetahui roller coaster jenis berdiri itu, jantung saya tiba-tiba mau copot ketika membayangkan menaikinya.

Mengapa manusia suka bermain di garis tipis kematian? Menurut saya, permainan ekstrim akan memancing sudut emosi paling sadar pada manusia akan definisi rasa takut. Dan ketika kita sadar akan rasa takut yang dihadapi, otak kita akan menyalakan tombol on kebutuhan menyelamatkan diri. Karena semakin ekstrim suatu keadaan maka kita akan semakin berani untuk menghadapinya. Insting mempertahankan hidup adalah naluri bertarung yang terbawa dalam DNA yang terevolusi.

Dan minggu lalu, saya menantang diri saya untuk berani menghadapi garis kematian pada situasi ekstrim. Saya main paralayang! Iya, terbang dari bibir bukit yang terjal dengan modal parasut yang dikembangkan.

Stop…jangan buru-buru bilang saya berani, karena tujuan saya bukan untuk menampilkan keberanian tapi untuk mengalahkan rasa takut demi bertahan hidup.

Saya, takut sekali dengan ketinggian dan tenggelam. Dan saat teman saya yang baru saja pindah ke Batu-Jawa Timur, bilang di sana ada paralayang, saya membatin harus berani menghadapi ketinggian itu sambil melayang-layang di udara. Maka melangkahlah saya ke tempat paralayang itu.

Bermodalkan keberanian untuk melepaskan diri dari rasa takut, saya berdiri di atas ketinggian 1.300 meter dari permukaan laut di Gunung Banyak-Batu. Dari ketinggian ini, saya melihat lingkaran hitam di bawah begitu kecil. Yup, tempat landasan itu terasa amat jauh hingga membuat landasan mengecil dari ukuran aslinya. Setelah semua perlengkapan dipakai, saya bersiap-siap untuk terbang. Parasut pun sudah dibentangkan, tapi tiba-tiba sang pilot, Reza, meminta saya untuk melepaskan peralatan. “Anginnya terlalu kencang dan tidak stabil, terlalu berisiko,” demikian ucap atlet paralayang ini. Menunggu…menunggu dan menunggu. “Maaf, sepertinya kita tunda sampai besok. Kita menyediakan alat tapi tidak menyediakan cuaca,” ucap Reza kepada saya dan pacar saya.

Reza dan timnya menawarkan agar saya dan pacar saya datang lagi besok pagi, membujuk kami untuk terbang jam 7 pagi. “Kalau pagi justru enak, awannya masih ada jadi kaya terbang di awan. Plus anginnya bagus,” ucap Bayu yang juga rekan Reza, semakin merayu kami. Saya membujuk pacar saya sejadi-jadinya, ya karena salah satu misinya pergi berlibur ke Batu kan untuk bermain paralayang.

Keesokan harinya, kami kembali menatap kota Batu dari Gunung Banyak itu. Reza kembali membantu pacar saya untuk mengenakan perlengkapan. Sedangkan saya, menunggu giliran karena pilot yang lain baru saja mendarat di landasan. Saat saya melihat pacar saya terbang, tiba-tiba saya ketakutan setengah mati. Jantung saya berdegup kencang dan keringat dingin mulai menjalar. Damn, ini bukan adrenalin. Ini reaksi fisik atas keberanian yang menciut.

Tiba-tiba saya membayangkan bagaimana kalau ‘kantong’ gelantungan saya loss? Bagaimana kalau tiba-tiba angin kencang yang fluktuatif itu datang lagi? Atau hal yang paling buruk terjadi, tali-tali parasut saya terbebat satu sama lain dan yang terjadi adalah bukan mendekati garis kematian tapi berada persis di garis hitam itu. Landasan yang berbentuk lingkaran hitam itu justru memicu keringat dingin mengucur semakin kencang.

Saya menjauh dari tempat take off. Saya menenangkan diri, padahal pacar saya sudah berayun-ayun di udara bersama Reza. Selama menenangkan diri saya bertanya pada diri, apa pentingnya saya naik ini wahana ekstrim? Kenapa saya harus terbebas dari rasa takut? Kenapa saya harus mendekati garis kematian dengan balutan tantangan? Ah manusia dengan emosinya bisa jadi sangat menjebak.

Belum selesai semua pertanyaan terjawab, pacar saya menelepon dari landasan. Dia bercerita bahwa awalnya dia begitu takut melihat ke bawah. Rumah dan sawah yang mengecil itu adalah definisi dari jauhnya jarak antara langit dan bumi. Tak perlu ditanya apa yang terjadi kalau tiba-tiba kita melayang bebas tanpa parasut. Walau pacar saya juga bilang itu menyenangkan, tapi saya lebih memilih untuk tidak mendengarkan apapun. Saya minta dia berhenti bercerita.

Tibalah giliran saya dipakaian alat-alat. Saya dipakaikan ‘kantong’ yang berbentuk tas ransel yang nantinya akan berubah fungsi menjadi bangku pada saat di udara. Setelah itu helm bertengger nyaman di kepala saya. Seberapa kuat memang helm itu bisa menahan benturan jika hal buruk terjadi dan saya terpaksa mendarat dalam keadaan darurat. Ah sial memang rasa takut itu, saya semakin sadar betapa takutnya saya pada ketinggian.

Lalu saya diminta mendekati bibir jurang untuk persiapan take off. Iya bibir jurang, kepleset dikit bisa tamat riwayat saya. Kampret memang rasa takut itu, membuat paru-paru saya mengecil. Saya sempat berpikir untuk tidak melakukannya karena saya takut ketika di atas saya akan pingsan karena kesulitan bernapas. Tapi porter yang membantu pilot membentangkan parasut memberi saya wejangan,”Relaks aja Mba, seru kok di atas.” Saya cuman mengangguk karena sudah tak sanggup berkata-kata.

Pilot saya namanya Joni, dia memberikan saya intruksi. “Nanti kalau saya bilang go, Mba jalan-jalan pelan ke depan dan saat saya bilang go lagi, mba lari-lari kecil. Saya usahakan, pada go yang pertama kita sudah take off.” Terdengar sederhana, tapi begitu membayangkan jalan-jalan kecil mendekati bibir jurang itu seperti menyerahkan diri pada….KEMATIAN. Saya kembali bertanya, “Yakin lu mau naik beginian?” Ntah kenapa yang saya pikirkan hanyalah,”Tidak semua orang punya keberanian untuk menantang diri atas palungan rasa takut yang dia punya. Dan tantangan ini bukan untuk mendekatkan diri pada garis kematian tapi untuk menikmati hidup dari level yang berbeda. Yup, ketika lu berani melawan rasa takut yang sudah jadi parasit dalam karakter diri, lu akan sampai pada definisi keberanian yang berbeda. Lu jadi mengerti bagaimana me-manage rasa takut untuk kemudian mendatangkan rasa berani yang rasional bukan sekadar nekat. Demi berhasil keluar dari situasi ekstrim, dan itu namanya ritual bertahan hidup.” Pikiran saya terus meracau.

“Sudah siap Mba?” Joni bertanya sambil membelakangi saya karena dia harus menaikkan parasut secepat mungkin. Sekelebat saya berdoa dan berkata dalam hati,”Terjadilah apa yang harus terjadi. Bukan garis kematian yang saya takuti tapi bagaimana keluar dari hal yang paling menakutkan yang dibentuk persepsi otak atas sebuah situasi yang bernama phobia ketinggian adalah yang saya pilih untuk dihadapi.” Dan dengan kesadaran penuh saya katakan, “Siap Mas…” Lalu Joni mengucap pelan, bismillah…sambil memberi aba-aba go yang pertama. Tak ada 3 langkah, parasut sudah terkembang dan saya sudah terangkat ke udara.

Begitu cepat saya bahkan sampai tak sempat menutup mata untuk menahan diri melihat ke bawah. Tiba-tiba saya di udara tanpa berteriak histeris dan yang keluar dari mulut saya, “Damn ini seru banget.” Mendengar reaksi saya, Joni yang sebelumnya mendapat cerita dari saya mengapa saya mau paralayang demi melawan rasa takut hanya bilang, “Kan saya udah bilang, ini bakal jadi pengalaman paralayang Mba yang menyenangkan. Santai aja.”

Untuk mengenyahkan rasa takut yang masih menyusup ke dalam alam sadar, saya mengajak Joni bercerita mengenai pengalamannya bermain paralayang ke beberapa negara Eropa. Beberapa kali dia sempat memberikan manuver menukik tapi itu semua dilakukan dengan sangat smooth, tiba-tiba ketinggian menjadi sensasi menyenangkan buat saya. Saya bisa melihat pemandangan kota berhawa sejuk itu dengan puas. Awan pagi yang masih bersih membuat saya seperti telah akrab dengan langit. Plus mataharinya belum terlalu terik jadi sangat sempurna untuk terbang di pagi hari.

prepare for landing

Iya TERBANG, SAYA BISA TERBANG! Meski euforia terbang saya tidak seheboh Wright bersaudara yang berhasil mendefinisikan mekanisme terbang bagi mamalia sebesar manusia, tapi saya cukup puas mengatakan kalau SAYA BISA TERBANG! Dan semua referensi melayang-layang di udara dengan bermodalkan pilot berparasut benar-benar membuat saya bisa bertahan hidup di ketinggian. Ketinggian adalah sebuah keindahan dan garis tipis kematian dalam balutan tantangan adalah kerendahan hati untuk bisa menghadirkan keberanian demi sebuah terminologi, bertahan hidup.

Jadi setelah ini ketakutan diri apa lagi yang coba saya dekati? Menyelam. Mari bersahabat dengan kedalaman laut dengan modal kemampuan mengapungkan diri. Dekati garisnya dan hadapi dengan keberanian rasional, bukan modal nekat.

 

Advertisements

3 responses »

  1. Hihihihihihihi…kamu miss bisa aja…kite saking sehatinye ye..ampe deg-degan juga pas baca ini tulisan 😀

    Sebenarnya dari tahun kapan gw bernazar untuk berani berenang atau menyelam…tapi belum kesampean. Sempet minta diajarin si Ita,eh dia keburu melahirkan jadi kaga diterusin dah belajarnya.

    Kadang kita kaga butuh deadline untuk menghadapi rasa takut, cuman butuh niat untuk ketemuan tuh sama rasa menciutkan itu hehehehehe

  2. Pingback: My Fascinating 2011 « Flying so light to the sky

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s