Di Bawah Lengkingan Dolores O’Riordan

Standard

Sabtu (24/7) kemarin, dengan hot pants jeans belel, kaos merah polos, dan sepasang masculine boots, saya mengantarkan diri ke Pantai Carnaval Ancol. Itu adalah kali pertama saya ikut memambah jumlah manusia pada ajang Java Rockin Land (JRL). Buat saya, magnet JRL sekarang adalah band alternatif rock asal Irlandia, the CRANBERRIES!

Ada alasan sentimentil untuk menyukai band yang lead vokalnya dipegang oleh Dolores O’Riordan ini, harus saya tonton dengan segala bayaran dan pengorbanan. Ini adalah band yang mengiringi ke-tomboy-an saya semasa SMP. Saya bersama 5 orang teman perempuan saya, saat SMP dulu, bahkan punya geng yang diberi embel-embel ZOMBIE. Embel-embel itu selain untuk memberikan kesan garang, juga untuk menegaskan selera musik kita, kami adalah pecinta the Cranberries. Hahahaha euforia eksistensi diri itu memang ibarat jamur ajaib, penuh halusinasi.

Jadi, atas nama memenuhi halusinasi masa SMP, saya pun menyisihkan uang untuk membeli tiket JRL hari Sabtu. Dan alam pun mendukung, perjodohan saya dengan the Cranberries dipermudah dengan mendapat tiket setengah harga. Seorang temannya teman (lihat rantai pertemuannya) mendapat tiket itu sebagai jatah gratis, tapi karena dia tidak ingin menonton, tiket pun di jual. Ada perasaan deg-degan ketika melihat tiket itu. Tiket biasa sebenarnya, kaya tiket mau naik pesawat budget flight, kertas print biasa aja. Tapi emosi lebay saya sedang bergejolak, jadi halal kalau saya terpesona setengah mati untuk memegang tiket itu.

Tiket itu membuat saya semakin terpacu untuk mendengarkan lagu-lagu the Cranberries hampir setiap hari melalui software winamp. Dan ketika saya menyaksikan Dolores berada di atas panggung, dengan jaket mantel, celana legging, dan sepatu BOOTS, saya siap diperdaya. Melalui layar lebar yang disembul kepala-kepala manusia, saya melihat Dolores yang sudah mulai menua. Tapi umur bukan batasan untuk menafsirkan musik, khususnya musik rock. Penyanyi yang juga penulis lagu itu, tetap memiliki vokal suara yang sama persis dengan apa yang saya dengar di winamp. Bahkan lebih kuat, karena suara lengkingannya yang khas mampu membuat saya meloncat-loncat tanpa peduli apa yang terjadi pada putaran dunia pada malam itu.

Dia bahkan melakukan tarian sederhana sambil memainkan jari-jari, mungkin itulah rapalan misterius dia untuk membuat ribuan orang dengan berbagai identitas ikut bernyanyi, melompat, dan mengangkat tangan ke atas sambil membentuk jari simbol musik rock. Saya semakin terkesima, ketika Dolores keluar panggung dengan memakai topi khas kepala suku Indian, DAMN dia tahu bagaimana menghidupkan suasana. Topi khas itu selaras dengan lengkingan ala orang Indian ketika melakukan tarian mereka. Dan yang semakin membuat semuanya sangat menyenangkan adalah, lagu yang dibawakan adalah lagu-lagu yang memang menjadi hits mereka. Trik ini secara tidak langsung mengajak penonton yang telah rela-rela menembus kemacetan dan berdiri berjam-jam untuk bernyanyi sepuas yang mereka mau. Peduli setan dengan suara yang sedikit melenceng dari nada seharusnya atau bahkan dengan percaya diri merasa suaranya melengking seindah Dolores.  Bahkan di dua lagu terbaru mereka, banyak penonton yang tetap menggerakkan tubuh mengikuti irama, meski mulut tertutup rapat karena belum akrab dengan lagu tersebut.

Di sesi kedua, Dolores keluar dengan gaun hitam sepaha dengan sedikit blink-blink pada bagian dada. Pelengkap bajunya tetap, sepatu boots dan gitar yang melintang di badannya. Luar biasa, dia tampil anggun dengan sentuhan maskulin yang pas. Terlihat sangat berani, independen, tapi tetap lembut. Saya merasa outfit pamungkas ini adalah cara berpamitan yang anggun dari seorang vokalis band alternative rock. Dan saya dipuaskan dengan luar biasa sempurna, halusinasi eksistensi saya di SMP dulu, terbayar dengan tarikan suara, gerakan badan, dan hentakan kaki serta kepalan tangan ke udara atas nama pecinta the Cranberries.

Persetan orang mau bilang, malam itu saya jadi sama dengan ribuan orang yang sekadar memenuhi dan meramaikan ajang musik rock tahunan yang kemudian terkesan jadi momen untuk sekadar eksis dan memenuhi timeline twitter atau news feed facebook. Kadang kala untuk memberikan kepuasan diri, kita harus menutup mata terhadap persepsi orang dan menjadi sama dengan ribuan manusia yang datang dengan sepatu heels tinggi, celana pendek, kaos buntung, kemeja kotak-kotak, celana legging, rambut gondrong, sepatu boots, jaket belel, jeans belel, gelang kulit, serta atribut pelengkap penonton konser lainnya. Karena eksistensi adalah euforia, seperti jamur ajaib yang penuh halusinasi. Sebuah kenikmatan yang akan dengan cepat sampai klimaks, mengendap sesaat, meninggalkan letih, untuk kemudian kembali pada tingkat kesadaran yang lama yaitu inilah aku.

PS: Terima kasih buat dia yang telah menjadi bagian euforia saya malam itu.

Advertisements

2 responses »

  1. Pingback: Freudian Style « Flying so light to the sky

  2. Pingback: My Fascinating 2011 « Flying so light to the sky

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s