Sad? Maybe You Need to Pray?

Standard

Tenang-tenang ngga usah panik baca judul itu, saya ngga sereligius judul itu kok 😀

Jadi begini keadaannya, saya menemukan judul itu saat tengah mencari tulisan tentang kesehatan di http://www.shine.yahoo.com. Tapi judul aslinya, “Angry? Maybe You Need to Pray.” Saya pun spontan tertawa dan melupakan rasa sedih saya. Sedih?

Jadi, sebelum saya menemukan judul artikel itu, saya baru saja menerima satu email yang sedang saya tunggu-tunggu. Email pengumuman beasiswa, dan mereka mengumumkan kalau saya tidak memenuhi kriteria. Alasannya, dari 5 poin penilaian yang mereka punya, saya gagal di 1 poin. Tapi mereka tidak menyebutkan secara spesifik poin gagal itu apa. Sepertinya poin itu adalah saya kurang beruntung 😀

Saat membaca email itu, saya tengah duduk di aula kantor dengan menyandang jabatan baru. Iya saya 2 minggu lalu ditelepon oleh HRD. “Priska, kamu mau kita mutasi ke Panjang (baca : Kantor Pusat) dan diberi posisi Content strategic assistant manager.”

Terdengar keren ya posisinya. Apa kerjanya, jangan tanya saya karena bos saya yang super funky itu, sibuk sekali sehari kemarin, jadi saya dibiarkan menulis sesuka hati saya. “Lu santai dulu lah, gua repot banget hari ini,” ucapnya sambil menepuk-nepuk pundak saya.

Yang saya tahu, pekerjaan saya adalah memonitoring, apakah content-content dari semua website yang dimiliki kantor saya itu sudah sesuai karakteristik majalahnya atau tidak. Dan saya juga harus memberikan ide, content apa yang bisa buat website-website itu rame.

Yup dihari saya sedang meraba jabatan baru itulah, saya dapat pengumuman gagal mendapat beasiswa. Rasanya, sedih sudah pasti. Tapi entah kenapa saya menakar level sedihnya sedikit.

Dan saya pun mengirimkan pesan melalui teknologi SMS ke kedua orang tua saya. Sekadar menginformasikan saja dan berterima kasih karena selama ini saya sudah dimotivasi. Pada saat mengirim SMS inilah saya menemukan judul artikel itu, “Angry? Maybe You Need to Pray.” Ya seperti yang saya bilang di awal, saya pun tertawa geli. Karena ya bisa dibilang, hubungan saya dengan Pengatur Cerita ya begitu. Kadang marahan, bisa jadi akrab banget, atau malah sama-sama sedih. Persis seperti hari kemarin, diwaktu bersamaan saya lagi bahagia karena dapat tantangan baru, ya saya dibikin sedih juga. God love me so much I guess, karena Dia suka menggoda saya.

Dan saat saya sedang mengingat hubungan pertemanan saya dengan Tuhan, mama saya telepon. Dia coba menyemangati saya, “Jangan sedih ya ‘Dek, pasti ada peristiwa luar biasa setelah ini. Kamu semangat terus ya.” Ah mama saya, kata-katanya sederhana tapi sangat efektif membuat air mata saya berlinang. Saya jawab dengan cepat, “Iya, Ma.” Maksudnya biar ngga jatuh beneran nih air mata. Repot aja nangis di kantor.

Tidak lama setelah menerima telepon dari mama saya, SMS dari bapa saya pun masuk. Dia bercerita soal om saya (om dari keluarga jauh) yang menurut kebanyakan orang dia gagal, tapi dia menyakini dirinya berhasil dan terus semangat menjalani apa yang dia yakinin. Dan lagi-lagi saya berlinang, saya pun membalas dengan singkat. Masih sama, tujuannya biar tidak berurai air mata. Saat sedang menahan air mata yang hampir jatuh, winamp saya pas memainkan lagu Alanis Morrissette, In Praise of Vulnerable Man. Iya hidup yang pas-pasan emang, pas lagi down pas disemangati lagu. Yah seperti yang dibilang Paulo Coelho, “When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.” The universe conspire to get me out from my sadness.

Dan tahu apa yang terjadi saat saya sampai di rumah? Mama saya coba menyambut saya sambil meletakkan kedua telunjuknya dikedua pipinya, sambil bernyanyi-nyanyi. “Ayo jangan sedih. Ayo semangat lagi.” Centil sekali, persis saya kalau lagi menggoda dia hahaha. Saya pun dipeluk dan ya bisa nahan nangis sih.

Saat meletakkan tas dan cuci kaki, saya berpikir, “Ah nangis aja udah,biar puas. Ngapain ditahan-tahan.” Saya pun kembali ke mama saya sambil bilang, “Ah gua nangis aja ah…biar puas,” sambil memeluk perempuan yang lebih sering memanggil saya ade itu karena dia tidak punya ade perempuan. Dan kita pun nangis bersama hahaha..iya dia tahu betul betapa saya ingin sekali dapat beasiswa ini. Program studinya saya suka, well bisa sejalan dengan skripsi saya yang berbicara mengenai kerukunan umat beragama.

Yah begitulah, belum waktu saya sepertinya. Tapi saya ngga akan menyerah, terlalu sederhana kalau hidup isinya cuman menyerah. Saya pun sadar, kalau amunisi semilyar semangat yang saya punya, itu datangnya dari mama dan bapa saya. Mereka selalu percaya dengan setiap mimpi anak-anaknya. Mereka semangati dan mereka bawa dalam doa. Dan ketika realita berkata lain, pesan mereka hanya satu, “Terus semangat ya. Jangan takut untuk mencoba lagi.” Ya, when you angry or sad…go hug your mom or dad…their warm hugs will be the fire in your heart and boots your confident to embrace this beautiful life. Dan sebagai penutup, mari kita nikmati ‘wejangan’ jeng Alanis 😀

in praise of the vulnerable man

ps : Makasih untuk Miss Ika cantik yang memberi saya lagu ini beberapa waktu lalu….peluk beruang 😀

Advertisements

9 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s