ME, the luckiest SISTER in the WORLD

Standard

Jadi awal September ini saya menuliskan status di Facebook yang isinya adalah merayu teman-teman saya. Maksudnya?

Iya saya mempublikasikan wish saya untuk bisa dapat tiket konser Linkin Park secara gratis. Siapa saja yang ingin mengekspresikan rasa sayangnya kepada saya pada selembar tiket itu, saya akan hadiahi senyuman termanis sedunia!

Seminggu setelah status itu nyantol di newsfeed, belum ada yang menawarkan saya tiket gratis. Minggu kedua, semakin tak ada gelagat karena harga tiketnya terbilang mahal. Pelan-pelan saya mengikhlaskan diri untuk tidak menonton konser band rock asal California itu.

Sampai kemudian tiba-tiba adik saya semata wayang bilang, “Ka, gw mau nonton Linkin Park!” Saya membelalakkan mata sambil menutup mulut. “Ah yang bener lu?” Tau ekspresi ade saya apa? “Kaga percaya ya udah.”  “Sial,” saya pun membatin.

“Lu mau ikut ngga?” Ade saya semakin memancing emosi. “Kaga deh,kaga ada duit. Lu pergi aja sendiri,” jawab saya lemas. “Udah si jangan sedih gitu mukanya, gw beliin aja sini tiketnya.” Sekilas saya merasa seperti sedang mimpi. Maklum biasanya saya yang dipalak adik saya untuk sekadar traktir makan, beli jaket, beli sepatu, atau sekadar jalan-jalan berdua. Plus dia belum memiliki pendapatan tetap jadi bagaimana mungkin dia punya dana buat beli 2 tiket.

Tapi adik saya ternyata memang membelikan tiket Linkin Park konser untuk saya. Jadi, dia dapat hadiah dari bapa saya karena baru lulus kuliah. Sebenarnya dia bisa aja beli satu tiket yang harga 1 jutaan, tapi dia split duitnya demi bisa menonton konser itu bareng saya, kakak perempuannya yang paling manis sedunia! 😀

Maka hadirlah kami pada 21 September lalu di Gelora Bung Karno (GBK). Diantara 25 ribu penonton yang rindu dengan kehadiran Mike Shinoda and the gank ini, ada saya dan adik saya. EUFORIA kita berdua benar-benar terasa ketika mengantri sambil memegang tiket. Maklum terakhir kali mereka konser di Jakarta itu adalah 2004 dan konon kabarnya berhasil menggebrak Jakarta, jadi penasaran adalah aroma yang kita hirup dalam-dalam.

Kami memang tidak membeli tiket yang berdiri di depan panggung. Selain karena terlalu mahal, membayangkan berjejalan sambil berdiri berjam-jam rasanya cukup menguras duit dan keringat. Jadi kami memilih bagian yang duduk tapi sedikit jauh. Iya sedikit jauh, karena dari posisi kami duduk pandangan mata ke panggung tetap nyaman. Oiya saking euforianya, saya rela membeli bando dengan tanduk evil yang menyala-nyala hahahaha…ngga ngerti maksudnya apa, tapi merasa lucu aja pake bando itu.

Setelah menunggu hampir 1,5 jam tiba-tiba stadion sepakbola terbesar di Indonesia ini pun gelap. Dua layar sedang di kiri dan kanan panggung membentuk semacam prisma dari pantulan lampu-lampu laser. Tiba-tiba semua penonton berdiri, termasuk saya dan adik saya. Mereka belum nyanyi, kita sudah teriak sehisteris yang kita bisa. Lagu pertama bergulir, Papercut, dan setelah itu GBK seolah tak berhenti berguncang. Semua orang berteriak mengikuti Chseter Bennington menarik pita suaranya kuat-kuat.

Ada beberapa lagu baru dari album Linkin Park teranyar yang dibawakan. Ya karena konser kali ini memang sekalian untuk mempromosikan album terbaru mereka. Dari sederetan lagu baru itu, saya paling suka yang When They Come for Me. Saya kutip sedikit liriknya:

I’m awfully underrated but came here to correct it
And so it ain’t mistaken, I’mma say it for the record
I am the opposite of wack, opposite of weak
Opposite of slack, synonym of heat, synonym of crack
Closest to a beat, far from a punk
Ya’ll oughta stop talking, start trying to catch up mother fucker

Permainan perkusi, digital synthesizer dan rap pada lagu ini tetap buat saya lompat-lompat bahkan cenderung berayun lompatannya karena mengikuti ritme musik. Buat saya sih, Linkin Park selalu punya cara untuk menghentakkan telinga tapi juga cukup bisa lembut menenangkan jantung. Jadi tidak terlalu merasa rusuh tapi tetap bersemangat.  Ini artinya akan susah sekali untuk menahan diri tidak lompat-lompatan 😀

Awalnya saya pikir ngga nyaman untuk loncat-loncatan di bangku yang di desain bagi penonton sepak bola. Jaraknya terlalu dekat dan pendek. Plus, saya ada di tempat yang lumayan tinggi jadi rada kuatir juga untuk loncat-loncat. Tapi musik rock tanpa teriak-teriak dan lompat-lompat apa rasanya? Akhirnya kami berdua pun terbawa suasana. Bahkan beberapa kali saya dan adik saya saling rangkulan sambil lompat-lompat bersamaan.

Tanpa disadari musik rock telah membuat saya dan adik saya sama-sama norak. Sesekali menunjuk-nunjuk tangan ke arah Bennington, seolah-olah kami begitu akrab. Tapi ada sedikit kritik yang saya rasakan selama konser berlangsung, si Bennington dan Shinoda itu pelit sekali berbicara. Mereka hanya menyapa dengan ucapan, “Hello Jakarta”; “Thank you Jakarta, you’ve been amazing” ; atau “Good night, Jakarta.” Saya berharap mereka akan menyapa atau berkomunikasi lebih dari itu, sekadar bilang “Makasih ye udah datang” atau “Akhirnya kita ketemu ye”. Saya ceritakan kritik saya ini ke bos saya yang super zuper nyentrik dan tahu apa komennya, “Ye…elu…nonton konser apa mau denger ceramah, ngarepin penyanyinya banyak ngomong…” Hahahahaha saya ketawa setengah mati dengar respon bos saya. Ini bos paling funky yang pernah saya punya and i am so lucky to know him hahahaha.

Saya sadar juga sih, mungkin si Bennington udah luar biasa cape sampe ngerasa ngomongnya dikit aja dah. Atau emang gitu settingannya…banyakin nyanyi dan buat seluruh penonton lu dapat emosinya ketimbang banyak ngomong tapi kerasa garing. Ya kritik itu tidak lantas membuat saya merasa rugi menyaksikan konser bertajuk A Thousand Sun World Tour Concert 2011 ini. Di konser ini mereka juga melakukan amal, Rp 10 ribu dari harga tiket akan disumbangkan untuk aksi kemanusiaan. Jadi ya grup musik rock yang berhati rinto sepertinya 😀

Satu hal yang saya rasakan setelah selesai konser, selain kaki pegal karena hampir 1,5 jam berdiri sambil lompat-lompatan memakai sepatu masculine boots saya, adalah saya dan adik saya akan mengingat momen ini. Momen di mana kita menjadi sangat euforia atau bahkan norak, bernyanyi, lompat-lompatan sambil rangkulan bersama, meluruskan kaki sambil terus membahas bagaimana Linkin Park berhasil menghipnotis kami berdua, sampai menunggu taksi dengan ditemani sebotol air mineral untuk mengendorkan pita suara yang menegang.

Dan untuk melengkapi ke-euforia-an saya, facebook saya kembali bertengger status yang menyempurnakan wish yang terkabul:

Having great night with my bro.We were singing&jumping.Rock music definitely a fun way to embrace your family bounding.And of course Me,the LUCKIEST sister in the WORLD \m/

Suatu hari nanti, saya akan cerita ke anak-anak adik saya dan anak-anak saya, bahwa kami pernah jadi saksi hidup konser LINKIN PARK di GBK…terdengar norak….biarin karena ME, the LUCKIEST sister in the WORLD.

 

Advertisements

One response »

  1. Pingback: My Fascinating 2011 « Flying so light to the sky

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s