Menemukan Jarak Berbagi dengan Bahagia

Standard

Pagi ini, saya menemukan perbincangan yang mengganggu di kamar mandi. Jangan langsung mikir yang engga-engga, saya tidak sedang berbincang dengan seseoranng sambil mandi. Jadi di kamar mandi saya, bertengger sebuah radio kecil yang akan menambah seru segala ritual kamar mandi. Dan pagi ini, radio kecil itu menangkap siaran dua penyiar radio yang tengah mewawancarai seorang pekerja sosial di salah satu organisasi kemanusiaan.

Organisasinya seperti mengajak pendengar untuk ikut memerhatikan orang-orang yang tidak mampu. Caranya dengan berbagi, bisa dengan ikut aktif dalam program yang mereka buat atau sekadar memberikan sumbangan. Saya sedikit terganggu dengan kutipan percakapan berikut:

Penyiar A : Oiya, katanya dengan sering berbagi, fisik kita jadi lebih sehat ya?

Narasumber : Iya. Saya pernah membaca dari satu penelitian, orang yang suka berbagi memang lebih sehat. Karena ternyata ketika kita bertemu dan membagikan apa yang kita punya kepada orang-orang yang tidak beruntung, kita jadi tersadar dan bersyukur.  Rasa syukur itulah yang kemudian membuat sistem imun bekerja lebih baik.

Saya terpaku. Bukan karena narasumbernya membawa-bawa sistem imun bekerja lebih baik, yang membuat saya sebagai wartawan kesehatan (pasif) jadi terpancing, tapi lebih karena dia menyandingkan berbagi dengan orang tidak beruntung untuk membuat kita bersyukur. Buat saya, itu konsep yang kurang bijak jika kita ingin benar-benar berbagi. Berbagi itu kebutuhan dasar manusia, bukan untuk menyadarkan status sosial kita ada di mana. Lagian, sadis amat cara memandangnya. Masa orang-orang tidak mampu itu fungsinya untuk menyadarkan orang mampu bahwa, “eh cumi lu tuh beruntung jadi bersyukur deh”.

Buat saya, cara-cara persuasif seperti itu sangat manipulatif dan tidak menghargai mereka yang disebut orang-orang tidak beruntung. Cara-cara seperti itu, membuat kita seolah menjadikan orang-orang tidak mampu sebagai jaminan. Iya, jaminan kebahagiaan. Karena ketika kita bersyukur, maka (katanya) kita dekat dengan arti kebahagiaan.

Saking mengganggunya kata-kata narasumber di radio itu, sepanjang perjalanan menuju kantor, saya berpikir dengan tekun. “Ini gua yang salah nangkep, atau emang narasumbernya salah memilih posisi bersikap. Tapi kalau dia selama ini menyakini hal itu sebagai sesuatu yang benar, berbagi dengan orang tak mampu adalah cara untuk menyadarkan diri untuk bersyukur, aura berbagi apa yang ada di dalam organisasinya?”

Pikiran menggelantung ini saya diskusikan dengan pria penyuka camomile tea. Perbincangan random ini membuat kita berbicara mengenai definisi kebahagiaan. Dan dia, mengantarkan saya pada satu terminologi baru. Bahagia tanpa tanding. Apa maksudnya? Merasakan kebahagiaan tanpa melihat, rumput tetangga jauh lebih enak karena lebih hijau.

Buat saya, terminologi bahagia tanpa tanding itu tidak hanya memiliki pemilihan kata yang bagus tapi juga rada mirip dengan definisi bahagia yang saya punya. Kebahagiaan itu ada di dalam diri sendiri, so define your own happiness. Jangan pernah taruh kebahagiaan pada benda, status, atau wujud manusia lain karena semuanya hanya akan membuat kita seolah merasa bahagia. Sama seperti ketika kita merasa kita berbagi untuk mengerti rasanya bersyukur. Bersyukur untuk menyadari bahwa kita lebih beruntung dari pada orang yang kita bagi secuil keberuntungan yang kita punya.

Karena itu, temukan kebahagiaan dalam diri sendiri dulu. Definisikan bentuknya, skalanya, dan yang paling penting semua ini tak akan tergambar dengan utuh kalau kita tidak mengenali diri sendiri. Sebab manusia adalah pelaku aktif yang mendefinisikan semua yang terjadi di planet bumi ini. Dan ketika kita meletakkan definisi kebahagiaan di luar diri kita sendiri, maka kita hanya akan menandingi material dengan esensi diri. Ujung-ujungnya, cape sendiri dan yang pasti kehilangan sensasi rasa bahagia.

Lalu apabila kita meletakkan definisi kebahagiaan dalam diri sendiri, apakah dengan demikian kebahagiaan akan berjalan konstan? Buat saya sih engga, karena hidup itu ngga linear. Bung dan nona, hidup itu bukan penggaris besi yang biasa dipake anak-anak STM untuk tawuran, lurus dan kaku. Karena itu, wajar kalau definisi kebahagiaan dari diri sendiri selalu berubah-ubah. Situasi dan kematangan diri kita pun berubah-ubah, inilah yang kemudian memperluas arti kebahagiaan diri. Yang pasti, kita tidak akan mengorbankan ketidakberuntungan seseorang sebagai jaminan untuk merasa bahagia atau bersyukur.

Saya bukan anti berbagi. Seperti yang saya bilang di awal, berbagi adalah salah satu kebutuhan dasar manusia. Banyak hal yang terjadi dalam hidup kita ini karena aktivitas berbagi. Mulai dari pembentukan manusia, sampai pada perwujudan dosa. Semuanya melibatkan aktivitas berbagi. Jadi, berbagilah karena itu membuat kita menjadi manusia, bukan karena biar kita disadarkan bahwa kita manusia. Berbahagialah karena tidak ada cara lain yang lebih sempurna untuk menikmati hidup. Dan jarak antara berbagi dan bahagia hanyalah diri kita sendiri. Lalu, apa yang dikatakan dirimu tentang kebahagiaan?

 

Gambar dari sini

Advertisements

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s