Menarik Selaput Virginitas

Standard

Apa yang ada di benak kalian kalau mendengar kata “virgin”; “keperawanan” ; atau “selaput dara” ? Apakah kalian langsung menyandingkannya dengan norma atau aturan agama? Atau justru mensejajarkannya dengan mitos? Saya tidak akan memberikan pendapat saya secara lugas, hanya akan coba memberikan gambaran real yang ada di sekitar saya.

Secara tidak sengaja, saya menemukan satu artikel menarik di salah satu website urban lifestyle yang lagi happening di Jakarta. Mereka memberikan daftar artis-artis Hollywood yang berhasil menjaga keperawanannya sampai menikah. Siapa yang paling kalian hapal? Jessica Simpson yang memang memakai purity ring sejak berumur 12 tahun. Atau Jordin Sparks yang katanya membawa neneknya ke mana pun dia kencan sama pacarnya, sebagai ‘alarm’ untuk tetap perawan sampai menikah. Dan mereka menjadi menarik untuk dibahas, karena di Amerika, tetap perawan sampai menikah adalah hal yang tidak mudah dilakukan. Ya karena hubungan seksual, dianggap wajar dilakukan sebelum menikah.

Konsekuensi logis dari tidak pentingnya keperawanan sambil menekan seks bebas, saya banyak sekali menemukan website-website remaja yang memiliki section khusus membahas mengenai hubungan seksual yang sehat. Bahkan ada yang khusus menampilkan cerita-cerita hubungan seksual pertama kali. Para remaja yang adalah visitor dari website tersebut bisa dengan bebas bercerita apa yang mereka rasakan ketika hubungan pertama itu dilakukan. Malah website itu membuat semacam survei sambil menyisipi info kesehatan. Misalnya, website itu bertanya apakah saat pertama kali berhubungan seksual mereka merasa kesakitan, berdarah, merasa bersalah, dan menganggap momen pertama itu sebagai hal yang menyenangkan atau menyakitkan?

Saya sangat terkesima dengan website itu karena mereka membahas dan mengajak para remaja itu untuk lebih dewasa lagi mengartikan hubungan seksual pertama. Ngga cuman soal bagaimana selaput hymen itu menjadi tidak utuh saja yang dibahas, tapi juga visitors diberi info mengenai masturbasi yang sehat. Hubungan seksual jelas bukan hal yang tabu, dan selaput hymen bukan sebuah kultus keperempuanan.

Saya ngga tahu bagaimana virginitas didefinisikan saat ini. Bisa jadi sudah bukan hal yang harus dikultuskan, tapi yang sering mengundang rasa penasaran saya adalah apakah melepas selaput hymen sebelum menikah dianggap sebagai sebuah aksi modernitas atau merasa keutuhan keperempuanannya tidak ditentukan pada selaput tipis itu.

Pernah satu kali saya bertanya-tanya, sebenarnya apa sih fungsi selaput hymen itu? Kenapa alat genital perempuan harus diberi selaput? Secara umum tidak ada fungsi yang spesifik. Hanya saja, pada saat masih bayi, selaput ini diperlukan untuk melindungi organ intim karena sistem imun bayi masih sangat lemah. Jadi si selaput ini diperlukan untuk menghindari bayi perempuan dari infeksi organ genital.Β  Karena bertujuan sebagai pelindung, bentuk awal selaput tebal. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, selaput menjadi lebih tipis dan memiliki lubang dengan bentuk yang bervariasi. Lubang ini sebagai jalan keluar darah menstruasi.Β  Trus gimana selaput yang niat awalnya sebagai penghalau dari infeksi genital ini bisa disangkutpautkan dengan harga diri perempuan, wujud cinta, dan kesucian perempuan yang hanya diserahkan pada suami?

Kalau dilihat dari asal bahasa, virgin, bersumber dari bahasa Latin yaitu virgo. Dan ini dipakai untuk merujuk pada dewi-dewi, tapi seringnya mengarah ke Artemis. Dan virgin dilambangkan sebagai sebuah kekuatan serta independensi. Kok bisa? Sebab si Artemis ceritanya tidak tergoda dengan rayuan Dionysus yang adalah dewa penggoda.Β  Jadi virgo adalah dewi yang punya penderian teguh untuk menghalau segala godaan. Baru di abad pertengahan, terminologi kekuatan dan independensi bergeser menjadi sesuatu yang berhubungan dengan berhasil menahan hasrat penetrasi sebelum menikah. Dan ini tentu saja dipengaruhi oleh nilai-nilai agama, keperawanan adalah ‘hadiah spesial’ untuk suami. Plus, ‘hadiah spesial’ ini akan ditautkan dengan menjaga nama baik keluarga. Dari sebuah selaput, menuju kepada eksistensi kelompok. Selaput, pelindung komunitas. Menarik πŸ˜€

Tapi ilmu anatomi dan kedokteran memberikan pengaruh pada proses pendefinisian virginitas. Karena ternyata selaput itu, layaknya sebuah selaput, mudah sekali koyak. Dan contoh yang paling sering digunakan untuk menggambarkan betapa selaput itu sangat tipis adalah naik sepeda atau menunggang kuda bisa menyebabkan selaput terkoyak. Maka virginitas menjadi, vagina yang belum pernah mengalami penetrasi penis. Perlahan tidak ada lagi keterangan, “yang dilakukan sebelum menikah.”

Lalu saya teringat, beberapa waktu lalu pernah liputan mengenai remaja putri dan menstruasi. Ternyata banyak diantara mereka yang tidak mengenali tubuhnya dan terlalu membalut diri dengan segala rupa mitos. Salah satu contoh tidak mengenali tubuh adalah tidak tahu ada berapa banyak lubang di daerah genitalnya. Berpikir kalau cara jalan anak perempuan bisa mengartikan apakah dia masih virgin atau tidak.Β  Soal yang terakhir ini, saya mengalaminya sendiri. Waktu di SMA, tiba-tiba seorang teman berbisik ke saya, “Lu perhatiin gaya jalannya…udah kaga perawan dia.”

Tapi sebenarnya sampai sekarang saya juga masih sering menemukan pernyataan-pernyataan lucu seputar virginitas. “Sekarang mah yang penting bukan perawan apa kaga, tapi good in bed or not?.” Karena buat yang berpikir seperti ini, interaksi intim bisa memengaruhi kadar cinta. Ya sah-sah aja sih, semua persepsi kan punya latar belakang pembentuk premisnya sendiri.

Akhirnya, virginitas mengarah pada kesiapan perempuan dalam berhubungan seksual. Apakah dia menjadi pribadi yang setia menjaga demi segala nilai-nilai yang diyakini atau peneguhan integritas tubuhnya sendiri. Buat yang menjadi setia demi nilai-nilai yang diyakini, titik kulminasinya adalah ketika malam pertama bisa merasa lega karena penetrasi dilakukan oleh penis yang sah. Sedangkan bagi yang setia demi peneguhan integritas tubuhnya sendiri, malam pertama menjadi momen dia berkuasa penuh atas tubuhnya atas siapa yang pantas penetrasi pertama kali.

Mudah-mudahan virgnitas tidak mengarah pada suara terbanyak adalah tuhan atau sekadar trend. Ini menghasilkan pernyataan seperti, “Sekarang udah common lagi kalau lu ngga perawan.” Bahkan saya pernah kaget setengah mati, ketika seorang teman lama bertanya apakah saya masih perawan atau tidak. Kaget, karena saya merasa apapun jawaban yang saya berikan akan menjadi pisau dikotomi, lu masuk anak jaman sekarang atau angkatan Siti Nurbaya. Seolah rapat atau terkoyaknya selaput darah saya menjadi hal penting untuk dibicarakan setelah bertahun-tahun tidak bertemu. Atau jangan-jangan teman saya itu emang lagi survei mengenai berapa banyak perempuan yang masih virgin atau tidak hahahahaha…Yah beberapa waktu lalu kan juga ada tuh wacana tes keperawanan untuk siswa baru tingkat SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi di Jambi. Tujuannya, menekan terjadinya seks bebas di kalangan pelajar. Lihat betapa penting keperawanan perempuan, itu selaput jadi penentu apakah perempuan berhak sekolah atau tidak.

Tidak ada kesimpulan dari postingan ini, emang sengaja dibikin menggantung karena saya tidak mau buat dikotomi apa-apa atas virginitas. Itu urusan pribadi, sepribadi letak dari selaput itu sendiri. Mmmm…kalau boleh saya kasih pesan, sebagai wartawan kesehatan, nikmatilah hubungan seksual dengan sehat. Play safe. Dan play safe juga berarti lakukan ketika siap, lakukan karena mau, lakukan untuk diri sendiri demi penghargaan pada tubuh, lakukan dengan setia, serta sedia pengaman dalam situasi emergency πŸ˜€

Advertisements

7 responses »

  1. Btw, saja jadi teringat novelnya Paulo Coelho, “Eleven menutes”. Tentang seorang pelacur yang “keperawanannya” terpulihkan dan utuh kembali ketika ia berhubungan seksual dengan orang dicintai dan mencintainya. Ia merasa keperawanan tak melulu soal selaput dara, tapi juga ketika hati untuk pertama kali tersentuh oleh cintah… tsahhhh, dangdut banget bahasanya :lol:.

  2. Aaaaa….kamu suka Paulo Coelho juga….tos dulu ah πŸ˜€ Iya definisi keperawanan yang Coelho banget dah πŸ˜€

    Btw, hampir semua buku Coleho, aku baca…kadang suka rindu dengan gaya ceritanya…tapi kadang suka bisa nebak akhir ceritanya hahahahaha….Tapi dia salah satu penulis kesukaanku…pilihan katanya suka menohok #:-S

  3. tapi yang sering mengundang rasa penasaran saya adalah apakah melepas selaput hymen sebelum menikah dianggap sebagai sebuah aksi modernitas atau merasa keutuhan keperempuanannya tidak ditentukan pada selaput tipis itu.

    jawaban simpelnya cuma dua: 1] boyfriend/relationship pressure; 2] peer pressure. Penjelasannya bisa panjang lebar dengan banyak variabel, tapi lain kali deh. U know where to find me the rest.. :mrgreen:

    Bahkan saya pernah kaget setengah mati, ketika seorang teman lama bertanya apakah saya masih perawan atau tidak.

    Sebenarnya reaksi dia dari jawabanmu nanti juga bisa buat bahan dikotomi, apakah dia masuk angkatan Siti Nurbaya atau angkatan Miyabi. 😈
    Tapi saya pernah tuh dulu 2-3 kali nanya begitu sama seorang cewek. Soalnya anaknya cantik-sexy-baik tapi lugu banget soal sex. Agak kuatir aja kalo2 dia nemu “pacar yang salah”. Baik banget saya ini.. πŸ˜†

    btw topik ini jaman jahiliyah dulu jadi ajang baku hantam di blogsfer. Terutama kalo sudah menyangkut sudut pandang pria soal virginitas. πŸ˜†

    • Baik banget saya ini..

      Kenapa ngga dipacarin aja Jensen πŸ˜‰

      btw topik ini jaman jahiliyah dulu jadi ajang baku hantam di blogsfer. Terutama kalo sudah menyangkut sudut pandang pria soal virginitas.

      Ah ini kan semang selalu jadi topik yang mengundang baku hantam…..harusnya yang menentukan virginitas itu yang punya tubuh…lawan jenis ngga punya kontribusi untuk itu, well that is my personal statement sih πŸ˜€

  4. Kenapa ngga dipacarin aja Jensen πŸ˜‰

    Soalnya dia sudah seperti adik tuk mantan pacarku. Saya yang ngenalin mereka. Membuat mereka jadi deket. Dan dia yang paling tahu semua sejak saya HTS, pacaran, pacarku selingkuh, sampai saya bubar. Gitu deh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s