Kebahagiaan Adalah Permainan Judi?

Standard

Salah seorang sahabat saya memberi tahu bahwa dia akan menikah. Saya shock!

Shock bukan karena keputusan menikah adalah hal yang aneh. Tapi karena laki-laki yang akan dinikahinya adalah orang yang sama yang telah menyakiti dia berkali-kali. SELINGKUH!

Kekagetan saya semakin bertambah ketika dengan gaya ‘wawancara’ santai saya, dia bercerita bahwa rencana nikah itu sudah ada sejak Februari. “Trus kenapa lu baru kasih tau sekarang?” tanya saya penuh dengan rasa penasaran. “Karena gw ngga mau lu sedih. Gw nunggu sampe lu punya pacar, jadi berita ini tidak membuat lu sedih.”

Saya, bereaksi dengan kaget setengah mati. Kadar shock saya mencapai titik kulminasi. Saya minta bertemu dengan dia. Mau dia bercerita dengan detail secara langsung. Berharap bisa melihat binar matanya sebagai refleksi keyakinan bahwa dia sadar betul atas pilihannya.

Berbagai pertanyaan pun meluncur dari ketikan yahoo messenger saya untuk dia. “Apa yang bikin lu yakin? Bagaimana dia menyakinkan lu? Apa lu ngga takut merasakan sakit yang sama?” Pertanyaan-pertanyaan sejenis itu lah yang terlontar dengan lancar. Maklum 3 kali diselingkuhi bukanlah track record yang patut diberi piala.

Dan saya masih ingat, masa di mana kami sama-sama berani menghadapi sakit hati dari praktek perselingkuhan. Karena perselingkuhan pacarnya yang ketiga kali, hanya berbeda beberapa hari dari apa yang saya alami.

Jika saya mendeskripsikan diri sebagai perempuan mandiri yang keras kepala, berani, cuek, dan frontal. Maka naikkan semua kadar itu dua kali lipat untuk mendefinisikan sahabat saya yang satu ini. Dan ketika cerita perselingkuhan itu terjadi lagi pada dirinya, saya melihat dia terpuruk. Bahkan bisa dibilang, saya pulih lebih dulu dibanding dia.

Situasi dan kebaikan Tuhan yang membuat saya bisa pulih lebih cepat. Dan di malam-malam kami terpukul, kami berdoa bersama. Menentukan waktu dan berdoa dari dua tempat yang berbeda. Mendoakan kekuatan diri, impian, percintaan, persahabatan, dan keluarga. Mendoakan hidup…ya, mendoakan hidup.

Itu adalah pengalaman religius buat kami berdua. Tapi itu juga jadi pengalaman menyedihkan buat saya. Melihat seorang sahabat yang kuat, bisa begitu rapuh dan tak berdaya. Ada malam-malam dia menelepon atau mengirimkan SMS hanya untuk bilang, “Kok dia nyakitin gw lagi ya pris? Gw ngga punya semangat Pris, kaga ngerti mau ngapain.” Meski saya pada akhirnya bisa menenangkan dia, sebenarnya saat itu saya meletakkan kedua tangan di dada sambil menahan rasa sedih yang begitu dalam.

Maka ketika dia menyebut laki-laki yang akan dinikahinya adalah orang yang sama yang menyakitinya, semua momen penuh perjuangan itu bangkit lagi. Dan semua pertanyaan-pertanyaan saya hanya dia jawab dengan, “Jawabnya pake hati Pris. Bukan pake insting.”

Jawaban yang sama juga dia berikan ketika saya tanya maksud dari tidak ingin membuat saya sedih dengan berita pernikahannya. Ngga cuman itu, dia bilang, “Kebahagiaan itu kaya permainan judi. Lu ngga pernah tahu bagaimana bentuknya, kapan datangnya, dan bagaimana menghindarinya.” Saya coba mengikuti alur berpikirnya,”Kalau kebahagiaan adalah permainan judi, taruhan apa yang lu kasih untuk mengikutinya?”

“Ngga ada, cuman dibiarin mengalir aja,” jawabnya dengan santai. “Itu cinta buta namanya. Masa lu ikutin permainan judi tapi lu ngga tau apa yang lu pertaruhkan?” saya menajamkan pertanyaan saya. “Yang gw tahu, ini kata hati gw. Kata hati gw bilang,udah waktunya masuk ke tahap berikutnya sama dia. Gw ngga bisa menjamin dia ngga akan selingkuh lagi atau gua ngga akan disakiti lagi sama dia. Itu yang gw maksud kebahagaain adalah judi, lu ngga pernah tahu apa bentuknya sampai lu ikut dalam permainannya dan siap kalah atau menang. Kalau nanti dia selingkuh lagi ya berarti jodoh kita pendek, dan gw siap dengan kondisi itu.”

Banyak hal yang muncul sebenarnya. Persis seperti jagung yang ditaruh di wajan panas yang siap meletup-letup jadi popcorn. Tapi entah kenapa saya berhasil menahan letupan itu. Karena yang saya ingat, saya akan bahagia kalau dia bahagia. Dan apabila definisi bahagianya adalah dengan “berjudi” bersama laki-laki itu, ya itulah bagaimana saya akan bisa melihat dia bahagia.

“Gw menghargai dan berterima kasih untuk jawaban hati lu yang bilang harus menunggu gw berpasangan untuk menyampaikan berita itu. Semua lu lakukan untuk melindungi gua, and I do appreciate that. Tapi bukan perlindungan seperti itu yang harus lu berikan ke sahabat lu.”

Saya kemudian memberikan pernyataan, bahwa kebahagiaan adalah bukanlah permainan judi. Dia adalah keberanian menghargai hidup. Dan sebagai orang-orang berani, harusnya dia menyadari bahwa kekagetan saya bukan karena sebagian besar teman-teman saya sudah menikah semua, melainkan karena pilihan laki-laki yang dia ambil. “Lu tahu apa yang membuat gw bisa lebih berani menikmati hidup, salah satunya adalah melihat orang-orang yang gua sayangin itu bahagia. Kalau lu bahagia, itu jadi energi untuk menguatkan gua menghadapi apapun di depan mata. Karena buat gw, kebahagiaan bukan judi. Dia energi!”

Energi untuk punya passion dalam hidup. Energi untuk berani bertanggung jawab atas setiap proses yang dipilih. Energi untuk menyerap keyakinan dan mimpi orang-orang tersayang. Dan kebahagiaan adalah energi untuk berbagi ketulusan serta kepedulian ke orang-orang terkasih.

Atas dasar energi itulah, saya merasakan kebahagiaan yang sempurna dari niat teman saya untuk menikah. Menikahi laki-laki yang dia pilih. Laki-laki yang diyakininya bisa menjadi partner hidup yang menyempurnakan proses menikmati setiap tanggung jawab hidup.

“Itulah definisi kebahagiaan gw buat elu, orang yang gua sayang.”  Dan sahabat saya hanya bilang,”Makasih Pris, I love you too.” Semoga ketulusan cinta yang mereka punya, akan menjadi energi yang bisa saya resapi sebagai keindahan merayakan hidup setia sampai ajal memisahkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s