Gen Bapa

Standard

Kalau di rumah, kalian dijuluki anak Bapa atau anak Mama? Well kalau saya, lebih sering disebut anak Mama. Karena saya paling sering bercerita apa saja ke mama saya.

Bahkan mama punya panggilan khusus buat saya, ade. Alasannya, dia tidak punya adek perempuan, yang ada hanya kakak-kakak perempuan dan adik-adik laki-laki. Dan saya, sebagai anak satu-satunya perempuan, didaulat sebagai adenya 😀

Tapi sebenarnya kalau dilihat secara sifat, saya dan mama bertolak belakang. Mama lebih sabar, tenang, dan sangat mencintai Tuhan. Saya, the opposite of all of that lah hahaha.

Kalau mau dilihat-lihat secara seksama dan tidak dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, sifat-sifat saya sangat mirip dengan bapa saya. Bapa itu keras kepala, emosional, dan sangat filosofis. Ini membuat saya sering sekali berantem sama bapa, ya karena sama-sama keras kepala. Tapi kalau kita lagi akur, kita bisa berdiskusi lama sekali.

Seperti saat libur kemarin, dia bercerita banyak sekali tentang kontemplasi dia belakangan ini. Dia sedang membuat tulisan mengenai satu desa yang mengagumi sesosok tikus busuk. Jadi masyarakat di desa itu tengah mencari definisi kenyamanan hidup, maka diutuslah 3 orang perwakilannya untuk menemukan tempat tinggal yang baru. Ketiga orang itu mewakili tanah, udara, dan air.

Saat sampai di satu pulau, ketiga orang itu menemukan definisi menyenangkan dari apa yang mereka cari. Tapi pada akhirnya mereka hanya diperdaya oleh tikus-tikus. Bagaimana tikus-tikus itu memperdaya dan apa akhirnya, saya tidak akan menceritakannya secara penuh di sini, karena ini menjadi proyek bersama saya dan bapa 😀

Nah saat dia menceritakan tulisannya, saya melihat dia begitu berbinar-binar. Saya ingat, tulisan ini pernah dibuat bapa ketika saya masih SMA. Tapi sekarang ditulis ulang,”Dengan perbaikan sana-sinilah,” begitu dia bercerita.

Dulu saya selalu diminta mengetik tulisan-tulisan yang akan dia kirim ke majalah atau koran. Ada beberapa kali majalah Batak memuat tulisannya mengenai implementasi adat Batak di era modernitas ini. Dan pernah juga tulisannya mengenai koperasi dan ekonomi kerakyatan dimuat di majalah koperasi.

Tanpa dia tahu, kadang-kadang saya suka mengganti kata-kata dalam tulisannya. Tujuannya, biar tulisannya lebih lentur. Dan ini tanpa saya sadari telah menjadi bekal mentah saya untuk mencintai dunia tulis menulis.

Lalu selesai bercerita tentang tulisan kontemplasinya, bapa mengajak saya diskusi tentang Tuhan. Dia tiba-tiba mengajak saya membahas tentang ateisme. Dan saya sangat semangat melengkapi pernyataan-pernyataan bapa. Saya bahkan melengkapinya dengan ulasan Romo Franz Magnis Suseno dalam buku Menalar Tuhan. Ah kita sejalan mengenai pendefinisian Tuhan dan Ateisme.

Bapa saya memang suka membaca buku-buku filsafat, sosilogi, dan ekonomi. Saya ingat, dulu meminjam buku Max Webber mengenai Etika Kristen dan Semangat Kapitalisme dari perpustakaan Batu Api untuk dibaca bapa selama saya liburan. Dia senang bukan kepalang, walaupun buku itu sudah pernah dibaca saat masih terdaftar sebagai mahasiswa ekonomi Universitas Parahyangan. Dia sempat menjabarkan sedikit teorinya, tapi saya ngga terlalu tertarik dengan Webber, jadi ya saya dengarkan saja.

Sewaktu bapa tahu saya juga menyukai buku-buku filsafat, dia hanya bilang, “Anggap aja buku hiburan ya, jangan terlalu serius, nanti kamu bisa ngga sadar.” Hahaha saya hanya ketawa mendengarnya. Tapi buku-buku itu tanpa disadari menjadi benang merah kami berdua ketika berdiskusi.

Selain soal keras kepala dan filsafat, saya dan bapa juga punya masakan favorit bersama, yaitu masakan olahan babi. Hanya kami berdua yang tidak akan menolak makanan ini. Bahkan kalau dia sedang berkreasi masak daging babi, dia hanya akan menawarkan makanannya buat saya. Atau setiap kali ada masakan babi di rumah, dia akan sms ato telepon saya, “Jangan makan di luar, di rumah ada daging babi.”

Kita terlihat akur ya hahaha. Tahu apa yang terjadi kalau kita lagi berselisih paham? Kami bisa saling meninggikan volume suara, menegangkan urat syaraf, dan mengakhiri perdebatan dengan diam-diaman sampai seminggu. Ya karena sama-sama gengsi untuk memulai percakapan. Harga dirinya sama-sama selangit dan tidak ada yang rela untuk mengalah. Tapi belakangan, bapa lebih sering mengalah karena dia bilang, “Anak perempuan cuman satu tapi keras kepalanya sama kaya bapanya, buat apa dilawan.” Hahaha, tapi sepertinya faktor usia juga. Pertambahan umur membuat bapa rela mengalah demi anaknya yang masih muda.

Sebenarnya untuk beberapa hal, dia lebih lentur sih ke saya. Kaya misalnya dia ngga akan marah kalau saya panggil namanya atau bahkan cuy seperti ini, “Cuy, jalan dulu ya.” Ya kalau lagi ada saudara dekat saya panggil dengan, “Ucok, jalan dulu ya.” Tapi panggilan nama atau ucok kepada ayah di keluarga orang Batak, termasuk kurang ajar. Maka tak jarang saudara-saudara saya shock mendengarkan. “Ih kok gitu manggil Bapanya?” Biasanya saya dan bapa hanya ketawa.

Dan dari tiga anak yang bapa serta mama punya, sayalah satu-satunya yang berani memanggil namanya. Bapa ngga marah, karena dia juga suka mengganti-ganti nama anak-anaknya. Tapi tetep sih saya yang paling kurang ajar manggil Bapa dengan namanya hehehe.

Sebenarnya saya tidak tahu kenapa bapa tidak marah. Apa karena dia tahu saya bercanda, tidak ada niat untuk tidak menghargainya. Atau dia ngerasa buang-buang energi aja untuk melawan anaknya yang keras kepala dan sering berontak hahaha.

Beberapa hari lalu dia menguatkan saya, ada masalah keluarga lah. Dan ucapan dia hanya, “Saya tidak pernah ajari kamu untuk jadi pengecut. Dan saya tidak pernah ajarin kamu untuk jadi pembohong atau penjilat,lawan karena kamu benar. Mau sampai mana pun saya akan dampingi kamu. Sampai pengadilan Tuhan pun, saya akan dampingi kamu karena kamu benar.” Saya terharu mendengarnya dan saya hanya membalas, “Priska beruntung punya bapa kaya bapa. Priska sayang bapa ya.” Iya modal terbesar saya untuk berani menghadapi apapun di depan mata adalah kejujuran dan keberanian yang diajarkan bapa serta mama.

Oiya ada lagi yang sama antara saya dan bapa, golongan darah saya O. Dari tiga anaknya, hanya saya yang golongan darahnya O. “Iya makanya sifatnya sama, mama mah ngadepin dua orang berdarah O udah ahli lah,” itu ucapan mama saya kalau lagi kesel sama saya hahaha.

Dan hari ini bapa saya sms, “Mulak ma ho, nga masihol au.” Artinya, pulanglah sudah kangen saya. Padahal kalau saya sampai di rumah, yang pertama kali kita lakukan adalah kata-kataan. Mungkin itu yang dia rindu dari saya, seperti setiap pagi kalau turun dari kamar, bapa akan senyum dan sedikit bersenandung,”Punya anak perempuan satu tapi bangunnya selalu siang.” Saya hanya akan jawab, “Ngapain bangun pagi-pagi. Enak juga bangun siang,makanya jadi anak muda jangan orang tua.” Dan ini masih akan terus berlanjut sampai kemudian kita sama-sama cape untuk menanggapi hahaham

Jadi, menurut kalian, saya banyak dipengaruhi oleh gen siapa, bapa atau mama? 😀

Advertisements

5 responses »

  1. Bento : Cuy, gue jalan dulu…
    Butterfly : apaan tuh ‘cuy’ ?
    Bento : bahasa premannya anaknongkron manggil temennya
    Butterfly : ooooo…

    Maka cuy itu dari gw dong… Hak paten tuh…

  2. Ow ow ow…. Baru liat ada balasan, tapi keliatannya Bapamu setuju dengan gw, bahwa Cuy itu memang saya yang populerkan hehehe…
    *gakmaukalahkarenahomealonelagimalaminijadiisengdeh*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s