Arsiran Kita

Standard

Dia : If you have a boyfriend that is not fully yours. Sometimes you have to share him with his friends that also need him.Isn’t it hard?
Saya : Hidup adalah mengenai berbagi, sayang. Dan berbagi itu punya banyak bentuk serta lapisan. Kamu, punya kehidupan sebelum dan setelah ketemu aku. Aku, juga punya kehidupan sebelum dan setelah ketemu kamu.

Saat ini, kita ada di titik berbagi yang sama. Berbagi cinta,emosi,desire,dan mimpi. Tapi kita kan tetep punya arsiran yang lain, dengan bentuk dan lapisan arsiran atau berbagi yang berbeda.Yang perlu dilakukan selanjutnya adalah, let me know your world and friends and I’ll be love to bring you to mine.

———
Ya, saat ini saya sedang membuat arsiran baru. Seorang laki-laki menyatakan cintanya kepada saya, dan saya…ya klepek-klepeklah…hahaha.

Seperti saya, pacar saya punya teman yang banyak. Teman yang setiap saat bisa menghubunginya dengan bebas untuk sekadar curhat via telepon atau bertatap muka langsung.

Buat yang sudah lama menjomblo, seperti saya dan dia, teman adalah poros interaksi sebelum kami bertemu. Dan wajar kalau kemudian kita harus melakukan penyesuaian sana-sini untuk tetap menjaga kehangatan cinta antara saya dengan dia, serta menjaga kelenturan persahabatan antara saya dengan teman-teman. Jadi saya sangat mengerti kalau dia mengangkat topik sharing my boyfriend/girlfriend with his/her friends ini.

Contoh konkretnya adalah saat dia lagi kangen-kangennya, saya tidak bisa memenuhi keinginannya untuk bertemu. Alasannya? Teman saya secara tiba-tiba minta ditemani untuk mengurai benang masalah yang lagi membelitnya erat-erat.

Apa itu berarti saya lebih memprioritaskan teman saya? Atau pacar saya yang tidak mau mengerti?

Jawaban saya adalah berbagi. Iya, pada dasarnya hidup adalah berbagi. Seperti yang saya tulis di posting-an sebelumnya. Dan algoritma berbagi ini membuat saya bertemu pada elemen arsiran. Karena berbagi adalah interaksi hubungan yang menciptakan keterikatan. Dan keterikatan ini bukan untuk dibandingkan mana yang lebih erat satu diantara yang lainnya.

Sangat sadis menurut saya, kalau kita melontarkan pertanyaan, “Ayo kamu pilih mana? Teman-teman kamu atau aku?” Atau, “Kamu kenapa sih lebih merhatiin temen-temen kamu dibanding aku?”

Bukan begitu caranya mengukur seberapa kuat cinta yang kita punya untuk pasangan. Karena hubungan percintaan dan persahabatan punya elemen pembentuk sendiri, punya karakteristik sendiri, dan punya nafas sendiri. Dan kasian aja pacar kita kalau harus diminta ‘berjuang’ lebih keras demi membentuk kekuatan hubungan cinta agar berhasil mengalahkan hubungan persahabatan yang sudah terbentuk sebelum dia ada.

Saya percaya, pacar saya punya cinta yang besar buat saya seperti dia punya cinta yang besar buat teman-temannya. Karena tidak semua orang diberi kesadaran untuk menikmati interaksi berbagi dalam setiap arsiran hidup. Dan ketika dia mengangkat topik ini, saya percaya, kesadarannya untuk menjaga hubungannya dengan teman-temannya adalah seberani pilihannya untuk membuat arsiran baru bersama saya. Karena dia mau bertanggung jawab atas setiap arsiran yang dia buat, sambil terus menikmati interaksi berbagi yang dia lakukan.

Dan kamu lelakiku, mari nikmati interaksi berbagi yang sedang kita bentuk karena ini adalah arsiran kita berdua πŸ˜€

Advertisements

8 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s