Berkompetisilah dengan Cinta, Sayang

Standard

Pernah kepikiran bagaimana cara mengajarkan kompetisi sehat pada anak-anak atau keponakan kalian kelak? Sebagai orang yang mencintai anak-anak, saya mulai mencari info mengenai cara mendidik atau mengajarkan anak akan banyak hal, mulai dari cinta, seks, identitas diri, kebebasan, sampai Tuhan. Ngapain cari info itu dari sekarang? Alasannya sederhana, karena saya pelan-pelan dipengaruhi oleh seminar-seminar soal membentuk karakter anak yang sering saya datangi dengan alasan liputan.

Tapi dari segala info yang kemudian berubah menjadi bekal saya untuk membentuk karakter anak itu, jarang yang membicarakan bagaimana caranya mengenalkan kompetisi bagi anak-anak. Karena suka atau ngga, salah satu cerita hidup yang bakal sering kita hadapin ya itu soal kompetisi. Dan memberikan konsep kompetisi yang ideal bagi anak, menurut saya luar biasa susah dari mengenalkan konsep Tuhan. Karena kompetisi bersinggungan dengan ambisi yang kadang kala berarsiran dengan mimpi. Dan saya, sebagai orang yang percaya merealisasikan mimpi adalah keindahan hidup, rada bingung juga untuk menyemangati mereka punya energi penuh untuk bermimpi tapi tanpa menjadi budak ambisi.

Sampai kemudian saya bertemu dengan acara Junior MasterChef Australia. Ini adalah acara mencari juru masak anak-anak di Australia, melibatkan 50 orang anak berbakat yang kemudian disaring jadi 12 finalis. Meski usia mereka 8-12 tahun, menu-menu masakan yang dikompetisikan bukan menu yang sederhana. Bahkan beberapa anak cukup berani untuk membuat sajian makanan yang nyebutin nama masakannya aja lidah udah blepotan ke mana-mana.

Dan hebatnya, juri-juri yang memberikan mereka penilaian tak sekadar memuji atau mengkritik sajian yang mereka buat, tapi terus membangun suasana untuk menikmati proses masaknya ketimbang scoring-nya. Mereka punya tagline, Not scoring but cooking and that’s what is all about.  Anak-anak ini tetap diperkenalkan dengan dunia kompetisi, melakukan apa yang diperintahkan juri, ada batas waktu masaknya, dan ada penilaian kreativitasnya. Ada target yang harus dicapai. Tapi mereka juga diminta untuk tidak melupakan nikmatnya memasak, ini dilakukan dengan membiarkan anak-anak itu tetap menjadi lugu. Menjadi anak-anak, bukan menjadi tiruannya orang dewasa.

Saya masih sangat terharu ketika berkali-kali melihat bagaimana 2 finalis Isabella dan Jack, bisa saling menepuk pundak atau bahkan memberikan pelukan satu sama lain ketika juri menyebutkan score-nya. Bahkan ketika Isabella terpilih menjadi Junior MasterChef Australia, Jack bilang, “Friend going in and friend going out, nothing gonna change,” untuk menjawab pertanyaan juri soal perasaan dia mengenai kemenangan Isabella.  Ah ini emang ucapan dari seorang pemenang.

Lalu saya pun membandingkan dengan acara kompetisi anak-anak lokal yang betebaran di televisi-televisi nasional. Saya ingat, ada pernah pada salah satu kompetisi pencarian bakat itu, si anak langsung pingsan ketika juri memberi tahu dia tidak lolos babak penyisihan. Atau betapa kita selalu melihat anak-anak yang tereliminasi harus menangis sesenggukan karena dia harus pulang dan berhenti tereksploitasi. Iya eksploitasi, karena mereka pun diminta bergaya seperti orang dewasa dan menyanyikan lagu orang dewasa (untuk yang kompetisi nyanyi, ya kebanyakan kompetisi cari bakat emang nyanyi sih).

Atau kalau mau bicara lebih serius, iklan-iklan yang mensponsori mereka juga termasuk produk yang bukan untuk anak-anak sebenarnya, mie instan contohnya. Iya saya tahu mengangkat fakta ini sama juga seperti mengangkat produk rokok sebagai sponsor pertandingan sepakbola yang kemudian akan menjebak kita dalam labirin, “Dari pada kaga ada yang sponsorin?”

Tapi ya itu, televisi kita lebih sering mengambil sisi eksploitasi dalam setiap acaranya. Sehingga dalam acara kompetisi pun yang ditekankan adalah adegan nangis-nangisnya ketika tereliminasi, bukan bagaimana anak-anak itu tetap semangat meski harus berhenti berkompetisi. Saya ingat, masih dari Junior MasterChef Australia, salah satu anak yang pulang dengan lantang bilang, “I’ll never stop cooking. This will not stop me to be a master chef,” lengkap tanpa adegan sesenggukan dan dikerubungin teman-temannya.

Bukan, bukan saya ngga suka ngeliat anak nangis. Tapi ini lebih kepada, bagaimana tim kreatif dan juri dari kompetisi pencarian bakat juru masak cilik ini sangat berhasil membentuk pesan dalam kepala anak-anak, bahwa skor itu ngga penting. Yang penting adalah bagaimana kalian mencintai proses menjadi juru masak. Pesannya kuat, bahwa target bukan hanya menjadi juara. Dan kalau pun jadi juara ya itu bonus. Seperti yang dibilang Isabella, bahwa dia merasa puas karena telah berhasil menggenapi setiap tantangan yang diberikan dan dia akan tetap mengagumi ibunya yang berdarah Itali yang selalu mengenalkan dia akan resep-resep asli  Itali.

Lalu setelah berhasil menjadi pemenang, keduanya juga membuat buku mengenai menjadi junior master chef. Dan sama-sama menjadi pembawa acara masak-memasak di Australia. Keduanya diberi peluang yang sama untuk terus mengembangkan bakatnya. Ngga seperti kompetisi cari bakat di Indonesia yang hanya akan abis-abisan memopulerkan pemenang 1.  Padahal kalau mau dihitung-hitung dari polling SMS dan iklan, perusahaan televisi yang menyelenggarakan ajang kompetisi cari bakat itu sudah balik modal dengan cepat. Itu kenapa ajang cari bakat terus dibuat, walaupun kemudian ngga ngerti juga apa yang dilakuka para finalisnya setelah muncul gelombang baru.

Dan melalui acara ini, saya belajar bahwa kompetisi itu masalah menikmati proses, Coz is not about scoring. Jadi, berkompetisilah dengan cinta, sayang. Yuk kita tonton bagaimana Isabella dan Jack bisa punya hati besar untuk menyemangati temannya menikmati proses berkompetisi. Oiya, saran saya, siapin tisu karena beneran deh ini anak-anak sikapnya sangat membuat kita terharu.

PS : Ayo jadi siapa yang mau jujur ngaku matanya berkaca-kaca ngeliat dua anak itu ‘berpidato’ mengenai kemenangan?

Advertisements

3 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s